تسجيل الدخول“Apa pengantinku sudah siap?”
Tangan Gatot terulur. Jari-jarinya yang gemuk hendak menyentuh dagu Arumi, menyentuh kulit yang masih basah oleh keringat dingin. Arumi dengan cepat menghindar. “Jangan sentuh saya!” Suaranya memecah keheningan kamar. Keras dan menggema hingga ke dapur tempat Darsono bersandar. Gatot terkejut sesaat. Senyumnya seketika menghilang. Namun kemudian ia tertawa. Tawa bergemuruh. Seperti guntur yang disimpan di dadanya yang bidang. “Indah!” Gatot berbalik ke arah ibunya yang masih tersungkur di lantai. “Lihat anakmu ini. Seperti kucing liar. Tapi aku suka.” Ia mendekat lagi. Kali ini tubuhnya menekan, membuat Arumi terdesak ke dinding. “Darsono!” teriak Gatot tanpa menoleh. “Cepat bawa anakmu ke depan! Bawa ke penghulu! Aku sudah tidak sabar mendengar suara merdunya di kamar pengantin nanti! Ha ha ha ha.” Darsono muncul dari balik pintu. Tangannya menggenggam bahu Arumi, menarik gadis itu keluar dari kamar dengan kasar. “Ayah! Lepaskan!” Arumi berusaha meronta. Tumitnya menghentak lantai. Kukunya mencakar lengan ayahnya. “Diam!” Darsono berteriak. “Kau mau kita semua mati kelaparan?” Darsono tetap menyeret Arumi dengan cepat. Arumi melewati ruang tengah, melewati dapur, keluar menuju halaman depan. Udara panas menyambutnya segera. Orang-orang menatap mereka dengan wajah penasaran dan menunggu. Di halaman, hiasan dari janur kuning tersusun rapi. Sebuah pelaminan sederhana berdiri di bawah tenda terpal biru. Di depan pelaminan, seorang penghulu berjubah putih sudah berdiri. Di belakangnya, beberapa tamu undangan duduk di kursi kayu. Tidak banyak, hanya belasan orang. Tetangga dekat. Dan kerabat yang diundang secara mendadak. Arumi mengamati mereka. Semua mata tertuju padanya. Ada rasa iba di beberapa wajah mereka. Namun ada juga yang seolah merasa lega, karena bukan mereka yang jadi korban. Dua perempuan duduk di barisan depan. Istri pertama dan kedua Gatot. Istri pertama, perempuan separuh baya dengan wajah kusam dan mata sayu. Ia menatap Arumi dengan ekspresi kosong, seperti orang yang sudah lelah merasakan apa pun. Istri kedua, lebih muda. Mungkin baru tiga puluh tahun. Bibirnya tipis. Matanya menyipit. Ketika Arumi melintas, perempuan itu tersenyum miring, senyum yang bukan simpati. Senyum yang seolah berkata, “Selamat datang di neraka.” Arumi tersedak. Dadanya terasa seperti diremas. Gatot melenggang ke depan pelaminan. Ia duduk di kursi pengantin pria, melipat kaki, menyandarkan punggungnya seperti raja yang menunggu hambanya. “Arumi! Duduk!” perintah Darsono. Arumi tidak bergerak. Tubuhnya kaku. Matanya melihat sekeliling, mencari jalan keluar. Namun semua sisi tertutup. Semua orang diam. Tidak ada orang yang bersedia membantunya pergi dari sana. “Pengantin wanita, duduklah,” ucap penghulu dengan suara datar. “Kita mulai saja. Nanti keburu malam.” Arumi menatap penghulu. Laki-laki tua dengan jenggot putih itu bahkan tidak bertanya. Tidak menanyakan apakah ia setuju. Tidak peduli apakah ia menangis. Baginya, ini hanya rutinitas, bagian dari pekerjaannya. Akad nikah kilat di bawah tekanan. “Silakan duduk,” ulang penghulu. Darsono mendorong Arumi. Ia akhirnya terduduk di kursi di samping Gatot. Bau tubuh pria tua itu menusuk hidungnya. Aroma minyak gosok khusus pijat dan rokok kretek. “Semua setuju?” tanya penghulu. “Setuju,” jawab Darsono cepat. Darsono tak bertanya lebih jauh pada Arumi. Tidak menghiraukan wajah anaknya yang ketakutan. “Arumi, jangan menangis lagi!” kata Darsono. Sedangkan Arumi melihat tangan gemuk yang akan berjabat tangan dengan penghulu itu. Tangan gemuk, berkerut, berbulu halus yang terulur di hadapannya. Ia membayangkan telapak yang sama menyentuh tubuhnya di malam pengantin nanti malam. Dan membuatnya mual. “Arumi! Senyum!” desis Darsono dari belakang, mengingatkan anak gadisnya. Gatot memicing. Senyumnya mulai merekah. “Ah, anak manis. Tidak apa. Lambat laun akan terbiasa denganku, Darsono.” Jarinya menjangkau tangan Arumi. Tapi saat jari itu nyaris menyentuh, suara penghulu menghentikannya. “Baik. Mari ikuti saya, Pak Gatot.” Suara penghulu mulai menuntun. Gatot tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ke arah penghulu. Ia dengan patuh mengikuti kata-kata yang diucapkan penghulu. “Saya, Gatot bin Sumardi …” suaranya mulai bergema. Arumi menutup telinga. Kata-kata itu membuatnya ingin segera kabur dari sana. Arumi hanya tertegun sambil memejamkan matanya. Gatot mengalihkan pandangan. Ia mendekat. Tangannya terulur untuk menjabat tangan lelaki tua itu. Tanda resmi bahwa akad akan segera dilangsungkan. Bahwa Arumi akan segera menjadi miliknya. Tangan Gatot dan penghulu hampir bersentuhan. Udara seolah terasa berhenti. Lalu— “BERHENTI!” Suara itu membuat semua orang di tenda menoleh. ***Arumi mengalihkan perhatian ke rak buku di hadapannya. Matanya menyusuri deretan buku, lalu berhenti di sebuah buku bersampul merah di rak paling atas. Arumi menjulurkan tangan, mencoba meraihnya.“Kalau aku baca sambil tiduran di sini, Mas Elang nggak akan marah kan ya?” gumam Arumi sambil tersenyum kecil.Tapi ia melihat debu tipis di lantai ruangan itu. Sudah lama tidak dibersihkan. Arumi menggeleng, menepuk-nepuk bajunya.“Nanti dulu bacanya. Bersihin dulu ah.”Ia keluar dari perpustakaan, berjalan ke dapur untuk mengambil kain pel dan ember berisi air sabun. Kembali ke ruangan itu, ia mulai mengepel lantai dengan tekun. Debu-debu hilang, lantai mulai berkilau. Bau pembersih menyegarkan ruangan. Oren datang menghampiri dari balik pintu, duduk di ambang sambil mengawasi.“Jangan masuk dulu, Oren. Lantai masih basah,” kata Arumi sambil tersenyum.Setelah selesai, Arumi duduk di lantai yang sudah bersih, menyandarkan punggungnya ke rak buku. Ia membuka buku merah yang berhasil diraih
Pria itu melangkah masuk tanpa izin. Sepatu kulitnya berdecit di lantai kayu. Matanya jelajah ke seluruh ruangan, lalu berhenti pada Arumi yang masih berdiri di dekat dapur.“Jadi ini istrimu?” pria itu tersenyum, tapi senyumnya tampak menyeramkan. “Cantik juga. Kau beruntung, Elang. Masih ada yang mau menerimamu sebagai suami.”Arumi hendak menyangkal, membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi sebelum suara keluar—“Bapak.”Satu kata yang datar dan berat keluar dari mulut Elang dengan nada yang tidak pernah Arumi dengar sebelumnya.Arumi terbelalak. Dugaannya benar. Pria itu adalah ayah Elang.Elang melangkah maju, tubuhnya menghalangi pandangan Arumi ke arah pria itu. Bahunya tegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.“Kamu ke kamar dulu ya,” kata Elang pelan, tanpa menoleh ke Arumi. “Jangan lupa kunci pintunya.”Arumi ingin bertanya mengapa ia harus pergi? Siapa
Arumi menatap Elang dan Sumirah. Udara di dapur terasa membeku. Sumirah masih berdiri dengan baju basah dan bekas teh di telapak tangannya. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar.“Sum, jawab!” kata Elang dengan tegas. Suaranya keras kali ini.Sumirah menunduk lebih dalam. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya. “Mas ... Aku nggak bermaksud kayak gitu,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Aku cuma nggak suka sama dia.”Elang mendengus. Matanya menyipit. “Kamu nggak suka sama dia? Dia salah apa sama kamu, Sum?”Sumirah tidak menjawab. Ia hanya memutar-mutar ujung bajunya yang basah, matanya tetap tertunduk. Wati berdiri di belakangnya, wajahnya penuh rasa malu dan kecewa.“Bi Wati,” panggil Elang pada Wati. “Anak Bibi ini …”“Maaf, Mas Elang,” Wati memotong cepat. “Bibi benar-benar minta maaf. Sumirah akan Bibi bawa pulang. Bibi janji ini tidak akan terulang kejadian seperti ini, Mas Elang.”
“Karena …” Elang meraih koran dari tangan Arumi, melipatnya perlahan, “di sana ada sesuatu yang aku simpan. Untukmu. Tapi kamu harus menemukannya sendiri.”Arumi menatap Elang dengan tatapan bingung dan penasaran. “Apa itu, Mas?”Elang tersenyum, namun tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan ke arah lorong menuju kamarnya. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.“Pintu perpustakaan tidak dikunci. Kamu bisa ke sana kapan saja. Tapi kalau kamu pergi,” ia tersenyum misterius, “jangan bilang sama aku.”Arumi terdiam. Berusaha mencerna kalimat itu. Matanya menatap Elang yang sudah setengah masuk ke kamar, lalu ia mengerutkan kening.“Maksudnya aku nggak boleh ke sana ya?” tanyanya bingung.Elang tertawa kecil, Arumi terperangah. Selama ia tinggal di rumah ini, Elang sangat jarang tertawa. “Boleh. Tapi jangan karena aku yang nyuruh."“Terus aku harus gimana?”“Ya itu kalau kamu p
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Angin sore berhembus melalui jendela pick-up yang terbuka, membawa aroma dedaunan dan tanah. Arumi duduk di samping Elang, sesekali melirik ke arah suaminya yang fokus menyetir.Pikirannya masih berputar. Tadi, di kebun Pak Mardi, Elang kembali mengakuinya sebagai istri.Dengan tegas dan tanpa ragu. Di depan orang yang jelas penting dalam hidupnya.Arumi menggigit bibir. Ada rasa hangat di dadanya, tapi juga kegelisahan. Apakah itu hanya bagian dari perlindungan? Atau ada sesuatu yang lebih?“Mas Elang …” Arumi akhirnya memecah keheningan."Ya?" Elang tidak menoleh, matanya tetap menatap jalan di hadapan mereka.“Yang tadi itu ... nggak apa-apa? Maksudnya, Mas bilang saya istri Mas di depan Pak Mardi.”Elang mengangkat alis, masih fokus ke jalan. “Maksudnya?”“Anu, Mas …” Arumi menunduk, memainkan ujung bajunya. “
Mobil berhenti di pinggir jalan setapak. Di hadapan mereka, kebun sayuran membentang luas. Kentang, wortel, dan kubis tumbuh subur di lahan yang tertata rapi. Beberapa pekerja terlihat sedang memetik hasil panen, keranjang-keranjang bambu berjejer di samping mereka. “Yuk, turun,” kata Elang sambil mematikan mesin. Arumi mengangguk, membuka pintu dan turun. Udara di sini terasa lebih segar, lebih sejuk, dengan aroma tanah basah dan daun-daunan hijau. Ia mengikuti Elang yang sudah berjalan di antara pematang sawah menuju ke dalam kebun. Dari belakang, Arumi mengamati Elang. Punggungnya lebar, bahunya tegap, langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Pria itu terlihat berbeda di sini. Tampak lebih santai, lebih menjadi dirinya sendiri. Seperti sedang berada di tempat yang ia kenal dan cintai. “Pak Mardi!” panggil Elang. Seorang pria tua dengan caping bambu mendekat dari balik barisan tana







