แชร์

107. Racun tikus?

ผู้เขียน: Dara Tresna Anjasmara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-08 17:46:25

“Ini soto daging, sate, empal, sama pizzanya, Mas,” ucap driver ojol itu sembari membacakan daftar pesanan makanan kepada Bagas di dekat pintu samping pekarangan belakang rumah malam itu.

“Oke, thanks, ya,” ucap Bagas sambil tersenyum ramah menerima kantong belanjaan besar tersebut.

Setelah driver ojol itu pergi, Bagas segera melangkah masuk melalui pintu belakang. Ia sengaja memutar lewat sana demi menghindari keramaian para tamu sosialita
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Reza Pahlevi
lanjutan Thorrr
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   180. Apa yang terjadi di dalam kamar? Bagas panik?

    “Oh iya, Bagas. Kalian... janjian, ya?” tanya Ayah Nadia sambil tersenyum menatap Lily yang tampak lucu di pangkuannya. “Kebetulan ketemu, Pa. Jadi aku sekalian aja ke sini bareng,” ucap Bagas dengan senyum sopan yang menatap Ayah dan Ibu Nadia bergantian. “Ooh...” sahut mereka berdua dengan senyuman yang cukup lebar. Namun, benak Ibu Nadia kembali teringat pada kejadian siang tadi, saat ia mendengar Nadia tampak bahagia dan tertawa di dalam kamar, yang ia pikir sedang asyik dalam pembicaraan di telepon. “Sebelumnya... kalian nggak saling telepon?” tanya Ibu Nadia dengan nada yang begitu polos, mencoba mencari konfirmasi atas kecurigaannya. “Telepon? Oh, kalau telepon, kita berdua memang sering bahas masalah kesehatan, Ma. Apalagi karir kita kan bidangnya sama,” jawab Bagas tenang. “Oh, gitu. Iya juga sih, ya... dia dokter gigi, kamu dosen Anatomi...” ucap Ibu Nadia pelan sambil mengangguk-angguk, mencoba menyelaraskan alasan tersebut dengan logikanya. “Lagian kenapa, Ma

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   178. Nah tuh? Gimana nih?

    “Bagas... di sini?” tanya ibunya pelan, ada nada ketidakpastian dalam suaranya. “Um, iya, dia di sini. Di ruang TV. Jadi, aku panggil Mas Rumi dulu ya, Ma. Ada kakaknya,” ucap Nadia dengan senyum tenang yang ia paksakan, lalu melangkah mantap menuju kamar Rumi. “Oh... tapi kok bisa mereka berdua?” gumam ibunya pelan, dahi beliau berkerut samar. Namun, saat mendengar celoteh lucu dari Lily yang tampak gelisah ingin pindah tempat, sang ibu seketika beralih perhatian. “Oh, iya, iya, Ndut... yuk, kita ke Papa kamu, ya...” ucap Ibu Nadia sambil tertawa kecil, mengabaikan kecurigaannya sejenak dan mengecup pipi cucunya itu dengan penuh kasih. Sementara itu, Nadia sudah tiba di depan pintu kamar Rumi. “Mas? Dikunci nggak?” tanyanya dari balik pintu. Mendengar suara sang istri, Rumi menoleh sambil menurunkan kacamata bacanya ke ujung hidung. “Nggak, Yang!” sahutnya. Nadia pun masuk ke dalam kamar. Suasana di dal

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   178. Ini sih lebih horor daripada film horor!

    “Yang, aku masuk aja ya,” ucap Bagas mantap saat mematikan mesin mobil. Ia menoleh pada Nadia dengan tatapan yang memberi kekuatan. Nadia masih mengeratkan pelukannya pada Lily yang mulai terbangun karena pergerakan mobil. Ia menatap pagar besi tinggi yang membatasi privasi keluarganya. “Yang... nanti mereka bingung, kok aku bisa pulang bareng sama kamu?” tanya Nadia dengan nada cemas. Bagas tersenyum tenang, sebuah senyuman yang selama ini menjadi penawar rasa takut bagi Nadia. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Nadia dengan lembut. “Aku yang jelasin semuanya.” Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Bagas mengecup bibir Nadia sekilas—sebuah kecupan singkat yang sarat akan janji perlindungan. Keduanya pun turun dari mobil dan melangkah bersama menuju pekarangan rumah keluarga Nadia, siap menghadapi apa pun reaksi yang akan menanti di balik pintu besar itu. “Mas, ini gila...” ucap Nadia pelan dengan suara bergetar, jemari

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   177. Siapa yang salah?

