LOGINShenna membulatkan kedua matanya ketika melihat pria itu duduk di hadapannya. Pria yang sempat ia maki" beberapa hari yang lalu adalah seorang CEO di tempat Shenna bekerja. Shenna kembali dibuat terkejut ketika pria itu dengan gampangnya memindahkan posisi Shenna di kantor. Sekarang bagaimana cara Shenna agar bisa bertahan di perusahaan ini ketika ia harus berhadapan dengan pria gila itu.
View More“Vin, tolong buatkan minum. Ini ada Bude Maya, datang bertamu!” seru Bu Leni dengan dengan nada memerintah. Ia bahkan tidak peduli kalau menantunya tengah sibuk memasak di dapur, mengingat sebentar lagi sudah tiba waktu makan siang.
“Baik, Bu!” jawab Savina dengan cekatan. Wanita itu segera mengecilkan api kompor dan membuatkan minum untuk Bude Maya, kakak perempuan Bu Leni.
Bu Maya sengaja singgah ke rumah adiknya untuk mengundangnya ke acara tujuh bulanan menantunya. Ia bercerita kalau menantunya adalah anak orang kaya dan bekerja di salah satu bank swasta dengan gaji yang cukup besar. Hal ini membuat Bu Leni merasa iri.
“Len, apa menantumu tidak bekerja? Lihatlah Diana, menantuku. Dia bekerja di bank dan memiliki gaji yang cukup besar. Setiap bulan mereka selalu pergi jalan-jalan ke luar kota. Apa kabar dengan menantumu?” sindir Bu Maya kepada adiknya.
“Mbak, dari awal aku tidak setuju dengan pilihan Firman. Selain Savina hanya lulusan SMA, dia juga berasal dari keluarga biasa.” Bu Leni menanggapi ucapan Bu Maya dengan wajah cemberut. Sebenarnya dia sudah bosan dengan ejekan yang kerap dilontarkan oleh keluarga besarnya karena Firman kerap dituding salah memilih istri.
Ketika mereka sedang berbicang, Savina keluar dengan dua cangkir teh dan sepiring pisang goreng yang masih hangat. Ia tersenyum dan tampak berbasa-basi kepada Bu Maya yang memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Savina mengulurkan tangannya dan Bu Maya menerimanya dengan penuh keterpaksaan. Wanita itu melihat Savina dengan tatapan merendahkan.
“Vin, kamu tidak ingin bekerja seperti istri-istri yang lain? Apa kamu merasa nyaman tinggal di rumah sambil ongkang-ongkang kaki dan menunggu gaji dari suamimu?” celetuk Bu Maya dengan tatapan sinis.
“Maaf, Mas Firman meminta saya untuk tetap tinggal di rumah. Sebagai istri yang baik, saya harus patuh kepada Mas Firman.” Savina menjawab dengan wajah tertunduk. Hatinya merasa sedih ketika Bu Maya dengan entengnya mengatakan hal yang begitu menyakitkan di hadapannya.
“Vin, kamu itu masih muda dan belum punya anak. Ini kesempatan kamu mencari uang sebanyak-banyaknya. Jangan hanya mengandalkan suamimu!” Bu Maya kembali berbicara dengan nada tinggi sehingga membuat Savina semakin tertunduk dalam.
Tiba-tiba tercium bau hangus dari dalam. Bu Leni segera menghardik Savina untuk masuk ke dalam.
“Vina, ini bau apa? Pasti kamu lupa mematikan kompor. Bisa-bisa rumah kita kebakaran!” seru Bu Leni dengan tatapan yang begitu tajam. Semua kelakuan Savina membuatnya naik darah.
Savina segera berlari ke dapur dan melihat ayam goreng di wajan hampir gosong. Ia segera bergegas mengangkat ayam goreng itu dengan perasaan takut di dalam hatinya. Kalau ibu mertuanya marah bagaimana? Apa wanita itu akan mengadukan kesalahannya kepada Mas Firman, seperti yang sudah-sudah? Semoga saja kali ini Bu Leni memberikan pengampunan kepadanya dan tidak menceritakan kesalahannya kepada Mas Firman.
