LOGINMuniratri menyerahkan kain Ndari yang sudah diperbaiki pada Kamakarna. Ia berpesan pada lelaki tersebut agar membantunya menyampaikan permintaan maaf pada sang Putri Mahkota.
“Aku mengerti kesulitanmu.” Kamakarna menepuk-nepuk punggung tangan Muniratri.
“Nimas tenang saja, aku pastikan Putri Mahkota tidak akan berani marah padamu.” Lelaki itu tersenyum percaya diri.
Ada secercah kebahagiaan dalam sorot pandang Muniratri. Kamakarna menangkap momen i
Kamakarna memang terlambat menghadiri rapat pagi. Namun karena dia datang bersama dengan Ndari, dia masih bisa berjalan dengan dada membusung.‘Orang-orang itu pasti mengiranya aku sengaja datang lebih lambat karena harus menemani Putri Mahkota yang pertama kali datang ke Aula Hutama,’ pikir Kamakarna.“Yang Mulia ... mereka semua melihat ke arah sini. Saya takut.” Ndari berpegang erat pada lengan Kamakarna.Putra Mahkota menepuk-nepuk punggung tangan Ndari untuk memberikan ketenangan. dengan begitu dia akan mendapat kesan sebagai suami yang baik.“Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa,” ucap Kamakarna pelan. Hanya Ndari yang dapat mendengarnya.Kamakarna datang dengan penuh percaya diri, bahwa tatapan para pejabat yang tengah menghujani mereka hanyalah bentuk dari perhatian dan rasa hormat. Ia tak tahu bahwa ada sesuatu yang besar sedang menanti di depan sana.‘Kenapa mereka diam saja?’
Manusia hanya bisa berusaha, namun nasib tidak ada yang tahu.Penyelidikan Kamakarna tentang kunyit yang disembunyikan oleh Ndari berhasil. Ia bahkan sukses besar dengan menjadikannya sebagai sumber daya secara cuma-cuma.Meski demikian, Kamakarna harus membayar mahal usahanya. Karena pada esok hari setelah berhasil mendapatkan dukungan dari pihak Senapati Cakrasurya, ia bangun kesiangan.“Di mana ini?” Kamakarna mengerjapkan mata.Ia terbangun di tempat yang sangat berbeda dengan kamarnya Paviliun Putra Alam. Ruangan itu bernuansa emas dan bunga. Sedangkan di kediaman Kamakarna bernuansa emas dan pusaka keluarga yang tertata rapi.“Anda sekarang ada di kamar tidur Yang Mulia Putri Mahkota,” ujar Ganendra.Kamakarna berusaha memutar kembali ingatannya untuk mengetahui apa yang ia lakukan semalam, namun ia tak berhasil. Kepalanya masih sakit karena arak yang ia minum.“Jam berapa sekarang?” tanya Kam
Sejak Damarteja diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, Damarteja menempatkan mata-mata di seluruh Ibu Kota. Awalnya ia menggunakan mereka hanya untuk mencari tahu bagaimana situasi teraktual.Kini sikapnya sudah berubah. Damarteja menggunakan mata-mata yang ia tanam untuk memenangkan rencana besar yang sedang ia jalankan. Revolusi.“Paduka, Senapati Cakrasurya sedang membersihkan gudang,” ujar Endra.“Beliau memindahkan semua kunyit yang diborong Putri Mahkota ke pedagang pasar,” sambungnya.“Bagaimana dengan Putra Mahkota?” tanya sang Pangeran Adipati.“Beliau seharian ini tidak keluar dari Paviliun Melati,” ucap si ajudan.Berdasarkan informasi yang Damarteja terima selama ini, Kamakarna tidak pernah menghabiskan waktu secara pribadi dengan Ndari. Meski mereka adalah pasangan suami istri sah, Kamakarna secara terang-terang menunjukkan ketidaksukaan pada istrinya.
