MasukAisyah harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui sang suami yang sangat ia percayai, ternyata diam-diam sudah menikahi siri adiknya sendiri yang saat itu sudah berbadan dua. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Aisyah harus mengetahui jika seluruh anggota keluarganya pun mengetahui, bahkan mereka semua menjadi saksi pernikahan siri tersebut. Lalu bagaimana Aisyah akan melanjutkan hidupnya? Ketika saat ini hidupnya sudah terasa sangat hancur setelah pengkhianatan yang di lakukan oleh semua orang yang ia sayangi dengan tulus.
Lihat lebih banyak“Come on, Nera! Wake up! We have very important company today!”
The shrill voice of my lady's maid Hana cut through my dreams like a knife. I groaned, curling deeper into the tangle of sheets, I didn’t want to get up. I was having such a nice dream of the forest. Another knock on my door had me finally dragging myself upright. The cold stone floor bit at my bare feet as I sat up helping me wake up further. I shivered in my thin sleep gown and glared at the window that a terrible draft always seemed to find itself through no matter what was done. I hated being cold.
“Important company? Yea, right.” I muttered to myself making sure it was low enough Hana wouldn't hear. Hana would smack me if she heard my sass or saw my eye roll. Rubbing the grit of sleep from my eyes I began to wake myself up for whatever torment waited me in the form of “important company”. That usually meant more of Father’s tiresome suitors, each one awful in their own way. He was eager for me to choose one of the three, but I still had four months before my twentieth birthday, and I intended to cling to every last day of freedom I had left. Not that I had much freedom anyways. Unlike my brother who had all the freedom I could only dream of. Why couldn’t I be like my brother, riding off on adventures, free to see the world? Instead, I was trapped in these suffocating walls, my only escape the wild woods beyond the estate.
At least the woods gave me some reprieve. Whenever I could, I slipped through one of the forgotten escape tunnels by my room and slipped into the wild. I felt like I could truly breathe when I was in the forest. I never ventured too far, even though I was dying to. I didn't though with the risk of Father’s wrath and the punishments he could dull out. Scars on my back burned in reminder of how cruel his punishments could be.
The sharp scent of pine and damp moss, the crack of twigs underfoot, the distant cry of a hawk. It was all a song that danced in my heart, and I ached to be in the forest to listen and dance until I collapsed in exhaustion. In those moments the forest felt more like home than the velvet-draped walls of this estate ever had. Even though I went out with my dog belladonna, she would run off to chase an animal like a bunny, while I did my own thing. So I was often left alone when I adventured into the woods. Unlike the eyes always watching me here, waiting for me to mess up.
Once, I did have someone to share them with. Ivy, a village girl with more heart than skill, had begged me to teach her the ways of the forest. Her laughter still echoed in my memory, bright and unrestrained, so unlike the stifled politeness demanded here. I remembered how I would often tell her if she pulled her hair back the black locks wouldn’t cover her blue eyes making it easier for her to hunt her prey. Every time she’d miss or grab the wrong plant. Her blue eyes glittered like the ocean full of amusement. One day she bent over laughing when I asked why she rubbed mud on her face like that. She told me it wasn't mud, it was freckles. We both laughed until we cried. I smiled at that memory. I had a lot of memories like that with her until Father caught me sneaking back one day and saw her with me. All she wanted to do was make sure I made it home safe because it was getting later than usual for me to be out.
He had called her a “bad influence” and forbidden me to ever see her again. He thought she was the reason I snuck out into the forest. He was wrong and did not believe me when I had told him that wasn’t the case at all. His mind was made up and there was no changing it.
When he made the mistake of forbidding me from ever seeing her again. He should have been more specific with his rule. He had said we couldn’t see each other. He hadn’t said anything about leaving notes tucked beneath tree roots or hidden under rocks.
Ivy’s recent letter was informing me she was married recently. She wrote to me about her husband, he sounded like a decent enough person to spend your life with but she didn’t sound like she was in love with him. Still, she was content, and that had to be enough. I still bring her herbs, berries, even games to sell. I didn’t need the coin. I needed the practice and the sense of freedom only the forest could provide me. Practice for what? For the dream that had burned in me since childhood. To adventure. To matter. To live beyond these suffocating walls. To feel the bowstring’s snap against my fingers, the thrill of tracking prey, the joy of finding the correct plants needed for cooking and medicine. It all made me feel alive. It gave me purpose.