Di ruang tamu, Bu Leni tampak kesal. Ia sudah lelah dengan sikap Savina yang terus-terusan membuatnya marah. Kalau bukan karena Firman yang terus memaksa menikahi Savina, mungkin dia tidak akan pernah mengizinkan putranya menikah dengan gadis kampung yang hanya lulusan SMA.
Masih teringat jelas malam itu Firman mengancam akan meninggalkan rumah kalau tidak dinikahkan dengan Savina. Alasan putranya sangat tidak masuk akal, yaitu hanya karena Savina pernah menolong Firman yang tersesat ketika mendaki gunung di daerah Jawa Tengah. Putranya menganggap Savina adalah jodoh yang dikirimkan Allah untuknya dan memaksa Bu Leni untuk menerima wanita itu di keluarganya. Padahal Firman sudah dijodohkan dengan Naira yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit swasta.
“Leni, kenapa kamu melamun? Jangan lupa ya, datang ke acara putraku dan Diana. Satu lagi, ajak juga si gadis kampung itu kalau kamu tidak malu,” kekeh Bu Maya dengan senyum mengejek. Wanita itu seakan ingin mengolok-olok Savina yang dianggapnya wanita kampung dan tidak berpendidikan seperti saudara-saudaranya yang lain.
Bu Leni tampak kesal dan menunjukkan raut wajah yang tidak bersahabat. Seandainya saja Firman menikah dengan Naira, mungkin dirinya tidak akan dihina dan diejek oleh keluarganya.
Bu Maya bergegas berpamitan setelah menghabiskan minumnya. Ia juga membungkus tiga buah pisang goreng buatan Savina menggunakan tisu.
“Len, aku pamit ya. Aku juga minta pisang gorengnya, sebab rasanya enak dan lumayan untuk bekal di dalam mobil,” kekeh Bu Maya dengan senyum yang begitu lebar.
Bu Leni hanya mengangguk dan mengantarkan tamunya sampai ke halaman. Wanita itu berdiri sambil menatap mobil Bu Maya sampai menghilang di tikungan.
Bu Leni bergegas masuk ke dalam dan menemui menantunya yang tengah memasak sayur. Sebelum jam makan siang tiba, ia harus menyelesaikan semua kegiatan memasaknya. Keluarga Bu Leni menyukai masakan yang masih hangat sehingga memaksa Savina untuk memasak setiap jam makan tiba. Meski Savina dalam keadaan sakit, Bu Leni tetap tidak peduli. Sebagai seorang istri Savina harus dapat bersikap patuh dan menyenangkan hati suaminya.
“Savina, lima belas menit lagi suamimu akan pulang untuk makan siang. Jangan sampai kamu belum selesai memasak. Sejak dulu, Ibu selalu memanjakan Firman dan Ibu tidak mau kehidupan Firman semakin menderita karena kamu!” Bu Leni berbicara ketus kepada menantunya. Ia bahkan terus-terusan memarahi Savina yang tengah sibuk memasak di dapur.
Savina hanya diam dan melakukan tugasnya. Dari matahari terbit, Savina sudah menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habis-habisnya. Bu Leni memperlakukan Savina seperti pembantu, bukan menantu. Wanita itu bahkan kerap mengadukan sikap Savina kepada Firman dan mengadu domba ke duanya.
Savina tampak kelelahan dan mengusap peluh yang menetes di wajahnya. Ia bahkan belum beristirahat sama sekali dari pagi. Namun, Bu Leni tidak mau tahu. Wanita itu menganggap menantunya bertanggung jawab untuk mengerjakan pekerjaan rumah tanpa terkecuali.
“Vin, sebagai menantu itu harus tahu diri. Jangan hanya mau enaknya saja. Suami kamu capek-capek kerja di luar sana dan kamu juga harus membantunya dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau mencuci baju, tidak usah memakai mesin cuci, nanti listriknya boros. Kasihan Firman harus mengeluarkan uang lebih untuk bayar listrik. Satu lagi, ngepelnya pakai tangan saja biar bersih!” Bu Leni terus menceramahi Savina sambil duduk di kursi dan mengawasi gerak-gerik menantunya. Ia tidak mau Savina bersantai sejenak di rumahnya yang terbilang mewah.
Savina hanya menghela napas mendengar ceramah dari ibu mertuanya. Sebagai menantu, Savina sudah berusaha mengambil hati mertuanya namun, sepertinya sampai detik ini, Bu Leni belum ikhlas kalau Firman menikahinya.
Terdengar suara mesin mobil menderu di halaman. Savina yang ingin berlari menyambut suaminya, dicegah oleh ibu mertuanya. Ia meminta Savina untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Kamu tidak usah menyambut Firman, biar Ibu saja!” ucap Bu Leni dengan nada tegas.
Savina mengangguk dan patuh kepada perintah mertuanya. Selama empat bulan menikah, Savina ingin sekali menyambut kepulangan suaminya, tapi Bu Leni selalu melarang dan meminta wanita itu menyelesaikan pekerjaannya.
“Assalamualaikum!” ucap Firman dengan nada penuh kelembutan.
“Waalaikumussalam!” jawab Bu Leni dengan senyum di wajahnya. Wanita itu segera menyambut putra kesayangannya dan mengajak Firman masuk ke dalam.
“Bu, Savina mana?” tanya Firman sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Biasa, Savina itu sedang mengerjakan sesuatu di belakang. Kamu kan tahu sendiri kalau istrimu itu lelet, jadi Ibu suka gregetan. Ada menantu tapi seperti tidak ada menantu!” ucap Bu Leni dengan mimik wajah sedih.
***
Bersambung
Setelah agak lenggang. Tiara dan Damar terlihat bersama sedang bercengkerama seperti biasa. Sambil mengelap meja tentu saja.Di meja lainnya, ada Bisma dan Kevin yang duduk santai. Mereka agaknya merasa sangat lelah sekarang.Lalu Shenna dan Arga yang sedang mencuci beberapa piring dan gelas kotor agar bisa digunakan lagi."Damar, dia keliatannya suka sama Tiara ya." ujar Bisma tiba-tiba.Pandangannya menatap betapa dekatnya mereka. Seolah tak berjarak sama sekali.Kevin mengangguk, setuju dengan apa yang bisma katakan. Hanya dengan tatapan itu saja, kevin mengerti maksud dari pandangan perempuan itu."Gua sama Tiara pacaran." ujar Bisma memberikan informasi.Entah harus merespon seperti apa, Kevin malah dibuat tertawa mendengarnya.Tawa itu agaknya membuat Bisma tersinggung. Kevin tidak percaya dengan ucapannya."Kalau lo bilang lo suka sama Tiara, gua percaya sih. Cewe modelan Tiara emang banyak yang naksir dari dulu. Tapi kalau pacaran, gua yakin Tiara enggak dulu sama lo." ujarnya
Pada saat hari di mana Tiara dan Bisma akan dinner. Laki-laki itu sudah menunggu di depan kosan Tiara.Lengkap dengan jas gelap rapi yang ia gunakan. Tiara keluar dengan balutan dress putih yang sudah ia kirimkan sebelumnya pada Tiara.Dengan senyuman manisnya, Tiara melangkah menghampiri Bisma yang sudah menunggu.Rasanya sangat aneh menggunakan pakaian rapi begini hanya untuk makan malam. Tiara juga merasa penasaran ke mana mereka akan pergi hari ini."Udah siap?" tanya Bisma dengan senyuman penuh wibawa.Tiara mengangguk, Bisma membuka pintu penumpang dan membiarkan Tiara untuk masuk lebih dulu. Lalu ia segera berlari menuju kursi kemudi.Bisma memecah kemacetan dengan melewati jalan pintas yang sering ia jadikan alternatif saat kondisi jalan sedang macet parah.Dengan ditemani alunan musik, Tiara sesekali bersenandung mengikuti irama lagu.~Long endless highway, you're silent beside meDriving a nightmare I can't escape fromHelplessly praying, the light isn't fadingHiding the sh