Sejak Kamakarna meninggalkan Aula Hutama, perasaan Cakrasurya tidak karuan. Maka dari itu, setelah urusannya dengan Bahuwirya selesai, ia bergegas menuju Paviliun Melati.“Silakan tunggu di sini. Yang Mulia sedang bersiap.” Narti menunjuk tempat duduk yang sudah disiapkan, lengkap dengan kinang yang tersaji di atas meja.Dayang itu undur diri dari hadapan sang Senapati. Dia masuk ke area ruang tidur Ndari untuk menemui Kamakarna.“Hamba sudah menjamu Raden Senapati sesuai arahan Anda,” ujar Narti.Kamakarna mengangguk, mengartikan bahwa ia menerima laporan dayang itu. Kini gilirannya tampil di hadapan ayah mertua.“Bantu Putri Mahkota merapikan diri. Setelah itu bawa dia ke menemui ayahnya,” perintah sang Putra Mahkota sebelum pergi ke ruang tamu.“Baik, Yang Mulia.” Narti diam di tempat seperti hendak menyampaikan sesuatu namun tak berani.“Katakan saja,” ucap Kamakarna.
Tindakan Kamakarna membuat perasaan Ndari bergetar. Ia tergerak untuk melepaskan keraguan di hatinya.“Yang Mulia ... bagaimana mungkin saya tidak percaya pada suami sendiri?” Ndari menarik cunduk yang menempel erat di leher Kamakarna.“Bukankah Yang Mulia yang mengatakan bahwa suami istri berbagi suka dan duka ... tidak meninggalkan satu sama lain?” Ndari memeluk Kamakarna.“Lalu kenapa Anda menyuruh saya untuk ....” Air mata wanita itu jatuh membasahi pundak Kamakarna.Eratnya pelukan Putri Mahkota membuat lelaki tersebut menyunggingkan senyuman. Langkah kedua sukses besar.Ndari telah jatuh ke dalam genggaman. Kamakarna tak sabar untuk menjalankan misi selanjutnya.“Putri Mahkota benar-benar percaya padaku?” Kamakarna melingkar lengan ke pinggang Ndari, tidak membiarkan wanita tersebut lepas dari tangan.“Tentu saja.” Ndari mencium pipi sang suami, lalu menyembunyikan waja
Selama Ndari menjadi istri Kamakarna, lelaki tersebut sangat jarang mengunjungi Paviliun Melati. Padahal jarak tempat tinggal keduanya tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga ratus meter.Karena pengabaian Kamakarna, status Ndari sebagai Putri Mahkota Badra hanya sebatas gelar. Para bawahan tidak sepenuhnya memandang Ndari sebagai majikan mereka. Bahkan Dayang senior seperti Gendhis pun berani meremehkannya.Meski dipandang sebelah mata oleh orang-orang, Ndari tidak menunjukkan kelemahannya. Alih-alih menghukum mereka yang kurang ajar terhadapnya, Ndari justru diam saja dan menganggap masalah itu sebagai angin lalu.Namun semua berbeda sejak Prameswari Widuri memberikan tanggung jawab mengatur Kompleks Keputren. Perempuan itu mulai menunjukkan cakar yang selama ini dia sembunyikan.Awalnya, Kamakarna tak peduli apa pun tentang Ndari. Namun sejak perempuan itu berani menyerang Muniratri secara terang-terangan, lelaki tersebut tak bisa menutup mata begitu saja.Terlebih lagi sekarang, Nda
Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.
Sejak pihak Putri Mahkota secara terang-terangan membatasi keperluan Muniratri selama tinggal di Paviliun Kantil, Ningsih secara teratur pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.Sebagian orang mendukung sikap sang Putri Hadiwangsa yang secara mandiri memenuhi kebutuhannya tanpa banyak d
Semenjak memergoki Ningsih meminta dibuatkan jamu kunyit asam, Narti secara rutin pergi ke dapur keraton khusus untuk menanyakan tentang hal itu kepada kepala juru masak.“Sejak hari itu, Dek Ningsih tidak pernah minta dibuatkan jamu kunyit asam lagi.” Lelaki itu menggaruk waja
Di permukaan, Ndari, Putri Mahkota Badramenunjukkan sikap yang terpuji. Dia memperlakukan Muniratri dengan baik, bahkan menempatkannya di Paviliun Kantil yang lokasinya lebih dekat dengan Putra Mahkota.Namun, di balik semua itu, diam-diam Ndari membatasi pergerakan sang bibi ipar. Ia mene