    “Aku takut hubungan ini nggak...” Nadia menggantung kalimatnya, membiarkan keraguan itu menggantung di udara. “Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, Yang. Aku nggak suka,” potong Bagas cepat, nadanya sedikit lebih tegas. Nadia hanya diam, jemarinya perlahan mengusap punggung Lily. Bayi gempal itu kini tertidur pulas di atas tubuhnya dengan napas yang teratur dan tenang, kontras sekali dengan gejolak di hati sang ibu. “Aku cuma takut, Mas...” bisik Nadia lagi, seolah suaranya tertahan di tenggorokan. Bagas menghela napas panjang tepat saat mobil mereka terjebak di kemacetan lampu merah yang panjang. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Nadia. “Kamu takut apa, sih? Kamu mulai ragu sama diri kamu sendiri atau sama aku?” Nadia menoleh, menatap mata Bagas yang menuntut penjelasan. “Aku nggak ragu sama kamu...” “Terus?” cecar Bagas. “Aku cuma takut aja. Aku sendiri nggak tahu alasannya, Mas...” ucap Nadia lirih. Bagas mendengus pelan, sebuah senyum tipis yang sarat akan ironi tersungging di bi

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   176. Kena batunya!

    Nadia merekam pertemuan yang mengejutkan itu dari dalam mobil Bagas dengan ponselnya, memastikan setiap detik momen itu tersimpan rapi. Ia menahan napas, menyaksikan dari kejauhan bagaimana Bagas melangkah dengan sangat tenang—bahkan terlalu tenang—untuk ukuran seorang suami yang mendapati istri sahnya sedang bermesraan dengan dua pria asing, sore itu.“Hai...” sapa Bagas dengan ramah, bahkan ia menyunggingkan senyum hangat kepada dua lelaki yang berdiri di samping Vega.“Hai?” sahut salah seorang pria itu, keningnya berkerut heran menatap Bagas yang muncul tiba-tiba.“What the hell? Siapa lagi nih?” tanya pria satunya lagi dengan nada kasar, matanya menatap Bagas dengan permusuhan sebelum beralih menuntut penjelasan pada Vega.“Um... Itu...” Vega terbata-bata, wajahnya pucat pasi. Ia tampak kehilangan kendali atas situasi yang baru saja ia bangun.“Oh, ya. Kenalin, Bagas. Saya mantan suaminya. Ah, maksud saya sedikit lagi resmi jadi mantan,” ucap Bagas sambil tersenyum ramah, seolah

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   175. Parkiran apartemen. Nadia minta Bagas nyamperin Vega?

    “Mungkin perasaan Mama aja, karena udah lama nggak ketemu Nadia dan akhir-akhir ini jadi sering, makanya ada kesan asing gitu,” ucap Rumi, berusaha membungkus kegelisahannya dengan tutur kata yang tenang. “Nggak, Rumi. Nadia beda, lho. Terus... auranya itu kayak... kayak lagi isi, ya...” ucap Ibu Nadia sambil berpikir, matanya menerawang seolah sedang mengamati perubahan pada putrinya. Mendengar hal itu, jantung Rumi berdegup kencang. Ia segera mengambil inisiatif untuk mengalihkan kecurigaan sang mertua sebelum merembet ke arah yang lebih berbahaya. “Doain aja ya, Ma. Kita berdua emang berharap bisa dapat momongan lagi. Lagian udah lama kosong sejak anak pertama kami meninggal dunia. Dan aku sama Nadia emang baru-baru ini lagi program bayi juga” ucap Rumi mantap, memberikan alasan yang sangat masuk akal bagi seorang suami yang merindukan kehadiran buah hati. Ibu Nadia tampak lega mendengar penjelasan tersebut. Wajahnya yang semula tegang kini melunak. “Ya, benar juga kata kam

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   20. Bagas ternyata?

    “Alasannya...” Bagas menggantung kalimatnya, menatap Nadia dengan sorot mata yang tiba-tiba meredup. Kebahagiaan yang tadi terpancar setelah pelepasan kini berganti dengan kabut kelabu. “Kita sama-sama kecewa, Nad.” “Kecewa?” ulang Nadia pelan. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   19. Kenapa Mas ngelakuin itu?

    “Ahh ... Sayang ...,” desah Bagas, suaranya pecah dan berat, menggema di sudut-sudut kamar yang temaram. Ia seolah kehilangan seluruh kendali dirinya. Di bawahnya, Nadia merintih tertahan, tubuhnya terguncang hebat mengikuti ritme yang kian memburu. Posisi Nadia yang menungging di

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   18. Nadia mendesah di lantai dua, mertuanya datang.?

    “Aku di ...,” Nadia mengerjap, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamar yang temaram. Ia baru sadar sepenuhnya bahwa ia tertidur di kamar Lily. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya saat menatap balita di sampingnya, lalu ia mendaratkan kecupan lembut di kening sang keponakan. “Um .

  • Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!   17. Rumi tidak jujur? Kita bikin anak!

    “Berapa uang yang dikirim, Ma?” tanya Nadia. Ia melangkah mendekat, menuntut transparansi yang seharusnya memang menjadi haknya sebagai seorang istri. “Bukan urusan kamu, kok. Lagian ... wajar, kan, dia kasih uang ke mamanya sendiri?” sahut Ratu ketus. Matanya tetap terpaku pada layar ponsel, seo

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status