แชร์

Jejak Cinta di Pulau Serenova
Jejak Cinta di Pulau Serenova
ผู้แต่ง: kim sujin

BAB 1 — PULAU SERENOVA

ผู้เขียน: kim sujin
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-10 10:07:19

Mobil hitam itu meluncur laju di jalanan berliku Pulau Serenova, sebuah pulau kecil yang tersembunyi di tenggara negeri itu. Walau pun pulau ini jarang disebut dalam peta wisata, keindahannya membuat siapa pun yang datang ingin tinggal lebih lama. Jalan raya yang dilalui membelah kawasan hijau, melewati pekan-pekan kecil yang tampak sederhana tapi cukup maju. Rumah-rumah kayu berwarna pastel berdiri rapi di tepi jalan, dihiasi bunga kertas dan lampu jalan bergaya retro yang menambah pesona desa modern itu.

Di sisi kanan jalan, laut biru kehijauan terbentang luas sejauh mata memandang. Batu-batu besar di pinggir pantai menambah keindahan pemandangan, seolah melindungi laut dari amukan ombak. Cahaya matahari sore memantul di permukaan air, menciptakan kilauan keemasan yang menenangkan. Di sisi kiri, pohon-pohon cemara dan kelapa berjejer rapat, menciptakan lorong hijau yang membuat perjalanan terasa sejuk dan damai.

“Cantiknya pemandangan di sini. Asik, kan, kalau bisa lebih lama di sini?” ujar Venesa, memecahkan kesunyian yang hanya diiringi deru mesin dan deburan ombak di kejauhan.

Konsentrasi Velery, yang sedang memegang setir, sedikit teralihkan. Ia melirik kakaknya sekilas, lalu tersenyum kecil. “Ayo dong, Kak. Tinggal aja terus di sini. Nyaman, kok. Ya, walaupun pekannya kecil dan nggak ada perusahaan internasional kayak tempat kerja Kakak sekarang, tapi enak loh. Bikin usaha sendiri — kafe, kedai bunga, apa aja lah… asal bisa menikmati hidup yang tenang.”

Venesa tertawa kecil mendengar rayuan adiknya. “Kamu ngomongnya gampang, Vel. Hidup itu nggak sesederhana itu. Semua butuh rencana.”

“Tapi Kakak juga butuh bahagia,” sahut Velery sambil mengedip nakal. “Dari dulu kerja mulu. Coba sekali-sekali pikirin diri sendiri.”

Venesa hanya tersenyum tanpa menjawab. Pandangannya kembali jatuh ke luar jendela, menikmati pemandangan laut yang perlahan mulai tertutup oleh barisan perumahan kecil di tepi jalan. Perjalanan mereka dari bandara menuju vila yang disewa Velery memakan waktu hampir satu jam.

Venesa dikenal di kotanya sebagai seorang perunding pelaburan di perusahaan internasional ternama. Di usia tiga puluh tahun, ia sudah memiliki reputasi sebagai pekerja keras, disiplin, dan sangat kompeten. Wajahnya cantik, tubuhnya terawat, tutur katanya selalu terukur. Tapi di balik semua kesempurnaan itu, Venesa menyimpan kekosongan yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Beberapa kali ia jatuh cinta — dan setiap kali pula ia disakiti. Mungkin, pikirnya dalam hati, wanita berkarier sepertinya memang ditakdirkan untuk sendiri. Lelaki datang dan pergi, sebagian kagum pada pencapaiannya, tapi mundur perlahan setelah merasa tak mampu menandingi dirinya.

Velery, adiknya yang baru berusia dua puluh tahun, adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Mereka kehilangan kedua orang tua dalam kecelakaan jalan raya dua belas tahun lalu. Saat itu Venesa baru menginjak delapan belas tahun, sementara Velery masih anak kecil berusia delapan tahun yang belum mengerti arti kehilangan.

Sejak hari itu, Venesa mengambil alih peran sebagai ibu sekaligus ayah. Ia bekerja sambilan di restoran, menjadi tutor privat, bahkan menjual kue buatan sendiri demi biaya hidup dan pendidikan Velery. Semua ia lakukan sambil tetap melanjutkan kuliah di jurusan keuangan.

Malam-malam panjang ia lewati dengan begadang, menghitung lembar demi lembar angka di laptop, sementara Velery tertidur pulas di sisinya. Ia pernah menangis diam-diam, bukan karena lelah, tapi karena takut tak sanggup mempertahankan satu-satunya keluarga yang tersisa.

Kini, melihat Velery tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat, hati Venesa menghangat. Mungkin benar kata adiknya — hidup tak melulu soal kerja dan karier. Mungkin sudah saatnya ia mencari arti lain dari kata tenang.

Kereta perlahan menurunkan laju saat papan bertuliskan “Selamat Datang ke Desa Mirandora” muncul di tepi jalan. Velery menepuk bahu kakaknya lembut. “Kita hampir sampai. Vila yang aku sewa di depan bukit kecil itu, Kak.”

Venesa menoleh, menatap pemandangan yang makin memukau — rumah-rumah putih beratap merah di kaki bukit, dikelilingi ladang bunga liar yang sedang bermekaran. Hatinya berdesir aneh, seolah tempat itu menyimpan sesuatu yang menantinya.

Di kejauhan, burung-burung beterbangan rendah, seperti menandai senja yang mulai turun. Jalan menuju vila melewati jembatan kecil dari kayu tua yang sedikit berdecit saat roda mobil melintas. Venesa sempat menatap air sungai jernih di bawahnya — tenang, tapi entah kenapa terasa asing.

Velery menurunkan kaca jendela, membiarkan angin sore masuk. “Wangi banget, ya. Kayak aroma bunga liar yang Kakak suka.”

Venesa tersenyum tipis. “Iya… tapi aneh, aku merasa pernah mencium aroma ini sebelumnya.”

Velery mengerutkan kening. “Pernah ke sini sebelumnya?”

Venesa menggeleng pelan. “Nggak. Setahuku belum pernah…” jawabnya, tapi suaranya menurun di akhir kalimat. Ada sesuatu di ujung ingatannya, samar, seperti bayangan masa lalu yang tak mau sepenuhnya muncul ke permukaan.

Mobil terus menanjak pelan ke arah bukit. Di depan sana, tampak vila putih berdiri tenang di antara pepohonan. Cahaya jingga sore jatuh di dindingnya, membuatnya tampak hangat dan mengundang.

Velery menepikan mobil dan mematikan mesin. “Kita sampai, Kak!” serunya riang.

Venesa turun perlahan. Angin sore menyapa wajahnya lembut. Ia mengedarkan pandangan — halaman vila itu luas dan tenang, hanya ada suara jangkrik dari balik rerumputan.

Hatinya berdesir aneh, seolah tempat itu menyimpan sesuatu yang menantinya.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Venesa merasa... ia tak keberatan kalau perjalanan ini tidak berakhir terlalu cepat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Episod Akhir: Rumah Adalah Kamu

    Langit senja di Pulau Serenova dilukis warna keemasan. Ombak memecah perlahan di pantai, membisikkan lagu perpisahan untuk hari yang panjang. Di beranda vila kecil mereka yang menghadap laut, Ben duduk bersila di atas tikar rotan, memangku bayi kecil yang baru berusia dua minggu. Bryan dan Bryden sedang berlarian kecil di halaman rumput, tertawa bersama Edward dan Vellery yang datang menengok keponakan baru mereka. Vellery kini sudah resmi bertunangan, dan wajahnya tak henti tersenyum sejak pagi. Sementara itu, dari dapur, aroma sedap masakan menyapa angin. Vennesa sedang menyendok sup jagung ke mangkuk, rambutnya diikat rapi. Tubuhnya masih lelah pasca melahirkan, namun wajahnya berseri bahagia. Sesekali ia melirik ke luar jendela, memastikan suaminya tidak ‘menggila’ lagi dengan ide nyeleneh seperti mengajarkan anak-anak bermain gitar metal atau menyanyi lagu rock keras sebagai lullaby. Tapi sore ini, Ben terlihat… tenang. Ben mendekap putri kecilnya—mereka menamainya Elora, yan

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 127 - Misi bertahan dari mood Mama

    Beberapa bulan setelah pernikahan Benedict Addam, hari-hari di Velmare kembali berjalan penuh warna. Vellery semakin serius menjalani hubungan dengan Edward. Ia sering berkunjung ke rumah keluarga Edward, dan disambut hangat seperti calon menantu. Sementara itu, bisnis kecil Ben yang dijalankan dari rumah berkembang pesat. Ia tetap mengasuh anak-anak sambil mengelola penjualan daring dari produk-produk custom yang dulu dia rintis secara iseng. Vennesa juga tak kalah bersinar. Ia kini telah dipromosikan menjadi Manajer Senior Strategi Pelaburan di perusahaan besar tempat ia bekerja. Dengan pengalaman dan kerja kerasnya, Vennesa menjadi salah satu figur perempuan muda yang diperhitungkan dalam dunia korporat Velmare. Sore itu, langit cerah, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan taman kota yang rindang. Di sebuah taman kecil tak jauh dari gedung perusahaannya, Ben duduk santai bersama kedua anak kembarnya yang kini berusia tiga tahun. Mereka asyik makan es krim—berantakan dan meleleh

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 126 - Peluang kedua

    Dua tahun telah berlalu. Pagi itu, cahaya matahari menari lembut di sela-sela tirai kamar, menyapa wajah Vennesa yang tengah merapikan riasannya di hadapan meja rias. Hembusan angin laut membawa aroma segar yang menerobos celah jendela, membuat helaian rambutnya yang digerai beralun tampak hidup, menari mengikuti irama alam. Dress labuh berwarna biru lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Potongannya sederhana, namun begitu serasi dengan keanggunan alaminya. Sentuhan riasan di wajahnya tak mencolok, tapi cukup menonjolkan sisi manis dan dewasa seorang istri, seorang ibu, seorang wanita yang telah tumbuh bersama cinta dan ujian hidup. “Ben! Ben!” panggilnya dari dalam kamar. Tak lama, Ben muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang coklat muda. Wajahnya berseri saat memandang istrinya. “Kamu cantik sekali, Sayang,” katanya tulus, seolah baru pertama kali melihat wanita itu. Vennesa tersenyum malu, pipinya merona. “Anak-anak sudah siap?” “Sudah, Saya

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 125 - Kemaafan

    Petang itu, matahari mulai turun perlahan di ufuk barat ketika Ben dan Vennesa melambaikan tangan kepada Edward dan Vellery yang hendak kembali ke kota Velmare. Koper mereka sudah tersusun rapi di bagasi taksi yang menunggu di depan vila. Setelah pelukan singkat dan kata perpisahan, taksi meluncur pergi, meninggalkan jejak kenangan yang hangat. Ben masuk lebih dulu ke dalam rumah. Di ruang tamu, kedua anak kembar mereka tengah merangkak lincah, tertawa dan mengejar bayang-bayang sendiri di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela besar. Sementara itu, Vennesa melangkah keluar untuk mengunci pagar. Ketika hendak menutup pintu besi itu, pandangannya tertumbuk pada sesosok pria tua berdiri tak jauh di seberang jalan. Tubuhnya sedikit membongkok, matanya penuh ragu, namun tatapannya tertuju tepat ke arah vila mereka. "Pak?" sapa Vennesa, pelan namun ramah. Pria itu tersenyum kaku. "Saya hanya mau lihat dari jauh..." “Masuklah. Kami di rumah,” ajaknya lembut, lalu membukakan paga

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 124 - Malam pertama

    “Jadi… kau mau aku lanjutkan?” tanya Ben lirih. Vennesa mendongakkan kepalanya dari dada Ben, menatap matanya yang mulai tenang meski masih menyimpan kelelahan emosional. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Mungkin lain kali,” ucapnya lembut. “Maaf ya, Sayang… aku keterlaluan. Egois. Harusnya aku nggak memaksa kamu buka luka lama.” Ben menggeleng, tangannya membelai pipi Vennesa dengan penuh kasih. “Enggak, Sayang… kamu nggak salah. Aku yang harusnya minta maaf. Aku… bukan lelaki yang baik buat kamu. Masa laluku terlalu kelam.” Vennesa menatapnya dalam-dalam. Kali ini matanya tak lagi bingung atau ragu—melainkan penuh keteguhan. “Kamu baik kok,” katanya dengan suara mantap. “Kamu orang baik… cuma pernah ketemu orang yang salah. Dan itu bukan salahmu.” Ben menunduk, matanya memerah. “Kamu berubah, Ben. Dan itu yang penting. Kamu sudah memilih jalan yang benar. Kita bisa tinggalkan semua masa lalu itu… kita bisa mulai hidup baru. Bersih. Tenang. Bersama.” Ben mengangg

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 123 - kisah lalu

    “Aku dibawa ke vila mewah milik Mr. John,” lanjut Ben, suaranya kini sedikit lebih tenang, namun matanya masih memandang kosong pada kenangan yang jelas belum pernah ia bagi kepada siapa pun. “Dan di sanalah… aku bertemu Monica.”Vennesa mengerutkan dahi, lalu perlahan menutup mulutnya yang terbuka lebar, matanya membesar. “Maksud kamu… Mr. John itu ayah tiri Monica?”Ben hanya mengangguk pelan. Wajahnya datar, tapi jelas tersimpan beban.“Ibu Monica… mantan istri Mr. John, meninggal karena sakit parah. Setelah itu, Monica dibolehkan tetap tinggal di vila. Mr. John bilang dia sudah seperti anak sendiri.” Vennesa masih diam. Hatinya mulai terasa tidak enak, tapi ia menahan diri. Ia tahu, Ben belum selesai. “Awalnya… aku pikir Mr. John itu malaikat,” Ben melanjutkan, nadanya pahit. “Dia selamatkan aku dari jalanan, kasih tempat tinggal, kasih makanan, ajarin aku banyak hal. Tapi semua berubah… malam itu.” Ben menunduk, menatap jemarinya yang kini menggenggam erat helaian ram

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status