Plinano na ni Quincy na ibigay ang kaniyang virginity sa kaniyang fiancée na si Fern dahil malapit na rin silang ikasal. Ngunit isang hindi inaasahan ang nangyari matapos ang bridal shower ng gabing iyon. Imbes na si Fern ang nakatalik ni Quincy, ang kakambal nitong si Hiro ang nakasiping niya ng gabing iyon! At hindi inaasahang magbubunga ang isang gabing pagkakamali nila ng lalaking matagal na niyang kinalimutan noon.
View MoreNapas itu memburu, berpadu dengan desir angin malam yang menerobos jendela kamar sempit itu. Di bawah temaram cahaya bulan, tubuh mereka menyatu. Gerakan mereka kaku, canggung, tapi penuh gairah yang membara. Jemari itu menelusuri kulitnya dengan ragu, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh. Bibirnya bergetar saat membisikkan namanya di antara desahan tertahan.
"Revan…" Sebuah permohonan. Sebuah kepasrahan. Saat itu, dia percaya. Bahwa perempuan ini adalah segalanya. Bahwa malam itu akan menjadi awal dari kisah mereka selamanya. Bahwa cinta pertama tidak akan pernah berakhir. Tapi ia salah. Sebuah takdir dari status yang selama ini ia sembunyikan menariknya menjauh dari pelukan hangat gadis itu. Dan kini, yang tersisa hanyalah bayangan samar. Seakan ada sesuatu yang memisahkan mereka dengan paksa. "Jangan tinggalkan aku…" suara itu kembali terdengar, lemah dan menyedihkan. Revan mengulurkan tangan, mencoba meraih sosok itu… tapi dalam sekejap, semuanya menghilang. Cahaya meredup. Kehangatan itu lenyap. Dan yang tersisa hanyalah kekosongan. Siapa? Ia menutup matanya, mencoba mengingat. Tapi seperti biasa, hanya ada potongan-potongan yang tidak utuh. Sentuhan lembut, bisikan penuh emosi, dan aroma manis vanilla yang begitu familiar. Tapi wajahnya? Kosong. Sejak kecelakaan itu, ada bagian dari hidupnya yang terasa seperti lubang hitam. Sesuatu yang hilang, tapi dia bahkan tidak tahu apa. *** Alina melangkah masuk ke gedung megah itu dengan kepala tegak, meskipun di dalam hatinya ada badai yang berputar liar. Matanya menatap logo Revan Corp, perusahaan yang kini berada di bawah kendali pria yang dulu pernah ia cintai, dan kini bahkan tak mengingatnya. Tujuh tahun. Sudah tujuh tahun sejak Revan menghilang dari hidupnya, meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Dulu, ia pikir mereka akan selalu bersama, tapi kecelakaan itu mengubah segalanya. Revan lupa siapa dirinya, lalu menikah dengan wanita lain dalam pernikahan bisnis, sementara Alina harus merangkak sendirian untuk bertahan hidup. Dan kini, takdir membawanya kembali. "Dari CV yang saya terima, Anda memenuhi kualifikasi sebagai sekretaris baru CEO." Wanita di hadapannya, HRD perusahaan, meneliti berkasnya dengan ekspresi datar. "Kita akan langsung bertemu dengan Pak Revan. Pastikan Anda bekerja secara profesional." Alina hanya tersenyum tipis. Profesional? Itu akan sulit, karena bagi Alina, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah ajang pembalasan. HRD mengetuk pintu kantor CEO sebelum membukanya. "Silakan masuk." Alina menarik napas dalam, lalu melangkah ke dalam ruangan itu. Dan di sana, duduk di balik meja kayu mahoni, adalah pria yang telah menghancurkan hidupnya. Revan Arkana Alexander CEO tampan itu sedang fokus pada layar laptopnya, tanpa sedikit pun mengangkat kepala. Sosoknya masih sama seperti yang Alina ingat, bahkan mungkin lebih dewasa dan dingin. Jas hitamnya rapi tanpa cela, wajahnya begitu tenang, tapi aura pria itu kini lebih tajam, lebih berbahaya. "Pak Revan, ini sekretaris baru Anda," ucap HRD. Perlahan, Revan mengangkat wajahnya. Sejenak, mata mereka bertemu. Dan di detik itu, jantung Alina seolah berhenti berdetak. Apakah dia akan mengenalinya? Namun, yang keluar dari mulut pria itu justru… "Siapa namamu?" Dada Alina terasa sesak. Ingin rasanya tertawa pahit. Tujuh tahun lalu, pria ini pernah bersumpah akan mencintainya seumur hidup. Dan kini, dia bahkan tak tahu siapa dirinya. "Alina Delora, Pak." jawabnya, sembari meletakkan berkas data diri di meja CEO perusahaan elektronik ternama di negara ini. Revan membukanya. Membacanya dengan sekilas. Laki laki itu hanya fokus kepada bidang keahlian sekretaris barunya. "Bela diri apa yang kau kuasai?" "Taekwondo, Pak." Mata Revan menatapnya tajam, menyelidik. Sorot matanya mengintimidasi, seolah menelanjangi setiap inci keberadaannya. "Taekwondo?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Alina tetap berdiri tegak, menjaga ekspresinya tetap netral. "Tidak banyak wanita yang menguasai bela diri, apalagi mendaftar sebagai sekretaris," lanjut Revan. "Ada banyak hal yang bisa terjadi dalam dunia bisnis, Pak," jawab Alina datar. "Dan saya lebih suka jika bisa melindungi diri sendiri." Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi matanya tetap tajam. "Bukan hanya diri sendiri," ujarnya pelan. "Mulai sekarang, kau juga harus melindungiku." Alina menahan napas. Tangannya mengepal tanpa sadar. Sial, permainan ini dimulai lebih cepat dari dugaannya. "Maaf, Pak?" Revan melipat tangannya di atas meja. "Aku tidak hanya membutuhkan sekretaris biasa. Ancaman terhadap perusahaanku semakin besar, dan aku tidak bisa mempercayai banyak orang. Aku butuh seseorang yang bisa bekerja di dekatku, mengatur jadwalku, sekaligus memastikan aku tetap hidup. Karena itulah, meskipun kau lulusan universitas biasa dengan nilai dan prestasi biasa. Kau punya keunggulan yang tidak dimiliki calon lainnya." Alina mengeraskan rahangnya. Sebuah ironi. Pria yang dulu menghancurkan hidupnya, yang melupakannya begitu saja, kini meminta perlindungannya? Jika dulu ia hanya ingin mendekati Revan untuk balas dendam, kini keadaannya lebih menguntungkan. Dengan posisinya sebagai sekretaris sekaligus bodyguard, ia bisa masuk lebih dalam ke dalam lingkaran pria itu. Ia bisa mengendalikan permainan ini. Dengan senyum kecil, ia menjawab, "Saya mengerti, Pak. Saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik." Revan menatapnya sejenak, sebelum mengangguk puas. "Bagus. Mulai besok, kau akan bekerja lebih dekat denganku. Jangan kecewakan aku, Alina. Dan, selain bela diri, belajarlah menggunakan pistol. Aku sendiri yang akan mengajarimu setiap weekend. Kau tidak keberatan kan bekerja 24/7 untukku?!" "Tentu saja, Pak. Sekarang saya tahu kenapa gaji saya besar sekali." Revan membalas dengan senyum congkak. Hanya satu ujung bibirnya yang terangkat. "Sekarang pergilah. Persiapkan dirimu untuk esok hari." Alina membungkuk sedikit, lalu melangkah keluar dari ruangan itu dengan ekspresi tanpa cela. Tapi begitu pintu tertutup, ia menarik napas panjang. Sebuah permainan berbahaya baru saja dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan menjadi pihak yang kalah."Hi, Quincy!" Laking gulat ni Quincy nang makita si Samantha. May mga dala itong paper bag. Dire-diretsong pumasok sa loob ang dalaga bago naupo sa malaking sofa doon. Inilagay niya sa table ang dala niyang paper bag. "Quincy, para sa inyo iyan ni baby boy mo. Laruan iyan and damit for you! Masanay ka na sa akin, ha? Ganito kasi talaga ako kapag happy and magaan ang pakiramdam ko sa isang tao. I'm very grateful na tinanggap mo ako as your friend. At the same time, very sad din kasi nawalang bigla ang dati kong friends," wika ni Samantha sabay kagat labi. Naupo si Quincy sa tabi ni Samantha. Isip niya, hindi naman niya kailangan ng kahit anong regalo mula sa isang tao. Ngunit ayaw naman niyang mapahiya si Samantha o ma-offend kung hindi niya tatanggapin ang bigay nito. "Salamat dito pero hindi mo na kailangang mag-abala pa. Hindi mo ma ako kailangang bigyan ng kung anu-ano para maging kaibigan mo ako," mahinahong wika niya sabay ngiti kay Samantha. "Well.... thank you, ha. Ka
"Bakit, love? May problema ba?" takang tanong ni Hiro. Napakurap si Quincy sabay ngiti ng alanganin. "Ha? W-Wala naman. Hindi mo lang kasi nabanggit na babae pala ang kaibigan mo. Akala ko lalaki." "I'm sorry, love. Gusto ka nga rin niyang maging kaibigan. Galing kasi siyang ibang bansa. Model siya doon tapos umuwi dito. Nagkwento siya at ang sabi niya, hindi na raw siya kilala ng mga dati niyang kaibigan kaya nalulungkot siya. Kaya nagpaalam siya sa akin kung pwede ka rin ba niyang maging kaibigan." Saglit na tumahimik si Quincy. Hindi niya alam kung ano ang mararamdaman niya. Kung tama lang ba na maging kaibigan niya ang kaibigan ni Hiro. Pero naiisip niyang mas mainam para mabantayan niya ito. "S-Sige, love. Ayos lang sa akin. Kailngan ko ba siya puwedeng i-meet?" "Kahit kailan. Sasabihan ko siya. Ikaw ang mag-decide kung kailan mo gustong makipagkita sa kanya. Para makapag-bonding kayo. Para makilala mo rin siya," nakangiting wika ni Hiro sabay yakap sa kanya. Bumun
"Sa tingin mo magandang dining table ito sa bahay?" tanong ni Samantha kay Hiro. "Oo para sa akin maganda ito. Pero ikaw? Ano ba ang gusto mo? Syempre bahay mo iyon. Ikaw ang dapat mamili ng gusto mo," sabi ni Hiro bago nilibot ang tingin sa mga dining table doon. Ngumuso si Samantha. Pasimple niyang pinagmasdan ang binata kasabay ng pagtatago ng kilig na kanyang nadarama. Hindi maaaring mahalata ni Hiro na sobra siyang kinikilig. "I know naman pero gusto ko pa ring humingi ng suggestions sa iyo. Kasi baka maganda nga para sa akin iyong isang gamit pero hindi na pala bagay sa design o kulay ng bahay ko, 'di ba? I mean, hindi siyang tugma sa gusto kong kalabasan ganoon?" Tumango-tango si Hiro. "Okay I understand. Sige. Patingin nga ulit ako ng itsura ng bahay mo?" Kinuha ni Samantha ang kanyang cellphone at saka hinanap ang video doon ng bahay niya. Nang iabot niya ang kanyang cellphone kay Hiro, nagkadikit ang daliri nila. Tila kinuryente siya at labis na kinilig. Todo pigil
"Paano ngayon iyan? Baka guluhin ni Samantha ang buhay niyong mag-asawa?" tanong ni Leo. Bumuntong hininga si Hiro. "Hindi puwedeng mangyari iyon. Ako ang makakalaban niya kung sakali. Hindi puwedeng guluhin niya ang buhay naming mag-asawa. Masaya ako sa piling ni Quincy at mahal na mahal namin ang isa't isa. Nangako akong hindi siya ipagpapalit sa iba at siya lang ang mamahalin ko. At isa pa, imposibleng magkagusto ako kay Samantha dahil simula pa noon, hindi ko naman siya minahal. Ginamit ko lang siya para makalimot kay Quincy." Tumango-tango si Leo. "Sana nga mapanindigan mo ang sinasabi mong iyan. Wala sa ating bokabularyo ang magloko. Baka naman kapag naghubad sa harapan mo si Samantha, sunggaban mo agad." Natatawang umiling si Hiro bago hinawakan ang kaniyang baba. "Hindi ako hayok sa laman. May asawa ako. Kontento ako sa asawa ko. At isa pa, maganda at sexy ang asawa ko. Kaya bakit ako hahanap pa ng iba o titikim pa ng iba? Pare-parehas lang naman silang may p_uki."Humagalp
Tatlong buwan matapos ang kasal nina Hiro at Quincy, naging abala na si Hiro sa pagpapatakbo ng kanilang kompanya si Hiro. Habang si Quincy naman ay nasa kanilang bahay, nag-aalaga ng kanilang anak. Ayaw siyang pagtrabuhin mg kanyang asawa. Gusto ni Hiro na magbabantay lamang siya ng kanilang anak. "Ang guwapo ng anak ninyo. Solid ang pagkakagawa! Mukhang ginalingan talaga ng modtakels ng asawa mo! Sana ganiyan din ang magiging baby ko!" wika ni Maris nang dumalaw siya sa bahay nina Quincy. "Magiging ganiyan kaguwapo rin ang anak mo kung guwapo rin ang magiging tatay. Maganda ka naman kasi kapag pangit ang tatay, hindi natin sigurado kung sa iyo magmamana ang anak ninyo. Kaya piliin mo iyong guwapong lalaki pero matino. Dahil may mga pangit na cheater ngayon. Ang kakapal ng mukha!" saad ni Quincy sabay tawa. Tumawa rin ang kaniyang kaibiga. "Trueness ka diyan! Kapalmuks ang mga burikat! Hindi ko alam kung saan sila kumukuha ng lakas ng loob para gawin ang ganoong bagay! Isipin
ISANG TAON ang lumipas, wala na talagang naging balita pa silang dalawa kay Fern. Sinubukan nila itong kontakin ngunit hindi nila magawa. Naisip nilang dalawa na siguro dapat nilang bigyan ng oras si Fern lalo pa't nasaktan nila ito. Ang dapat nilang pagtuunan ng pansin ay ang anak nilang lumalaki na. Ang pamilya nila. Kasalukuyang naglalakad sa dalampasigan sina Hiro at Quincy. Niayaya kasing magdagat ni Hiro si Quincy. Walang kaalam-alam si Quincy na mayroon pa lang surpresa sa kaniya si Hiro. "So ang ibig mong sabihin, talaga pa lang nagustuhan mo ako noon?" nakangising wika ni Quincy. "Oo. Totoo iyon pero nahihiya lang ako. At saka, focus kasi ako sa pag-aaral no'n. Wala akong time masyado para sa sarili ko. Lalo na't ako pa ang inilalaban sa iba't ibang school. Tapos ayon na nga, nagulat talaga ako nang bigla ka na lang hindi na nagpapansin sa akin. Bigla kang umiwas. Iyon pala. Si Fern na ang gusto mo." Tumawa si Quincy. "Syempre, masakit kayang hindi ka pinapansin ng taong
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Comments