Share

80 - Badai

Penulis: Luna Maji
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 18:25:35

Angin malam menyusup melalui kisi-kisi jendela kamar Shangkara. Wangi dupa obat masih tercium samar di udara. Shangkara duduk bersila di tepi ranjang, matanya terpejam, berusaha menstabilkan aliran Qi-nya yang masih bergejolak.

Pintu kamar berderit pelan. Cailin masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depan Shangkara.

“Shangkara,” panggilnya lirih.

Pria itu membuka mata perlahan. “Cailin?”

Cailin menatapnya tanpa berkata-kata untuk sesaat, lalu dengan suara yang tenang tapi tajam, ia bertanya,

“Apa benar ... kau terikat pada Daiyu?”

Shangkara terdiam. Hanya tangan kirinya yang mengepal pelan di atas lutut, ototnya menegang.

Cailin maju satu langkah. “Aku butuh kebenaran.”

“Ledakan ritual itu menciptakan sesuatu yang tidak seharusnya,” katanya akhirnya dengan suara serak. “Inti vermilion ku yang retak … tertarik ke jiwa Daiyu yang terluka. Sekarang sebagian qi ku terikat padanya. Jika dia mati,” ia berhenti, sorot matanya meredup, “aku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    192 - Pedang Kayu

    Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    191 - Abu dan Pasir

    Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    190 - Pembayaran

    Ren membuka mata.Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam akibat tusukan pedang, melainkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah setiap tulang dan ototnya telah digilas menjadi bubuk.Ia menatap langit-langit kamar yang familier. Serta aroma obat-obatan herbal yang kuat.Ini Balai Pengobatan Istana.Ren mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Dengan napas terengah, ia memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia menatap tangannya. Telapak tangan yang biasanya hangat oleh aliran Qi Vermilion kini terasa dingin dan pucat.Ren mengerutkan kening.Ia mencoba memanggil apinya

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    189 - Kemenangan

    Matahari masih belum sepenuhnya terbit ketika kereta kuda spiritual berat mendarat di lapangan dekat Kuil Tua.Shangkara melangkah keluar lebih dulu. Udara pagi yang dingin dan berdebu menyambutnya, tapi tidak lebih dingin dari ekspresinya. Wajahnya tak terbaca, namun di balik punggungnya, tangan kanannya mengepal begitu kencang hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.Mata vermilionnya menyapu pemandangan kehancuran di sekitar. Pilar-pilar batu yang patah, serta kubah kuil yang ambruk. Dan di tengahnya, aktivitas tim penyelamat yang sunyi dan efisien.Di sudut reruntuhan, dua Pasukan Bayangan sedang merantai tubuh wanita yang pingsan dan babak belur. Ravia.“Yang Mulia,” lapor salah satu Bayangan. “Target diamankan.”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    188 - Sunyi

    Ren terbatuk darah, lututnya goyah. Pasir Ravia melilit pinggang dan kakinya, meremas tulang rusuknya dengan tekanan yang semakin kuat.Ravia berdiri di dekat kolam, satu tangannya terangkat tinggi, siap memberikan serangan terakhir untuk meremukkan Ren.“Sudah cukup main-mainnya,” desis Ravia, matanya menyala ungu. “Kau akan mati di sini, dan kekasihmu akan menjadi tintaku selamanya.”Ren menggeram, mencoba memanggil apinya, tapi tubuhnya sudah mencapai batas. Ia menggertakkan gigi, berusaha menahan lilitan pasir Ravia yang semakin mengerat di tubuhnya. Napasnya pendek, pandangannya mulai kabur.“Terlambat, Ren! Lian sudah masuk! Sekarang, takdir akan menulis ulang namaku di langit!”Namun

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    187 - Harga

    Lian tersedak, matanya terbuka lebar, dan tubuhnya terhisap sepenuhnya ke dalam permukaan cairan logam yang bergolak. Cairan itu beriak keras, lalu menutup di atas kepalanya, seperti air yang menelan korban tenggelam.Ia hilang.Ruangan mendadak sunyi, hanya diisi oleh desisan pasir yang jatuh dan napas berat Ren.Ravia berdiri membeku, tangan masih terangkat, tatapan kosong ke arah cermin di mana Lian baru saja lenyap.Kemudian, perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya.“Sekarang,” bisiknya, suaranya mengandung kemenangan yang mengerikan, “dia sepenuhnya milik cermin. Dan aku... tidak perlu lagi menahannya.”Ia berbalik, menghadap cermin sepenuhnya, menga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status