Ibu mertuaku tidak pernah puas dengan jatah bulanan yang suamiku berikan. Dia menganggap anak lelaki harus berbakti untuk membayar penderitaannya di masa muda dengan membahagiakannya. Aku lelah, tapi meninggalkan suamiku di bawah manipulasi ibunya pun aku tak tega. Lihat saja, akan kubuat suamiku sadar kalau berbakti tidak harus dengan tumpukan materi!
Lihat lebih banyak"Jangan kekanakan begitu! Masalah sepele aja minta cerai," cebik Mas Pamuji.
Entah bagian mana yang dia anggap sebagai masalah sepele? "Aku udah nggak tahan, lebih baik aku mundur aja dari kehidupan kamu, Mas. Dari masalah ini, dari keributan yang nggak pernah ada ujungnya," ucapku serius. Mas Pamuji hanya memandangku, keterlaluan sekali jika dia masih menganggap penderitaanku sebagai hal yang sepele. "Aku nggak mungkin meminta kamu memilih aku atau ibumu, 'kan Mas?" ucapku lagi. Kubalas tatapan Mas Pamuji dengan dalam, aku ingin sekali saja suamiku ini melihat bahwa aku benar-benar sudah tidak sanggup. Bulir bening mulai menetes dari ujung netraku, keputusan yang berat tapi aku memang buntu tidak tahu harus bagaimana mengakhiri semua ini. Jalan yang terlintas hanya berpisah, mengikhlaskan semua yang menjadi rezeki anak-anakku untuk dinikmati ibu mertuaku. Selama delapan tahun pernikahan, rumah tanggaku sudah mengalami dua fase perekonomian. Pertama, fase dimana Mas Pamuji menanggung utang puluhan juta yang berbunga hingga hampir mendekati angka 100 juta. Tahun yang berat kami lewati tanpa bantuan siapapun, kami hidup sesederhana mungkin, demi membayar cicilan yang besar setiap bulannya. Saat itu kami merasa bahagia, keluarga kecil kami hangat meski sering tidak dianggap oleh keluarga besar suamiku, karena kami miskin. Kami menjauhi mereka demi menjaga kesehatan mental dan kami berjanji suatu saat kami pasti akan menjadi sesuatu. Jujur saja hatiku sedih, ketika untuk makan saja kami harus sangat berhemat sementara ibu mertuaku hidup dengan gaya yang tinggi. Entah sengaja atau hanya perasaanku, beliau seolah memamerkan kehidupannya yang terkesan dipaksa terlihat kaya, untuk mengejek kami. Sering kali kutemukan Mas Pamuji sedang menangis, dia pernah berujar bahwasannya dia malu padaku, malu karena ibu yang seharusnya mendoakan kami justru dengan terang-terangan menari di atas kemiskinan rumah tangga anaknya. Pernah suatu ketika, kami kemalingan sepeda motor, Mas Pamuji sangat sedih karena itu kendaraan kami satu-satunya, tapi Mas Pamuji kecewa tatkala ibunya justru pamer di sosmed miliknya, berselfi-selfi ria di atas motor baru milik mbaknya--Bude Mas Pamuji. Iya, ibu mertuaku memang gaul, aku yang muda pun kalah gaya dengannya. "Sabar Sekar," ucap Mas Pamuji. "Aku tertekan, Mas! Kamu adalah anak lelaki yang sampai kapan pun akan tetap jadi milik ibumu, berbakti saja kamu, Mas. Lepaskan aku dan anak-anak, kalau memang anak-anakku bernasib baik, Alloh akan memberikan mereka rezeki lewat tanganku, biarlah gajimu menjadi milik ibumu sepenuhnya. Aku akan kerja untuk Bagas dan Tika," tuturku dengan sesenggukan. "Berpikirlah jernih, Sekar!" "Mas, aku lelah!" tegasku. "Makanan yang setiap hari kumakan rasanya berhenti ditenggorokan setiap ibumu mengungkit nafkah yang kamu kasih, gara-gara menantu dan cucunya harus makan jatah ibumu untuk beli sepatu senam harus terpending hingga bulan depan," ucapku sendu. "Ketika kita harus berhemat, ibumu justru hidup dengan gaya yang terlampau tinggi, setiap diperingatkan dia berdalih sedang menikmati masa tuanya, menikmati jerih payahnya telah membesarkan kamu." "Lebih baik aku yang mundur, Mas! Biarkan rezekiku dan rezeki anak-anak datang dari tanganku sendiri, biar nggak ada lagi nasi yang tersangkut di tenggorokanku, biar ibumu bisa leluasa menikmati gajimu." Mas Pamuji terdiam mendengar semua tumpahan amarahku. Aku lelah. Ketika Mas Pamuji berhasil menyelesaikan utangnya, kehidupan kami berangsur-angsur membaik. Di tahun ke-6 pernikahan, kami bebas dari utang. Di saat itulah aku kembali hamil anak keduaku. Rezeki kami mengalir deras, Mas Pamuji pun naik jabatan dengan gaji yang menjanjikan. Semua saudara telah kembali menganggap kami sebagai bagian dari mereka. Mas Pamuji pun sudah bisa menyisihkan sebagian gaji untuk ibunya, setelah bertahun-tahun kami kenyang dengan sindiran karena tidak pernah memberikan jatah. Semua karena utang. Mas Pamuji terlihat bahagia, karena sejak saat itu dia kembali mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ibunya. Miris memang, ketika bakti diukur dari materi. Tapi setidaknya suamiku tetap berusaha untuk berbakti sesuai standar yang ibunya terapkan. Lambat laun ibu mertuaku semakin meminta lebih dari yang Mas Pamuji berikan. Banyak barang yang ibu mertuaku beli hanya karena tetangga yang lain membeli, dengan berbagai alasan dia selalu berhasil memaksa Mas Pamuji menuruti semua keinginannya. Ah, aku cemburu? Entahlah. Hanya saja jalan pikiran ibu mertuaku tak pernah bisa kumengerti. Aku dan anak-anak terus mengalah padanya dengan bakti sebagai pembelaan. Rasanya sedih ketika anak-anakku lebih banyak menggigit jari, dan uang ayahnya lebih banyak berubah menjadi tanaman hias kekinian, seragam senam, atau barang-barang lainnya yang kurasa kurang bermanfaat. Mas Pamuji kembali diam, sepertinya dia paham bahwa ucapanku bukan sekedar ancaman. "Gajimu memang hasil kerja kerasmu, Mas. Tapi apa Mas tahu, Alloh menitipkan rezeki kami di dalamnya, bukan hanya rezeki ibumu, bisakah kamu adil membaginya sesuai kebutuhan? Mau sebesar apapun gajimu kalau untuk memenuhi gaya hidup Ibu pasti akan kurang." "Tapi pisah bukan jalan keluar, Sekar," jawab suamiku. Sebenarnya Mas Pamuji baik padaku, dia pun sepenuhnya sadar kalau ibunya sudah keterlaluan. Tapi dia tidak berdaya. Berkali-kali dia mencoba membesarkan hatiku untuk bersabar, disaat gaji suamiku besar justru kehidupan kami semakin memperihatinkan. "Mas, aku punya harga diri. Hatiku sakit setiap ibumu membahas nafkah yang nggak seberapa darimu, dia boleh memperlakukanku seperti ini, karena aku memang hanya orang lain, tapi Bagas dan Tika adalah cucunya, darah kalian sama, tapi perlakuan ibumu nggak mencerminkan bahwa dirinya seorang nenek." Dadaku sesak menahan emosi. Mas Pamuji menunduk, entah apa yang dia pikirkan, kedua tangannya menangkup menutupi wajahnya. "Maafkan ibuku, Sekar," ucapnya lirih. "Lepaskan kami, Mas." "Nggak ... nggak Sekar. Aku akan lebih tegas pada ibu sekarang, pikirkan Bagas dan Tika, lagi pula secara pribadi kita berdua nggak ada masalah apapun, alasanmu minta pisah benar-benar nggak masuk akal." Mas Pamuji benar, bahkan saat kehidupan membawa rumah tanggaku ke titik rendah kehidupan kami tetaplah hangat. Kami tetap saling menyayangi, saling menguatkan, dan saling mengingatkan untuk beribadah. Kami pun saling setia. Dan semua justru berubah saat kehidupan kami membaik, ketika ibu meminta ini itu, kami sering cekcok. "Aku memutuskan berpisah justru karena Bagas dan Tika, mereka akan dapat apa jika ibumu terus-terusan begini?" "Tapi ini nggak adil untukku, Sekar, " tolak Mas Pamuji. "Kamu bisa berbakti, Mas." "Tapi--" "Mas, ini bukan pertama kali Mas janji mau tegas sama ibu, tapi nyatanya Mas selalu takut dengan ancaman akan dianggap sebagai anak durhaka. Tapi memang benar, Mas harus mencari ridho seorang ibu 'kan?" Ibu mertuaku selalu mengancam dengan doa yang kurang baik bila Mas Pamuji tidak memenuhi keinginannya. Pada masa puber kedua beliau, keinginan-keinginannya melebihi seorang remaja. Mas Pamuji kewalahan, sehingga kami yang selalu menjadi korban. "Sekar ...," ucapnya pasrah, mengiyakan semua perkataanku tentang ibunya. "Maafkan aku, Mas!" Tubuhku limbung di pangkuan Mas Pamuji, kulepaskan semua tangis keputusasaanku. "Maafkan aku yang nggak bisa jadi istri yang baik, maafkan aku karena aku kurang sabar, maafkan aku yang kemampuannya terbatas, maafkan aku yang nggak bisa membantumu berbakti pada ibumu," ucapku sesenggukan. "Sekar ...." Kurasakan tangan Mas Pamuji mengusap rambutku, suami yang sudah kudampingi selama 8 tahun. "Kasiani aku, Mas. Aku nggak sanggup menyaksikan setiap tingkah laku ibu lagi, dan aku nggak mungkin memintamu memilih satu diantara kita, aku ikhlaskan semua," pintaku lagi. "Kamu udah nggak mencintai aku lagi, Sekar?" "Aku cinta, Mas. Karena itulah aku pergi, aku nggak mau Mas jadi anak yang durhaka." "Kamu nggak mengizinkan Mas menjadi suami dan ayah yang baik!" "Dengan berpisah anak-anak nggak akan tahu dilema yang dialami ayahnya, bagi mereka kamu tetap ayah yang baik, tapi kalau mereka tumbuh semakin besar, kemungkinan mereka akan bisa mengerti permasalahan ini, cukup aku yang tahu bagaimana setiap bulan kita harus mengalah." Mas Pamuji kembali diam. "Kamu mau kerja apa?" tanya Mas Pamuji lagi. "Apa saja! Asal halal dan--" "Assalamualaikum, Ji ...." Panjang umur sekali, kedatangan ibu mertuaku menyela diskusi kami. Aku segera mengusap air mata dan menyeka hidungku. "Ibu datang, cepat kamu temui, Mas!" Dengan berat Mas Pamuji beranjak dari duduknya. Langkahnya terdengar setengah hati. Ketukan pintu berhenti setelah Mas Pamuji membukanya. "Waalaikum--" "Ibu minta uang, Ji, mau arisan." Benar dugaanku, uang lagi, bahkan Mas Pamuji belum sempat menyelesaikan salamnya. . . . . ."Jangan-jangan ibu diguna-guna?" ucap Nurma menduga-duga.Mas Pamuji yang sedang kalut pun tersulut dengan praduga dari Nurma, padahal benda-benda di tangannya lebih mirip benda yang telah lama dirawat, mungkin saja benda itu milik ibu."Mas ... itu bukan benda buat guna-guna perasaan deh," ucapku berusaha mengoyahkan prasangka buruk Mas Pamuji pada siapapun."Kita coba aja, Kar, tanya ke Mbah Sanusi," tutur Mas Pamuji.Kami semua pergi ke rumah Mbah Sanusi, seseorang yang dituakan di kampung Mas Pamuji. Aku tidak tahu kalau Mbah Sanusi ternyata bisa mengetahui hal-hal gaib semacam ini.Mobil terparkir di halaman sebuah rumah yang sederhana, meskipun begitu suasana hangat dan sejuk menyatu menjadi satu di hunian yang nyaman. Terlihat sekali kalau Mbah Sanusi orang yang taat.Kami bertiga dipersilahkan masuk. Sambil menyesap rokok lintingannya Mbah Sanusi menanyai maksud kedatangan kami."Mbah udah denger tentang Susi, Ji," ucap Mbah Sanusi."Iya, Mbah guru, kalau kata dokter ibu depre
Setelah kepergian Rima, kami bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Kami bergegas menyelesaikan urusan rumah dan kembali ke rumah kami yang baru secepatnya.Sedikit ada rasa yang mengganjal ketika kuturuti keinginan Mas Pamuji yang tidak mau mampir ke rumah ibu. Sejujurnya aku senang, hanya saja aku takut salah. Ya sudah, toh itu ibu Mas Pamuji, dan yang tidak mau datang anaknya sendiri, aku tidak ikut campur.Seminggu kemudian, ponselku dan Mas Pamuji terus berdering. Panggilan dari ibu dan juga Nurma, keduanya menanyakan keberadaan Rima. Sesuai perjanjian kami diam dan pura-pura tidak tahu. Keluarga Irfan berkali-kali datang ke rumah ibu, mereka masih menganggap ibu dan Nurma yang menyembunyikan Rima.Karena jarak kami jauh, sehingga memudahkanku dan Mas Pamuji untuk berbohong, kami akhirnya sibuk dan lupa pada masalah Rima meski ibu dan Nurma masih sering menghubungi kami dan menceritakan betapa kacaunya keadaan mereka.Ibu ... andai saja ibu tahu kepedihan Rima, pasti ibu akan berpi
Aku bergantian mandi dengan Mas Pamuji, setelahnya kami pergi makan di luar berdua saja."Mas ... kamu nggak mau mampir ke rumah Ibu?" tanyaku pada Mas Pamuji."Nggak usahlah," jawab Mas Pamuji apatis."Kita kelarin aja urusan kita di sini, terus kita pulang," lanjut Mas Pamuji.Aku senang mendengarnya, tidak munafik bukan?"Ehm, seenggaknya mampir ke tempat Bude," ucapku lagi."Iya, nanti mampir," jawab Mas Pamuji.Kami membeli martabak dan buah-buahan untuk Bude Rum. Kali ini kami juga membelikan jajanan untuk cucu Bude Rum di mini market."Assalamualaikum," sapaku. Terdengar jawaban dari dalam rumah besar milik Bude."Waalaikumsalam, eh kamu, Kar? Apa kabar?" jawab Mbak Arum menyalamiku."Baik Mbak.""Kamu keliatan ganteng sekarang, Ji," ucap Mbak Arum menyalami Mas Pamuji."Ganteng dari dulu perasaan," jawab Mas Pamuji sambil terkekeh."Pakde mana?" tanya Mas Pamuji."Di dalam, cari aja," ucap Mbak Arum, Mas Pamuji pun masuk ke dalam."Mana Bagas sama Tika?" tanya Mbak Arum."Ngga
"Harusnya kamu juga bersikap baik ke aku, atau ... jangan-jangan mereka juga udah ngebuang kamu sama Dani pas kalian susah begini?" tuturku menyindir, muka Nurma merah padam, dadanya naik turun tidak terima dengan ucapanku."Sekar!" seru Nurma."Jadi benar?" tanyaku mengulang.Tangan Nurma melayang ke wajahku dengan cepat, aku tidak punya waktu untuk menangkisnya, tapi aku masih sempat untuk menghindar."Nur!" bentak Mas Pamuji.Tangan Nurma hanya menabrak udara kosong. Tampaknya aku telah memasuki ranah sensitif pada diri Nurma. Ibu hanya bisa diam, sudah terlanjur malu."Kamu marah, Nur?""Enggak salah?""Kamu pun memperlakukan aku kaya gitu, enggak sadar atau emang sengaja?" tanyaku menahan kesal."Jangan ikut campur masalahku, Kar! Kalau nggak mau bantu ya sudah," seru Nurma, emosinya meninggi, dia benar-benar tersinggung."Bagus kalo gitu, kamu juga nggak usah ikut campur lagi, ngeliat saudara punya kok langsung panas, aku bisa baik kalau kamu baik, aku cuma menyesuaikan diri sam
"Rumahnya nggak usah dijual, kalo kamu mau pindah ke kampungnya Sekar yang di kaki gunung itu, ya pindah aja, kasian adekmu nggak punya rumah, kasih aja ke Nurma," ucap ibu.Inti kalimat yang sukses membuat mataku membelalak."Apa?!" seruku tidak percaya."Nggak bisa gitu dong, Bu," protes Mas Pamuji, penolakannya yang terlalu halus membuatku semakin kesal."Kasian sedikit lah sama aku, Mas, utang Mas Dani banyak, omongan tetangga semakin hari semakin nggak enak karena aku malah numpang di rumah ibu, aku juga sering berantem sama Mas Dani," lanjut Nurma mengiba."Ya nggak bisa, Nur, Mas udah cukup mbantu kamu dengan nggak minta pertanggung jawaban apapun ke kamu tentang mobil yang rusak, tentang skors yang harus Mas dapet dari perusahaan, tentang pemindahan bagian dan lainnya," jelas Mas Pamuji."Bahkan kejadian itu juga nambah alasan perusahaan buat ngeluarin Mas dari pekerjaan," lanjut Mas Pamuji."Sudahlah, Ji, itu udah berlalu, sesama saudara itu saling tolong menolong, siapa yang
Aku mencoba memaafkan ibu meski dia tidak pernah meminta maaf, bukan karena aku baik, tapi karena aku harus sehat secara mental.Meskipun begitu adegan pelemparan uang di rumah bude masih belum bisa kulupakan. Aku tidak mengingatnya, aku justru berusaha keras melupakannya, tapi sulit rasanya, hampir di setiap mataku terpejam adegan itu kembali terbayang.Merasa terhina, rendah, dan dilecehkan. Aku tidak terima tapi tidak bisa melawan. Aku hanya bisa membayangkan jika aku bisa memutar kembali waktu, akan kutepis tangan ibu, atau paling tidak aku akan membela diri.Secara tidak sadar ucapan dan doa buruk ibu yang terus berulang telah mendoktrinku. Terekam di alam bawah sadar, membuat semua ucapan ibu seolah menjadi nyata.Aku sangat takut, cemas, dan insecure. Namun perlahan kucoba menggapai kembali kesadaranku, berkali-kali kuucapkan, ini bukan karma!Ini berkah, ini jawaban dari doa-doaku, ini jalan keluar dari masalah yang sudah membuatku muak, akhirnya aku bisa menjauh dari ibu, bah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen