Mag-log inTak pernah terlintas di benak Aina Zavira bahwa dia akan menikah, apalagi dengan laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik. Laki-laki itu memang anak dari rekan kerja ayahnya. Namun, tetap saja dia tidak begitu mengenalnya dan hanya pernah bertemu tiga kali sebelum mereka menikah. Oh Tuhan, yang benar saja! Bahkan Aina tidak pernah berkeinginan untuk menikah dalam hidupnya. Baginya, pernikahan sama seperti neraka. Dia sama sekali tidak ingin menjalani kehidupan pernikahan yang seperti neraka itu. // Ada sesuatu yang menarik bagi seorang Alvin Pradipta saat mendengar ungkapan wanita di hadapannya. Dia bilang tidak ingin menikah? Itu terdengar sangat aneh di telinga Dipta. Mungkin akan masuk akal jika alasan wanita itu menolaknya karena telah memiliki kekasih atau semacamnya. Tapi sekarang? Wanita ini bilang dia tidak ingin menikah, baik dengannya atau dengan siapapun? Padahal sejauh yang Dipta tau, bukankah menikah adalah impian semua wanita? Mungkin wanita ini adalah pengecualian. Apa yang membuatnya enggan menikah? Dipta benar-benar ingin mengetahuinya.
view moreDeru mesin mobil terhenti begitu Dipta memarkirkan kendaraan itu di halaman rumah. Rumput-rumput dipangkas rapi, pot bunga di depan rumah juga masih terlihat segar dan basah. Pohon bunga mawar pemberian Dipta bertahun-tahun lalu, dibiakkan menjadi pohon-pohon kecil yang ditanam di samping halaman.Rumah berlantai dua berwarna abu-abu hitam putih yang dulu Dipta belikan untuk tempat tinggal mereka masih terlihat terawat meski sudah ditinggalkan cukup lama. Dipta memang menyuruh orang untuk rutin membersihkan dan merawat rumah itu. Dia percaya, suatu hari nanti mereka akan kembali tinggal di sana.Setelah bertahun-tahun berkelana, kini saatnya mereka kembali, membangun istana kecil mereka menjadi hangat seperti sedia kala.Aina melangkahkan kaki memasuki rumah, sembari menggendong Daffa yang sudah tertidur sejak dalam perjalanan. Dipta membantunya dengan membukakan pintu kamar. Seprai kamar itu sudah diganti, lantainya yang semula berdebu sudah disapu, jendelanya
Suasana rumah orang tua Aina cukup ramai pagi itu, meskipun tidak seramai saat tujuh tahun lalu di hotel Antariksa. Halamannya dipasangi tenda dan dihias indah, tetapi cukup sederhana. Tidak semegah dan semewah dekorasi di hotel kala itu.Sepasang manusia berlainan jenis duduk bersisian di depan penghulu, dikelilingi orang-orang yang kembali ingin menyaksikan bersatunya dua manusia yang dahulu pernah mengikat janji yang sama.Aina duduk dengan gugup, sama gugupnya seperti bertahun lalu. Namun, jika dahulu dia merasa kesal karena menikah atas dasar perjodohan dan kesepakatan, kali ini Aina merasa senang, karena menikah atas dasar cinta.Sorak sorai hadirin yang menyaksikan terdengar bersahutan selepas para saksi menyerukan kata sah. Ya, sah untuk yang kedua kali bagi mereka.Dipta tersenyum, mengulurkan tangan ke arah Aina yang langsung dikecup oleh wanita itu tanpa menunjukkan wajah cemberut seperti dulu. Dipta hampir tertawa saat mengingat bagaimana pern
Dipta merebahkan diri dalam kamar apartemennya setelah pulang dari kampus. Sidang terbuka promosi doktornya telah selesai digelar siang tadi.Akhirnya, setelah berjibaku dengan berbagai buku-buku dan segala persiapan hingga dia tak punya waktu untuk mengunjungi putra dan wanita tercintanya, semua terbayar lunas dengan gelar Doktor —gelar akademik tertinggi dalam jenjang pendidikan formal— yang kini tersemat di depan namanya, bergabung bersama gelar-gelar lain untuk menambah panjang namanya.Dia menjalani ujian pra-kualifikasi, ujian komprehensif, ujian promosi disertasi, ujian tertutup, hingga ujian terbuka promosi doktor dengan lancar dan sukses. Semua pertanyaan para penguji bisa dia jawab dengan tepat.Pengalaman bertahun-tahun bekerja di rumah sakit tentu menguntungkan baginya. Ditambah riset yang mendalam tentang topik yang dikajinya, membuat semua berjalan sesuai rencana.
Cuaca hari ini begitu cerah. Aina duduk di atas tikar yang digelar di bawah sebuah pohon besar. Daun-daunan yang tumbuh subur di setiap ranting pohon itu menjelma payung besar yang menaunginya dari terik matahari. Daun-daun lebat itu juga memproduksi banyak oksigen, hingga membuat siang hari yang panas ini terasa sejuk bagi aina.Sementara di seberang sana, beberapa meter dari tempat Aina duduk, Dipta sedang bersama Daffa, bermain ayunan.Kedua anak dan bapak itu begitu bersemangat. Daffa bersemangat menaiki ayunan, sedangkan Dipta bersemangat mendorongnya. Mereka terlihat begitu bahagia dengan tawa yang tak hilang setiap kali Dipta mendorong punggung Daffa hingga anak itu melayang di atas bangku ayunan.Melihat mereka bersama seperti itu, hati Aina terasa damai. Sudut bibirnya ikut tertarik setiap kali tawa putranya tertangkap telinga."Bunda, haus ...." seru Daffa seraya berlari ke arah Aina. Sedangkan Dipta melangkah perlahan di belakangnya
Aina tertegun sesaat, sorot matanya menatap tajam ke dalam kedua mata milik Galih, mencari kebenaran dari apa yang baru saja dia dengar. Lalu, tiba-tiba dia tertawa hambar. "Jangan bercanda, Kak. Tidak lucu.""Aku tidak bercanda, Aina. Aku serius!" tegas Galih. Dia menarik napa
Dua hari Aina mendiamkan Dipta di rumah. Selama dua hari itu, dia sama sekali tidak berbicara, atau menanggapi apa pun yang dikatakan Dipta. Padahal lelaki itu sudah mengerahkan segala upaya untuk memenangkan hati wanitanya, tetapi hasilnya nihil.Sebenarnya Aina masih melakukan pekerjaan r
Gumpalan awan hitam menutupi seluruh cakrawala. Berkas sinar matahari bahkan kesusahan menembusnya. Angin berembus kencang, mengantarkan tetesan air hujan menggedor-gedor jendela kaca sekaligus menambah parah hawa dingin yang sejak pagi tadi menyelimuti kota Jogja.Aina termenu
Dua jam Aina dan Dipta berkeliling supermarket, membeli berbagai barang dan bahan makanan untuk mengisi rumah dan kulkasnya yang masih luang. Pukul satu siang, mereka pulang.Terik matahari menyengat kulit. Angin yang bertiup mengantarkan dedaunan yang jatuh di pelataran rumah,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore