MasukJemuran pakaian Puspa dan Ayu; tetangga barunya selalu saja tertukar, karena pakaian yang mereka jemur sama, baik warna, model, dan juga motifnya. Bagaimana bisa? Padahal Ayu baru tiga hari pindah ke sebelah rumah Puspa. Merasa lucu, iya, merasa aneh juga iya, oleh karena itu, Puspa memutuskan untuk menyelidikinya.
Lihat lebih banyak“Ugh!”
Keluh seorang wanita lirih, matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya remang pada obor. Aroma lembab kayu lapuk menyergap indra penciumannya. Dia mengerjapkan mata, mencoba mengenali tempatnya berada. “Permaisuri! Anda sadar!” Suara tangis histeris membuat Zhao Xueyan terkejut. Dia menoleh dan mendapati seorang gadis dengan pakaian lusuh menangis di depannya. “Apa yang ... terjadi?” tanya Zhao Xueyan. Tubuhnya terasa seperti dihantam palu berkali-kali. “Yang Mulia, Anda selamat! Syukurlah ….” Gadis pelayan itu terus tersedu-sedu tanpa menjelaskan lebih lanjut. Zhao Xueyan sambil meringis sesekali, menyandarkan tubuhnya pada dipan kayu. Rasa sakit di punggungnya masih terasa. Sesaat kemudian, memori seperti hujan deras menyerang pikirannya. Zhao Xueyan baru saja pulang dari dinas malam, dia ingin merayakan ulang tahun tunangannya. Namun, saat dia mengintip, pemandangan itu menghancurkannya. Di sana, Ruiqi, tunangannya, tengah bercumbu mesra dengan Meiling, sahabatnya. Dan yang lebih menyakitkan, hubungan mereka sudah sangat jauh, hingga menghasilkan anak. Ruiqi tega mempermainkannya hanya demi harta. Karena tak ingin mati sendirian, dia meledakkan rumahnya sendiri. “Permaisuri!” Zhao Xueyan membuka mata, napasnya tersengal. Tubuhnya basah oleh keringat. ‘Aku ... seharusnya mati,’ pikirnya. Tapi, gelang giok di pergelangan tangannya bersinar samar. Ia ingat kilatan hijau yang melindunginya sebelum ledakan. “Permaisuri?” Gadis pelayan itu berbicara lagi, membuyarkan lamunan Zhao Xueyan. “Apa kau Niuniu?” tanya Zhao Xueyan, suaranya dingin. Gadis pelayan itu terkejut. “Benar, Yang Mulia. Tapi ... Anda tampak berbeda.” suara Niuniu terdengar gugup. Zhao Xueyan tidak menjawab. Dalam ingatannya, permaisuri ini adalah wanita malang yang dianggap bodoh dan tak berguna. Difitnah, dicambuk, lalu diasingkan ke desa Qinghe. Namun kini, tubuh itu adalah miliknya. Ia mengepalkan tangan. ‘Ini adalah kesempatan kedua,’ pikir Zhao Xueyan. ‘Aku akan mengubah nasibku dan membalas dendam!’ “Niuniu!” panggil Zhao Xueyan tegas. “Aku butuh beberapa benda untuk membersihkan luka ini.” Suara Zhao Xueyan terdengar sangat dingin. Membuat Niuniu meneguk ludahnya kasar. “Tapi Yang Mulia, luka Anda terlalu parah! Anda butuh tabib—” Ucapan Niuniu terhenti, saat mata tajam Zhao Xueyan menghunus padanya. “Tabib tidak akan datang,” potong Zhao Xueyan dingin. “Kita tidak punya koin. Aku bisa merawatnya sendiri. Ambilkan alat tulis!” titah Zhao Xueyan datar. Niuniu tampak bingung, tetapi ia tetap menuruti perintah Zhao Xueyan. Tangannya gemetaran saat memberikan kuas dan tinta pada Zhao Xueyan. "Niuniu, lihat ini," ujar Zhao Xueyan sambil menggambar dua jenis tanaman di atas tanah. "Ini guozhen dan lidah buaya." Zhao Xueyan menggambarnya dengan detail, lalu melanjutkan penjelasan. "Pertama, bawakan aku beberapa daun guozhen," pintanya. "Tanaman itu biasanya tumbuh di sekitar batu basah. Daunnya akan mencegah infeksi." Gadis pelayan itu mendengarnya dengan seksama, meski di matanya terlihat keraguan. "Dan ini," lanjutnya sambil menunjuk gambar lidah buaya, "Lidah buaya. Cairannya dapat