แชร์

Chapter 2 - Sarapan dan Pernikahan

ผู้เขียน: Nabila Irawan
last update วันที่เผยแพร่: 2022-09-09 00:00:43

“Sarapan dulu, Mas.”

Endra yang baru turun dari tangga sama sekali tidak ingin menanggapi tawaran Gina. Lelaki berperawakan tinggi itu hanya melengos dan terus berjalan menuju pintu untuk segera pergi bekerja.

Meski sudah terbiasa, terkadang Gina selalu merasa sedih ketika harus kembali makan seorang diri di meja makan yang bisa diisi 6 orang itu. Endra sama sekali tidak ingin memakan masakannya atau sekadar makan bersamanya; dari awal mereka menikah hingga detik ini. Kecuali jika mereka sedang berada di kediaman orang tua Endra. Itu lain cerita.

Sementara itu, makanan jatah Endra yang tidak pernah dilirik sama sekali oleh si empunya, akan Gina berikan kepada orang yang kekurangan. Jadi, masakannya tidak pernah mubadzir karena dibuang atau menjadi basi karena dibiarkan terlalu lama.

“Di mana sepatuku?”

Gina hampir menyemburkan kembali makanan yang ada di dalam mulutnya ketika Endra tiba-tiba sudah berdiri di depannya dan bertanya padanya. Mungkin, pikirannya sempat tidak berada di tempat selama beberapa saat.

“S-sepatu yang mana?” tanya Gina sembari berdiri dan menatap Endra takut-takut.

Endra mendecak sebal, “Sepatu hitam dari Fira.”

Nama itu. Nama yang selalu membuat Gina iri karena seringkali keluar dari mulut sang suami. “Kemarin aku cuci. A-akan aku ambilkan sekarang.”

Dengan langkah yang sengaja dipercepat, Gina lekas-lekas melangkah menaiki tangga menuju tempat jemuran yang biasa dipakai untuk menjemur baju. Ia masih membiarkannya di sana karena terlalu lelah untuk naik turun melewati tangga. Kakinya mudah merasa pegal dan tubuhnya yang semakin berat membuatnya sedikit menjadi pemalas.

Namun ketika kembali ke meja makan, ia tidak menemukan Endra di mana pun. Pintu rumah juga sudah kembali tertutup, bersamaan dengan terdengarnya suara mobil yang semakin mengecil.

“Mas Endra?” panggilnya. Khawatir sang suami tengah menunggunya yang bisa terbilang lama hanya untuk mengambil sepatu saja.

Ketika tidak mendapat sahutan, Gina melangkah menuju pintu dan memeriksa garasi yang ternyata mobil Endra sudah tidak ada di sana. Artinya, Endra sudah pergi, dan ia hanya bisa menghela napas kecewa sembari menenteng sepatu hitam yang sempat ia semir sebentar agar terlihat mengkilap.

Namun, hal mengejutkan kembali Gina dapati ketika ia kembali masuk untuk melanjutkan sarapannya. Makanan di atas piring yang sengaja ia siapkan untuk Endra telah kosong, hanya tersisa beberapa butir nasi dan tulang ayam serta air di dalam gelas yang tersisa setengah.

Tanpa berpikir keras, Gina langsung menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan; menahan pekikan senang atas kejutan yang ia dapat di pagi hari.

***

“Pak Endra, maaf, client meminta izin untuk memajukan jadwal meeting. Jadi, meetingnya akan dimulai sekitar satu jam lagi.”

Memang pada dasarnya banyak hal yang sedang dipikirkan, jadi Endra sama sekali tidak mendengar ucapan anak magang itu. Bahkan kehadirannya pun belum Endra sadari.

“Pak Endra?”

Belum ada respon.

“Pak Endra? Maaf pak, anda mendengar saya?”

Masih sama. Hingga-

“Pak-“

“Astaga!”

Anak magang itu tak kalah terkejutnya dari Endra. Ia hanya menyentuh bahu Endra omong-omong, namun reaksi yang Endra berikan seolah ia tengah melakukan sesuatu yang berlebihan.

“Ma-maaf, pak, s-saya minta maaf.”

Ketika detak jantungnya berangsur normal, Endra menghela napas panjang kemudian berkata, “maafkan saya juga, Lin. Kamu udah lama di sini? Ada yang ingin disampaikan?”

Lina, yang baru magang sekitar 3 minggu itu kembali berkata dengan takut-takut. “Emm… T-tadi client dari PT. ERI ingin meminta izin anda untuk memajukan jadwal meeting-nya.”

“Dimajukan berapa lama?”

“Satu jam. Jadi, meeting­-nya akan dimulai sekitar satu jam lagi. Jika anda keberatan, akan saya sampaikan kepada mereka.”

“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Lagipula saya sedang senggang.”

“Baik, pak. Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi saya minta maaf.”

Ketika pintu tertutup, Endra menghela napas panjang kemudian memijat pangkal atas hidungnya untuk menghilangkan pening dari sana.

Hari masih terhitung pagi, tapi pikirannya sudah tidak fokus dan tidak bisa berhenti memikirkan suatu hal yang juga menjadi alasan mengapa semalam ia sangat sulit tertidur.

Gina.

Iya, istrinya. Sedikitnya, ia merasa bersalah karena telah melakukan sedikit kekerasan dengan cara mencengkram rahang Gina kemarin sore. Bagaimanapun, itu adalah tindakan terjauhnya. Selama ini ia hanya mencerca Gina melalui perkataannya yang cenderung jahat, tidak pernah sekalipun menyentuh Gina dalam artian menyakitinya secara langsung.

Maka dari itu, ia menebus rasa bersalahnya dengan mencoba memakan masakan Gina untuk yang pertama kalinya. Meski terlihat sedikit memalukan karena harus dengan mengalihkan perhatian anak itu terlebih dahulu pada sepatunya, Endra tetap merasa puas karena berhasil memakan makanan itu dengan cepat tanpa harus duduk berdua dengan istrinya di sana.

Sampai kapanpun, ia tidak ingin. Maaf-maaf saja, Endra masih dendam pada Gina yang terus bersikeras melanjutkan perjodohan dengannya dua tahun lalu. Padahal, saat itu semua orang tahu bahwa ia masih memiliki kekasih, termasuk Gina. Dan itulah mengapa sampai detik ini Endra sangat membenci istrinya. Karena Gina, Fira memutuskan hubungan mereka dan kini hubungan keduanya tidak lebih dari teman. Tapi perasaan Endra masih sama besarnya seperti dulu, jadi ia tetap mendekati Fira meski perempuan itu terus menolaknya berkali-kali.

Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa permisi atau izin. Endra sudah akan marah namun yang datang ternyata sahabat karibnya –Daffa.

“Eettt… Tenang dulu, bro.” Daffa mengangkat jari telunjuknya ke hadapan Endra ketika ia melihat lelaki itu sudah akan membuka mulut untuk mengomeli ketidaksopanannya.

Seperti biasa.

“Gue mau kasih ini.”

Daffa menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna merah marun yang tampak simpel namun terlihat elegan. Sekilas, Endra bisa melihat namanya dan Gina di kolom nama tamu, tepat di bawah inisial nama kedua calon mempelai.

“Dih, nikahan lo?” Endra terkekeh seolah mengejeknya, namun yang keluar dari mulut Daffa sungguh di luar dugaan.

“Iya, dong. Bujangan terus capek, nggak ada yang urus. Memangnya lo doang yang mau dilayani istri? Gue juga mau kali.”

Meski hanya kalimat singkat, Endra sempat terdiam sesaat karenanya.

“Bisa aja lo.”

“Tapi gue serius, Ndra. Semenjak nikah lo makin keurus. Lihat baju lo, nggak pernah gue liat baju lo kusut lecek lagi semenjak nikah. Licin terus macam perosotan TK. Padahal lo nggak pakai jasa ART, kan?”

Perbincangan mengenai pernikahan tidak lagi menarik untuk Endra. Ucapan yang dilontarkan oleh Daffa juga membuat Endra merasa sedikit tidak nyaman dan gelisah. Padahal seharusnya ia merasa biasa saja. Toh, ia pun tetap menafkahi Gina di samping ketidaksukaannya pada perempuan itu.

“Omong-omong, acaranya minggu depan. Lo sama Gina bisa datang, kan?”

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 50 - Usaha

    “STOP, PA, STOP!”Ardi sama sekali tak terpengaruh oleh teriakan sang istri yang berusaha menghentikannya untuk memukuli bajingan itu yang sayangnya adalah anak kandungnya sendiri.Sementara itu yang tengah dipukuli hanya diam pasrah, menerima setiap hantaman menyakitkan yang sudah ia terima sejak bermenit-menit lalu. Tak ada keinginan untuk melawan, pun menyangkal atas setiap lontaran kata kasar yang sang ayah tujukan padanya. Semuanya memang salahnya. Ia pantas mendapatkan semua ini.“Anak gak tahu diuntung! Gak tahu malu!” Ardi melayangkan pukulan terakhirnya pada wajah sang anak sebelum benar-benar berhenti. Ia bangkit dari posisi jongkoknya dengan napas yang memburu. “Kamu nggak dididik buat jadi bajingan! Kamu nggak dididik buat jadi laki-laki brengsek! Tanggung jawab Papa d

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 49 - Segunung Penyesalan

    “Singkat cerita, Gina kembali terbuka kepada saya, dia bercerita beberapa hal yang membuat saya sangat bersyukur karena secara nggak langsung Gina memberitahu saya bahwa dia sudah baik-baik saja. Rasanya sebagian besar kekhawatiran saya terangkat.” Senyuman lebar Oliv tunjukkan pada Endra. “Tapi sayangnya setelah itu komunikasi saya dengan Gina nggak sesering dulu. Saya kembali fokus pada karier dan hidup saya, begitu juga dengan Gina. Bahkan saya nggak tahu kalau Gina menikah dengan Mas Endra, saya baru tahu setahun kemudian ketika saya memberitahu perihal pernikahan saya.”Endra mengusap wajahnya frustasi. “Boleh saya tanya?”Oliv mengangguk. Ia meminum minumannya sebelum kembali menyimak Endra.“Apa ada orang lain yang tahu tentang ini?”

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 48 - Yang Sebenarnya Terjadi

    Rasti menutup mulutnya tak menyangka. Ia bergantian memandang Oliv dan Endra yang sama-sama larut dalam pikirannya. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit, membayangkan betapa tersiksanya menjadi wanita yang saat ini tengah mereka bicarakan.“Itu dari pihak ayahnya. Sementara ibunya memang tidak memiliki keluarga kandung karena besar di panti asuhan. Jadi sejak saat itu, mereka hanya hidup berempat. Gina sempat trauma hebat dan depresi karena kejadian itu, tapi akhirnya dia kembali sehat dan bisa lanjutin hidupnya.” Oliv menatap Endra yang menunduk dengan tangan yang mengepal erat di atas meja. “Mas Endra, semuanya sudah berlalu. Mungkin sisa-sisa memori itu masih sangat melekat di ingatan Gina. Asal tidak diingatkan hal yang menjurus ke sana, semuanya bakal baik-baik aja.”Terlambat. Kata demi kata yang ia lontarkan pada Gina mal

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 47 - Masa Lalu Gina

    “Bu Gina sudah tidak apa-apa. Tidak ada trauma kepala yang serius. Hanya saja… luka terbuka dan memar dari kekerasan fisik yang dialami cukup mengkhawatirkan, apalagi dengan kondisi baru melahirkan secara caesar dua bulan lalu.” Dokter itu melirik sang pasien yang tengah menatap ke arah jendela, kemudian kembali menatap lelaki di hadapannya. “Saran saya, penjagaan rumah harus diperketat, Pak, atau mungkin Bu Gina bisa ditemani anggota keluarga lain saat Bapak tidak ada. Kasus perampokan ini memang sedang marak, kita sulit memprediksi pergerakan mereka yang berniat jahat.”Endra mengangguk, kemudian mengucapkan terima kasih. Ia terpaksa mengarang cerita seperti itu karena demi Tuhan, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 46 - Trauma

    PLAK!!Hening sesaat. Wajah Gina masih tertoleh ke arah kanan akibat tamparan yang baru ia dapatkan dari sang suami. Rasanya panas dan perih. Ia yakin pipi kirinya sudah memerah.“Apa pernah aku mengizinkan kamu buat masukin lelaki lain ke rumah ini?”Nada bicara itu masih tenang, namun sangat menyiratkan amarah yang luar biasa.“Apa ini bukan yang pertama kali?”Pertanyaan itu ditanggapi gelengan oleh Gina. “Aku nggak kayak gitu, Mas.”“TERUS INI APA?!” Napas Endra naik turun karena emosi. “Bisa-bisanya kamu terima lelaki lain di saat suamimu lagi nggak ada di rumah? Bisa-bisanya kamu lancang dan biarkan dia men

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 45 - Kunjungan Darren

    “Kenapa Kak Darren ada di sini?”Di pintu rumahnya Gina menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Darren tidak datang sendiri, mungkin bersama Daffa atau Lia. Tapi nyatanya tidak. Pria dengan setelan kaus putih yang dibalut kemeja flannel dan dipadupadankan dengan jeans hitam itu hanya datang seorang diri. Tak lupa dengan paperbag yang dijinjingnya. “Maaf aku nggak bilang. Aku–““Kakak dapat alamatku dari mana?”“Kamu pernah kasih waktu aku mau kirim makanan.” Iya juga. Gina merutuki dirinya sendiri karena itu. Di dalam memang ada Bi Asih, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman karena bagaimanapun ia sudah bersuami. Terlebih, Endra akan marah besar jika tahu Darren telah menginjakkan kakinya di rumah itu. Tapi Gina pun tak enak jika harus membiarkan tamunya di luar rumah. “Masuk dulu, Kak.”Ajakan itu disambut senyum sumringah oleh bibir tipis Darren. Ia duduk di kursi ruang tamu dan menyimpan bawaannya di atas meja. “Ini ada sedikit bingkisan buat kamu. Nggak yang aneh

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 16 - Cuti

    Pagi ini Gina memutuskan untuk kembali memasakkan sarapan untuk Endra terlepas dari sang suami yang sebenarnya tidak meminta. Hanya saja, aneh rasanya jika kebiasaan yang hampir tiga tahun ia lakukan harus tiba-tiba dihentikan.Yang berbeda kali ini adalah Gina tidak menunggu Endra di meja makan, mel

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 7 - Sedikit Khawatir

    Pagi ini terasa ada yang berbeda. Endra tidak mencium aroma masakan yang biasanya selalu menguar hingga ke setiap penjuru rumah. Ia juga tidak mendengar adanya pergerakan atau tanda-tanda seseorang sedang memasak di dapur. Pun, meja makan yang biasanya sudah terisi kini masih dalam keadaan kosong.

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 6 - Amarah yang Meledak

    “Kenapa, Mas? Ada masalah di kantor?”Hari di mana Endra mengantarkan Gina pulang sampai ke rumah sudah satu minggu yang lalu, dan semenjak itu pula perlakuan Endra kembali kasar dan dingin padanya.Seperti malam ini. Lelaki itu pulang dengan wajah merah menahan amarah. Hal ini membuat Gina sebenar

  • Inikah Akhir Kisah dari Suami Pilihanku?    Chapter 5 - Kejutan Kecil

    “Kamu sudah makan, sayang? Maaf, ya, tadi pagi aku buru-buru jadi nggak sempat sarapan bareng kamu.”Gina yang tadinya berpikir bahwa ia hanya tinggal bersandiwara seperti biasa, kini menjadi sedikit canggung dan sulit mengontrol diri. Pasalnya Safira masih duduk tak jauh darinya, sembari memilah b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status