“Bagaimana bisa kamu di pecat dari perusahaan itu Mala? Bukankah kamu bilang kalau boss kamu sudah sangat cocok sama kinerja kamu selama ini?” tanya Hanung ketika ia baru masuk ke rumah baru milik Mala yang beberapa hari lalu baru ia belikan itu.“Aku gak tahu Mas, karena tiba–tiba saja aku dipecat tanpa tahu kesalahanku apa? Mereka hanya bilang kalau aku sudah melanggar kontrak kerja, tapi mereka sendiri tidak memberikan aku penjelasan apa–apa.” Hanung berdecak kesal, tak menyangka di posisinya yang serba sulit seperti saat ini, tiba–tiba Mala pun dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja. “Kenapa kamu bersikap seperti itu Mas? Kamu seolah tidak suka dengan kabar ini? Bukankah waktu itu kamu pernah bilang, kalau tanpa perlu aku bekerja pun kamu akan selalu mencukupi semua kebutuhanku dan juga calon anak kita. Lalu kenapa sekarang kamu berubah, Mas? Mana janji yang sudah kamu ucapkan itu di hadapan semua keluargaku hmm?”Mala yang sedikit kaget dengan perubahan mimik wajah yang ditu
“Apa? Kenapa bisa sampai sebanyak ini tagihan untuk perusahaan kita Sarah? Bagaimana bisa semua klien kita membatalkan proyeknya hanya dari satu pihak saja? Sedangkan semuanya sudah deal kan?” Hanung membulatkan bola matanya seketika ketika ia mendapatkan laporan dari sekretaris dan juga asisten pribadinya.“Betul Pak, tadi Pak Dodi sudah menghubungi pihak sana, dan mereka memang membatalkan proyek–proyek ini. Jadi mau tidak mau kita harus mengembalikan uang mereka Pak.” terang Sarah seraya memberikan bukti dokumen yang diberikan oleh Dodi.“Benar begitu Dodi?” tanya Hanung dengan tatapan tajam menghunus ke arah sang asisten pribadinya.“Betul Pak.”“Kenapa kamu tidak mencoba untuk membujuk mereka. Paling tidak kamu berusaha terlebih dahulu agar mereka tidak jadi membatalkan proyek ini.” “Sudah Pak, saya sudah mencobanya tapi nyatanya mereka tetap membatalkan proyek yang hampir berjalan ini. Dan ada kabar buruk lagi Pak,” ucap Doni dengan wajah yang belum apa–apa saja sudah merasa
Setelah kepergian Aisyah, Erna dan juga Restu yang mengantar Aisyah ke kamarnya, Mala kemudian menarik paksa tangan Hanung yang masih menatap kepergian istrinya itu dengan lekat. “Mas, kamu apa–apaan sih bersikap seperti tadi sama Mbak Aisyah? Memangnya kamu ini masih mencintai Mbak Aisyah apa?” Mala menatap Hanung dengan kesal, wajahnya terlihat sangat badmood dan juga dongkol. Mengingat saat tadi Hanung memohon–mohon sama Aisyah hingga dirinya berlutut di hadapan Aisyah. Sedangkan Hanung sendiri sudah berjanji kalau ia akan segera menceraikan Aisyah.“Sayang di sana kan ada Erna dan juga Restu, ya kamu tahu sendiri kan Mas masih harus akting. Agar Mas bisa membujuk Aisyah agar mau menyerahkan perusahaannya sama kamu. Memangnya kamu nggak mau jadi ibu CEO menggantikan posisi Aisyah?”Hanung beralasan, ia berusaha untuk meyakinkan Mala agar tak banyak protes, padahal ia sendiri sebenarnya sedang merasa ketakutan dengan sadarnya kembali Aisyah dari komanya.Ia takut jika sampai Aisy
“Aisyah! Aisyah! Kamu ingat sama Mas kan sayang? Ini aku Hanung. Hanung suami kamu Aisyah. Kamu ingat aku kan sayang?” Hanung berusaha mendekat ke arah Aisyah, walaupun ia sudah dilarang oleh Erna dan juga Restu tapi Hanung tetap memaksa untuk mendekati Aisyah. Bahkan kini Hanung bersimpuh di hadapan Aisyah, dan memegangi tangan Aisyah dengan eratnya.“Mas!” Bentak Mala, ia yang tak terima jika Hanung sampai berlutut seperti itu terhadap Aisyah yang harusnya sudah diceraikan oleh Hanung.“Aisyah, ini Mas. Kita sudah menikah lima tahun yang lalu. Sebelum ini rumah tangga kita sangat harmonis dan juga bahagia, sayang. Aisyah, kamu ingat sama mas kan Aisyah?” Hanung meremas dengan erat kedua jari–jari tangan Aisyah, namun tak disangka oleh Hanung jika Aisyah langsung melepaskan genggaman tangannya tersebut.“Kamu siapa? Aku nggak ingat sama kamu,”Ekspresi wajah Aisyah terlihat datar, cuek seperti orang yang tak saling mengenali. Benar–benar tak terlihat ada pancaran cinta di sana.“


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan