เข้าสู่ระบบ“Malam ini mau makan malam apa, Mia? Biar aku masakin.”Bara bertanya sembari mengemudikan mobil Ferarri-nya di tengah jalanan yang cukup macet, kemeja dan celana yang sebelumnya basah kuyup sudah diganti dengan kaos putih dan celana pendek yang lebih santai.Matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu, meninggalkan semburat biru tua dan keunguan di tepi cakrawala. Cahaya matahari mulai digantikan dengan lampu-lampu terang dari gedung-gedung, jalanan, serta kendaraan-kendaraan di sekitar kami.Aku menatap lurus-lurus ke depan dengan pikiran yang melayang jauh sekali. Kejadian anak tenggelam di danau sore ini benar-benar mengingatkanku akan sesuatu di kehidupanku yang lalu.Rasanya, aku pernah melihat anak laki-laki yang diselamatkan Bara. Tapi di mana? Kapan?“Mia?” tanya Bara, menoleh kepadaku saat berhenti di lampu merah.Aku yang terlalu sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri bahkan tidak sempat merespons Bara meski mendengar suaranya dengan jelas, membiarkannya memanggilku
Aku menatap tangan Bara yang terlihat besar dan kokoh, jauh berbeda dengan tanganku yang seakan 'tertelan' dalam genggamannya.Sejak kehidupan pertama bahkan ketika mendapat kehidupan kedua sekalipun, pria ini lah yang selalu menjaga dan melindungiku, berkorban begitu banyak hingga rasanya aku sama sekali tidak pantas menerimanya.Tanpa sadar mataku memanas, satu tetes air mata lolos begitu saja hingga menetes ke pipiku.“Mia? Kamu kenapa?” Melihat kondisiku Bara terlihat sedikit panik, dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya padaku.Aku menerima sapu tangan itu, mengusapkannya ke pipi sambil menikmati wangi Bara yang menempel di sana.“Bara, makasih ya buat semuanya, dan maaf aku udah bikin banyak masalah buat kamu,” ucapku dengan suara serak.“Kamu sama sekali nggak bikin masalah,” sanggah Bara. “Sejak awal kamu memang sudah seharusnya pergi dari hubungan toxic itu dengan atau tanpa bantuanku, karena kelakuan Seno memang keterlaluan.”“Tapi, aku kesal!” su
“Lagi liatin apa sih? Fokus banget.” Aku tersentak ketika mendengar Bara yang tanpa ku sadari sudah berdiri di sampingku. Aku mendongak, menatapnya sambil tersenyum kikuk. “Eh, nggak lagi liatin apa-apa kok, cuma penasaran aja sama pasien yang baru lewat tadi. Kayaknya kondisi orang itu gawat banget.” “Oh, ya?” Bara menoleh ke arah lorong, ikut penasaran. “Aku nggak sadar tadi ada pasien lewat.” “Udah masuk ruang ICU dari tadi,” sahutku, berdiri sambil sedikit meregangkan otot-otot yang terasa kaku. “Oh, okey. Kalo gitu kita pulang sekarang?” tawar Bara. Aku mengangguk, kami berjalan bersisian menuju pintu keluar rumah sakit, mobil ferarri Bara sudah terparkir rapi di parkiran. “Kayaknya aku harus ganti mobil lagi abis ini,” ucap Bara saat kami sudah berada di dalam mobil. “Lho, kenapa? Bukannya ini mobil baru?” tanyaku sembari memakai sabuk pengaman. Bara menekan tombol Start Engine, gerung mobil yang khas langsung terdengar. “Ada yang sengaja membocorkan foto mobilku ke media
Paul terdiam lama setelah mendengar ucapanku, wajahnya yang biasanya datar kali ini berubah sedikit putus asa. Dia melepas kacamata sejenak, memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya.“Kalau demikian, maka mendapatkan ponsel berisi bukti itu tidak akan mudah.” Paul memasang kembali kacamatanya.Aku berusaha memutar otak, mencari rencana.“Bagaimana kalau salah satu anak buahmu menyusup ke mansion? Ini mungkin terdengar gila, tapi siapa tahu berhasil,” usulku yang juga merasa kehilangan jalan keluar. Berharap ada cara untuk mengambil benda itu dengan cara apa pun.Paul menggeleng. “Saya tidak bisa melakukan itu. Selain karena peluang berhasilnya kecil. Pak Seno juga bisa melaporkan dan menuntut pihak kita ke polisi soal pembobolan dan pencurian,” ucapnya, menghela napas sejenak.“Jika hal itu sampai terjadi, maka pihak yang paling dirugikan tidak hanya Anda, tapi juga Tuan Bara.”Aku menggigit bibir dan merutuki diri sendiri. Apa yang dikatakan Paul benar, aku harus mencari cara
“Lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap kejadian ini, Pak Seno? Apa Anda akan membawa masalah ini ke jalur hukum?” Salah satu wartawan di pojok kanan bertanya dengan suara yang sedikit nyaring agar tetap terdengar di ruangan yang cukup riuh itu.“Untuk saat ini, saya tidak akan melakukannya karena tidak ingin istri saya terlibat masalah yang kemungkinan akan membuatnya kesulitan di kemudian hari. Saya sangat peduli dengan kenyamanan dan keamanan istri saya.”Aku yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut Seno yang berbisa seketika menggertakkan gigi karena menahan emosi. Orang ini sangat pandai berakting, semua kata-katanya benar-benar terdengar seperti kebenaran.Dia benar-benar sudah mengelabui dan membodohi semua orang.“Saya sangat terharu sekaligus kagum pada Pak Seno. Di saat istri Anda dibawa lari oleh laki-laki lain, Anda malah memilih berbesar hati dan terus mencari keberadaan istri Anda,” puji wartawan wanita yang tampaknya sudah terhasut tipu daya Seno, wartawan wanita i
Rena langsung menghambur ke arahku ketika melihatku merentangkan kedua tangan menyambut kedatangannya. Dia menunduk sejenak saat tiba di hadapanku sebagai tanda hormat, lalu memelukku hangat.“Aku senang banget kamu selamat,” ucapku sambil mengelus punggungnya dengan gerakan naik-turun. Lalu menarik diri sedikit agar bisa melihat keadaannya lebih jelas.“Kamu nggak terluka parah, kan? Kamu diapain aja sama Seno dan penjaganya?”Rena menggeleng pelan, tersenyum ceria. “Saya baik-baik saja, Nyonya. Hanya sempat terluka kecil karena tersandung saat pelarian bersama Pak Paul.” Gadis itu melirik Paul yang berdiri tidak jauh di belakangnya, lalu kembali menatapku.“Terima kasih atas bantuannya, Nyonya. Saya tidak menyangka bantuan akan datang secepat itu,” katanya dengan nada lega, menyelipkan anak rambutnya ke sisi telinga.“Aku sendiri juga nggak nyangka bakal ada bantuan secepat dan seterang-terangan itu, Rena. Bara dan anak buahnya bergerak di luar perkiraan kita berdua.” Aku ikut meli







