LOGINBi Siti menatap buku nikah yang tergeletak di atas meja, lalu perlahan mendongak menatap Raymond dan Jovita bergantian. Dahinya berkerut dalam, sarat akan rasa bingung dan ketidakpercayaan.“Kami menikah... tepat di malam sebelum aku membawa Jovita ke tempat ini.”Memory malam saat pertama Raymond membawa Jovita ke Maximilian Residence kembali berputar jelas di kepala Bi Siti.Malam itu, Jovita datang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, pakaiannya berantakan, sudut bibirnya memar, wajahnya penuh lebam, dan matanya sembab karena tak berhenti menangis. Sama sekali bukan gambaran seorang pengantin wanita yang baru saja melangsungkan pernikahan bahagia.Seingat Bi Siti, malam itu Raymond bercerita bahwa Jovita adalah korban penganiayaan berat oleh ayahnya sendiri hingga tidak memiliki tempat tinggal dan arah tujuan.“Malam-malam nikah?” Bi Siti menatap kembali menatap buku nikah, tapi dia tidak percaya begitu saja.Raymond mengangguk pelan, tak membantah kecurigaan itu sedikit pun.
Bi Siti terduduk lemas di tepi ranjang kamarnya. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, sementara dadanya terasa sesak oleh himpitan rasa kecewa yang luar biasa berat.Air mata menetes membasahi pipinya yang mulai dihiasi keriput. Ia merasa seluruh wejangan dan peringatan yang ia sampaikan selama ini diabaikan begitu saja, bahkan seperti dianggap lelucon oleh Jovita.“Jojo...” Suara Bi Siti gemetar menahan tangis yang pecah.“Bibi sudah menganggap kamu seperti anak Bibi sendiri, tapi kenapa kamu malah berbuat seperti ini?”Bi Siti mengusap air matanya kasar, dadanya kian bergemuruh hebat.“Tuan Raymond juga... Bibi begitu menghormati Tuan. Tuan orang berpendidikan, orang terpandang... Tapi tega-teganya kalian berbuat tidak senonoh seperti itu?” Perempuan parih baya itu merasa kepercayaannya diinjak-injak begitu tega.“Duh Gusti... Selama ini Bibi malah ikut menyembunyikan mereka tanpa sadar. Bibi tidak tahu mereka ini statusnya apa, cuma kumpul kebo atau bagaimana... Kenapa Bibi harus
“Vio... Papa menghubungi kamu akhir-akhir ini?” Felisa mencoba memancing informasi tentang mantan suaminya.Di balik meja makan granit yang megah, Felisa duduk berhadapan dengan putri tunggalnya, sambil memoles mentega ke atas rotinya. Dia melirik Viola yang sibuk mengaduk serealnya.Felisa sebenarnya sudah tidak betah berlama-lama berada di rumah Raymond. Terlalu melelahkan baginya untuk terus bersandiwara pura-pura menjadi ibu yang penuh kasih di hadapan Viola.Di rumah mewah ini, Felisa hanya bisa menumpang makan dan tidur, sementara kebutuhan finansial pribadinya yang lain sama sekali tak terpenuhi.Sebagai wanita yang terbiasa hidup mewah, Felisa harus memutar otak mencari uang. Di dekat putrinya, ia tak bisa berkomunikasi dengan leluasa setiap kali ada ‘pelanggan’ atau klien yang menghubunginya. Ia tetap harus menjaga citra sebagai ibu yang baik di mata Viola.“Iya, Ma.” Viola mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuknya. “Papa lagi di Singapura ada urusan bisnis
“Kamu suka?”Di atas ranjang yang masih berantakan, Raymond menopang tubunya dengan satu tangan, menatap wajah Jovita yang merona hangat di sampingnya. Pria itu menyunggingkan senyum lembut yang hanya dia berikan untuk orang yang dia sayang.Jovita tidak segera menjawab, masih tertegun. Matanya menatap kotak perhiasan kecil berbahan beludru hitam yang kini terbuka di atas pangkuannya. Di dalamnya, sebuah cincin berlian berkilau begitu indah menagkap pendar cahaya lampu kamar.“Bagus sekali, Om...” Akhirnya Jovita bersuara, lirih hampir berbisik karena terpukau. “Pasti mahal banget, ya?”Raymond terkekeh pelan. “Sangat pantas untukmu.”Dengan gerakan perlahan dan lembut, Raymond mengambil cincin itu dari kotaknya, lalu menyusupkan lingkarannya ke jari manis tangan kanan Jovita. Cincin itu terpasang sangat pas, seolah memang diciptakan khusus untuk jemari lentik sang istri.Raymond mengangkat tangan Jovita, lalu melabuhkan sebuah kecupan hangat dan lama di punggung tangannya.Jovita men
Raymond terlihat segar dengan kaus kasual dan celana santai, melangkah turun menuju area dapur. Suara langkah kakinya menyapa Bi Siti yang sedang sibuk merapikan meja dapur.“Bi, sarapan sudah siap?”Bi Siti yang sedang membelakangi meja langsung tersentak kaget. Perempuan paruh baya itu membalikkan badan dengan mata membelalak, memegang dadanya yang terkejut.“Eh, Tuan Raymond!” Bi Siti tampak heran, karena dia tidak mengetahui kedatangan Raymond. “Kapan Tuan datang? Perasaan sampai malam belum ada.”“Tadi malam, Bi,” jawab Raymond santai sambil menarik salah satu kursi di meja makan.Bi Siti mengerutkan kening, mencoba mengeledah ingatannya.“Lho, kok Jojo nggak ada ngabari Bibi ya kalau Tuan sudah pulang? Mana ini sudah mau siang, malah belum turun-turun juga...”Raymond berdehem pelan untuk menutupi senyum tipis yang nyaris terukir di bibirnya.“Mungkin capek, Bi. Tadi malam dia lembur mengerjakan tugas sampai larut sekali,” ujar Raymond membela istri kecilnya dengan nada tenang d
Dengan perlahan, Raymond melepaskan ikatan tubuhnya dari sang istri. Jovita sempat melenguh pelan karena rasa kehilangan kehangatan, namun dengan sigap Raymond segera menariknya kembali ke dalam dekapan. Pria itu membalikkan tubuhnya sehingga kepala Jovita bersandar nyaman di atas dada bidangnya.Mereka berbaring dalam keheningan yang intim dan menenangkan selama beberapa saat. Raymond mengusap punggung mulus Jovita dengan gerakan melingkar yang lembut, sesekali mendaratkan kecupan hangat di pelipis, pipi, dan bibir istrinya. Jovita merasa begitu aman, hangat, dan terlindungi berada di dalam pelukan kokoh tersebut.Namun, usapan lembut itu perlahan mengalami perubahan. Jemari Raymond yang semula membelai punggung turun menuju pinggul Jovita, meremasnya halus. Jovita dapat merasakan gelombang hasrat suaminya yang kembali menyala dan mengeras di bawah perutnya.“Om...” gumam Jovita setengah protes, setengah menggoda.“Kalau dekat kamu otomatis begini,” bisik Raymond serak di telinganya.
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







