Masuk“Ini soto daging, sate, empal, sama pizzanya, Mas,” ucap driver ojol itu sembari membacakan daftar pesanan makanan kepada Bagas di dekat pintu samping pekarangan belakang rumah malam itu.
“Oke, thanks, ya,” ucap Bagas sambil tersenyum ramah menerima kantong belanjaan besar tersebut. Setelah driver ojol itu pergi, Bagas segera melangkah masuk melalui pintu belakang. Ia sengaja memutar lewat sana demi menghindari keramaian para tamu sosialita“Mama? Sakit?” Tanya Bagas pelan, dahi mengerut dalam sembari menatap Lily yang masih asyik memainkan kancing kemejanya.“Iya. Sebenarnya dari tiga hari kemarin mama kamu demam... cuma Tante pikir bakal turun panasnya. Sekarang Mama kamu kita bawa ke rumah sakit. Lagi dirawat. Kamu bisa kesini?” Tanya Tante Ira, adik kandung ibu Bagas, Ratu, dengan nada cemas yang tertahan di ujung telepon.“Oke Tante. Aku bakal kesana. Kalau memungkinkan aku naik mobil aja dari Jakarta. Atau mungkin Aku pesen tiket pesawat dulu. Kalau nggak dapat sore, malam atau mungkin tiket penerbangan buat besok pagi.” Ucap Bagas, kepalanya mulai berputar cepat memperhitungkan jarak dan opsi perjalanan dari kediamannya.“Iya, Bagas. Kasih tahu papa kamu ya, supaya bisa ikutan ke Surabaya.” Ucap Ira mengingatkan.“Oke tante. Titip mama aku ya. Terimakasih udah ngabarin.” Ucap Bagas di akhir percakapan siang itu, sebelum akhirnya menurunkan ponsel dari telinga dengan tangan yang perlahan melemas.Tak lama, Bagas du
Ayah Vega menghentikan tangannya yang sedang merapikan bantal, lalu menghela napas panjang. Ia beranjak mendekati meja rias, menatap bayangan istrinya dari cermin dengan tatapan sendu. “Bukan soal itu, Pa...” ucap Ibu Vega lirih, menggelengkan kepalanya pelan. “Terus?” tanya Ayah Vega meminta kejelasan. Ibu Vega menunduk, meremas jemarinya sendiri di atas meja rias. Ada beban berat yang kembali menggelayuti dadanya malam itu. “Lihat Bagas... sama Nadia... Mama ngerasa keberatan, Pa... Di lubuk hati Mama yang paling dalam, Mama masih ngerasa Bagas itu menantu kita... suaminya Vega...” ucapnya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan kamar siang itu. Ayah Vega mengulurkan tangan, menepuk pundak istrinya dengan lembut untuk memberikan ketenangan. “Ma... itu sudah jadi pilihan Bagas. Lagian... kita sendiri tahu kan bagaimana pernikahan mereka selama ini berjalan? Nggak sehat, Ma,” ucap Ayah Vega pelan, mencoba menyadarkan istrinya pada kenyataan pahit yang sudah
Tak lama kemudian, Bagas sudah kembali ke dalam kamar. Pria itu langsung mengunci pintu rapat-rapat, memastikan privasi mereka benar-benar aman sebelum melangkah pelan menuju ranjang empuk tempat Nadia masih duduk bersandar. “Udah bebas nih...” ucap Bagas dengan senyum penuh arti, lalu dengan gerakan lambat namun menggoda, ia mulai melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia sengaja mengibaskan rambut hitam lebatnya, membuat Nadia tertawa kecil geli melihat ulah suaminya. Belum sempat Nadia protes, Bagas dengan sengaja memamerkan pahatan otot dada, lengan, dan perutnya yang atletis, sebelum akhirnya melucuti celana panjang yang ia kenakan. “Ayo, Sayang...” bisiknya lembut penuh puja, menatap lurus mata Nadia seraya meraih mangkuk buah mangga dari tangan istrinya dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja nakas samping tempat tidur. Nadia hanya bisa tersenyum pasrah, membiarkan Bagas dengan sabar dan penuh kelembutan melucuti pakaian minimalis yang ia kenakan hingga tak
“Papa...” panggil Lily dengan suara khas anak kecil yang baru bangun tidur, tersenyum manis sembari menggapai-gapai ke arah Bagas dengan kedua tangan mungilnya. Tanpa ragu, Bagas langsung menyambut uluran tangan putrinya itu dan mengangkatnya ke dalam gendongannya dengan penuh gemas, mencium pipi gembul sang anak beberapa kali. “Wah, baru bangun tidur, ya? Nyariin susu, nggak?” tanya Bagas dengan nada lembut yang langsung berubah manja, diiringi tawa kecilnya yang renyah. Melihat raut wajah kedua orang tua Vega yang menatap cucu mereka dengan mata berkaca-kaca penuh harap, Bagas perlahan melangkah mendekat. Ia kemudian memindahkan Lily dengan hati-hati ke dalam gendongan Ibu Vega, disusul Ayah Vega yang langsung merentangkan tangan untuk menyambut dan merangkul cucu tercinta mereka. “Apa kabar, cucu Oma...” ucap Ibu Vega penuh rasa rindu yang membuncah saat kembali bisa memangku si kecil di atas kedua lututnya, mendekap hangat tubuh mungil itu dengan penuh kehati-hatian. “Ya
“Tapi... kayaknya kita tetap harus buat surat perjanjian tertulis, Om, Tante,” ucap Bagas dengan senyuman penuh perhitungan, memecah sejenak kelegaan yang sempat tercipta di antara kedua mantan mertuanya. Ayah Vega mengerjap, menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut. “Maksudnya, Bagas?” “Maaf... tapi saya tahu betul watak Vega. Dia itu licik,” ujar Bagas tanpa ragu, suaranya terdengar dingin namun tetap terkontrol. “Saya nggak mau... sampai dia berani macam-macam atau mencari celah buat ngerusak perusahaan Papa saya. Walaupun posisinya nanti cuma staf, tapi... orang licik ya tetap aja licik. Jangan tersinggung ya, Om, Tante. Saya cuma berpendapat dan bicara sejujurnya karena saya yang tahu dan paling lama hidup bareng Vega.” Mendengar ucapan Bagas yang terlampau jujur itu, suasana ruang tamu kembali menegang. Ibu Vega sempat tertegun dengan mata membelalak, merasa tidak terima putrinya dikatai secara terang-terangan di hadapan mereka. Namun, Ayah Vega justru terdiam, m
“Terima aja, Ma...” ucap Ayah Vega dengan suara serak, menepuk lembut punggung tangan istrinya yang terus gemetar. “Ini sudah jalan yang terbaik buat Vega... kita harus ikhlas terima semuanya...” “Tapi, Pa... Vega masih bisa berkarier, masa depannya dan kesempatan dia itu masih luas banget... Dia juga masih muda...” sanggah Ibu Vega di sela isak tangisnya, tak rela melihat sisa harapan putrinya runtuh begitu saja. Mendengar ucapan itu, Bagas melepaskan tawa kecil yang terdengar begitu pelan, nyaris tak bersuara, menyiratkan kepedihan atas ketidakpahaman mantan ibu mertuanya terhadap beratnya kejahatan yang telah Vega lakukan. Melihat situasi yang mulai tegang, Roman lantas mengangkat dagunya pelan. “Kalau mau saya bisa bantu...” ucap Roman dengan nada tenang. Mendengar tawaran itu, Bagas langsung menoleh dengan kening berkerut. “Pa, nggak gitu, Pa...” protes Bagas setengah berbisik, khawatir ayahnya justru terbawa perasaan. Roman men
“Terima kasih, Mas Bagas.” ucap Nadia. Ia memberanikan diri membalas tatapan Bagas sembari terus mengunyah makanannya perlahan. Ada keberanian baru yang muncul di matanya, sebuah pemberontakan kecil terhadap rasa hampa yang selama ini ia telan sendiri. Ia menelan kentangnya seperti kaca. Kak
Bau menyengat obat dan suara desing alat bor gigi menjadi pelarian bagi Nadia pagi ini. Di kliniknya yang bernuansa serba putih dan minimalis, dia bukan lagi menantu yang gagal. Di sini, dia adalah Dokter Nadia, wanita yang memegang kendali penuh atas rasa sakit pasien-pasiennya. Pekerjaan ini a
“Nad, kenapa kamu kabur gitu aja? Nggak baik kayak gitu...” ucap Rumi sesaat setelah ia menutup pintu kamar rapat-rapat.“Mas, kamu dengar omongan Mama ke aku tadi kayak apa coba? Aku sakit hati, Mas. Dan ini bukan pertama kalinya mereka bahas, mereka sering mengulanginya dan aku bosan!” ucap Nadia
Suasana ruang makan pagi itu terasa mencekik. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen, memecah keheningan di antara Nadia, Rumi, dan ibu mertuanya, Ratu. Kursi di sebelah Ratu kosong, namun aura dominasi wanita tua itu tetap memenuhi ruangan, membuat oksigen di sekitar







