تسجيل الدخولRiak di permukaan telaga semakin melebar. Air hitam itu berubah bening, setenang cermin, Namun yang terpantul bukanlah langit-langit Dunia Bawah—Langit kuno yang dipenuhi cahaya keemasan.
Angin membawa aroma bunga matahari.Suara peperangan terdengar sangat jauh, seolah sengaja ditahan agar tidak mengganggu satu momen yang telah lama terkubur.Elara mematung."Aelmon..."Alpha itu tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada bayangan di dalam telaga, seGerbang Ketujuh terbuka tanpa suara.Tidak ada derit engsel.Tidak ada hembusan angin.Hanya tiga pintu cermin yang berdiri sejajar di hadapan mereka, memantulkan sosok Elara, Aelmon, dan Rowan dengan begitu sempurna hingga sulit dibedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bayangan.Namun beberapa detik kemudian...Pantulan itu tidak lagi mengikuti gerakan mereka, Elara mengangkat tangan.Bayangannya tetap diam.Aelmon langsung melangkah setengah langkah ke depan. Naluri seorang Alpha membuatnya berdiri di antara Elara dan ketiga cermin itu."Itu bukan pantulan." Suara Nox terdengar berat."Melainkan kemungkinan."Permukaan ketiga cermin beriak seperti air yang disentuh hujan. Sesosok pria melangkah keluar dari cermin pertama, wajahnya sama persis dengan Aelmon.Tubuhnya sama tegap. Tatapan hijaunya sama tajam, yang berbeda hanya sorot matanya.Kosong. Tidak ada kasih sayang, tidak ada keraguan, hanya ambisi yang membeku.Dari cermin kedua muncul Elara lain, Mahkota Matahari berteng
Retakan itu terus melebar.KRAAAK...Langit Dunia Bawah seperti kain tua yang disobek dari dua sisi.Angin hitam berembus keluar, membawa aroma logam, hujan, dan tanah yang baru digali.Tidak ada wajah.Tidak ada mata.Hanya sebuah tangan raksasa yang perlahan meraih ke arah Telaga Penyesalan. Namun, semua orang merasakan hal yang sama.Makhluk itu, sedang melihat mereka.Rowan mengertakkan giginya. Lututnya masih menekan tanah. "Berat..." Desisnya. "Bukan tekanan biasa..." Pedangnya bahkan bergetar di dalam genggamannya.Aelmon masih berdiri.Meski bahunya terasa seperti dipikul sebuah gunung, ia tetap bergeser setengah langkah kembali menutupi Elara.Elara memandang punggung pria itu. Tidak besar, tidak setinggi langit.Tetapi entah mengapa...Punggung itu selalu terlihat seperti tempat paling aman yang pernah ia kenal.Ia mengangkat tangan. Ujung jarinya menyen
Air telaga berguncang.Byur...Riaknya tidak lagi membentuk lingkaran kecil.Gelombangnya semakin tinggi, menghantam tepian batu hingga serpihan air hitam beterbangan ke udara.Namun anehnya...Setiap tetes yang jatuh berubah menjadi kelopak bunga matahari.Elara mematung."Bunga?" Ia bertanya sambil berbisik.Nox juga terlihat terkejut."Tidak, ini seharusnya tidak terjadi."Dari tengah telaga, cahaya keemasan perlahan muncul lembut nan hangat.Sangat berbeda dengan dingin Dunia Bawah.Perlahan-lahan, sesosok wanita melangkah keluar dari permukaan air.Tidak ada cipratan.Tidak ada suara langkah.Gaun putih keemasan menyapu permukaan telaga tanpa tenggelam sedikit pun. Rambut panjangnya berwarna merah terang.Mahkota matahari bertengger anggun di atas kepalanya. Namun, wajahnya adalah wajah Elara.Rowan menggenggam pedangnya semakin era
Riak kecil menyebar di permukaan telaga. Tidak ada seorang pun bergerak, bahkan embusan napas mereka terasa tertahan.Elara memandangi bayangan itu tanpa berkedip. Wanita dalam pantulan tersebut benar-benar dirinya, bukan Solaria atau Dewi Matahari.Hanya Elara.Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna gading. Rambut merahnya diikat longgar, beberapa helai jatuh di sisi wajah. Di dalam pelukannya tertidur seorang anak kecil berambut hitam legam dengan telinga serigala yang sesekali bergerak mengikuti embusan angin.Anak itu tampak damai.Begitu damai hingga hati Elara terasa hangat hanya dengan melihatnya.Namun...Di ujung halaman rumah kecil itu...Aelmon berdiri sendirian.Tubuhnya masih tegap. Rambut hitamnya telah dihiasi beberapa helai perak, tatapan hijaunya tidak lagi tajam seperti seorang Alpha yang memimpin peperangan.Yang tersisa hanya kerinduan.Ia ingin melangkah. Namun s
Riak di permukaan telaga semakin melebar. Air hitam itu berubah bening, setenang cermin, Namun yang terpantul bukanlah langit-langit Dunia Bawah—Langit kuno yang dipenuhi cahaya keemasan.Angin membawa aroma bunga matahari.Suara peperangan terdengar sangat jauh, seolah sengaja ditahan agar tidak mengganggu satu momen yang telah lama terkubur.Elara mematung."Aelmon..."Alpha itu tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada bayangan di dalam telaga, seorang pria muda berdiri mengenakan zirah hitam.Wajahnya masih sama. Namun sorot matanya jauh lebih dingin, belum ada kelembutan. Belum ada senyum kecil yang kini sering muncul setiap kali bersama Elara, belum ada cinta. Hanya ambisi, dan di hadapannya...Solaria—Sang Dewi Matahari. Masih mengenakan mahkota emas, tubuhnya dipenuhi bercak darah.Salah satu sayap cahayanya patah. Namun ia tetap berdiri tegak, tangannya perlahan terulur ke arah Alpha muda itu. Bukan memoh
Kupu-kupu hitam memenuhi lorong.Sayap-sayap kecil itu beterbangan tanpa suara, tetapi setiap kepaknya meninggalkan serpihan cahaya gelap yang perlahan jatuh seperti abu.Elara mengangkat tangan.Seekor kupu-kupu hinggap di ujung jarinya. Dingin, bukan dingin musim salju.Melainkan dingin yang mengingatkan seseorang pada kenangan yang telah lama dikubur."Hati-hati."Suara Aelmon terdengar pelan di sampingnya.Ia tidak menarik tangan Elara.Ia hanya menggeser tubuhnya setengah langkah lebih dekat, cukup untuk berdiri di antara Elara dan arah datangnya suara asing itu.Kebiasaan kecil.Sudah berulang kali terjadi. Dan entah sejak kapan, Elara mulai menyadarinya. Alpha itu selalu memilih menjadi penghalang sebelum menjadi penyerang."Terima kasih." gumam Elara.Aelmon menoleh."Apa?""Aku baru sadar.""Sadar apa?""Setiap kali ada bahaya..."
Selamat membaca.Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,melainkan senja abadi berwarna hi
Selamat membaca.Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat.Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata.Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar.Elara menatap pria itu takut
Selamat membaca.Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap.Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Ger
Selamat berimajinasi.Dua belas tahun kemudian. Langit Lunaris berwarna senja abadi ketika Aelmon Nightfang berdiri di tepi Danau Noctyra. Permukaannya berkilau biru, memantulkan dua bulan yang menggantung rendah di cakrawala.Di belakangnya, para anggota pack berlutut.“Alpha,” ucap Rowan, sang Be







