Beranda / Romansa / ISTRI 48 JAM TUAN CEO / 16. PENGAKUAN ARES

Share

16. PENGAKUAN ARES

Penulis: Purple Rain
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-13 19:45:59

“Lepas!” Zivanna menyingkirkan tangan Ares dari bahunya.

“Aku sudah nolong kamu dari dia, lho. Begini cara kamu berterima kasih?” tampak kekecewaan di raut wajah Ares yang kini menggaruk tengkuknya.

“Makasih,” ia berbalik badan, kemudian menatap Ares dengan datar.

Namun tetap saja Ares bergeming, pria berpostur jangkung dengan perawakan atletis itu tidak bergerak dari tempatnya.

“Kok masih di sini? Pulang sana!” usir Zivanna gemas. Kenapa Ares masih saja bebal meskipun ia sudah menjelaskan ribuan kali.

Telinganya seakan tidak mendengar, Ares malah mendekat dan merapatkan diri pada Zivanna.

“Ares,” Zivanna terkejut.

“Dia masih di sini. Diam dan turuti saja permainannya!” bisik Ares yang reflek menarik tengkuk Zivanna dan membungkamnya hingga terdiam.

Benar saja. Ketika bunyi beep terdengar, suara napas berat dan tersengal memenuhi ruang tamu apartemen.

“Arresss …. leppasss …. emphhh ….” usahanya sia-sia, Ares semakin memperdalam tautan laknat itu. Ares benar-benar menulikan dua rungu d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    150. TIDAK INGIN YANG LAIN

    Hening sejenak menyelimuti meja makan itu sebelum akhirnya Tuan Mario terkekeh pelan, memecah ketegangan yang sempat memuncak. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, sebuah gestur menyerah yang tampak ramah.​"Tenanglah, Ethan. Kau selalu saja tegang seperti sedang berada di garis start sirkuit," ujar Mario dengan nada santai. "Aku mengundang kalian ke sini karena aku mendengar kabar bahagia. Bukankah tidak sopan jika aku hanya mengirimkan karangan bunga untuk pertunangan kalian?”​Mario meraih botol wine, lalu mengisi kembali gelas Ethan dan Bella dengan gerakan yang luwes.​"Selamat atas pertunangan kalian. Bella, kau benar-benar membawa perubahan besar pada Ethan. Dia sekarang terlihat lebih... bernyawa," lanjut Mario tulus, atau setidaknya terdengar sangat tulus.​Bella perlahan melonggarkan genggamannya pada tangan Ethan. Ia mencoba tersenyum, kali ini lebih alami. "Terima kasih, Tuan Mario. Saya hanya mengikuti takdir ke arah mana menuntun hubungan ini, dan mencoba menjadi ruma

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    149. SUPERHERO

    Bella terdiam di pelukan Ethan. Pertanyaan itu—“Secinta itu kamu sama aku, Bel?”—terasa seperti gema dari masa lalu yang akhirnya mendapatkan jawaban, namun di waktu yang jauh berbeda.🍁🍁🍁Bella melepaskan pelukan itu perlahan, menatap mata biru Ethan yang kini tidak lagi sedingin es, melainkan penuh dengan kobaran api protektif."Dulu, aku mencintaimu sampai aku kehilangan diriku sendiri, Mas. Sampai aku tidak mengenal siapa aku ini sebenarnya? Kenapa begitu terobsesi denganmu?" Ucap Bella jujur, suaranya tenang namun tajam. "Sekarang, aku mencintaimu sampai aku takut kehilangan kamu lebih dari aku takut kehilangan nyawaku sendiri. Jadi, tolong... jangan jadikan makan malam ini sebagai ajang balas dendam atau melanjutkan ambisimu yang tertunda."Ethan tertegun. Ia mengusap pipi Bella dengan ibu jarinya, merasakan sisa kehangatan kulit wanita itu. "Ini bukan sekadar dendam, Bel. Ini tentang menutup bab yang seharusnya sudah selesai bertahun-tahun lalu. Mario punya kunci yang selama

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    148. DI BALIK CINTA REMAJA

    Undangan Mario Caspian barusan seperti mesin waktu yang menarik kesadaran Bella kembali ke masa berseragam. Sebelum kemewahan penthouse dan aroma bensin sirkuit ini ada, hanya ada aroma buku tua dan keringat lapangan basket di SMA St. Louis.Flashback dimulai…Bella remaja adalah definisi kegigihan yang salah sasaran. Selama tiga tahun, dunianya berputar pada satu poros: Ethan Dirgantara.Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, Bella sudah bertarung dengan asap dapur. Ia menyiapkan bekal dengan jemari yang terkadang teriris pisau atau melepuh terkena wajan panas. Bukan untuknya, tapi untuk pemuda bermata biru yang bahkan jarang menyebut namanya dengan benar.​“Dimakan, ya! Hari ini aku buatin kamu sandwich. Isinya ekstra keju, kesukaan kamu,” ucap Bella. Ia meletakkan kotak bekal itu di meja Ethan. Wajahnya secerah matahari pagi, bibirnya tersenyum manis bagaikan ranumnya cherry. Namun, pemuda itu bergeming. Ethan hanya melirik kotak itu sekilas, seolah itu hanyalah gangguan kecil d

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    147. NOSTALGIA DI LINTASAN SIRKUIT

    ​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse, namun Ethan sudah tidak ada di tempat tidur. Bella terbangun oleh aroma kopi yang kuat dan suara samar dentingan kunci dari arah ruang kerja.​Saat Bella melangkah keluar dengan piyama satinnya, ia menemukan Ethan sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan perlengkapan balap yang sudah lama tersimpan di dalam koper kedap udara. Ethan sedang memegang helm karbon hitam miliknya, mengusap permukaannya yang lecet dengan ekspresi yang sulit diartikan.​"Terlalu pagi untuk berperang dengan kenangan, Mas?" tanya Bella lembut sambil bersandar di bingkai pintu.​Ethan mendongak, “Kau sudah bangun?” senyumnya tipis namun tegas. "Ini bukan soal berperang, Bella. Hanya berkenalan kembali. Aku akan ke sirkuit pagi ini. Hanya latihan pribadi, tanpa tim, tanpa publikasi. Aku ingin tahu apakah tanganku masih gemetar saat memegang kemudi di kecepatan tinggi."Bella berjalan mendekat, “Aku yakin, Mas bisa melawan perasaan sia

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    146. TAPAK TILAS MOONLIGHT BLOOM

    ​Ethan akhirnya menyerah pada tarikan tangan Bella. Dengan sisa-sisa napas yang masih sedikit berat, ia melangkah keluar dari jacuzzi, membiarkan tetesan air jatuh membasahi lantai marmer yang dingin. Ia segera meraih handuk kimono tebal berwarna putih dan menyampirkannya ke bahu Bella sebelum membungkus dirinya sendiri.​"Kamu benar-benar tidak kenal lelah, ya?" gumam Ethan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Matanya tak lepas dari Bella, yang meski terlihat lelah, memiliki binar mata yang lebih cerah dari biasanya.​"Kehilangan semangat adalah kemewahan yang tidak bisa aku beli, Mas," jawab Bella jenaka sambil mengikat tali kimononya. "Dan ingat, Mas punya utang satu kemenangan padaku di pasar malam nanti."***​Satu jam kemudian, mobil mewah Ethan membelah jalanan Moonville menuju sisi kota yang lebih merakyat. Kontras itu terasa nyata; dari kesunyian penthouse yang eksklusif menuju hiruk-pikuk suara mesin wahana permainan dan aroma harum gulali serta jagung bakar.​

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    145. SI PALING DOMINAN

    Lampu-lampu kota Moonville yang berkilauan di kejauhan menjadi saksi bisu saat atmosfer di dalam jacuzzi itu berubah dari sekedar hangat menjadi membara. Uap air yang mengepul di udara seolah memerangkap aroma tubuh mereka—perpaduan antara wangi Chateau Margaux yang berkelas, kelopak mawar, dan feromon murni yang memicu gairah.“Sekarang tidak ada lagi alasan untuk takut, jika Mas ingin kembali ke lintasan balap.” Suara Bella terdengar bagai bisikan. Mungkin terapi mental yang Bella berikan sedikit berbeda, namun bisa membuat Ethan merasa hidup dan mengalahkan ketakutannya sendiri.“Enghh…” ​Ethan mengerang rendah saat jemari Bella yang lentur mulai menelusuri garis rahangnya, turun ke leher, hingga berakhir di dadanya yang bidang. “Kematian ayah Kay adalah takdir yang sudah dikehendaki. Mas tidak pantas stuck di masa itu dan meratapi kesalahan di sepanjang hidup,”“Tidak semua orang mengerti, Bella.” “Sekarang saatnya Mas bangkit dan menunjukkan pada semua orang, kalau kerja keras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status