เข้าสู่ระบบPlak!
Dari balik selimut, Andrea menimpuk tipis ujung jarinya ke dada bidang Kyrran. Di momen yang sama, cowok itu mendadak menahan napas pelan, rahangnya menegang sepersekian detik, kemudian menahan geli di sudut bibirnya. Gerakan kecil itu membuat penjaga asrama mengernyit curiga. "Ada apa, Kyrran?" "Nggak apa-apa, Pak." Tatapan penjaga menyipit. Langkahnya semakin mendekat ke arah kasur. Andrea di bawah selimut laSejak malam itu, Kyrran tidak pernah lagi menagih kesepakatannya dengan Andrea. Ia tidak lagi menggoda Andrea tentang janji ciuman dan ngedate mereka.Melihat tangisan Andrea yang histeris seperti waktu itu membuat Kyrran sadar jika ia memang sudah berlebihan.Sudah lebih dari satu minggu ia hanya bisa memperhatikan Andrea dari kejauhan. Di kantin, depan gedung fakultas FIKOM, perpustakaan atau sesekali dari tribun lapangan basket ketika Andrea sedang melakukan wawancara.Padahal sebenarnya, Kyrran sangat merindukan gadis itu dan ingin berada di dekatnya.Kyrran bingun harus berbuat apa. Namun setiap kali mengingat wajah Andrea yang basah oleh air mata malam itu, langkahnya selalu terhenti.Saat akhir pekan tiba. Kyrran memilih meninggalkan kampus, bertolak ke kota Grandchester.Malam itu, Kyrran menghadiri makan malam bersama keluarga besar mamanya—Keluarga Alveroz.Ada Opa Riovandra, Oma Tamara, Mama Drassha, Papa Adriel, Tante Cherryl dan suaminya, Om Elias, Jasper, Lysander adik b
"Ah… Kyrran… stop…" lirih Andrea.Sayangnya, Kyrran semakin menyesap leher Andrea, mengabsen sepanjang kulit lembut gadis itu.Andrea memejamkan matanya, seolah menyerah dengan perlakuan Kyrran."Mhmm…"Kyrran kemudian memutar badan Andrea agar menghadap ke arah cowok itu. Saat Andrea ingin melayangkan protes, Kyrran lebih dulu membungkam bibir dengan ciuman.Satu tangan Kyrran menahan pinggang Andrea dan tangannya yang lain mengusap punggung Andrea dengan gerakan pelan dan penuh damba."Arghh… Andrea… you make me crazy," geram Kyrran rendah di sela hisapannya.Andrea yang sudah terbuai oleh mantan kekasihnya itu malah membalas ciuman Kyrran. Kedua lengan Andrea sendiri sudah melingkar di tengkuk cowok itu. Satu tangannya sesekali meremas rambut belakang Kyrran."Emphh… Ahh… Kyrran…" lirih Andrea di sela pagutan mereka yang kuat dan saling menuntut."Mmhhmm…""Argh…"Namun, saat kesadaran Andrea kembali. Gadis itu mendorong dada bidang Kyrran. Napasnya terengah-engah, lalu segera berl
Andrea memicing tajam ke arah cowok itu. "Aku cinta sama tunangan aku," tegas Andrea. "Ciuman doang bukan apa-apa, kami sering ciuman bahkan kami sudah pernah—"Ucapan Andrea terpotong lantaran Kyrran membungkam bibirnya dengan ciuman mendadak.Andrea spontan membelalak karena cowok itu berani menciumnya di depan umum.Bagaimana jika ada yang mengenali mereka?Bagaimana kalau ada yang memotret?Bagaimana kalau foto itu tersebar dan menjadi viral?Dan kalau sampai berita itu tiba di tangan kakeknya—Bisa jantungan Kakek Dedrick!Andrea segera menarik wajahnya menjauh dan mendorong bahu Kyrran."Kamu memang gila, ya?!""Gimana kalau ada yang lihat?!" ketus Andrea.Andrea lalu buru-buru memasang maskernya dengan benar, lalu menarik lengan Kyrran pergi. Ia menyeret cowok itu menuju sisi taman hiburan yang lebih sepi, jauh dari kerumunan pengunjung.Begitu sampai di balik deretan pagar tanaman, Andrea langsung berbalik."Pakai masker kamu!" titah Andrea dingin.Alih-alih mengenakan masker
Andrea akhirnya masuk ke dalam mobil Kyrran yang terparkir di luar gerbang timur kampus. Area itu jauh lebih sepi dibanding pintu utama. Awalnya Kyrran bersikeras menjemputnya di depan asrama, tetapi Andrea menolak. Ia tidak mau menjadi bahan gosip kampus. Apalagi sekarang Kyrran sedang menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa. Bahkan saat menunggu tadi, Kyrran sempat berdiri di luar mobil. Andrea yang melihatnya dari kejauhan langsung menelepon. "Kyrran, masuk ke mobil kamu, jangan menunggu di luar," ketus Andrea. "Kenapa, Andrea? Aku mau bukain pintu buat kamu," kata Kyrran. "Kalau ada yang lihat gimana?" protes Andrea. "Ya biarkan saja." "Masuk ke mobil, Kyrran." Dan pada akhirnya cowok itu menurut. Sekarang mereka duduk berdampingan di dalam mobil. Andrea baru saja hendak memasang sabuk pengaman, namun Kyrran bergerak lebih dulu, mencondongkan badannya ke arah Andrea. Cowok itu kemudian meraih sabuk di samping kursi lalu memasangkannya untuk Andrea. Klik. Sabuk itu te
"Kenapa kamu pakai masker?" tanya dosen di depan kelas.Beberapa mahasiswa ikut melihat ke arah mereka. Andrea tampak menahan napas. Sementara itu, Kyrran tetap santai lalu batuk pelan."Ehem, maaf, saya sedang flu, Pak," kilah cowok itu. Andrea menoleh tak menyangka.Kyrran melanjutkan dengan memasang tatapan polos di balik maskernya. "Tapi saya tetap mau mengikuti kelas Bapak.""Baiklah," ujar sang dosen. "Kalau merasa tidak enak badan, jangan dipaksa.""Baik, Pak," kata Kyrran dengan suara yang dibuat-buat lemah.Dosen tersebut mengangguk lalu kembali melanjutkan absensi.Begitu perhatian dosen beralih ke mahasiswa lain, Kyrran perlahan memiringkan kepalanya ke arah Andrea."Bagaimana aktingku?" tanya Kyrran, berbisik.Andrea memutar bola matanya malas. Ia tidak menjawab dan kembali menatap layar laptopnya.Sementara itu, Kyrran hanya tersenyum kecil. Beberapa detik kemudian, tangannya bergerak mendekati tangan Andrea yang berada di sisi laptop. Ia menggenggamnya sebentar.Andrea t
Kyrran bangun terduduk dengan malas sembari mengusap luar ponselnya, mengangkat telepon Daisy."Ya, kenapa?" ujar cowok itu dingin."Gak kenapa-kenapa kok, Sayang. Cuma mau tahu kabar kamu aja di NY sana," ujar Daisy terdengar manis."Seperti biasa, sibuk," jawab Kyrran malas.Ada jeda beberapa saat sebelum Daisy melanjutkan ucapannya. "Oh iya, aku rencana mau ke NY, bertemu kamu. Apa kamu bisa jemput aku di bandara besok lusa?""Gak usah, aku lagi sibuk, harus berapa kali aku ulangi," sinis Kyrran."Tapi aku kangen sama kamu Kyrran," timpal Daisy."Sejak kamu selesai operasi, aku harus menahan diri sampai kamu kembali ke Grandchester."Suara Daisy mulai terdengar bergetar."Terus setelah kita bersama lagi, kita cuma sempat jalan bareng empat kali. Itu pun terakhir kali kita ketemu sudah sepuluh bulan lalu yang lalu."Kyrran menatap tajam, lurus ke depan. "Tapi aku gak merasakan hal yang sama dengan kamu, Daisy," ujar Kyrran tajam.Daisy mulai terisak di seberang sana. "Kenapa sih kam
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







