แชร์

128. Sehelai Rok yang Robek

ผู้เขียน: Anna Frey
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-25 13:49:23

Liese menggeleng kuat-kuat. Air matanya terus mengalir. Dalam situasi yang berbeda Cecilie mungkin akan memohon pada Evander untuk menghentikan sejenak interogasi itu.

Liese tampak sangat ketakutan. Wajahnya pucat pasi, seolah dicekam kengerian. Hanya keajaiban yang membuat pelayan itu tidak jatuh pingsan.

Namun wanita itu dituduh berusaha membunuhnya. Sebagai korban, Cecilie seharusnya marah. Anehnya, yang muncul justru rasa iba.

Lagipula interogasi ini bukan berada di tangannya. Dan ia menyad
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   271. Malam Pertama yang Sebenarnya

    Cecilie tidak membutuhkan panggilan kedua. Ia berjalan mendekat. Lalu kedua lengannya langsung melingkari pinggang suaminya. Evander memeluknya erat. Pelukan itu terasa berbeda dari biasanya. Mungkin karena tiga hari terakhir mereka benar-benar terpisah. Tidak ada makan malam bersama. Tidak ada percakapan singkat sebelum tidur. Tidak ada tangan Evander yang sesekali menyentuh punggungnya ketika mereka berjalan melewati koridor. Hanya surat. Dan jarak. Cecilie menutup mata. Wajahnya bersandar di dada Evander. Ia bisa mencium aroma khas pria itu yang begitu dikenalnya. Aroma kayu dan sesuatu yang samar seperti kulit dan udara malam. “Aku merindukanmu.” Suara Evander terdengar rendah di atas kepalanya. Cecilie membuka mata. Ia tidak menyangka pria itu akan mengatakannya. “Saya juga,” jawabnya pelan. Pelukan Evander mengerat. “Kau masih kelihatan lelah,” gumamnya di sela-sela rambut Cecilie. “Perjalananmu terlalu panjang?” Cecilie mengangguk. “Tapi sekarang tidak terasa begitu

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   270. Kediaman Para Grand Duchess

    Evander menoleh kepadanya. Cecilie menemukan sedikit rasa bersalah melintas di mata birunya.“Aku akan kembali secepat mungkin,” janjinya. “Kalau ada apa-apa, katakan pada Serena atau Thomas.”“Tidak perlu terburu-buru.” Cecilie mengangguk. “Uruslah masalahnya sampai tuntas. Saya tidak akan kemana-mana.”Evander menatapnya beberapa saat. Kemudian ia berpaling kepada Thomas,“Pastikan Grand Duchess beristirahat. Jika ada apa-apa, urus dengan benar.”Dengan sigap, Thomas mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”Evander kembali menatap Cecilie. Ia menggenggam tangannya sebentar sebelum melepaskannya.“Aku akan kembali malam ini.”Ia ingin sekali menyentuh wajah Evander yang terlihat begitu tegang. Namun di sini bukan tempatnya.Akhirnya ia hanya mengangguk. “Saya akan menunggu.”Evander kemudian berbalik. Sir Trevor berjalan di sampingnya. Keduanya melangkah dengan cepat. Beberapa detik kemudian, mereka menghilang di ujung koridor.Cecilie masih berdiri di tempat. Ia menatap arah kepergian Evand

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   269. Cecilie Vane, Istriku

    “Kita sampai,” bisik Evander.Aula depan yang dimaksud itu berupa ruangan luas berbentuk setengah lingkaran dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman dan kebun kastel. Temboknya dicat putih pualam dengan pilar-pilar marmer di setiap sudut, yang menyangga langit-langit berhias lukisan megah.Apakah itu lukisan tentang peperangan? Batinnya saat tengadah. Kastel itu rupanya benar-benar menunjukkan jati diri penguasanya sebagai panglima perang kekaisaran.Di depan mereka seluruh staf kastel telah berkumpul. Para pelayan dan staf berdiri dalam beberapa barisan rapi di kedua sisi aula.Jumlahnya bahkan lebih banyak dari pelayan di Silven Mansion, bahkan dari pelayan manor ayahnya di Argenton.Mereka semua membungkuk takzim.“Selamat datang, Yang Mulia Grand Duchess.”Suara mereka bergema di aula yang luas. Kemudian Evander mengangkat tangannya sedikit.“Aku akan memperkenalkan seseorang.”Semua menunduk ketika Evander melangkah maju.“Kalian pasti sudah tahu bahwa aku sudah meni

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   268. Selamat Datang, Cecilie

    Sudah satu jam Evander belum meninggalkan balkon lantai atas Kastel Emberfall.Angin dari laut bertiup cukup kencang pagi itu, membawa udara asin yang bercampur dengan aroma pinus dari pegunungan di sisi lain kastel.Kastel utama yang telah berdiri sejak penguasa Silveron yang pertama ratusan tahun lalu itu memiliki dua sisi pemandangan, yang membedakannya dengan kastel-kastel Silveron yang lain. Satu sisi memperlihatkan pemandangan pesisir dan lautan biru. Sisi lainnya adalah hamparan perbukitan dan pegunungan yang di setiap lembahnya ada desa-desa kecil para petani dan penambang.Balkonnya menghadap ke perbukitan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat jalan panjang yang menuruni bukit menuju lembah.Jalan yang sama yang akan dilewati rombongan dari ibu kota.Evander tengadah untuk melihat posisi matahari.Masih terlalu pagi.Ia kembali memandang jalan yang masih kosong.“Yang Mulia.”Suara Thomas, kepala pelayan Emberfall, terdengar dari belakang.Evander tidak langsung menoleh.

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   267. Sampai Bertemu Lagi

    “Tidak untuk yang satu ini.” Goldsmith tersenyum. “Perhiasan lain boleh berpindah tangan. Tetapi Sayap Bulan seharusnya pulang.” Cecilie menatap tiara itu lagi. Untuk pertama kalinya sejak datang ke ruangan tersebut, ia tidak lagi melihatnya sebagai hadiah pernikahan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang telah menunggu sangat lama untuk kembali ke tempat asalnya. Emrys menyenggol lengannya pelan. “Dik, kau harus mencoba tiaranya.” Cecilie menoleh. “Sekarang?” “Kami ingin melihat Sayap Bulan dikenakan lagi oleh Grand Duchess Silveron,” sahutnya. Lucian ikut tersenyum. “Ayo. Kami ingin melihatnya.” Cecilie masih ragu. Namun akhirnya ia mengangguk. Goldsmith memberi isyarat kepada seorang pelayan untuk membawakan cermin besar dan membantu Cecilie memakai tiara itu. Dan ketika Sayap Bulan akhirnya diletakkan di atas kepala Cecilie, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Perak putih kebiruan itu menangkap cahaya dari jendela. Safir besar di tengahnya tampak seperti pot

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   266. Tiara yang Hilang

    Kepala pelayan membungkuk. “Baik, Tuan.” Beberapa saat kemudian, beberapa pelayan masuk membawa kotak-kotak perhiasan dengan berbagai ukuran. Kotak-kotak itu diletakkan berjejer di atas meja besar. Satu per satu tutupnya dibuka. Cecilie tertegun. Di dalam kotak pertama terdapat kalung berlian dengan batu zamrud besar di bagian tengah. Kotak kedua berisi gelang bertatahkan rubi merah tua. Kotak berikutnya memperlihatkan bros mutiara yang dikelilingi berlian. Semakin banyak kotak dibuka, semakin sulit bagi Cecilie menentukan mana yang harus dilihat lebih dahulu. “Semua ini...” Ia bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Emrys tertawa kecil melihat ekspresinya. “Sekarang kau mengerti kenapa Ayah menyuruh kita datang ke sini.” Goldsmith tersenyum puas. “Sebagian besar koleksi ini berasal dari pelelangan. Aku membelinya dari berbagai wilayah kekaisaran, bahkan beberapa dari luar negeri.” “Apakah semuanya pernah dimiliki bangsawan?” tanya Cecilie. “Sebagia

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   6. Apakah Ini Nyata?

    “Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   5. Yang Mulia, Tolong Pertimbangkan

    Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   2. Di Ambang Pembatalan Lagi

    Ia tidak ingat bagaimana ia berjalan menjauh dari koridor itu. Yang ia tahu, langkahnya semakin cepat, napasnya semakin berat, dan dunia di sekelilingnya terasa buram. Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak ingin ada satu pun pelayan yang melihat matanya berkaca-kaca. Tanpa disadari ia te

  • Kau Abaikan Aku, Kunikahi Pamanmu!   1. Gadis yang Dipermainkan

    Malam itu, Cecilie akhirnya berhasil meniduri sang Grand Duke. Bukan dengan jebakan, bukan dengan paksaan, tapi karena keinginan mereka sendiri. Dan tidak seperti kata orang-orang, alih-alih dingin, pria itu menunjukkan kelembutan memabukkan, dengan gairah yang begitu membara. Sesuatu yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status