MasukLeonardo tidak menyangka jika wanita yang dinikahinya selama ini adalah putri dari seorang miliarder ternama bernama Oscar. Ketika ia menyadari itu, hubungannya dengan Alice tengah bermasalah. Lalu, bagaimana dengan Alice, akankah dia memaafkan Leonardo yang mengkhianati dirinya, atau memilih menerima uluran tangan dari orang lain?
Lihat lebih banyak朝の光が、町の広場をやわらかく照らしていた。
土で舗装された訓練場では、数人の少年少女が輪を作り、それぞれ手元の魔導書を読み上げている。 「花が開け、風が流れよ——《風舞の一節》!」 少女の声が響くと同時に、風の花弁がくるりと舞い上がり、目の前の的をそっと撫でた。 周囲から歓声が上がる。彼女は恥ずかしそうに笑いながら本を閉じた。 その光景の少し外れで、一人の少年が立っていた。 ユウリ。優しい金の髪と、少し気弱そうな目元。魔導書を胸に抱え、目を閉じる。 深く息を吸って——声を発した。 「炎よ、目覚めて……」 「……」 魔導書は何も反応しない。ページが風にめくられるだけ。魔法の兆しは、一片もなかった。 しばし沈黙。やがて、近くにいた教官の男が眉をひそめて歩み寄ってくる。 「またか。ユウリ、お前、読むときの“解釈”が甘すぎるんだよ」 「……はい」 「ただ読んだって魔法は出ねえ。“感じる”んだ、言葉を。魔導書は機械じゃない」 ユウリはただ、小さくうなずいた。 ——わかってる。そんなことは、何度も言われてきた。 彼の手の中にあるのは、古びた魔導書だった。他の子たちのように学校で与えられた本ではない。 数年前、魔法事故で命を落とした親友が残した、世界に一冊だけの魔導書。 ページの端は焦げ、ところどころ文字がにじんで読めない。 それでもユウリは、この本だけは手放せなかった。 「……また、咲かなかったな」 小さく呟いた声は、誰の耳にも届かなかった。 少年の周囲では今日も、魔法の花が軽やかに咲き誇っていた。 夜の静けさが広がる部屋の隅、ユウリは一人、灯の消えた魔導書を膝に置いていた。 ページを指でなぞる。焼け焦げた跡の先には、もう読めなくなった詩文の断片だけが残っていた。 「……これ、何て書いてあったっけな」 問いかけは、当然誰にも返されない。けれどユウリの脳裏には、あの日の光景がはっきりと浮かんでいた。 あいつは笑っていた。 魔法の訓練中、みんなの前で堂々と詩を読み上げ、綺麗に咲かせた花を見て、「どうだ」と胸を張っていた。 ユウリは、そんな親友の背を少しだけ羨ましく思いながら、心から尊敬していた。 でも、それは一瞬で終わった。 読み間違い。魔導書の暴走。封印魔法の不発。 真っ白な花が咲いた瞬間、それは爆ぜた。誰も対処できなかった。 ユウリは、ただその場に立ち尽くしていた。何もできなかった。ただ、声をかけることすらできなかった。 「こわくて……動けなかったんだ、あのとき……」 震える声で呟くと、喉の奥が痛くなった。情けないほどに、今も昨日のことのように思い出せる。 思い出の中で、親友は最期に言っていた。 「なあユウリ。魔法図書館って知ってるか?世界に一冊、“死をほどく言葉”があるかもしれないってさ」 それは冗談だったのか、本気だったのかもわからない。 けれど、ユウリの胸にはずっと残っていた。 「死をほどく魔法……そんなもん、本当にあるわけ……」 それでも、言葉はあった。 “言えなかった”自分と、“届かなかった”想いの中に。 彼は本をそっと閉じ、目を伏せた。咲かなかった花のように。 でも、まだ手は離さなかった。あの日からずっと、ただの一度も。 その日は、静かに始まった。朝の空気に混じって、どこか遠くで鐘の音が鳴っていた。 ユウリは市場の外れ、荷運びの手伝いをしていた。咲かない魔法でも、肉体労働はできる。 魔導書を胸に抱えたまま、荷台を引いていたときだった。 空が、一瞬だけ赤く染まった。 次の瞬間、広場の方向から地鳴りのような音が響く。誰かの悲鳴が、風を裂いた。 「魔法の暴走だ!!」 叫び声に背を向けて人々が逃げていく。その群れに逆らうように、ユウリは走った。 本能だった。考えるより先に足が動いた。 広場に辿り着いたとき、そこは火の海だった。 魔導書を読み間違えたのか、詩蝕寸前の暴走魔法が、周囲の建物を焼いていた。 中心には、幼い女の子が一人。泣きながら動けずにいた。 「くそっ……!」 ユウリは咄嗟に駆け寄る。魔法は止まらない。誰も咲かせる言葉を持たず、近づこうともしなかった。 でも、彼には——あの日から、ずっと胸に残っていた言葉があった。 炎の壁の前で、ユウリはボロボロの魔導書を開いた。 喉が焼けそうに乾いていた。でも、声を出した。 「……もし、どこかに“死をほどく魔法”があるなら」 「——今ここで咲いてくれ。……頼むから……!」 ページが震えた。風が巻いた。 ユウリの手の中で、本が光を放つ。 「《還雷の詩・未詩篇》……!」 その言葉と共に、空に花が咲いた。 雷の花。咆哮と共に放たれた一閃が、暴走魔法の中心を貫き、世界を浄化するかのように炎を消し去った。 広場が静寂に包まれた。 ユウリは、まだ咲いたばかりの花の残滓の中で、呆然と立ち尽くしていた。 静けさの中、光がゆっくりと消えていく。 その中心にいたユウリは、自分の手を見つめていた。 掌が、わずかに震えていた。けれど恐怖ではない。何かが、確かに変わった感触があった。 胸元が熱い。 シャツをずらすと、肌の上に淡く浮かぶ文様が見えた。 それは花のようであり、雷のようであり、けして誰かと同じ形ではない—— 「……花紋……」 誰かの声が広場の片隅から漏れる。 次々に人が集まり、ユウリを取り囲む。視線の色が変わった。 「見たか、今の……」 「あれ、花紋じゃないか……?」 「まさか、こんな田舎に……」 ざわめきはすぐに、恐れと警戒に変わる。 花紋者。国家によっては“兵器”として徴用され、あるいは“禁忌”として排除される存在。 多くの者にとって、それは「関わってはいけないもの」だった。 「通報しろ。あれは“登録されてない”花紋者だ」 「本部に連絡を……!」 ユウリは一歩、後ずさった。 誰かを救ったはずなのに、向けられるのは称賛ではなかった。 それでも、花が咲いたのだ。彼自身の言葉で。 小さな手が、ユウリの袖を掴んだ。あの時、魔法の中に取り残されていた少女だった。 「……ありがとう、おにいちゃん」 その声に背を押されるように、ユウリは走り出した。 人々の視線を背に受けながら、魔導書を胸に抱きしめる。 もう、ここにはいられない。 でも、もう逃げるだけの自分ではない。 親友が遺した言葉が、再び頭をよぎる。 “魔法図書館には、“死をほどく言葉”があるかもしれない” だったら探す。 もし、どこかにそんな詩があるなら—— 「今度こそ、咲かせてみせる。あの時、伝えられなかった言葉を」 夜の街を抜けて、ユウリは旅に出た。 魔導書を抱きしめ、まだ咲かぬ言葉を胸に抱いて。Luna menghela napas berulang kali, ia duduk dan menatap menantunya. “Ibu hanya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Laila di sana.”Leo mengangguk paham. Ia meraih tangan ibunya. “Ibu, Damian akan menjaganya selama satu bulan, lagipula ada Arsen di sana.”“Arsen? Kamu masih percaya pada pria itu? Bagaimana jika–”“Ibu, tolong percaya dengan keputusan yang sudah aku ambil, Arsen adalah satu-satunya yang bisa menjaga Laila setelah Damian.”Lagi-lagi Luna mendengus, ia tak suka dengan pria bernama Arsen. Pria itu ingin merebut Alice dari putranya bahkan dengan terang-terangan mengakui Laila dan Damian sebagai anak.“Kalian tidak ada yang mengerti dengan kekhawatiranku. Aku hanya ingin cucuku hidup dengan damai, tidak perlu sekolah di tempat jauh, kita bisa–”“Maafkan aku karena memotong ucapanmu Bu. Tetapi ini adalah keputusan mereka. Laila ingin sekolah bisnis seperti Silviana, sementara Damian, putraku adalah penerus, dia harus memiliki pendidikan yang jauh lebih hebat.”Membuang na
Alice dan Leo saling pandang, pun dengan Laila yang hanya berdecak mendengar permintaan kakaknya.“Apa maksudmu, Damian?” tanya Laila semakin jengah.“Aku tidak mungkin mengekor padamu, aku juga ingin memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan,” katanya.“Tidak ada yang menjagamu sebaik aku, Laila. Sejak kita kecil, aku yang–”“Tapi sekarang aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku, lagipula di sana ada Ayah Arsen.” Laila berdiri dengan kesalnya.“Terserah jika kalian tidak mendukung, aku akan tetap bersekolah di tempat yang aku inginkan,” ujarnya, “dan Ayah tidak boleh menarik kesepakatan kita.”“Laila duduk dulu, Nak.” Alice menepuk pelan sebelah sisi tempatnya.“Tidak Ibu. Tidak sebelum Damian berpikir waras.”Setelah mengatakan itu, Laila meninggalkan ruangan dengan kekesalan pada Damian.“Dia gila,” geramnya dengan nada yang kesal.Sementara itu, Clara yang melihat kakak perempuannya menuju kamar, segera mengikuti. Rasanya sangat berat berpisah meski mereka berdua jarang sekali terli
“Selamat pagi.” Laila datang lebih cepat, memotong ucapan Alice yang tengah memeluk putri bungsunya.“Selamat pagi, Sayang.” Leonardo menyambut putri sulungnya, kemudian meminta Laila untuk duduk di sebelahnya.Melihat itu, Clara mengerucutkan bibir, “Ayah, jangan terlalu memanjakan kakak, dia sudah–”“Clara lebih baik kamu diam, berikan susu yang kamu buatkan tadi untukku.” Laila meraih selembar roti dan mengolesi dengan selesai cokelat.“Baiklah.” Clara memeluk ibunya singkat kemudian memberikan susu yang dibuatnya pada Laila.“Sekarang berikan nilai untukku. Aku yakin ini rasanya seratus,” kata Clara.Laila meraih gelas susu miliknya, kemudian meneguknya hingga setengah. “Enak, aku rasa ini adalah bakatmu.”Clara mengerucutkan bibir, “Bakatku banyak Kak. Hanya saja, aku tidak ingin menunjukkan pada orang lain,” katanya dengan bangga.“Oh aku sangat kagum padamu. Duduklah, aku ingin memberikan hadiah lain.” Laila meletakkan gelas yang sudah kosong kemudian merogoh kantong celana mil
Alice masih ke dalam ruang makan dan benar saja, semua sudah disiapkan dengan sangat baik. Clara yang melihat wajah takjub ibunya pun ikut merasa bahagia.“Bagaimana? Aku sangat membanggakan bukan?” tanyanya pada sang ibu.“Benar Clara yang melakukan ini sendiri?” Alice menoleh pada putrinya yang langsung terdiam dengan bibir tersenyum kecil.“Senangnya, Clara dibantu oleh kak Laila,” akunya, “tapi karena dia kelelahan dan mengantuk, kakak kembali ke kamar.”Alice menaikkan alis, kemudian mengangguk paham. “Ya sudah, tapi setidaknya, Clara sudah membuktikan jika putri ibu sudah sangat hebat.”Clara mengangguk senang. “Tolong beritahu kakek ya, Bu. Aku ingin kakek mendengar hal baik tentangku.”“Baiklah, jika kakek bertanya, Ibu akan memberitahu jika cucunya yang cantik ini sudah besar.”Clara memeluk ibunya. “Ibu aku sangat menyayangimu. Aku yakin karena itulah ayah sangat mencintaimu.”Alice terkekeh, “Ya sudah, sekarang duduk dulu, Ibu akan buatkan sarapan untuk kita semua.”“Aku ak
“Leon, siapa gadis yang bersama Bram tadi?” Alice yang hendak memejamkan mata menoleh ke belakang. Ia tidak bisa memejamkan mata mengingat tatapan gadis tadi padanya.“Dia Sera,” jawab Leo singkat, “ayo kita tidur.”Alice mengerutkan kening, tak biasa Leo seperti menolak obrolan mereka. Ibu dari ti
“Ibu … Damian jatuh cinta,” teriak jatuh Laila dari arah luar. Gadis berusia 18 tahun dengan suara melengking itu, berlari dengan sangat kencang.Alice yang masih berada di dapur sampai berdecak karena terkejut. “Ibu, aku yakin kak Laila sangat ditakuti di sekolahnya,” kata gadis kecil berusia sem
Alice membuang napas pelan, kemudian menatap Leo yang masih terpaku. Bibirnya tersenyum kecil, kemudian melirik pada mertuanya yang terlihat syok di belakang Leo.“Satu lagi,” kata Alice tetapi tatapannya lurus pada Leo, “aku tidak akan menjamin keselamatanmu. Bisnis, dan apa pun yang kamu perjuangka
Dara bersedekap, ia tak sabar menunggu kehadiran Leo. Dara yakin pria itu akan langsung datang apalagi ketika Alisa yang tak menjawab panggilan darinya.“Walaupun kakak datang, aku yakin dia akan langsung mengusirmu,” kata Alisa, ia sengaja tak menerima panggilan kakaknya, ingin melihat langsung apa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan