Share

90 - Ramalan Racun

Penulis: Luna Maji
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-29 21:48:04
Cailin berlari. Langit di atasnya berwarna merah darah, bulan terbelah dua. Tanah di bawahnya retak, menganga seperti mulut raksasa yang siap menelannya. Dari celah-celah tanah yang retak itu, api hitam menjalar ke segala arah. Suara jeritan dan dentuman logam menggema.

Angin panas menyengat wajahnya, membawa bau anyir darah dan abu yang membuatnya mual. Di kejauhan, ia melihat bayangan seorang pria berjubah merah—Shangkara—berdiri di atas reruntuhan istana. Tapi di belakangnya, muncul sosok lain. Wanita bergaun putih dengan rambut putih. Matanya kosong, kulitnya bersinar.

“Vermilion ... dan Bulan ...” suara itu menggema dari langit. “Ketika es menyentuh api, dunia akan hancur.”

Cailin mencoba berlari ke arah Shangkara, tapi tubuhnya seolah tertahan oleh sesuatu. Tangan-tangan dari bayangan mulai mencengkeram pergelangan kakinya. Ia menjerit. Dan tiba-tiba, tubuhnya terbakar oleh cahaya perak.

Dalam sekejap, semua lenyap. Yang tersisa hanyalah suara bisikan pelan. “Cahaya yang menyem
Luna Maji

Terima kasih buat kalian yang masih setia nemenin perjalanan Cailin & Shangkara sampai di sini Aduh ... ini cuma mimpi atau pertanda nih?! 😭🌙🔥 Kalian pikir mimpi itu cuma ilusi Qi, atau ramalan masa depan? 👀 Tulis teorimu & kasih vote biar aku tahu kalian ada di pihak siapa. Bulan 🌙 atau Vermilion 🔥

| 2
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    195 - Jalan

    Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    194 - Diplomasi

    Kabut pagi belum sepenuhnya lenyap ketika ruang strategi istana Vermilion mulai dipenuhi suara rendah yang tegang. Ruangan itu tanpa jendela, diterangi cahaya kristal putih yang memantulkan peta wilayah besar di dinding.Shangkara berdiri di depan peta, punggungnya tegang. Di sebelahnya, Guru Fen duduk di kursi kayu, tangannya menelusuri gulungan laporan medis dengan gerakan lambat. Jenderal Fan, pria berotot dengan wajah penuh luka lama, berdiri tegak di sisi lain meja. Ren tidak duduk. Dia bersandar di dinding dekat pintu, wajahnya masih kotor dari debu gang.Kepala Intelijen, pria yang selalu muncul dari bayangan, baru saja selesai melaporkan dua hal: kerusuhan di Distrik Timur yang mulai mereda setelah pasukan menduduki gudang, dan fakta bahwa tidak ada jejak Lian di seluruh kompleks istana.“Aku ber

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    193 - Obat

    Ren menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    192 - Pedang Kayu

    Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    191 - Abu dan Pasir

    Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    190 - Pembayaran

    Ren membuka mata.Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam akibat tusukan pedang, melainkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah setiap tulang dan ototnya telah digilas menjadi bubuk.Ia menatap langit-langit kamar yang familier. Serta aroma obat-obatan herbal yang kuat.Ini Balai Pengobatan Istana.Ren mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Dengan napas terengah, ia memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia menatap tangannya. Telapak tangan yang biasanya hangat oleh aliran Qi Vermilion kini terasa dingin dan pucat.Ren mengerutkan kening.Ia mencoba memanggil apinya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status