Beberapa tahun sudah berlalu. Shenna, Tiara, dan Kevin akhirnya lulus kuliah juga.Saat itu, ada Damar, Bisma, dan juga Arga yang datang pada saat mereka bertiga wisuda.Jagan terkejut, merek semua jadi semakin dekat ketika kejadian tak terduga itu terjadi.Bahkan Arga juga sempat menyatakan cintanya pada Shenna hanya karena tidak mau memendamnya sendiri.Jahat memang, namun ia tak mau berbohong. Meskipun ia juga akan tetap ditolak karena Shenna lebih memilih bersama Kevin daripada dirinya.Tidak masalah, Arga menyatakan cinta hanya karena ia tidak mau memendam perasaan lebih lama.Bahkan Kevin juga mengetahui hal itu. Kevin juga berpikir itu tidak akan jadi masalah ketika Shenna lebih memilih dirinya.Arga datang dengan sebuket bunga untuk diberikan pada Shenna. Bukan sebagai orang yang menyukai Shenna, melainkan sebagai bos yang berusaha untuk dekat dengan semua karyawannya.Arga sudah banyak berubah, dia yang dulunya sangat cuek dan dingin akhirnya mulai berbaur dan akrab dengan ka
Shenna sudah memutuskannya. Ia menghampiri Martin yang ada di tempat tongkrongannya bersama dengan antek-anteknya itu."Egh ada Shenna. Kenapa nih? Tumben nyamperin aku ke sini." ujar Martin tanpa merasa bersalah sedikitpun setelah membuat anak orang masuk rumah sakit."Gak usah sok akrab!" ujar Shenna kesal.Ia datang untuk memperingati Martin agar tidak mengganggu hidupnya lagi."Gua dateng ke sini buat ingetin lo, jangan pernah ganggu gua sama Kevin lagi." ujar Shenna dengan suara kerasnya."Gua sama Kevin gak akan pernah pisah. Ancaman lo gak ada apa-apanya sama rasa cinta kita berdua. Jadi gua minta lo untuk berhenti ganggu hubungan kita! Kevin gak akan pernah balik lagi sama geng sampah lo ini." ujar Shenna yang sudah tidak tahan untuk memaki-maki Martin.Amarahnya sudah di ujung kepala, ia mengutarakan rasa kesalnya sekarang. Mulai sekarang dia hanya akan percaya pada kekasihnya.Benar apa yang dikatakan oleh pak Arga. Shenna dan Kevin saling mencintai, sehingga mereka berdua b
Kevin tersenyum masam, bahkan jika ia kehilangan Shenna pun, ia tak akan sudi untuk kembali pada kumpulan manusia-manusia mengerikan ini.Ia sudah terlampau benci dengan kelakuan mereka semua. Mereka yang tidak pernah mau menghargai pendapat orang lain, mereka yang hanya mau didengarkan, mereka yang
"Seriusan Shen?" tanya Indy ketika mereka berdua sedang duduk di pantry saat makan siang. Shenna mengangguk cepat, "Iya mbak. Aku sendiri juga kaget banget loh." ujar perempuan itu lagi. Shenna membawakan berita perihal Arga yang akan mengajak para karyawan liburan dua minggu lagi. Indy tentunya san
"Hubungan lo sama Tiara gimana, Dam?" tanya Kevin ketika mereka berdua baru saja akan membuka kedai."Baik-baik aja, gak gimana-gimana. Kenapa vin?" tanya Damar santai."Maksud gua, mau dibawa ke arah mana, gitu loh." jawabnya memperjelas maksud dari pertanyaannya barusan."Gak kepikiran sampe sana gua
Tiara dan Bisma duduk di taman dekat danau. Perempuan itu akhir-akhir ini biasa menghabiskan waktunya di sini."Lo sering ke sini?" tanya Bisma setelah menghabiskan waktu dalam keheningan.Tiara tak menjawab, namun ia mengangguk kecil sebagai tanda iya. "Gua sering ke sini akhir-akhir ini." sahut pere






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.