LOGINKarena Arsen Morgan bukan sekadar politikus berpengaruh. Ia adalah klien Evalia. Seorang calon presiden yang pernah ia bantu secara tidak langsung melalui identitas rahasianya sebagai LEXA, analis data anonim yang bekerja di balik sistem keamanan siber milik Dion yang nyaris mustahil ditembus.
Tak seorang pun mengetahui identitas asli LEXA. Tak ada yang mampu menghubungkan Evalia Wijaya dengan LEXA, sosok misterius
"Tapi tetap saja!" Lestari kembali berseru. "Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa suamimu selalu dikelilingi drama? Aku hanya nggak ingin dia menyakitimu. Ya Tuhan, kenapa Aleksander nggak punya hobi saja... seperti memancing atau berkebun?""Aleksander memang punya hobi.""Ya. Hobi yang menakutkan."Evalia kembali tertawa, kehangatan perlahan mengurangi ketegangan yang sejak tadi memenuhi suasana. "Mami Tari, tenanglah. Nggak ada yang berubah. Aleksander sedang menanganinya.""Menanganinya dengan diam-diam.""Ya.""Aku nggak percaya cara menangani sesuatu dengan diam.""Aku tahu."Lestari mengh
Alis Evalia berkerut. Ia menoleh ke arah pintu dengan kebingungan kecil yang melintas di wajahnya. Hari sudah larut. Jarang sekali pelayan atau Jono datang ke kamarnya pada jam seperti ini, terutama setelah makan malam, kecuali ada sesuatu yang benar-benar membutuhkan perhatian segera.Rasa penasaran mulai muncul."Nyonya..." Suara lembut Laura terdengar dari balik pintu. "Maaf jika aku mengganggu waktu istirahat Nyonya. Namun, apakah aku boleh masuk?"Evalia sedikit menegakkan tubuhnya. "Nggak perlu meminta maaf. Silakan masuk."Pintu terbuka perlahan. Laura melangkah masuk.Dan saat itu juga, Evalia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.Pelayan pribadinya terlihat... terb
Di bawah meja, tangan Aleksander langsung mengepal. Gerakan itu tidak terlihat, tetapi kekuatan di baliknya bisa dengan mudah dibayangkan. ‘Sial...’ Rahang Aleksander mengeras. ‘Bajingan ini benar-benar sedang mencari kematiannya sendiri.’Keberanian Jonathan yang luar biasa hampir menghancurkan sisa kendali diri yang selama ini dipertahankan Aleksander.Jonathan Chandra, seseorang yang baru saja mengakui bahwa dirinya telah membius Eva, kini masih berani meminta belas kasihan seolah sedang melakukan negosiasi bisnis.Namun, ekspresi Aleksander tetap tidak berubah. Tidak ada amarah. Tidak ada rasa jijik yang terlihat. Hanya ketenangan dingin yang terasa jauh lebih mengerikan."Posisimu di sini," jawab Aleksander dengan tenang. Suaranya lembut, tetapi memiliki ketegasan s
Jonathan mengernyit. Kebingungan melintas di wajahnya, tetapi meskipun dipenuhi ketidakpastian, ia tetap menurut. Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel.Layar menyala seketika, memantulkan cahaya samar ke matanya yang sudah dipenuhi kegelisahan.Untuk sesaat, Jonathan ragu. Apa yang harus ia cari? Nama Aleksander? Evalia? Atau dirinya sendiri?Namun sebelum Jonathan sempat memutuskan, napasnya tercekat. Tangannya membeku di udara. Karena berita-berita itu sudah muncul. Terang. Menggemparkan. Mustahil untuk diabaikan.[CEO Griya Batubara Holdings, Aleksander Batubara, Menelantarkan Putranya yang Berusia Empat Tahun Bersama H.K.]Mata Jonathan melebar. Kemudian muncul berita lain.
Jika Evalia tidak sepenuhnya mabuk, jika wanita itu mengenalinya dengan jelas, semua rencananya bisa gagal sebelum dimulai. Maka Jonathan memilih kegelapan sebagai perlindungan. Dan bodohnya, malam itu ia juga ikut minum.Jonathan terlalu gugup menunggu kedatangan wanita itu hingga mengonsumsi jumlah minuman yang sama seperti yang diberikannya.Perut Jonathan terasa bergejolak. Ia juga mengingat ketika pagi tiba, wanita itu sudah pergi. Tidak ada aroma parfum yang tertinggal. Tidak ada barang pribadi yang tercecer. Tidak ada tanda kehadiran yang terasa familiar.Saat itu, Jonathan menerima semuanya sebagai tindakan Evalia. Ia mengira wanita itu melarikan diri dalam diam karena rasa malu, berusaha menghapus kejadian yang telah terjadi.Namun sekarang… Sekarang semua ingat
Jonathan merasa seperti sedang menyaksikan palu menghantam dinding-dinding pertahanan yang telah ia bangun dalam dirinya selama bertahun-tahun. Setiap detik yang berlalu membuat benteng tak kasatmata itu semakin runtuh.Rahasia tidak pernah menyukai cahaya.Di seberang meja, Aleksander tetap tenang. "Di mana aku mendapatkan semua itu," ujar Aleksander dengan suara rendah dan dingin, "nggak penting."Napas Jonathan mulai tidak teratur."Yang penting," lanjut Aleksander, tatapannya tajam menusuk, "adalah bagaimana kau bisa menciptakan ide sejahat itu. Kenapa kau melakukannya?""Aleksander...""Jangan."Satu kata itu menghantam udara sepe
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







