Teilen

Sebelas

last update Veröffentlichungsdatum: 26.04.2026 13:42:21

Pagi ini Carmen diantar sekolah oleh ayahnya, padahal biasanya dia diantar oleh sopir pribadi yang memang bekerja di rumahnya itu. Bukannya melonjak bahagia, Carmen justru menatap sang ayah Sarkastik.

Melihat gaya berpakaiannya yang menurut Carmen tidak masuk logika, dia memakai kaos fit body yang mencetak tubuh berototnya, celana pendek selutut, juga kaca mata hitam besar yang menutupi matanya.

Bahkan pria itu ikut keluar dari mobil dan berdiri di samping Carmen.

“Papa apa enggak berlebihan pa
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Dua Belas

    Pada hari berikutnya, Nuansa diundang makan malam ke rumah keluarga Nayaka. Sebenarnya bukan undangan resmi, melainkan Nuansa yang meminta Nayaka agar mengenalkannya pada keluarganya agar pernikahan mereka bisa dilakukan.Malam itu suasana tampak sangat hangat dan damai, keluarga Nayaka adalah keluarga terpandang yang memiliki tata krama, terlihat dari ayahnya yang selalu menatap ketika berbicara, pemilihan kata-katanya begitu baik.Nuansa membawakan banyak daging fillet yang biasa dipakai untuk restoran ‘all you can eat’ miliknya. Karmila, sang ibu terlihat sangat senang. Nuansa begitu tampan dan sopan. Dia mengenakan kemeja berwarna biru yang membuatnya tampak formal dan berkata bahwa dia baru saja pulang dari outlet di Bandung.Raiden masih lembur sehingga tidak bisa ikut makan malam. Sementara Nayaka memakai baju rumahan yang tampak santai, blouse putih dan celana mocha. Meskipun santai, pakaian dia pun terlihat sopan.“Caba

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Sebelas

    Pagi ini Carmen diantar sekolah oleh ayahnya, padahal biasanya dia diantar oleh sopir pribadi yang memang bekerja di rumahnya itu. Bukannya melonjak bahagia, Carmen justru menatap sang ayah Sarkastik.Melihat gaya berpakaiannya yang menurut Carmen tidak masuk logika, dia memakai kaos fit body yang mencetak tubuh berototnya, celana pendek selutut, juga kaca mata hitam besar yang menutupi matanya.Bahkan pria itu ikut keluar dari mobil dan berdiri di samping Carmen.“Papa apa enggak berlebihan pakaiannya?” tanya Carmen karena dia merasa sang ayah sudah menjadi pusat perhatian di lahan parkir itu, beberapa ibu muda yang mengantar anaknya puas menatapnya dari kejauhan dan sengaja lewat di depannya seolah mencari perhatian.“Enggak kok, ini pakaian santai papa aja,” jawab Nuansa, sementara matanya yang terhalang kaca mata hitam itu mengedarkan pandangan ke sekitar.“Papa cari siapa sih?” tanya Carmen, “Bu Nayaka?” tebaknya.Ayahnya berdehem dan mengangguk kecil membuat Carmen menahan tawan

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Sepuluh

    Nayaka menyuap soto betawinya, perpaduan daging dan santan yang menurutnya sangat pas di dalam mulut membuatnya berselera. Lalu dia melanjutkan ucapannya, “dia memang keliatan galak, tapi dari semua wali kelas, bu Nayaka itu yang paling peduli, dia asik dan sangat gaul, dia juga selalu membela kami di depan guru lainnya, kadang dia ikut nongkrong bareng di kantin, pokoknya seru. Mungkin karena dia masih muda,” ucapnya.“Oh gitu, kalau papa memilih untuk enggak nikah lagi, menurut Carmen bagaimana?”“Ya enggak apa-apa, itu kan hak papa, tapi aku rasa bunda akan kegeeran karna mikir papa yang enggak move on darinya,” kekeh Carmen. Nuansa hanya tersenyum kecut lalu melanjutkan makannya.Hingga Carmen pergi ke salon di mall untuk merapihkan potongan rambutnya. Nuansa masih dengan sabar menunggu di kursi tunggu sambil mengecek ponselnya yang berisi data-data pekerjaan dari cabang-cabang restoran Nuansa Food miliknya. Tidak mudah me

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Sembilan

    Carmen tidak menyangka akan datang lagi masa di mana dia bisa jalan berdua dengan sang ayah seperti ini, dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali jalan berdua dengan ayahnya? Karena biasanya jika acara bersama, akan melibatkan nenek dan kakeknya.“Kamu ingat?” tanya Nuansa menoleh ke arah putrinya, dia bahkan merasa takjub, sejak kapan Carmen tumbuh setinggi ini? bukankah dulu dia sangat kecil?“Ingat apa, Pa?” tanya Carmen, Nuansa tersenyum kecil seperti bangga melihat putrinya yang tumbuh dengan baik, dia cukup cantik untuk ukuran anak seusianya.Nuansa mengulurkan tangannya seperti membentuk otot lengan, “dulu kamu sering gelayutan di lengan papa,” ujar Nuansa membuat Carmen tertawa, “mau lagi?” tanya Nuansa.“Mana ada ya, Pa? Yang ada aku dianggap orang utan kalau lakuin itu sekarang,” dengus Carmen, lalu Nuansa menggenggam tangan Carmen, “sini gandeng tangan papa,” ujarnya. Carmen terhenyak meski kaki terus melangkah, tangan ayahnya sangat besar dan juga hangat, dia mengalihkan

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Delapan

    “Coba, latihan. Lagian umur lo berapa sih? Masih muda sudah punya anak gede, itu sebabnya orang-orang harus mengatur usia pernikahan, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk kematangan dalam mengurus anak.”Nuansa mendelikkan matanya, “enggak perlu ceramah, gue juga enggak nyangka akan seperti ini. Dan semua sudah terlambat, enggak mungkin gue nyuruh emaknya masukin dia lagi ke perut,” tutur Nuansa.“Ngomong-ngomong, ibunya di mana? Dia kelihatan banget kurang kasih sayang ibu? Sorry kalau itu menyinggung.”Pandangan Nuansa terlihat mengawang, mengingat semuanya dan itu cukup menyakitkan. Istrinya tak bisa dikendalikan olehnya, sekeras apa pun Nuansa mencoba menuruti fantasinya, namun sang istri tetap saja tak merasa puas. Ya usia ibu Carmen lebih tua tujuh tahun darinya, itu sebabnya orang tua Nuansa dulu tak menyetujui karena merasa wanita bernama Devana itu memanipulasi Nuansa yang baru beranjak dewasa.Dan benar dugaan orang tuanya, setelah mereka memiliki Carmen, wanita itu mening

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh

    Nayaka mencoba menetralkan perasaannya yang campur aduk, sudahlah seperti ada petir yang menyambar di pagi hari yang cerah. Bagaimana bisa? Orang yang dijodohkan padanya adalah orang tua dari murid nakalnya. Dan lagi ... dia sudah memperlihatkan salah satu sisi paling buruk dari dirinya. Di ruangan guru ini tak ada guru lain karena semua memiliki jadwal jam pertama, berbeda dengannya. Nayaka memang minta diatur untuk hari senin dia tak mendapat jadwal mengajar jam pertama, tentu saja karena dia yang sering mengantuk karena menjadi DJ pada hari minggu.“Selamat pagi, silakan ikut saya,” sapa Nayaka setelah menjabat tangan Nuansa, berpura bahwa mereka tak ada insiden apa-apa.“Ibu pernah ketemu papa?” tanya Carmen membuat Nayaka menghentikan langkahnya dan menoleh sambil tersenyum kecil lalu mengangguk ragu. Dia mengajak mereka ke salah satu ruangan yang memang di peruntukkan untuk pertemuan dengan tamu. Ruangannya berada di sebelah ruang kepala sekolah, dalam ruang guru juga.Nayaka

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status