MasukPagi itu di desa kecil yang terletak di pinggir hutan, udara dingin menyergap Aryan saat ia berangkat ke pembangunannya. Hari demi hari, dirinya berusaha menghapus ingatan tentang dirinya yang lalu, namun kenyataan di sekitarnya selalu mengingatkan akan ketidakberdayaannya saat ini.
Di tempat kerja, Aryan mendapati para pekerja lain berkumpul, tertawa dan saling melempar sinis. Beberapa di antara mereka, termasuk pemuda yang menghinanya kemarin, memandangnya dengan tatapan merendahkan. “Hai, si Jendral! Masih menunggu perintah dari kita?” ejek Roni, pemuda berbadan kekar yang tampak sebagai penguasa di antara rekan-rekannya. Aryan berusaha mengabaikan. "Aku di sini untuk bekerja," ujarnya singkat, berusaha melanjutkan tugasnya dengan gesit. Roni tak mau menyerah. "Bekerja? Apa kau yakin dirimu mampu melakukannya? Cobalah angkat batu ini!" Ia mengangkat batu besar yang digunakan sebagai pondasi sementara, kemudian menjatuhkannya tepat di depan Aryan. “Atau lebih baik kau menjadi helper saja. kebetulan badanku sedang pegal-pegal. tolong pijitin!” Beberapa pekerja lainnya mulai tertawa, dan Aryan merasa darahnya mendidih. Dalam hatinya, dia merindukan rasa hormat yang pernah dia miliki. Rasanya sudah terlalu lama dia berada dalam posisi ini. “Biar aku coba,” Aryan akhirnya menjawab, suara tegas dan mengalir berapi-api. Aryan bergerak cepat, meraih batu tersebut, dan dengan tenaga yang tidak disangka-sangka, ia mengangkatnya dengan satu tangan, membuat semua mata terbelalak. “Eh, tunggu sebentar...” Roni terdiam, wajahnya memucat. “Lihat, kau bisa belajar sedikit dari Jendral kita! Tapi ingat, dia kini hanya seorang buruh,” sahut Alif, teman Roni. “Apa kau akan membuang waktumu di sini? Coba loncat dari tebing, itu lebih baik!” Roni melontarkan tantangan yang sebuah langkah lebih jauh. "Sepertinya lebih pantas kalian yang loncat. Karena kalian seperti sampah di mata saya," Geram Aryan, yang sebenarnya sudah terpanggang emosi. “Ayo, kita selesaikan ini! Kalau kau jagoan, mari kita selesaikan!" Roni terus menantang. Setelah tatapan berapi-api dari Aryan, sepertinya tantangan tersebut memicu semangat teman-teman yang lain. Mereka beredar di sekitar Aryan, terbagi menjadi dua kubu: satu ingin melawan dan satu lagi bersikap skeptis. Aryan merobek bukti diri, yang mungkin sudah lama tertanyakan. “Maukah kalian mencoba? Siapa yang berani?” Salah satu pekerja, Amir, yang kini mulai berani bersuara menyela, “Kau tidak bisa menyerang mereka, Aryan! Mereka lebih banyak!” Kepala Aryan berputar cepat. "Kau tak tahu siapa aku!" soraknya, bertentangan dengan ragu Amir. “Kalian bisa berhenti menjadi anjing penakut hanya karena aku seorang junior di mata kalian!” Roni dan kelompoknya terlihat salut dan tertegun, namun kesombongan mereka tidak mau mengakui. “Genggaman tanganmu kelihatan goyah, buruh! Siapa yang butuh otot bila kau tidak memiliki jiwa petarung!” Roni menantang, sambil memposisikan dirinya dengan bahu menghadap Aryan, siap untuk menyerang. Roni merasakan adrenalin memuncak. Tanpa berpikir, dia melangkah maju, langsung menghampiri Aryan sambil melemparkan tinju ke arah wajahnya. Tiba-tiba Roni terkejut, tidak siap dengan reaksi cepat itu; tak disangka malah ia yang terjengkang dan jatuh ke belakang, bingung. “BANG! Seharusnya kau belajar lebih banyak!” suara Aryan menggema di antara kelompok itu. Mereka terdiam sejenak, lalu buru-buru kembali bersatu, bersiap untuk menyerang balik, tetapi Aryan sudah siap. Roni, yang terpuruk di tanah, menatap Aryan dengan ngeri ketika yang lain mulai berkumpul untuk menantangnya. “Jendral atau bukan, dia masih mengandalkan ototnya!” seru seseorang dari kerumunan, sementara yang lain hanya bisa berbisik. Dengan semangat yang mengalir dalam diri, Aryan mengambil langkah maju, siap berperang, meski dengan satu tangan di belakang. “Kalian pikir ini lelucon? Kalian bertindak seperti anak-anak! Semua ini hanya karena kalian takut menghadapi seseorang yang pernah memiliki kekuatan tidak seperti yang kalian miliki?” "Ayo, kita semua tahu kalau dia sebenarnya penakut!" teriak Roni, mencoba kembali berani dan membangkitkan rasa ingin tahu temannya. Namun kelompok itu kini mulai bimbang, terjebak dalam ketakutan dan keinginan untuk melawan rasa hormat yang mulai mereka rasakan. Aryan, di pihak lain, merasa adrenalin mengalir semakin deras. “Mau lihat bagaimana melawan penakut?” tantangnya, lincah seperti singa. Tanpa menunggu, Aryan menyerang Roni. Kali ini ia beruntung; serangannya tepat dan cepat, menghantam Roni dan membuat posisi Roni terguncang, ia terjatuh lebih dalam. Ketika Roni terjatuh, udara menjadi hening. Aryan memandang rekan-rekannya yang dengan cekatan menjauh dari Roni, kini menatap Aryan dengan rasa hormat yang halus. “Siapa lagi yang akan melawanku?” suaranya kali ini bergetar dengan percaya diri. Tidak seorang pun berani menjawab. Aryan berdiri di tengah, pelan-pelan kembali menemukan kekuatan dalam dirinya. Dia tahu bahwa di luar sana, pasukan dan ikatan persahabatannya yang telah hilang sedang menunggu. Ia tidak sedang menghadapi sekelompok cowok payah, melainkan menemukan wajahnya sendiri. Akhirnya, satu per satu teman-teman yang semula mengejeknya membuka jalan. Mereka melangkah mundur, rasa hormat mulai berfokus pada Aryan, yang perannya sebagai jendral tidaklah lenyap. Dia tersenyum, merasakan angin kepercayaan diri menyelimutinya. Sekarang, yang tersisa hanyalah perjalanan pulang ke dirinya yang hilang, dan gerbang baru untuk hidup yang lebih baik telah dibuka untuknya.Fajar yang seharusnya membawa ketenangan justru datang dengan aura kematian yang mencekam. Di cakrawala laut utara, kabut tebal perlahan tersibak oleh moncong-moncong kapal perang berwarna hitam legam tanpa nomor lambung. Itu adalah armada tempur organisasi Nebra. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengambil kembali aset mereka yang paling berharga: Protokol Alpha 9 yang ada di dalam tubuh Aryan. Aryan berdiri di atas tanggul pemecah ombak, menatap ribuan kilatan cahaya dari meriam laser kapal-kapal tersebut. Di belakangnya, Mayor Yudha sedang berteriak melalui radio, berusaha mengoordinasikan unit artileri pantai yang masih tersisa. "Jendral, mereka mulai mendarat! Unit amfibi mereka bukan manusia!" teriak Yudha. Dari balik ombak, muncul ratusan prajurit mekanik yang dikenal sebagai Nebra Reapers. Berbeda dengan Subjek Beta yang lincah, Reapers adalah tank berjalan yang dirancang untuk satu tujuan: penghancuran total. "Tahan posisi! Jangan menembak sampai
Gedung Televisi Pusat menjulang seperti menara pengawas di tengah ibu kota yang sunyi akibat jam malam. Di puncaknya, lampu sorot raksasa menyapu jalanan, mencari setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Di dalam gedung itu, Silas telah menyiapkan panggung eksekusi. Tante Mira dirantai di kursi besi di tengah studio utama, dikelilingi oleh kamera yang siap menyiarkan "pengadilan pengkhianat" ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Di luar gedung, Aryan berdiri di puncak gedung apartemen yang berseberangan. Angin kencang memainkan ujung jubah taktisnya. Di sampingnya, Mayor Yudha sedang menyiapkan senapan runduk dengan amunisi pengacau sinyal. "Jendral, sensor menunjukkan ada minimal lima puluh personel unit Penjagal di dalam. Plus, Subjek Beta yang kau lawan kemarin ada di lantai empat puluh," lapor Yudha melalui alat komunikasi. Aryan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa detak jantungnya yang kini berada di frekuensi rendah yang stabil. Alpha 9 di tubuhnya sudah tersi
Malam di ibu kota tidak lagi terasa aman bagi mereka yang mengenakan lencana Dewan Pertahanan Nasional. Di bawah lampu-lampu neon yang berkedip, sebuah ketakutan baru mulai menyebar di kalangan militer. Mereka menyebutnya sebagai "Hantu Arkhana". Sebuah entitas yang menyerang tanpa suara, melumpuhkan sistem tanpa jejak, dan menghilang sebelum alarm sempat berbunyi. Di sebuah gudang tua yang menjadi markas sementara, Aryan duduk diam di tengah kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari kabel-kabel optik yang tersambung dari pergelangan tangannya ke sebuah komputer pusat curian. Ia sedang melakukan penetrasi ke jaringan saraf logistik sektor tujuh. Matanya yang putih terang bergerak cepat, memproses ribuan baris data enkripsi per detik. "Tingkat keberhasilan infiltrasi: sembilan puluh delapan persen," gumam Aryan tanpa ekspresi. Mayor Yudha masuk membawa dua pucuk senapan serbu yang telah dimodifikasi. Ia menatap Aryan dengan ngeri sekaligus takjub. "Depo sektor tujuh itu dijaga ole
Suara ledakan bom termobarik yang dijatuhkan oleh angkatan udara Silas menggetarkan seluruh rangkaian pegunungan Utara. Puncak gunung yang semula kokoh seolah terkelupas, mengirimkan jutaan ton salju dan bebatuan jatuh menimbun lembah di bawahnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kiamat kecil yang dibungkus dalam kabut api dan asap hitam. Di dalam ruang kendali jet tempur pemimpin, seorang pilot melapor dengan nada datar, "Target dihancurkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa di area bunker." Silas, yang menyaksikan semuanya melalui transmisi satelit di kantor rahasianya, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tuanya. Baginya, Aryan Arkhana bukan lagi ancaman. Dengan hancurnya bunker itu, semua bukti pengkhianatannya di masa lalu terkubur bersama jasad sang Jendral. Silas segera menekan tombol interkom, memanggil staf medianya. "Umumkan kepada seluruh negeri," perintah Silas dengan nada yang dibuat sedih. "Jendral Aryan tel
Kegelapan di dalam bunker Arkhana terasa begitu padat, seolah-olah waktu telah berhenti berdetak di sana selama tiga puluh tahun. Namun, saat kaki Aryan melangkah melewati ambang pintu, deretan lampu neon biru di langit-langit menyala satu per satu, menciptakan lorong cahaya yang membentang jauh ke perut bumi. Suara gerbang raksasa di belakang mereka menutup dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gunung. Mereka kini terperangkap di dalam benteng kuno yang menyimpan rahasia paling berbahaya dari klan Arkhana. "Aryan, lihat itu," bisik Clara sambil menunjuk ke arah aula besar di ujung lorong. Di sana, berderet rapi ratusan unit baju zirah mekanis yang dikenal sebagai Arkhana Sentinels. Baju zirah ini tidak digerakkan oleh mesin biasa, melainkan oleh sistem neuro-link yang hanya bisa dikendalikan oleh seseorang dengan protokol Alpha 9 aktif. Ini bukan sekadar gudang senjata; ini adalah pasukan pribadi yang siap meratakan kota dalam hitungan jam. Rahasia Tante Mira Saat Mayor Yudh
Gema tawa Silas dari radio taktis milik Viktor Arkhana seolah memicu ledakan di dalam dada Aryan. Langit yang semula gelap kini terang benderang oleh ribuan lampu indikator merah dari drone tempur yang melayang rendah, mengepung area gerbang besi klan Arkhana. Salju yang turun deras mendadak menguap sebelum menyentuh tanah, kalah oleh panas energi biometrik yang terpancar dari tubuh Aryan yang kini berada pada level kritis. "Viktor, kau menjual darahmu sendiri demi janji seorang ular?" geram Aryan. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan dentuman rendah yang membuat bebatuan di sekitarnya bergetar. Viktor Arkhana jatuh terduduk, wajahnya yang penuh bekas luka bakar kini pucat pasi. "Dia bilang... dia bilang ini satu-satunya cara agar klan kita diakui kembali, Aryan! Aku lelah hidup sebagai tikus di dalam gua!" "Kau bukan tikus, Viktor. Kau adalah pengkhianat," desis Tante Mira. Ia sudah berada di posisi siaga, dua belati di tangannya berkilat memantulkan cahaya merah dari lang







