ANMELDENNathan tidak memberi mereka waktu untuk bernapas.Dengan satu tarikan kasar, ia menarik Karin ke atas pangkuannya hingga wanita itu terpaksa menungganginya.Milik Nathan yang sudah basah dan tegang menusuk masuk ke dalam milik Karin dalam satu hentakan dalam, membuat tubuh aktris itu melengkung tajam.“Ahhh—! Nathan, terlalu dalam!” erang Karin, jari-jarinya mencengkeram bahu pria itu hingga kuku-kukunya memutih.Nathan hanya mendengus, kedua tangannya mencengkeram pinggang Karin dengan brutal lalu mengangkat dan menjatuhkan tubuh wanita itu berulang-ulang.Setiap hentakan membuat bunyi basah yang nyaring memenuhi ruangan.“Gerak sendiri. Lebih cepat.”Karin menurut, pinggangnya mulai naik-turun dengan tempo yang semakin gila. Miliknya sudah becek, lendirnya mengalir turun membasahi paha Nathan.Victoria langsung naik ke sofa, menungging sedikit di samping Nathan sambil menyodorkan payudaranya yang montok tepat ke mulut pria itu.“Hisap, hisap payudaraku,” desah Victoria serak, jari-j
Malam itu, penthouse Nathan Utama di lantai tertinggi gedung residensi mewah tampak tenang di luar, namun di dalam ruang utama yang luas, suasana sudah dipenuhi ketegangan erotis yang pekat.Nathan duduk di sofa kulit gelap yang luas, hanya mengenakan kemeja putih yang setengah terbuka dan celana formal yang masih rapi. Di hadapannya, tiga wanita berdiri dalam barisan yang sempurna: Victoria, Sisca, dan Karin.Victoria, wanita dewasa dengan aura elegan yang sudah lama berada di lingkaran Nathan, berdiri paling kiri. Tubuhnya langsing namun penuh, rambutnya diikat rapi.Di tengah, Sisca berdiri tegap dengan wajah profesional yang kini sudah kehilangan segala formalitas kantor. Di sisi kanan, Karin berdiri dengan bahu sedikit menurun, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa ketegangan siang tadi, namun matanya sudah tunduk.Nathan menyilangkan kaki, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.“Lepas semuanya,” perintahnya datar, suaranya rendah dan tanpa ruang
Untuk memastikan Karin tidak memiliki celah sedikit pun untuk merencanakan perlawanan balik atau membocorkan status terikatnya ke publik, Nathan Utama mengambil alih kendali penuh atas seluruh ekosistem kerja sang aktris.Melalui daya tekan finansial yang kuat dan ancaman penyebaran dokumen bukti pemerasan awal, Nathan memaksa pihak agensi manajemen tempat Karin bernaung untuk menandatangani adendum kontrak pengawasan khusus.Pagi itu, di dalam ruang kerja VIP lantai direksi, Nathan memanggil Sisca dan Karin secara bersamaan. Suasana ruangan terasa sangat kaku dan menekan.Sisca berdiri tegap di sisi meja kerja mengenakan gaun formal berpotongan rapi, sementara Karin berdiri di sisi sebaliknya dengan raut wajah tertekan dan tidak berdaya.Nathan melempar dua bendel dokumen hitam ke atas meja mahoni besar di hadapan mereka."Sisca," panggil Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan tegas."Mulai hari ini, kamu resmi bertindak sebagai verifikator tunggal atas seluruh agend
Di minggu-minggu berikutnya, Nathan Utama memanfaatkan kehadiran Karin untuk mempertegas pameran kekuasaan dan pengaruh bisnisnya di hadapan para pengusaha senior, investor asing, dan pejabat tinggi.Dalam berbagai acara perjamuan bisnis eksklusif, malam amal, dan gala privat yang tertutup dari pers umum, Karin terpaksa tampil mendampingi Nathan sebagai wanita gaetannya.Malam itu, di dalam ballroom hotel bintang lima yang dipenuhi lampu kristal raksasa, para tokoh elit berkumpul menikmati alunan musik orkestra klasik.Nathan melangkah mantap memasuki ruangan dengan setelan jas hitam kustom yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.Di sisi kanannya, Karin berdiri mendampingi dengan balutan gaun malam sutra berwarna perak berpotongan anggun yang memeluk tubuh jenjangnya.Namun, di balik senyum manis dan postur tubuhnya yang tampak sempurna di hadapan para tamu, Karin menyimpan kepatuhan mutlak yang dipaksakan oleh kontrak privat."Ingat batasan kamu malam ini, Karin," bisik Nathan ren
Setelah kesepakatan terikat tersebut terkunci tanpa celah di atas meja kerja, Nathan Utama tidak menunda waktu sedetik pun untuk melancarkan penundukan fisik dan psikologis secara langsung di dalam kamar suite eksklusif lantai teratas tersebut.Tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik yang kasar, Nathan mendikte setiap pergerakan Karin dengan dominasi yang amat tajam, dingin, dan memikat, meremukkan sisa-sisa harga diri sang aktris yang biasa dipuja-puja oleh jutaan penggemar di luar sana.Nathan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati Karin yang masih terduduk kaku di atas sofa dengan air mata yang mengering di pipinya."Berdiri, Karin," perintah Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin mendongak pelan, menatap manik mata pekat Nathan dengan sisa-sisa keangkuhan yang perlahan larut dalam rasa takut. Dengan gerakan ragu, ia bangkit berdiri dari sofa, merapikan ujung gaun malam merahnya yang kusut."Apa... apa yang harus saya lakukan sekarang, Na
Ketakutan yang membeku di dalam kamar suite lantai atas mencapai titik paling krisis ketika Karin menyadari tidak ada satu pun pengacara, agensi hiburan, atau jaringan media yang sanggup melindunginya dari jerat rekaman CCTV milik Nathan Utama.Karin berdiri membeku panik di atas karpet tebal, kedua tangannya yang memegang ujung gaun malam mewahnya bergetar hebat saat Nathan melangkah mendekatinya dengan ketenangan yang mengintimidasi."Kamu masih berharap ada seseorang yang akan mendobrak pintu suite ini dan menyelamatkan kamu, Karin?" tanya Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin menelan ludah dengan susah payah, air matanya menetes bebas merusak riasan mahal di wajahnya. "N-Nathan, kumohon... jangan lakukan ini pada saya. Jangan hancurkan hidup saya..."Nathan sama sekali tidak memberi ruang untuk ratapan, tangisan, atau permohonan maaf yang tidak berguna dari sang aktris.Pria itu berhenti tepat satu langkah di hadapan Karin, menatap rendah wanita di
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.