Mag-log inSaat sekarat aku merawat suamiku Mas Sultan dengan sepenuh hati, tapi apa yang kudapat? Setelah dia sehat malah diam-diam menikah lagi dengan pegawai kami. Bukan hanya itu, istri simpanannya telah membutakan suamiku. Dia tetap tak datang dan memilih pergi pada istri barunya meski pun anaknya sedang kritis di rumah sakit dan terus memanggil papanya. Bahkan sampai akhirnya anak kami meninggal dan tak pernah bertemu sang papa meski untuk terakhir kalinya.
view more“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”Sultan seperti orang linglung sejak setahun terakhir. Kabar mengejutkan yang dia dapatkan benar-benar membuatnya syok dan frustasi. "Saya ingin mengabarkan bahwa ... Em, Ibu Lala sudah meninggal dunia," ucap sipir hati-hati membawa kabar buruk itu. "Ap -apa?" "Operasi yang dilakukan tak berjalan lancar, bahkan menemui kegagalan. Ibu Lala dinyatakan meninggal bersama janin yang masih berada di dalam perutnya."Tubuh pria itu luruh. Sultan menyesal karena tidak mengetahui penyakit Lala, padahal Lala juga adalah istrinya. Dia bahkan memaksa wanita itu menjalani kehidupan berat di penjara. Laki-laki itu terus nenyalahkan diri sendiri di dalam penjara.Sultan yang saat itu hanya diizinkan melihat mayat Lala pun menangis histeris. Ketika tubuh Lala dikebumikan, Sultan benar-benar kehilangan harapan. Tidak ada lagi sosok Lala yang dicintainya. Pun Lala membawa pergi calon buah hati mereka yang selalu dinantikan oleh Sultan. Dia bahkan berpikir kalau kehadiran anak itu akan menggantikan so
Sultan merenung di dalam selnya. Pikiran pria itu masih terus bercabang hingga membuat kepalanya pusing setiap waktu. Bola matanya yang tampak cekung karena kurang tidur. Wajahnya seketika berubah kurus dan terlihat tua karena tak terurus. Memikirkan nasib ibu dan adiknya yang harus hidup tanpa dirinya, memikirkan nasib anak-anaknya yang kini tinggal bersama Ririn, dan juga Lala yang juga sedang dipenjara.Dulu Sultan menjadi orang pertama yang pasang badan untuk ibu dan adiknya. Pun untuk istri dan anak-anaknya. Akan tetapi, sekarang dia tampak tak berdaya dan hanya bisa berdiam di pojokan sel penjara.Meski Ririn sudah mencabut laporan atas tuduhan penculikan yang dilakukan oleh Lala dan ibu angkatnya, tapi Sultan dan Lala harus menjalani masa tahanan lima tahun sesuai dengan aturan yang tertulis di pasal 279 KUHP tentang pernikahan diam-diam tanpa izin dari pihak istri sah. Tak ada yang bisa dilakukan. Sultan pasrah dan tidak mau menyewa pengacara untuk meringankan hukumannya. Ka
Selepas kepergian David, Lala uring-uringan. Imbasnya dia jadi mengamuk kepada aparat yang sudah menahannya dan membuat aparat menyeretnya dengan paksa ke dalam sel. "Lepaskan saya! Lepaskan! Tempat saya bukan disini!" teriak Lala yang dipaksa masuk ke dalam sel oleh polisi. "Kalau Bu Lala tidak bisa tenang, kami akan memanggil dokter dan meminta dokter menyuntikkan obat penenang!" bentak aparat kepolisian wanita yang bertugas menjaganya."Nggak! Kalian mana ngerti gimana hidup gue hancur? Dia malah terus mengejek. Dia mantan yang ga tau diri. Udah miskin, gak bisa kasih ini itu ke pacarnya kaya pacar orang, eh belagu, hidup lagi! Apa salah kalau gue milih putus! Eh sekarang dia datang seolah- olah gue dulu penjahat!" Lala berteriak seperti orang gila tak peduli pada ancaman petugas. Malah bagus obat penenang itu, dia memang ingin tenang sekarang. Kesadaran hanya membuat perempuan itu tersiksa lahir dan batinnya. Terlebih sudah lebih seminggu tak ada kabar dari Sultan. Permintaan b
Sultan terperangah mendengar ucapan Dea. Gadis itu segera melanjutkan ucapannya sebelum Sultan semakin syok."Tapi, tenang aja, kata dokter Aditya Mama baik-baik aja. Cuma syok karena waktu itu aku bilang kakak dipenjara," lanjut Dea."Jadi Aditya yang menolong Mama?" lirih Sultan. Tak menyangka jika pemuda yang mereka benci justru adalah orang yang akan merawat salah satu dari keluarganya. Dea mengangguk. Ia tak bisa menangkap penyesalan di wajah sang kakak. Yang jelas, Sultan begitu karena sang mama ambruk di rumah sakit. Lelaki itu lalu meneteskan air mata. Merasa bersalah atas ibunya yang kini harus terbaring di rumah sakit karena memikirkannya. Aditya yang semula berdiri di ambang pintu bersama aparat pun masuk dan duduk di samping Dea."Bagaimana kabarnya Mas?" tanya Aditya. Pria itu harus mengumpulkan banyak keberanian jika ingin bersanding dengan wanita yang dicintainya yang tak lain adalah saudara perempuan narapidana di hadapan. Sultan bergeming. Kemudian menatap Aditya.
“La …!” panggilan itu tertahan, saat tiba-tiba terlintas di pikiran Sultan apa yang bisa terjadi ke depan jika dia nekad menemui Lala sekarang.Saat di mana perempuan cantik yang telah sah menjadi istri mudanya itu berada di tengah-tengah orang banyak. Bahkan perempuan itu sedang menjadi pusat perh
Ririn melihat sendiri dengan ke dua matanya, pria yang masih berstatus sebagai suaminya, lebih memilih mendatangi wanita lain ketimbang Afif yang sudah dikabarkan kritis oleh seorang perawat. Bahkan tadi, Ririn mendengar percakapan antara Sultan dan suster. Pria itu sudah tahu konsisi Afif, tapi ma
Lala terus berjalan dengan langkah gusar. Tiba –tiba saja, kelegaan yang ia rasakan kemarin saat Sultan mengatakan akan resmi bercerai dalam waktu dekat, berubah jadi kekecewaan berat. Semua itu hanya harapan palsu yang Sultan berikan padanya untuk menghiasi malam-malam indah mereka.“Eh, itu Lala
Namun, yang membuatku memicingkan mata, berpikir keras dan tak mengerti adalah pria itu tidak mengejarnya. Dia hanya memanggil. Apa itu cukup?Apa itu artinya, mereka akan bercerai? Semudah ini kah keadaan berbalik?“Huh!”Mas Sultan yang berada tiga meter tak jauh dariku mengembus napas berat. Ke












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.