menenangkan luka. Jangan lupa didihkan air bersih untuk membersihkan alat dan luka ini.” Niuniu menerima kertas itu dengan wajah heran. Permaisuri yang ia kenal tidak memiliki keahlian apapun, apalagi pengetahuan tentang tanaman obat. “Apa ini sudah cukup, Yang Mulia?” tanya Niuniu. Zhao Xueyan mengangguk. “Hmm … ah! Jangan lupa untuk menghaluskan daun guozhen itu!” “Baik! Hamba akan mencarinya sekarang juga, Yang Mulia,” ucap Niuniu sebelum bergegas keluar. Zhao Xueyan menatap gelang giok di tangannya. Kilauannya tampak memudar, tetapi ia tahu, benda ini telah memberinya kehidupan kedua. Zhao Xueyan tersenyum tipis, matanya memancarkan keteguhan. “Aku akan menunjukkan kepada dunia siapa aku sebenarnya dan menjadi kultivator terhebat.” Mata Zhao Xueyan kembali tertutup. Namun, bayangan pengkhianatan tunangan dan sahabatnya, terngiang di telinga. Suara desahan Meiling dan suara tawa kecil Ruiqi terngiang. Bahkan demi untuk berduaan, mereka bahkan meliburkan para pekerja di mansion miliknya. Ledakan bom membuat Zhao Xueyan tersentak. “Permaisuri!” Zhao Xueyan menoleh. “Kau sudah datang rupanya! Letakkan semuanya disini, dan bantu aku untuk membersihkan luka ini dulu dengan air itu!” “Baik Yang Mulia!” Zhao Xueyan membuka hanfu lusuhnya, luka-luka di tubuh itu terlihat menganga, membuat Niuniu menangis. “Apa yang kau lakukan?! Cepat bersihkan saja! Aku bisa menahannya!” suara Zhao Xueyan membuat Niuniu tersentak kecil. “Baik Permaisuri!” Niuniu mulai membersihkan luka-luka itu dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Sesekali terdengar dari mulut Zhao Xueyan mendesis. Ingatan Zhao Xueyan, kembali terlempar saat Ruiqi tunangannya menodongkan pistol ke arahnya. Bahkan suara pistol yang memekakkan telinga masih terngiang. “Permaisuri!”Bu Suci belum benar-benar tidur saat anak menantunya pulang. Ia sengaja sedikit berbohong agar Ramon dan Dini mau segera pulang ke rumah. Bagaimanapun ini adalah malam pengantin putrinya, tidak lucu kalau malam pengantin dihabiskan dengan menemani nenek-nenek yang sedang sakit. Bu Suci mengambil ponsel, lalu ia mengirimkan pesan pada Puspa.Assalamualaykum, Puspa, Pak RT dan kepala keamanan komplek sudah kamu beritahu perihal pernikahan Dini belum?SendPesan itu tidak langsung dibalas oleh Puspa. Mungkin anaknya itu sudah tidur. Pikir Bu Suci. PuspaWa'alaykumussalam. Iya, Ma, Puspa sudah informasikan pada Pak RT dan kepala keamanan. Kertas bukti pernikahan siri Dini dan juga foto Dini tadi sudah saya kirimkan sekalian. Mama jangan khawatir. Istirahat ya, tidurnya jangan kemaleman.Oke, terima kasih sayang. Kamu juga istirahat. Jangan lupa besok kalau kemari bawakan Mama bubur candil ya.SendBu Suci tersenyum lega setelah membaca pesan Puspa. Akhirnya ia bisa tidur nyenyak malam
Saya terima nikah dan kawinnya Andini binti fulan, dengan mas kawin seperangkat alat salat serta perhiasan emas lima belas gram, dibayar tunai. SahSemua orang yang ada di dalam ruangan kamar perawatan Bu Suci mengucap syukur atas sudah terlaksananya pernikahan siri yang dilakukan oleh Ramon dan juga Dini. Ada saudara dari pihak ibunya sebagai saksi, sedangkan dari pihak Ramon ada salah satu teman pria lelaki itu yang kebetulan sedang ikut pameran di Bandung. Lalu untuk Dini, dinikahkan oleh wali hakim karena memang tidak ada yang tahu ke mana dan di mana keluarga Dini yang asli. Dini yang siang ini diminta memakai baju panjang dan selendang panjang untuk menutupi kepalanya, terlihat semakin ayu dan mempesona. Make up tipis yang dibantu oleh Puspa berhasil membuat Ramon tidak bisa berkedip menatap istri kecilnya. Setelah ijab kabul, semuanya mengalami Dini dan juga Ramon, tidak lupa Dini mencium punggung tangan mamanya sebagai bentuk sungkem hormat pada wanita yang dengan sepenuh
Setahun setelah kepergian suaminya, Bu Suci hanya berdua saja dengan Puspa. Putri semata wayang yang baru duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Kepergian suaminya yang sakit tiba-tiba tentu saja meninggalkan luka teramat dalam untuknya. Keluarga mereka sedang menikmati indahnya berumah tangga dengan satu anak yang cerdas. Namun, tidak ada yang dapat menebak umur, rejeki, dan jodoh manusia. Sang Suami dipanggil untuk selamanya menghadap Khalik. Bu Suci mencoba tegar sebagai istri dan juga ibu, walau tidak ada satu pun yang tahu bahwa hatinya benar-benar patah. Separuh jiwanya pergi. Ia yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga, harus berusaha lebih giat lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Memang ada pensiun yang ia dapat dari kantor suaminya, karena suaminya adalah Pegawai Negeri Sipil di kantor pengadilan negeri, tetapi tetap saja berbeda saat ia masih memiliki suaminya tercinta. Sampai suatu hari, suara tangisan bayi berada begitu dekat di telinganya saat ia tengah salat tahaj
Seminggu sudah berlalu dan kondisi Bu Suci masih sama. Tidak ada pergerakan apapun atau perkembangan lainnya. Puspa dan Dini masih bergantian jaga, menunggui mamanya tanpa keluh kesah karena rasa sayang keduanya. Dokter sempat mengatakan bahwa jika mama mereka sadar, maka itu adalah sebuah mukjizat. Sama saja bukan dengan mengatakan bahwa mereka harus ikhlas jika hal buruk terjadi pada mamanya. Dini dan Puspa sempat syok saat dokter mengatakan hal itu, tetapi keduanya kembali saling menguatkan. Tentu saja dengan support pasangan masing-masing. Puspsa didukung oleh suaminya, sedangkan Dini didukung dan dikuatkan oleh Ramon. Dua lelaki yang selalu mendukung dan menyemangati dua beradik itu karena rasa sayang mereka. "Jam berapa sidang hari ini?" tanya Ramon pada Dini saat pria itu meneleponnya setelah salat subuh. "Jam delapan, Bang, doakan lancar ya. Dini sedikit takut, tapi kata Mas Galih dan pengacara, Dini gak boleh takut karena Dini gak salah. Dini akan ceritakan kejadian yang s
"Maafkan Abang, Puspa, Abang gak tahu kalau di samping Abang itu, Ayu. Lagian kamu kenapa milih nonton film horor? Sudah tahu Abang takut." Bang Ramon masih saja membela diri. Padahal aku lihat sendiri dengan jelas suamiku bersembunyi di balik tubuh Ayu. Entah sengaja atau tidak, pok
Aku sudah berada di mal tepat pukul empat sore lebih tiga puluh menit. Sambil menunggu Bang Ramon sampai dari tempat kerjanya, aku mampir ke sebuah toko emas. Hasil uang sewa kontrakan bulan ini masih kusimpan rapi dan ingin kubelikan cincin saja, hitung-hitung menabung.
Seharian ini aku hanya bisa uring-uringan karena jemuran Ayu. Punya satu baju yang sama dengan tetangga saja sudah bikin kita malu tidak terkira, bagaimana kalau satu lemari isinya sama?Aku tidak memasak, tidak beberes rumah, dan tidak bersemangat melakukan apap
"Duh, kamu ini, jangan nyontek tetangga melulu. Udah baju sama, sekarang masakan pun kamu ikuti. Memangnya dia siapa? Pokoknya Abang gak mau kamu ikut-ikutan tetangga baru itu lagi!" Bang Ramon bangun dari duduknya dan tidak sempat menghabiskan teh manis yang sudah aku buatkan.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak