เข้าสู่ระบบRafika, yang sudah kembali ke posisi "sedang duduk kesakitan" seperti para korban lainnya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.Namun Wandra langsung bertindak. Dia, berkata, "Saya melihatnya!" Wandra berkata dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Ada seorang pria berjenggot lebat, bertubuh besar, dan berambut putih! Dia masuk entah dari mana dan langsung menyerang semua perampok itu dengan kecepatan yang luar biasa! Setelah selesai membunuh mereka, dia langsung pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun!"Orang-orang mulai berbisik-bisik dengan takjub, beberapa mengangguk mempercayai cerita itu meskipun mereka sendiri tidak melihat apa pun karena tertidur oleh bubuk yang disebar oleh Rafika."Kita harus mengambil kembali harta benda kita!" seseorang berteriak, mengingatkan semua orang tentang barang-barang berharga yang tadi dirampas.Kekacauan yang teratur pun terjadi. Setiap orang mulai mencari dan mengambil kembali harta benda mere
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota menuju bank utama yang terletak tidak jauh dari pasar. Sepanjang perjalanan, Wandra sengaja mengajak Rafika bercakap-cakap tentang hal-hal ringan, kehidupan sehari-hari di pasar, harga-harga sayuran, cuaca. Dia memperhatikan bahwa meskipun Rafika berbicara dengan gaya seorang wanita paruh baya biasa, ada kecerdasan dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan atau akting sebaik apa pun.Bank yang mereka tuju adalah sebuah bangunan yang cukup besar, dengan pilar-pilar batu di depannya dan interior yang ramai dengan antrian orang-orang yang juga ingin menyimpan uang mereka sebelum libur panjang.Wandra dan Rafika duduk berdampingan di bangku antrian, menunggu giliran mereka dipanggil. Wandra memperhatikan sekelilingnya dengan roh primordialnya yang menyebar diam-diam, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging setelah tujuh ribu tahun hidup penuh kewaspadaan
'Dia mulai bersimpati,' batin Wandra di tengah-tengah "penderitaannya" yang sebenarnya sama sekali tidak dia rasakan secara fisik. 'Bagus.'Setelah hampir dua jam, Panjul dan anak buahnya akhirnya lelah sendiri dan meninggalkan Wandra yang terbaring di tanah dengan pakaian yang sudah kotor dan robek di beberapa tempat, meskipun tidak ada luka fisik sungguhan yang tertinggal di tubuhnya yang sebenarnya kebal terhadap segala serangan.Bang Ganjar mendekati Wandra yang masih terbaring, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah yang bercampur dengan kepuasan. "Yah, sudahlah. Ini uang untuk berobat," dia berkata sambil melemparkan beberapa keping perak yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang seharusnya diperlukan untuk pengobatan yang layak. "Cari tabib saja."Wandra bangkit dengan susah payah, memegangi tubuhnya seolah kesakitan. "Di mana saya bisa menemukan tabib, Pak?""Tabib biasa di sini sedang pergi ke luar kota," seorang warga yang menyaksikan kejadian itu menjawab dengan simpa
Aura kultivasinya sama sekali tidak terdeteksi. Bukan karena tersembunyi dengan teknik penyamaran kultivasi biasa, tapi karena benar-benar tidak ada aura kultivasi yang keluar sama sekali. Seperti seorang wanita biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun.Tapi Wandra tahu lebih baik dari itu. Delapan ratus tahun yang lalu, dia pernah merasakan hal yang sama. Mayang Terurai memiliki kemampuan untuk menyembunyikan seluruh auranya dengan sempurna, sebuah kemampuan langka yang bahkan Wandra sendiri tidak sepenuhnya pahami mekanismenya meskipun sudah hidup tujuh ribu tahun.'Aku menemukanmu,' batin Wandra sambil memandang rumah sederhana itu. 'Setelah delapan ratus tahun.'Wandra memutuskan untuk tidak langsung mendekat malam itu. Dia perlu waktu untuk merencanakan pendekatannya dengan hati-hati. Terlalu banyak kesempatan sebelumnya yang gagal karena dia terlalu terburu-buru, membuat Mayang curiga sebelum Wandra sempat membangun kepercayaan.Kali ini, dia akan melakukannya dengan sabar.Ke
"Aku baru saja hendak melaporkan hal ini kepada pemimpin Istana Pualam Putih," Dixon melanjutkan. "Tapi saat itu, pemimpin sedang menerima seorang tamu penting, jadi aku memutuskan untuk menundanya sampai besok pagi. Kemudian aku mendapatkan pesan dari perantaraku bahwa ada beberapa orang yang ingin bertemu denganku untuk meminta ramalan. Aku memutuskan untuk pergi ke restoran, berpura-pura sebagai perantara biasa, dan mengarahkan mereka menuju selatan kota untuk bertemu dengan seorang perantara palsu di sana, sementara aku sendiri pulang ke rumah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan pemimpin Istana Pualam Putih besok pagi."Dixon memandang Wandra dengan mata yang penuh penyesalan sekarang. "Tapi kedatanganmu membuat semua rencanaku kacau."Wandra menatap Dixon dengan tajam. "Apakah ini semua yang ada di pikiranmu? Tidak ada lagi yang kau sembunyikan?""Aku sudah mengatakan semuanya," Dixon berkata dengan cepat, terlalu cepat.Wandra bisa merasakan sedikit
Wandra memandang Dixon dengan ekspresi yang tetap tenang, meskipun tuduhan tentang kematian Yang Dipertuan Agung baru saja dilontarkan kepadanya."Aku tidak mau masalah," Wandra berkata dengan suara yang datar. "Aku cuma ingin tahu tentang Mayang Terurai. Apa yang kau ketahui tentangnya?"Wandra menatap lurus ke mata Dixon. "Dan aku ingatkan, jangan sampai kau membawa masalah bagi Mayang Terurai. Aku tidak akan senang kalau itu terjadi."Kata-kata terakhir Wandra, meskipun diucapkan dengan nada yang sama tenangnya, mengandung sebuah peringatan yang tidak bisa disalahartikan. Wajah Dixon yang tadi sudah waspada kini berubah menjadi merah padam oleh kemarahan yang campur dengan sesuatu yang lain, mungkin rasa terhina karena diperingatkan oleh seseorang yang dia anggap jauh di bawah levelnya."Kau berani mengancamku di rumahku sendiri?" Dixon mendesis.Tanpa memberikan peringatan lebih lanjut, Dixon melangkah mundur dan menekan sebuah tombol tersembunyi yang terpasang di dinding di belak
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
Malam itu, setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju bersih, Wandra duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Ia menatap kalung liontin yang masih ia kenakan.Di bawah lampu kamar, liontin itu tampak biasa saja—hanya logam kusam dengan ukiran aneh. Tapi Wandra tahu, benda ini sama sekali tidak b
Wandra terkejut mendengar tawaran itu. "Tapi, Dok... saya tidak enak. Kita baru saja kenal.""Justru karena kita baru kenal dan kamu sudah berani mengorbankan nyawamu untukku, aku merasa harus membalas budi," sahut Caroline. "Lagipula, apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu yang tidak pernah terpa
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang







