เข้าสู่ระบบSaat sekarat aku merawat suamiku Mas Sultan dengan sepenuh hati, tapi apa yang kudapat? Setelah dia sehat malah diam-diam menikah lagi dengan pegawai kami. Bukan hanya itu, istri simpanannya telah membutakan suamiku. Dia tetap tak datang dan memilih pergi pada istri barunya meski pun anaknya sedang kritis di rumah sakit dan terus memanggil papanya. Bahkan sampai akhirnya anak kami meninggal dan tak pernah bertemu sang papa meski untuk terakhir kalinya.
ดูเพิ่มเติมIvy Pov
If anyone had told me I’d spend my last year of college tutoring and watching over the school’s golden boy, I would have laughed… loudly, crazily, maybe even enough to get kicked out of the dean’s office. And yet… here I was, sitting in Professor Reyes’ office, listening to why this arrangement was supposedly “beneficial” and how it would “boost my record” in getting my dream job at Kirkland & Ellis, one of the biggest law firms in the world. According to her, I needed to be part of the top twenty students they could consider, and this….this humiliating, soul-draining task was apparently my golden ticket. I hugged my notebook tighter, pretending the leather strap would shield me from the reality of the next few months. My brain kept whispering, Ivy, you’ve got this. It’s fine. You need this. Yeah, right. the other voice screamed, You’re fucked. Completely, utterly, no-come-back-from-this fucked. How the hell was I supposed to handle him? That asshole. He's the King of No Chills for a reason. Gosh, his fucking temper.. That arrogant bastard. Everyone threads carefully around him. And me? I was about to walk straight into his world. My chest felt tight. My hands were sweaty. My quiet little life? Ahh. Gone. Professor Dean Reyes leaned forward, her eyes sharp. “You’re one of our best students, Ivy. That’s why we chose you. You won’t just tutor him… you’ll make sure he passes. And that he doesn’t mess up his chances of getting drafted into the NHL. Your work will be noticed. Opportunities like this don’t come twice.” I nodded, letting her words sink in. But all I could picture was Ronan Hale… leaning back in his chair, wearing that smug grin, acting like algebra was beneath him. The golden boy everyone worshipped. The one who broke hearts and crushed egos without trying. And now? He was my responsibility. My assignment. My problem. My nightmare. Because if he didn’t get drafted into the National Hockey League, I could kiss my recommendation letter goodbye. “Of course,” I said evenly, hiding the part of me that wanted to run screaming out of the building. “I’ll make sure he passes.” Professor Reyes smiled, satisfied. I, on the other hand, wondered if I’d survive the semester… or if I’d even keep my sanity. That will be all for now,” Professor Reyes said, sliding a thin manila file across the desk toward me. I picked it up, the weight of it feeling heavier than just paper… this was my life for the next few months. “You can find his contact in there,” she continued, tapping the top of the folder. “Try to get to him before the end of the day. I expect good results within the next two months… before his big game, okay? Thank you again for doing this, Ivy. I knew I could count on you.” I forced a smile, the kind that hides panic under polite teeth. “Of course. Happy to help.” Her sharp eyes softened for the tiniest fraction of a second, then she leaned back and scribbled something on a notepad. That was my cue to leave. I tucked the file under my arm, heart already racing at the thought of tracking down Ronan Hale, the human embodiment of every headache and challenge I’d ever had. As I walked out of the office, I muttered under my breath, more to myself than anyone else… How hard can tutoring a golden boy be, Ivy? I pulled my phone out and dialed his number. Not once, not twice, not three times… six times. Six times… no response. “Ahhhhghhh!” I shouted, loud enough to make a passing student jump and glare at me. Great. First day. Already embarrassing. I threw my hands up, muttering curses under my breath, and typed a text instead: “Hi… I’m Ivy, your new tutor. Would you be available later, say, by 5 p.m., so we can start a study plan? Meet at the West wing libary” Sent. I glanced at the clock. Three o’clock. Perfect. Plenty of time… except that I was already late for lunch with my besties… Max, my sarcastic tech genius roommate, and Zoe, my cheerfully chaotic partner-in-crime who somehow manages to make even algebra seem fun. I sighed, stuffing the phone back in my bag. “What a great start,” I muttered, shaking my head. “I’m supposed to be saving my future and instead I’m babysitting the school’s golden disaster.” Max raised an eyebrow when I joined them at our usual table in the student lounge. “You look like someone just handed you a dead body for lunch,” he said, nudging my tray. “It might as well be,” I muttered, dropping into my seat. “I have to tutor Ronan Hale.” Zoe’s eyes went wide. “Wait… the Ronan Hale? Hockey captain, heartbreaker, king of no chill? That arrogant douche” “That’s him,” I said, stabbing at my salad with far more force than necessary. “And he’s ignoring my calls. Not that I’m surprised. He's probably somewhere doing what douches like him do.” Max snorted. “Oh, this I’ve got to see. Ivy Cross versus Mr. Perfect Hockey Boy. Who’s gonna win?” I rolled my eyes, but he wasn’t done. “Here I was thinking my last few months of college were going to be boring… and then voila! You bring the fun. You’re always a darling,” he said, giving my cheek a playful squeeze. I tried not to flinch, but I couldn’t help the small smile that tugged at my lips. Max always had a way of making the impossible feel… a little less impossible. I groaned, resting my head in my hand. “I’m not sure I want to find out. It all feels… impossible.” Max’s grin grew, clearly loving my meltdown. “Impossible? Ivy, you eat impossible for breakfast. Remember last semester? That 95 in Organic Chemistry? Yeah… that was all you. You’ve got this.” I blinked. “That’s chemistry… not… Ronan Hale.” “Oh, come on,” he said, leaning closer, voice all mock-serious. “You’ve got brains, patience, and… most importantly… he’s never faced you before. You’re going to crush him if he tries to mess with you. And when you do…” He wagged his eyebrows. “You’ll be the legend who tamed the untamable golden boy.” I rolled my eyes, but couldn’t stop a small laugh. My stomach twisted.. panic mixed with… maybe a tiny spark of excitement. Max’s grin was contagious. For a moment, I actually thought I might survive this nightmare. “Legend, huh?” I muttered. Max laughed, giving my shoulder a firm squeeze. “Yeah. Every legend needs a little drama, right? Now go in there, Ivy Cross. Show him why no one messes with you.” I drew a deep breath, letting his words sink in. Maybe… just maybe… I could do this.Sultan seperti orang linglung sejak setahun terakhir. Kabar mengejutkan yang dia dapatkan benar-benar membuatnya syok dan frustasi. "Saya ingin mengabarkan bahwa ... Em, Ibu Lala sudah meninggal dunia," ucap sipir hati-hati membawa kabar buruk itu. "Ap -apa?" "Operasi yang dilakukan tak berjalan lancar, bahkan menemui kegagalan. Ibu Lala dinyatakan meninggal bersama janin yang masih berada di dalam perutnya."Tubuh pria itu luruh. Sultan menyesal karena tidak mengetahui penyakit Lala, padahal Lala juga adalah istrinya. Dia bahkan memaksa wanita itu menjalani kehidupan berat di penjara. Laki-laki itu terus nenyalahkan diri sendiri di dalam penjara.Sultan yang saat itu hanya diizinkan melihat mayat Lala pun menangis histeris. Ketika tubuh Lala dikebumikan, Sultan benar-benar kehilangan harapan. Tidak ada lagi sosok Lala yang dicintainya. Pun Lala membawa pergi calon buah hati mereka yang selalu dinantikan oleh Sultan. Dia bahkan berpikir kalau kehadiran anak itu akan menggantikan so
Sultan merenung di dalam selnya. Pikiran pria itu masih terus bercabang hingga membuat kepalanya pusing setiap waktu. Bola matanya yang tampak cekung karena kurang tidur. Wajahnya seketika berubah kurus dan terlihat tua karena tak terurus. Memikirkan nasib ibu dan adiknya yang harus hidup tanpa dirinya, memikirkan nasib anak-anaknya yang kini tinggal bersama Ririn, dan juga Lala yang juga sedang dipenjara.Dulu Sultan menjadi orang pertama yang pasang badan untuk ibu dan adiknya. Pun untuk istri dan anak-anaknya. Akan tetapi, sekarang dia tampak tak berdaya dan hanya bisa berdiam di pojokan sel penjara.Meski Ririn sudah mencabut laporan atas tuduhan penculikan yang dilakukan oleh Lala dan ibu angkatnya, tapi Sultan dan Lala harus menjalani masa tahanan lima tahun sesuai dengan aturan yang tertulis di pasal 279 KUHP tentang pernikahan diam-diam tanpa izin dari pihak istri sah. Tak ada yang bisa dilakukan. Sultan pasrah dan tidak mau menyewa pengacara untuk meringankan hukumannya. Ka
Selepas kepergian David, Lala uring-uringan. Imbasnya dia jadi mengamuk kepada aparat yang sudah menahannya dan membuat aparat menyeretnya dengan paksa ke dalam sel. "Lepaskan saya! Lepaskan! Tempat saya bukan disini!" teriak Lala yang dipaksa masuk ke dalam sel oleh polisi. "Kalau Bu Lala tidak bisa tenang, kami akan memanggil dokter dan meminta dokter menyuntikkan obat penenang!" bentak aparat kepolisian wanita yang bertugas menjaganya."Nggak! Kalian mana ngerti gimana hidup gue hancur? Dia malah terus mengejek. Dia mantan yang ga tau diri. Udah miskin, gak bisa kasih ini itu ke pacarnya kaya pacar orang, eh belagu, hidup lagi! Apa salah kalau gue milih putus! Eh sekarang dia datang seolah- olah gue dulu penjahat!" Lala berteriak seperti orang gila tak peduli pada ancaman petugas. Malah bagus obat penenang itu, dia memang ingin tenang sekarang. Kesadaran hanya membuat perempuan itu tersiksa lahir dan batinnya. Terlebih sudah lebih seminggu tak ada kabar dari Sultan. Permintaan b
Sultan terperangah mendengar ucapan Dea. Gadis itu segera melanjutkan ucapannya sebelum Sultan semakin syok."Tapi, tenang aja, kata dokter Aditya Mama baik-baik aja. Cuma syok karena waktu itu aku bilang kakak dipenjara," lanjut Dea."Jadi Aditya yang menolong Mama?" lirih Sultan. Tak menyangka jika pemuda yang mereka benci justru adalah orang yang akan merawat salah satu dari keluarganya. Dea mengangguk. Ia tak bisa menangkap penyesalan di wajah sang kakak. Yang jelas, Sultan begitu karena sang mama ambruk di rumah sakit. Lelaki itu lalu meneteskan air mata. Merasa bersalah atas ibunya yang kini harus terbaring di rumah sakit karena memikirkannya. Aditya yang semula berdiri di ambang pintu bersama aparat pun masuk dan duduk di samping Dea."Bagaimana kabarnya Mas?" tanya Aditya. Pria itu harus mengumpulkan banyak keberanian jika ingin bersanding dengan wanita yang dicintainya yang tak lain adalah saudara perempuan narapidana di hadapan. Sultan bergeming. Kemudian menatap Aditya.
"Ya Allah, Ririn ini kenapa nggak jawab?" keluh ibunya sembari bolak-balik memencet nomor putri semata wayangnya. Wanita paruh baya itu terus cemas sejak siang, karena kabar terakhir Afif cucu pertamanya sedang demam tinggi dan belum turun sejak tadi malam. Namun, tak ada tanda-tanda Ririn mengirim
“La …!” panggilan itu tertahan, saat tiba-tiba terlintas di pikiran Sultan apa yang bisa terjadi ke depan jika dia nekad menemui Lala sekarang.Saat di mana perempuan cantik yang telah sah menjadi istri mudanya itu berada di tengah-tengah orang banyak. Bahkan perempuan itu sedang menjadi pusat perh
Ririn melihat sendiri dengan ke dua matanya, pria yang masih berstatus sebagai suaminya, lebih memilih mendatangi wanita lain ketimbang Afif yang sudah dikabarkan kritis oleh seorang perawat. Bahkan tadi, Ririn mendengar percakapan antara Sultan dan suster. Pria itu sudah tahu konsisi Afif, tapi ma
Lala terus berjalan dengan langkah gusar. Tiba –tiba saja, kelegaan yang ia rasakan kemarin saat Sultan mengatakan akan resmi bercerai dalam waktu dekat, berubah jadi kekecewaan berat. Semua itu hanya harapan palsu yang Sultan berikan padanya untuk menghiasi malam-malam indah mereka.“Eh, itu Lala












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.