LOGINVarisha, seorang gadis muda berusia 19 tahun, menjalani kehidupan yang keras dan penuh perjuangan harus menanggung tanggung jawab besar untuk keluarganya. Namun, ketika sebuah tawaran pernikahan tiba-tiba datang dari Arshaka, seorang pria tampan dan kaya berusia 31 tahun dengan rahasia gelapnya sendiri, dunianya yang sederhana menjadi runtuh. Dalam kehidupan yang penuh dengan pengorbanan, Varisha menemukan dirinya terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah dia inginkan. Demi melindungi keluarganya, dia harus mengorbankan cinta dan kebahagiaannya sendiri. Ketika masa lalu Arshaka dan niatnya yang sebenarnya terungkap, Varisha harus menemukan kekuatan untuk menjalani pernikahan yang rumit ini. Di tengah kesulitan hidup dan perasaannya yang terkekang, akankah Varisha menemukan cahaya di tengah gelapnya kehidupan barunya, atau akankah dia terus terperangkap dalam permainan takdir yang tak pernah dia bayangkan?
View More“Terima kasih sudah hadir di acara pertunangan saya dan wanita yang selama ini sangat saya cintai.” Dion tampak tersenyum sembari mencium tangan wanita di sampingnya. “Mengenai Olivia Janeta yang selama ini kalian kenal sebagai istri saya, secepatnya dia akan saya ceraikan. Sebab sejak awal, wanita licik itu menipu saya agar bisa menikahinya.”
Ucapan pria berstatus suamiku itu sontak menghancurkan hati.Tubuhku bahkan gemetar hebat karena tak menerima itu semuanya.
Aku menipunya? Untuk apa?
Selama ini, aku tulus mencintainya--melakukan apapun untuk membahagiakannya, menyiapkan segala keperluannya, agar dia merasa nyaman hidup denganku.
Sekalipun pernikahan kami hanyalah kesalahan 1 malam, yang entah ulah siapa itu, aku pun tidak tahu!Namun tak kusangka jika Dion terus saja menuduhku menjebaknya meski aku sudah menjelaskan, hanya karena aku menyukainya sejak lama!
Dan puncaknya, malam ini....
Jelas, aku ingin meninggalkan ballroom mewah yang menyesakkan dada ini. Hanya saja, aku baru menyadari, nyaris semua tamu yang hadir malam ini, sebagian besarnya adalah teman- teman masa sekolahku.
Sepertinya Dion sengaja, ingin mengukir sejarah yang memalukan bagi hidupku?
Aku tak ingin menjadi tontonan!
Kuputuskan untuk segera pergi. Tapi siapa sangka, aku malah tak sengaja menubruk salah satu dari mereka. “Wah, Olivia! Kau memang tidak tahu malu, ya. Sebagai wanita perusak, berani sekali kau datang ke sini?” Deg! Perasaanku semakin campur aduk, karena terus menerus mendapat cacian. “Aku tidak seburuk itu,” lirihku pada mereka. Entah bagaimana, para tamu kini menatapku. Dengan lantang dan lugas mereka menghinaku, bahkan termasuk dia, dia yang selama ini aku cintai. Begitu hebat dia memainkan kata, merendahkanku, dan mengejek diri ini. Aku merasa benar- benar menjadi gila, kepalaku menjadi panas, seakan mau pecah karena begitu kerasnya memikirkan hinaan yang aku alami malam ini. “Cih, munafik!” “Dasar tidak tahu malu!” “Sebaiknya kamu pergi dari sini, dasar hama!!” Bukan hanya sekadar ucapan, kini mereka tambah dengan tindakan yang mendorongku dengan kasar. Brugh! Tubuhku oleng. Sadar akan jatuh, mataku otomatis terpejam siap mendarat di karpet mewah ballroom itu. Namun siapa sangka, ada tangan lebar yang menahanku, hingga terjatuh ke dalam pelukannya. Wajah lelaki itu begitu tegas, dingin, dengan aura lelaki dewasa yang matang! Sangat tampan, sayangnya dia tidak tersenyum sama sekali, membuatku bergegas menegakkan badan. Aku tersentak, ketika melihat ke arah lelaki yang menahan tubuhku. "Ammar?" Aku membatin, tanpa berani mengeluarkan suara. Lelaki itu menatapku dalam, sembari menaikkan alis, membuatku segera sadar dan bergegas membenarkan posisi berdiriku. Meskipun dia tidak pernah memperlakukan aku dengan buruk, aku tetap saja terlanjur berburuk sangka dengan sikapnya yang dingin dan bisa dikatakan jutek. “Maaf,” lirihku. Lelaki dingin itu tidak menanggapiku, keluarga Rajasa benar- benar tidak punya hati. “Jangan membuat keributan disini,” tegasnya, kepada orang yang mendorongku tadi. Mereka hanya terdiam, tidak berani bersuara. “Dia, Ammar.” “CEO dingin dan terkenal kejam itu kan.” "Jangan merusak moodnya, kita bisa dalam masalah." "Kenapa Paman kemari?" tanya Dion, yang terlihat menyapa pada Ammar. "Hanya ingin melihat pertunjukkan," jawab Ammar, dengan santai. Bisik- bisik para tamu mulai terdengar. Lelaki yang mereka sebut Ammar itu pun melangkah tegas, ke tengah-tengah acara. Sedangkan aku? Kupilih menyeret langkah, meninggalkan ruangan yang penuh dengan cibiran ini. Aku berlari menuju ke luar dari acara. Keluarga Rajasa semua sama saja, tidak memiliki hati. Entah mengapa, aku menjadi linglung, tidak tahu harus ke mana. Hingga sebuah balkon yang terlihat di ujung koridor hotel, menjadi tujuan langkahku saat ini. Sesampainya di sana, air mata yang kutahan, akhirnya luruh juga. Aku mulai menangis terisak- isak—meratapi nasib yang tidak beruntung ini. Cukup lama aku terdiam, menangis di tempat sepi ini. Tiba- tiba saat aku berdiri, sebuah tangan dingin menyentuh bahuku yang berguncang–membuatku tersentak dan langsung berbalik badan. “Dion?” lirihku. Suamiku itu tiba-tiba saja tersenyum miring, dan di detik berikutnya…. Bugh! Dia mendorong bahuku dengan kuat, hingga aku hilang keseimbangan, tanpa sempat berpegangan! “Matilah, Olivia,” ucapnya pelan.Setelah puas menghina dan mempermalukanku di hadapan semua orang, Dion membunuhku?
“AAA!” teriakku ketakutan. Tubuhku begitu sakit. Cairan merah menggenang sekelilingku. Aku tidak menyangka Dion akan melakukan ini kepadaku. Apakah dia sebenci itu padaku? Haruskah kematian sehina ini, yang harus aku dapatkan? Ini tidak adil rasanya, Tuhan. “Aku mohon, Tuhan. Tolong berilah aku satu kesempatan, untuk memilih takdir hidupku yang lebih baik. Demi apapun juga, andai kesempatan itu ada. Aku tidak akan memilih Dion, untuk menjadi suamiku lagi, maupun lelaki yang aku gilai.” Aku berdoa di detik-detik terakhir dalam hidupku. Sebelum kematian benar- benar mengakhiri nasib malangku.Hanya saja....
“Nona, Nona ....” Suara berat terdengar di telingaku. Aku berusaha kuat untuk membuka mata meskipun rasanya sedikit kesulitan. Saat pandanganku mulai terlihat jelas, sosok wanita tua, dengan wajah keriput, serta rambut yang nyaris semua berwarna putih itu, sedang memandangku. “Akkhh, astaga ....” Aku langsung terduduk dengan spontan. Aku memandangi diriku, hingga baju yang aku kenakan–seragam olahraga “Aku hidup lagi? Atau aku memang masih hidup dan semua yang terjadi hanyalah mimpi?” Aku bergumam bingung seorang diri, mencoba mencerna yang terjadi. “Nona, kamu sudah melihatnya dengan jelas, bukan? Itulah gambaran masa depanmu, jika kamu memilih lelaki itu.” Deg! Aku tertegun, mendengar ucapan wanita tua di depanku ini. Usai berkata, Nenek itu kemudian terkekeh, dan menghilang dalam asap! Segera aku mengucek mata dan semakin syok melihatnya dan baru menyadari bahwa aku, sedang tersesat di dalam hutan yang lebat! “Aaakkkhh .... Aku berlari pontang-panting, ketakutan setengah mati. Siapa sangka, Tuhan menjawab doaku? Jika aku memang diberi kesempatan hidup sekali lagi, aku tidak akan mau menggilai Dion, lelaki yang aku cintai itu, lagi. Dia adalah kehancuran dan maut di hidupku. Tanganku mengepal. Di kehidupan ini, aku tidak akan lagi mengejarnya!Matahari pagi bersinar lembut memasuki ruangan, memberikan sentuhan hangat pada wajah Arshaka yang baru saja terbangun. Saat matanya terbuka perlahan, ia mencoba mengumpulkan ingatan tentang malam sebelumnya. Ruangan masih terasa hangat dan akrab, sementara aroma malam yang terakhir kali ia rasakan masih melayang di udara.Arshaka merasakan sesuatu yang tidak biasa di sekelilingnya. Pandangannya melesat ke lantai, di mana pakaiannya tergeletak dengan keadaan asal-asalan. Ia menyadari bahwa ia masih berada di sofa, terbalut selimut. Serpihan ingatan mulai menyusun diri dalam benaknya, dan tiba-tiba, semuanya menjadi jelas. Malam yang penuh gairah bersama Sophia, ciuman yang membara, dan sentuhan-sentuhan yang melibatkan jiwa dan raga mereka.Arshaka segera mengenakan pakaiannya dengan cepat, seolah-olah ingin melepaskan diri dari kenangan yang begitu intens. Tatapan matanya mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan, mencari keberadaan Sophia. Namun, yang ditemukannya hanyalah selemba
Arshaka merasa begitu lelah, hampir seperti semua energinya telah dihisap oleh rutinitas harian yang tak kunjung berakhir. Dengan langkah berat, ia melangkah menuju ruang tamu, melempar tubuhnya di atas sofa dengan begitu lepas. Langit Spanyol sudah menggelap, menciptakan suasana kesunyian sejenak sebelum malam tiba.Dia menutup mata, mencoba untuk melepaskan diri dari segala beban pikiran yang menyertainya sepanjang hari. Namun, ketika ketukan pintu mulai mengejutkan kedamaiannya, Arshaka menggeram kesal. Dia paling tidak suka diganggu ketika sedang lelah seperti ini. Beberapa detik berlalu, dan ketukan itu masih berlanjut tanpa henti, mengganggu istirahatnya yang begitu dia nantikan.Dengan perlahan, Arshaka membuka mata dan menarik napas panjang. Dia berusaha mengabaikan ketukan pintu itu, mengharapkan bahwa orang di luar akan menyadari bahwa dia membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Namun, semakin lama dia mencoba untuk mengesampingkan suara ketukan, semakin tak tertahankan men
Sudah satu bulan sejak Marissa menghilang bersama Sophia. Arshaka masih belum bisa menemukan mereka. Entah di mana Sophia membawa putrinya itu pergi. Rasanya sudah tidak ada lagi ketenangan dalam keluarga mereka. Setiap kali ia melihat Varisha menangis saat masuk ke kamar Marissa, perasaannya pun ikut tersiksa. Apa lagi ketika menemukan secarik kertas yang berisi tulisan tangan Marissa, rasa penyesalan dan bersalah selalu berkecamuk di hati mereka.“Rissa akan baik-baik saja, Ma. Rissa yang meminta Tante Sophia membawa Rissa. Mama dan Daddy harus bahagia. Oh ya, tolong jaga Mama dan adik-adik Rissa ya, Dad. Dan Mama jangan menangis terus. Rissa sayang kalian.”Varisha membaca tulisan itu setiap hari sambil berdoa dalam hatinya agar Tuhan mengembalikan Marissa padanya. “Kenapa akhirnya jadi seperti ini, Mas?” tanya Varisha dengan lirih sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Ini akan menjadi urusan saya, Sha. Saya akan mencari Rissa sampai ketemu. Sampai ke ujung dunia pun
Langkah Sophia tercekat di depan pintu ruang perawatan Varisha. Wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan kuat agar air mampu menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata. Pemandangan di hadapannya terasa sangat menyesakkan hatinya. Sophia memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tetapi dirinya bisa tahu jika cinta mereka lah yang sedang berbicara. Ia melihat sendiri bagaimana sorot mata penuh cinta yang Varisha berikan pada Arshaka. Meskipun dirinya tidak bisa melihat sosok Arshaka dengan jelas, namun dirinya juga tahu jika pria itu merasakan yang sama.Air mata Sophia sudah tidak mampu terbendung lagi. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak terdengar. Rasanya begitu sakit ketika melihat pria yang dicintainya mendekap tubuh perempuan lain yang sebenarnya lebih berhak atas pria itu. Sophia berbalik dan melangkah dengan berat, ia hanya ingin menjauh dari tempat itu. Namun, melarikan diri dari sana tidak semudah itu keti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews