ANMELDENEmpat hari berlalu dan Andrea masih dengan rutinitasnya sebagai bawahan Kyrran. Untungnya tidak seribet minggu pertama suruhan ketos galak itu. Andrea bisa punya waktu untuk melanjutkan investigasinya mengenai skandal hubungan terlarang Pak Handoko dan grup Kyrran’s Guardian Angels.
Dan selama empat hari itu, Kyrran juga tidak lagi diam-diam menyusup ke kamar Andrea ataupun muncul tiba-tiba di hadapan Andrea. Pikir gadis itu, mungkin saja Kyrran mengganggu cewek lain atau puny"Ada apa lagi, Mama?" Kyrran berucap datar. Lantas tubuh seratu delapan puluh dua senti itu berbalik pelan. Mama Drassha berjalan menghampiri dengan senyum lembut. Tak jauh di belakang, Papa Adriell menyusul sambil membawa tiga paper bag. Dua berwarna hitam dan satunya berwarna putih gading. Begitu sampai di depan Kyrran, Mama Drassha langsung mengangkat tangan dan meraih pipi cowok itu dengan lembut."Semangat ya sayang untuk pertandingan basket weekend ini," ucapnya hangat. "Jangan lupa kirim foto kamu untuk mama dan papa."Setelah itu jemari Mama Drassha menyapu pelan rambut hitam legam Kyrran yang sedikit berantakan karena angin. Mama Drassha merapikannya seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan sejak Kyrran kecil.Cowok itu langsung mengalihkan tatapan ke samping dengan mimik datar. Namun telinganya samar memerah.Mama Drassha mengulas senyum melihat reaksi Kyrran, lalu menoleh sekilas pada Papa Adriell. Pria itu menyera
Setelah sarapan selesai, Andrea dan Kyrran diantar oleh Papa Adriell dan Mama Drassha untuk kembali ke Alveroz High. Kedua remaja itu duduk berdampingan di jok belakang. Kyrran melirik keluar jendela kaca mobil. Langit abu menggantung pucat di atas gedung-gedung tinggi, membuat cahaya matahari hanya muncul samar seperti tertahan lapisan awan tebal. Meski begitu, jalanan pusat kota sudah ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan coat panjang dan gelas kopi hangat di tangan mereka. Daun-daun maple merah keemasan bergulir pelan di trotoar—tertiup angin akhir musim gugur, sementara sisa gerimis pagi meninggalkan pantulan tipis di aspal hitam. Mobil yang dikemudikan Papa Adriell meluncur melewati deretan kafe kaca dan persimpangan sibuk dengan lampu lalu lintas yang berganti warna perlahan. Semua terasa hidup, dunia berjalan seperti biasa. Tetapi bagi Kyrran, setiap waktu bagai hitungan mundur un
Sedikit sudut pandang dari Adriell, papa Kyrran. Dari kelima anaknya, memang Kyrran yang paling penurut dan tidak neko-neko sampai putranya itu memutuskan berhenti homeschooling dan masuk ke jenjang SMA. Melihat Kyrran yang sekarang mengingatkan Adriell pada dirinya dulu sewaktu sekolah. Pembangkang, emosian, keras kepala, egois dan bertingkah macam berandalan. Di Alveroz High memang julukannya sebagai Genius Badboy waktu itu. Anak pertamanya Jergar dan anak bungsunya Lysander lebih mirip sifatnya dengan sang istri. Kalau anak keduanya yang bernama Isaac punya sifat seperti Adriell tapi playboy. Anak keempatnya, kembaran Kyrran—Karryne aka Noela—sifatnya menyerap seimbang dari Adriell dan Drassha. Menyaksikan Kyrran membawa seorang gadis menginap di kamarnya, membuat Adriell benar-benar melihat salinan dirinya. Dulu, Drassha juga pernah ada situasi dalam bahaya dan dikejar oleh orang-orang yang mau membunuh sang istri k
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu mencengkeram ujung handuknya erat-erat agar tidak melorot dan jantung Andrea berdetak tak karuan karena melihat ekspresi cowok di hadapannya."Aku mau merokok sekarang," ucap Kyrran dengan napasnya yang berat, seolah menahan emosi. Andrea mengulum bibirnya sebelum menimpali, "merokok saja, gak ada yang larang, kenapa kamu malah ke sini?""Ini kamarku dan aku gak mungkin merokok di sini. Kamu tau mama papaku ada di bawah. Tadi aku sudah mendapatkan omelan.""Kalau begitu tunggu sampai mereka pergi," saran Andrea. "I can’t!" bentak Kyrran, cengkeraman di pundak polos Andrea makin kuat. Gadis itu sampai meringis. "Let me kiss you," ucap Kyr
"Kenapa papa diam?" cecar Kyrran dengan nadanya yang seolah menyindir. Papa Adriell menghela napas sambil menukik alisnya singkat. "Papa tidak diam, cuma pusing dengan tingkahmu.""Daripada memikirkan masalahku, kenapa papa tidak coba mengapresiasi aku yang sudah memecahkan rekor papa sebagai basket player Alveroz High?""Apa papa tau weekend ini aku ada pertandingan basket?""Tau," jawab Papa Adriell. Kyrran bersandar santai kemudian menyilangkan lengannya. Tatapannya sedikit menyipit. "Oh ya? TapiPapa dan Mama tidak pernah hadir di pertandinganku.""Bukan begitu, Kyrran. Mama dan Papa—" ucapan Papa Adriell terpotong oleh suara bel. TING. Kyrran melirik tajam pada papanya kemudian beranjak dari sofa dengan gerakan kasar dan melangkah menuju pintu utama. Seorang wanita berpenampilan formal berdiri di balik pintu dengan senyum sopan. Itu Olivia, asisten pribadi mama Kyrran. Rambutnya disanggul
"Kyrran, sayang, ini…" sahut Drassha, mama Kyrran—yang menoleh pelan dan menatap putranya tak menyangka. Sementara itu, Adriell papanya menatap Kyrran dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sial. Pasti kedua orang tuanya saat ini salah paham melihat Kyrran bersama seorang gadis di kamar apartemennya. Apalagi dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah dan berantakan. Kyrran akhirnya berjalan mendekat. "Ini gak seperti yang Papa dan Mama pikirkan," jelasnya berusaha tenang."Benarkah?" Adriell memijat pelipis pelan sambil menghela napas berat. "Pagi-pagi papa dan mama masuk ke kamarmu dan melihat seorang gadis tidur di ranjang, mengenakan pakaian kamu, sementara kamu keluar dari kamar mandi. Kira-kira mama dan papa harus berpikir seperti apa?""Kalian bermain uno semalaman?" sambung papanya sarkas. "Mama bahkan gak pernah lihat kamu membawa teman perempuan ke rumah," tambah Drassha pelan, masih







