로그인
Kalista Renaya datang ke lantai tiga puluh dua gedung Wiratama Group untuk mencari jawaban.
Tujuh tahun lalu, kakaknya, Kalandra Revano, meninggal dalam kecelakaan mobil. Penyelidikan hanya berlangsung beberapa minggu sebelum kasus itu dinyatakan sebagai kecelakaan biasa. Tidak ada tersangka ataupun penyelidikan lanjutan. Dan semua orang menerimanya begitu saja. Tapi tidak dengan Kalista. Ting! Pintu lift terbuka. Kalista melangkah keluar dengan menggenggam map tipis berwarna hitam. Dia melihat aktivitas di balik dinding kaca, para karyawan sibuk di dalam kubikelnya, beberapa berbicara melalui telepon, ada yang berjalan membawa tablet dan berkas. Logo Wiratama Group terpampang besar di dinding utama, di depannya meja panjang yang ditempati dua orang resepsionis siap menyambutnya. Kalista berhenti sebentar. Dia mengingat nama perusahaan itu sudah muncul beberapa kali dalam catatan milik Kalandra. Tapi ada yang janggal sehingga Kalista memutuskan untuk datang ke tempat ini. "Ibu Kalista Renaya?" suara seorang perempuan menyapanya dari arah belakang. Kalista yang hampir sampai di meja resepsionis berhenti dan menoleh., "Ya?" Dia melihat seorang perempuan yang dia perkirakan usianya setara dengannya, sedang menghampirinya. "Pak Rakael sudah menunggu," katanya dengan tersenyum ramah. “Pak Rakael?” Kalista mengernyit, dia bertanya untuk memastikan dia tidak salah mendengar. Dia tak merasa melakukan janji temu dengan Direktur Utama Wiratama Group. "Silakan," perempuan itu memberikan instruksi agar Kalista mengikutinya. Kalista bertanya-tanya tapi langkahnya tetap mengikuti perempuan itu menuju sebuah pintu kayu gelap di ujung koridor. Kalista menebak perempuan itu adalah sekretaris pak Rakael. Perempuan itu mengetuk pintu dua kali. "Masuk," terdengar suara berat dari dalam. Perempuan itu membuka pintu. “Bu Kalista sudah datang, Pak.” Kalista dipersilahkan masuk ke ruangan itu. Perempuan itu menutup kembali pintu setelah Kalista masuk ke dalamnya. Kalista melihat seorang pria sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap kota. Kalista melirik nameplate di atas meja besar itu: Rakael Wiratama — Chief Executive Officer. "Terima kasih sudah datang," pria itu berkata tanpa menoleh. "Saya datang bukan untuk minum kopi," jawab Kalista yang mampu membuat pria itu akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dingin. Tenang dan sulit dibaca. "Aku tahu," Rakael menjawab. "Duduk," lanjut Rakael seraya menunjuk kursi di depannya. Kalista tidak bergeming. "Saya ingin bertanya sesuatu," katanya. "Boleh," jawab Rakael dengan tenang. "Bagaimana Anda tahu saya akan datang?" Kalista menatap Rakael. Rakael memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Karena selama tiga bulan terakhir, kamu mencari informasi tentang Kalandra Revano," jawab Rakael tenang. Jantung Kalista berdegup lebih cepat, tapi dia berusaha tetap tenang. "Kalau Anda sudah tahu, kenapa meminta saya menemui Anda?" tanya Kalista. "Aku tidak memintamu." "Kamu yang menghubungi salah satu mantan konsultan perusahaan kami dua minggu lalu." Kalista terdiam. Akhirnya, dia mengerti dari mana Rakael bisa mengetahui kedatangannya, bahkan sebelum mereka bertemu. "Dia tidak memberi saya informasi," ucap Kalista dengan nada yang lebih pelan. "Memang," Rakael mengangguk. "Karena Anda menghentikannya?" "Karena informasi yang kamu cari bukan sesuatu yang bisa diberikan sembarangan." Kalista berjalan mendekat, lalu dia meletakkan map hitam di atas meja Rakael. "Saya hanya ingin tahu apa yang dilakukan Kalandra Revano tujuh tahun lalu." Rakael menatap map itu. "Kalandra bekerja sebagai junior forensic accountant," katanya dan beralih menatap Kalista. "Ya," Kalista membenarkan. "Di sebuah firma konsultan eksternal." Kalista mengangguk. "Dan beberapa minggu sebelum meninggal, dia terlibat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan salah satu perusahaan kami." Kalista merasakan sesuatu menekan dadanya. Selama bertahun-tahun, itu hanya dugaan. Sekarang seseorang dari dalam keluarga Wiratama mengatakannya sendiri. "Anda tahu tentang pekerjaan itu?" tanya Kalista, dia berusaha menjaga nada bicaranya. "Aku tahu sebagian," jawab Rakael. "Sebagian?" "Ada beberapa dokumen perusahaan yang hilang." "Dokumen apa?" Rakael tidak menjawab. Dia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah map tipis. "Ini alasanku memanggilmu.," Rakael meletakkan map itu di depan Kalista. Kalista mendekat dan membuka map tersebut. Map itu berisi dua lembar laporan lama. Catatan pemeriksaan dan satu halaman laporan kecelakaan. Matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya. Kemudian berhenti. Ada sesuatu yang tidak cocok. "Ini..." Kalista menunjuk dokumen itu dan melihat ke arah Rakael. "Perhatikan tanggalnya," kata Rakael, matanya menuju ke arah dokumen. Kalista membaca kembali. Kali ini dia mengambil map itu dan duduk di kursi yang ditunjuk Rakael tadi. "Empat hari sebelum kecelakaan," gumamnya. Rakael bergerak dan duduk di kursi kebesarannya, berhadapan dengan Kalista. "Sehari sebelum Kalandra meninggal, ada permintaan untuk menarik kembali sebagian dokumen pemeriksaan," katanya kemudian. Kalista mengangkat wajah. "Siapa yang meminta?" tanya Kalista. "Namanya tidak tercantum," jawab Rakael. "Kenapa?" "Karena permintaan itu dilakukan secara internal." Kalista kembali melihat dokumen. Selama tujuh tahun, dia mencari satu celah dalam cerita kematian Kalandra. Apakah mungkin celah itu sedang berada di tangannya? "Anda menganggap Kalandra dibunuh?" Kalista menggelengkan kepala bertanya. "Kalau aku melihat, laporan kecelakaannya memiliki beberapa kejanggalan," jawab Rakael, matanya mengarah ke dokumen yang dibaca Kalista. "Kenapa Anda memberitahu saya?" Kalista kembali bertanya seraya menutup dokumen. Rakael menatapnya, kemudian menjawab, “karena aku membutuhkanmu." "Saya?" tanya Kalista tertawa kecil. "Ya," jawab Rakael tegas. "Untuk apa?" Kalista menyandarkan tubuhnya ke badan kursi. Rakael melipat tangannya di atas meja. Dia menatap mata Kalista lurus. "Menikahlah denganku," ucapnya tanpa keraguan. Sunyi. "Maksud Anda?!" tanya Kalista, dia terkejut mendengar perkataan Rakael yang diucapkan tanpa ragu. "Pernikahan kontrak." Rakael menjawab seraya menggeser sebuah map lain ke arahnya. "Satu tahun," lanjutnya. Kalista tidak menyentuhnya. Dia hanya melirik ke arah map itu. "Anda gila?" tanya Kalista, reaksinya menunjukkan tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. "Mungkin," jawab Rakael seraya menyandarkan tubuhnya. "Kenapa saya?" tanya Kalista tak habis pikir karena melihat sikap Rakael yang terkesan dingin. "Karena aku membutuhkan seseorang yang punya alasan untuk masuk dalam masalah ini." Kalista menggeleng. "Dan Anda pikir saya akan menikah dengan orang yang baru saya kenal hanya karena Anda menunjukkan beberapa lembar dokumen?" "Kamu akan membaca semuanya dulu," jawab Rakael, matanya mengarah ke map yang dia sodorkan tadi. Kalista membuka map itu dengan enggan. Kontrak. Satu tahun. Kewajiban publik. Tempat tinggal bersama. Tidak ada tuntutan setelah kontrak berakhir. Dan sejumlah klausul lain yang menunjukkan bahwa Rakael sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang. Ini bukan keputusan impulsif, sudah direncanakan. "Anda sudah mempersiapkan ini sebelum saya datang," Kalista menatap Rakael. "Ya," Rakael tak mengelak. "Jadi Anda sudah tahu saya akan menyelidiki keluarga Anda?" "Aku tahu kamu akan mencari jawaban." "Bagaimana kalau saya menolak?" tanya Kalista tajam. "Kamu bebas menolak," jawab Rakael tak terintimidasi. "Begitu saja?" Kalista mengernyit. "Begitu saja," jawab Rakael. "Kalau begitu kenapa menawarkan?" "Karena menurutku kamu akan berubah pikiran." Kalista menutup kontrak. "Anda terlalu percaya diri." Rakael mengangguk, "Aku memang begitu." "Saya tidak akan menikah dengan Anda, pak Rakael," kata Kalista tegas, kemudian dia berdiri. Rakael tidak mencegahnya. Kalista mengambil map hitamnya dan berjalan keluar. Sebelum membuka pintu, dia berhenti. "Saya punya satu pertanyaan," katanya sambil berbalik melihat Rakael yang masih duduk di balik meja kerjanya. "Kenapa Anda begitu peduli dengan kematian Kalandra?" Untuk beberapa detik, pria itu diam. "Karena aku juga sedang mencari orang yang sama," jawabnya dengan nada rendah. "Orang yang sama?" tanya Kalista mengernyit. Rakael tidak menjelaskan. "Kalau kamu berubah pikiran, hubungi aku." Kalista pun keluar tanpa menjawab. *** Hujan turun deras ketika Kalista tiba di apartemennya. Baru beberapa langkah memasuki lobby, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya langsung mengangkat telepon. "Pak Dimas?" Tidak ada jawaban. "Pak Dimas?" Suara napas terdengar di ujung telepon. "Berhenti mencari kasus Kalandra Revano." Suara laki-laki asing yang tidak dikenalnya. "Siapa kamu?" tanya Kalista, tubuhnya menegang. "Orang yang tidak ingin kamu mengalami nasib seperti kakakmu." Telepon terputus. Kalista mencoba menghubungi Dimas lagi, tetapi tidak tersambung. Dia mencoba beberapa kali. Tetap gagal. Dimas adalah mantan atasan Kalandra di firma konsultan tempat kakaknya bekerja dulu, dan kini menjadi konsultan independen. Selama beberapa minggu terakhir, dialah yang membantu Kalista menelusuri dokumen lama Kalandra. Dan sekarang, Dimas tidak bisa dihubungi. Kalista sedang berdiri diam di tengah ruang tamu. Pandangannya jatuh pada map yang tadi dibawanya pulang. Di dalamnya ada salinan dokumen dari Rakael. Kalimat pria itu kembali terngiang. ‘Aku juga sedang mencari orang yang sama.’ Kalista meraih kartu nama Rakael yang tadi tanpa sadar masih terselip di dalam map. Dia sedang mempertimbangkan sebuah tawaran yang beberapa jam lalu dia anggap gila. Ini bukan karena dia mempercayai Rakael. Tapi justru karena mungkin pria yang paling tidak ingin dia percayai itu adalah satu-satunya jalan menuju jawaban kebenaran.Kalista menarik paksa lembar persetujuan dari tangan Rakael. Dia kesal pria itu tak meresponnya. “Kalandra menemukan sesuatu. Ravian juga menemukan hal yang sama. Mereka sedang menelusuri aliran dana yang sama dari dua sisi berbeda,” gerutunya. “Dan Kakak diam saja.”Kalista berjalan melewati Rakael dengan langkah yang dihentakkan.Dia meremas ujung lembar persetujuan tersebut. “Aku tidak diam saja, Kalista,” ucap Rakael. Kalista menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap pria itu. Wajahnya masih tampak kesal. Rakael mengusap wajahnya. “Aku menyelidiki bertahun-tahun tapi tidak menemukan apa-apa.”Rakael menurunkan tangannya. Pandangannya sempat beralih pada lembar persetujuan yang masih diremas Kalista. Ada sesuatu yang tertahan di wajahnya, seolah-olah selama ini dia menyimpan kegagalan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun.“Bagaimana mungkin?” tanya Kalista. “Kakak petinggi di sana tapi tidak menemukan apa-apa?” “Karenanya aku membutuhkanmu,” jawab Rakael deng
Kalista memeriksa kembali dokumen Kalandra. Dia masih berpikir bahwa kematian Ravian dan Kalandra ada hubungannya. Kalandra memiliki buku catatan terpisah yang mencatat setiap perkembangan kasus yang ditanganinya. Pada catatan yang diberi label Wiratama Group, Kalandra hanya mencatat dua progres. Yang pertama tentang penemuan baru bahwa pembayaran tidak berhenti pada vendor, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua, tentang penemuan baru adanya rekening lain, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua catatan itu hanya berjarak sepuluh hari dan keduanya adalah mencari pos terakhir. Kalista membaca kedua catatan itu sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Sepuluh hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah penyelidikan. Kalandra justru menuliskan langkah yang sama pada kedua kesempatan tersebut.Seolah-olah dia terus menemukan jalan buntu setiap kali berusaha mendekati sumber sebe
Kalista berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Dia telah bersiap untuk berangkat bekerja. “Selamat pagi, Bu!” sapa seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan area dekat tangga. Kalista mengangguk sambil tersenyum. “Bapak sudah menunggu di meja makan,” lanjut asisten tersebut. Kalista berhenti. “Rakael?” tanyanya sambil mengerutkan dahi. “Betul, Bu. Pak Rakael,” jawab asisten tersebut mengangguk sopan. “Oh, dia belum berangkat,” gumam Kalista sambil menoleh ke arah ruang makan. “Belum, Bu,” ujar asisten itu sambil tersenyum. Kalista mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Mbak… “ Kalista menggantung kalimatnya sambil menatap asisten tersebut. “Saya Nuri, Bu.” Asisten itu menyebut namanya sambil menundukkan kepalanya sedikit. “Ya, Mbak Nuri, terima kasih,” kata Kalista sambil tersenyum dan menepuk bahu Nuri pelan. Dia melangkah menuju ruang makan. Benar kata Nuri, Rakael telah duduk di salah satu kursi sambil membaca sesuatu di tabletnya.
Terhitung sudah enam hari Kalista tinggal di mansion Rakael, dan enam hari pula kegiatan Kalista hanya seputar meja makan dan kamarnya. Siang ini, salah seorang pelayan menghampirinya saat dia sedang duduk di taman samping mansion. "Bu Kalista, Nyonya Helena sudah tiba," katanya sedikit membungkukkan badan. "Helena?" Kalista meletakkan majalah yang dibacanya., “Siapa dia?”"Ibu dari Pak Rakael, Bu," jawab pelayan itu dengan sopan. "Ibu mertua saya?" Kalista memastikan. Pelayan itu mengangguk. "Betul, Bu. Beliau meminta bertemu dengan Ibu."Kalista menarik napas pelan. "Di mana?" Dia berdiri. Sejak menikah, dia memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Rakael, dan dia juga tidak menanyakannya kepada Rakael. Mungkin ini waktunya. "Di ruang tamu, Bu," jawab pelayan itu. Kalista merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju ruang tamu.Begitu memasuki ruangan, Kalista langsung melihat seorang wanita berdiri di dekat jendela.Usianya sekitar akhir lima puluhan. Rambutnya di
Mansion Rakael jauh lebih besar dari yang Kalista bayangkan.Bahkan setelah mobil melewati gerbang utama, perjalanan menuju pintu depan masih terasa panjang. Taman luas terbentang di kedua sisi jalan, dengan pepohonan yang dipangkas rapi dan lampu-lampu kecil yang tetap menyala meski hari belum gelap.Kalista menatap keluar jendela. "Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Kalista bergumam pelan. Rakael yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman Kalista. "Ya," jawab Rakael santai. Kalista menoleh kaget, tetapi tetap berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya. "Sendirian?""Bersama beberapa asisten rumah," jawab Rakael. Mobil berhenti di depan tangga utama.Seorang pria paruh baya sudah menunggu di sana bersama dua orang yang memakai seragam maid. Begitu Rakael dan Kalista turun, mereka memberi salam singkat.“Selamat datang di kediaman keluarga Bimantara, Nyonya,” sambutnya dengan tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Santoso. Saya kepala pelayan di kediaman ini. Ini Irma dan Nur
Pernikahan itu berlangsung enam hari setelah Kalista menandatangani kontrak. Proses yang cepat. Bahkan untuk ukuran keluarga seperti Wiratama.Kalista berdiri di depan cermin kamar hotel, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih yang sederhana tetapi jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan.Tidak ada pesta pertunangan panjang atau masa pacaran yang bisa diceritakan kepada media. Tidak ada kisah cinta yang bisa mereka jual. Hanya sebuah pernikahan yang harus terlihat nyata.Dan hari ini, seluruh dunia akan melihatnya."Bu Kalista, sekarang waktunya," kata salah seorang crew dari Wedding Organizer mengingatkan. Kalista menarik napas panjang. Dia menyentuh cincin di jarinya. Satu tahun. Hanya satu tahun. Kemudian semuanya berakhir. Itu yang tertulis di atas kertas.Pintu terbuka dan Kalista pun keluar. Di ujung koridor, Rakael sudah menunggunya.Pria itu mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah hari ini bukan hari pernika







