LOGINMay lihim na pagtingin si Diego sa isang introvert ngunit napakadedicated and compassionate co-employee na si Sandra. Bagamat isang single mother, hindi handlang ito kay Diego. Ito din ang dahilan kung bakit siya nagcall-off sa isang engagement.
View MoreNafkah dua puluh juta sebulan
Aku Reno, usia dua puluh tiga tahun, menikah dengan Rania seorang sarjana ekonomi. Dia sosok yang rajin, cerdas, penyabar, dan pandai berhemat. Aku suka pada Rania sejak di bangku SMP. Kami bertetangga, tapi aku baru mengenalnya lebih dekat sejak SMP. Karena di rumah, Rania jarang keluar.
Sebagai seorang arsitek gajiku tak menentu, tergantung proyek yang diterima. Setidaknya setiap bulan aku masih mendapatkan upah dari perusahaan.
"Assalamu'alaikum," ucapku sambil membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah Ayah sudah pulang," jawab istriku sambil berjalan menghampiri, meraih punggung tanganku dan menciumnya.
“Ini gajiku, kamu pegang ya, kamu yang atur semua kebutuhan kita. Aku percaya kamu pandai mengatur keuangan. Keahlianmu tak perlu diragukan lagi.”
“Satu, dua, tiga, ini banyak sekali sayang?” Istriku melanjutkan menghitung.
“Kirimkan sebagian untuk ayah dan ibumu.”
“Ini dua puluh juta?”
“Iya, Sayang, itu gajiku selama satu bulan. Jangan khawatir masih ada lagi bonus dan tunjangan.”
“Seharusnya Kamu simpan sebagian, jangan diberikan semuanya padaku. Bagaimana kalau ada keperluan mendadak? Aku sudah kirim uang untuk ayah dan ibuku dari sebagian gajiku sayang.”
“Bagilah sebagian rejeki ini juga untuk ayah dan ibumu. Insyaallah akan semakin berkah.”
“Bagaimana dengan ayah dan ibumu? Aku kirim juga ya?”
“Tak usah sayang. Mereka selalu tercukupi.”
“Aku masih ada sedikit tabungan. Kalau ada perlu, aku bisa minta ke kamu.”
“Baik Sayang, akan kupakai dengan baik uang ini. Aku transfer lagi ke rekeningmu 5 juta ya?”
“Sudahlah, itu semua buat kamu. Atur dengan baik ya.”
“Baiklah, terima kasih, Sayang.”
"Ayah sudah makan?"
"Belum, Ma, ayah lapar sekali ini.”
"Alhamdulillah, aku sudah menanak nasi dan lauk kesukaanmu, tempe penyet, sambal bawang.” Dengan senyum yang merekah istriku menceritakan dengan bangga menu masakannya.
Iya, aku suka sekali dengan menu tempe. Walaupun setiap hari aku harus makan tempe, aku tidak akan pernah bosan.
Syaratnya, tempenya harus baru digoreng. Nasinya juga harus baru, aku kurang suka kalau nasinya dingin, apalagi kalau ada bagian yang kering walaupun sedikit. Rasanya seperti mengganjal di lidah. Tapi istriku aneh, dia malah suka nasi dingin, terkadang ada keraknya juga, dia tidak pernah mengeluh. Katanya enak kalau ada keraknya, seperti makan kerupuk. Apa hubungannya coba?
Namun, aku tahu, karena ibuku pernah bercerita. Seorang istri, selalu berkata suka memakan nasi kering. Padahal dia berpura-pura. Hal itu dilakukan supaya tak ada nasi yang terbuang.
Tuh, ‘kan, kebanyakan cerita, nasiku jadi dingin nanti. Hahaha.
"Sayang, ambilkan nasi ya, ayah sudah lapar sekali," pintaku sambil melepas sepatu dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah mandi, nasiku pasti sudah menjadi hangat dan siap disantap.
"Siap bos," katanya dengan mengangkat tangan hormat sambil tersenyum.
Kantor Rania lebih dekat dengan rumah. Jadi dia lebih sering pulang sendiri. Kasihan kalau harus menungguku pulang kerja. Jadi Rania bisa segera memasak sebelum aku pulang.
Aku selalu memesan menu makanan yang sederhana pada istriku, agar dia belajar berhemat. Karena kita tidak pernah tahu kebutuhan di masa depan yang tidak terduga.
Coba lihat seperti saat ini, di masa pandemi, banyak orang-orang yang kesulitan. Alhamdulillah kami masih mempunyai simpanan, karena keahlian kami dalam mengatur keuangan. Kami harus pandai berhemat. Kebutuhan untuk masa depan tidaklah sedikit.
Setiap gajian, aku selalu membeli semua kebutuhan rumah. Beras, gula, minyak goreng, telur, dan kebutuhan untuk memasak. Istriku selalu mencatat apa saja yang dibutuhkan dan tak lupa menitipkan uang belanja, karena setiap menerima gaji, selalu kuberikan semua pada Rania.
Untuk belanja bahan makanan, juga selalu aku, sepulang kerja, aku mampir dulu ke pasar kaget dekat rumah. Semua sudah tersedia.
Tapi, aku kan tidak perlu bingung, paling cuma beli tempe atau tahu, cabai dan bawang. Biasanya sayur juga suka yang bening, seperti sayur bayam, sayur sop, atau tumis kangkung.
Aku juga kurang suka makanan bersantan, mungkin satu bulan sekali kami masak bersantan.
Kebanyakan bercerita nasiku jadi dingin benaran. Lihat saja, istriku cemberut.
"Sayang, main hape melulu, ayo dimakan, keburu dingin nasinya," omelnya.
Aku senang sekali mendengar omelannya.
Oke guys, saya makan dulu ya.
Nanti deh, aku akan bercerita, nikmatnya bawang dan cabai yang diulek, disiram minyak panas, terus tempe yang baru digoreng dipenyet di atas sambalnya. Yummy.
Ditambah dengan nasi hangat, apalagi makannya pakai tangan. Masyaallah, nikmat sekali.
“Jadi, mau jalan-jalan kemana kita hari ini?”
“Besok saja ya, aku sedikit lelah hari ini. Banyak sekali laporan yang harus kukerjakan. Tak usah jalan-jalan, uang ini harus digunakan dengan baik. Besok pulang kerja kita ke rumah ayah dan ibu saja, sekalian ke rumah ayah dan ibumu.”
“Oke Sayang,” jawabku.
Pada bulan berikutnya pernikahan kami, gaji dua puluh juta selalu kuberikan semuanya pada istriku. Namun, dia tetap mengirimkan lagi tiga juta ke rekeningku. Padahal aku sudah bilang tak perlu.
"Sudah, ini buat kamu semua sayang, kamu yang atur," ujarku.
"Enggak sayang, kamu juga butuh buat pegangan, kalau suatu saat kamu butuh, tidak perlu menungguku," bijak sekali jawabnya.
Dengan uang tujuh belas juta di tangan istriku, aku berharap dia pandai mengelola keuangan.
Istriku sarjana ekonomi. Sudah pasti aku yakin, dia pandai mengaturnya.
Tiga bulan pernikahan kami, semuanya tampak baik-baik saja. Istriku tidak pernah mengeluh masalah keuangan. Di bulan ke empat, mulai tampak masalah.
"Sayang, uang dua puluh jutanya aku pegang semuanya ya? Kalau ada perlu, minta saja.”
Aku kaget, kenapa jadi berubah?
"Eh, iya sayang, pegang saja. Nanti kalau perlu aku masih ada simpanan," jawabku untuk membuat hatinya senang.
Ada keinginan untuk bertanya, untuk apa uang sebanyak itu? Tapi, aku tahan. Lebih baik aku cari informasi dulu, jangan gegabah. Kasihan juga kalau nanti dia sedih, hanya karena masalah uang sepuluh juta. Pernikahan kami jauh lebih penting.
"Terima kasih, Sayang," dia peluk aku. Sepertinya bahagia sekali.
Semoga Engkau mudahkan rezeki kami Ya Allah, bukankah membuat istri bahagia, juga membuka pintu rezeki. Aamiin.
Menurutku bulan depan, ‘kan, aku bisa minta jatah lagi. Mungkin bulan ini dia memang sedang membutuhkan, aku ingin dia bahagia. Karena bahagiaku, juga bahagianya.
Tapi, semua tidak sesuai harapan, bahkan sampai satu tahun pernikahan kami, istriku meminta semua gajiku.
Sekarang, uang tabunganku sudah mulai menipis, aku harus berbuat apa? Sebenarnya masih ada simpanan, tapi untuk kebutuhan masa depan. Jarang sekali kupakai kalau belum keadaan darurat ataupun terdesak.
Bingung aku putar otak. Supaya istriku tidak marah. Mau minta, malu, dan takut membuatnya kecewa. Namun, kalau aku harus bertahan seperti ini, juga tak mudah.
Oh iya, muncul ide cemerlang.
"Loh sayang, kok masih tiduran? Apa enggak kerja?" tanya istriku
"Mobilnya mogok , dari tadi aku coba starter enggak bisa," jawabku dengan nada sedih.
"Gimana sih sayang, mungkin bensinnya habis. Mana kunci mobilnya, sini aku cek,” katanya sambil cemberut.
Asyik berhasil, batinku. Kudengar suara mesin mobil dihidupkan. Kulihat istriku masuk rumah, sambil tersenyum.
"Kamu tuh ya, teledor banget sih sayang, sampai kehabisan bensin gitu. Kalau tak ada uang, bilang saja, jangan diam. Aku, 'kan cuma menguji kamu sayang. Seberapa besar cinta kamu ke aku. Apa kamu tulus memberikan semua gajimu sama aku?" tuturnya panjang lebar dengan senyum yang bikin hati adem.
"Astaghfirullah, baiknya istriku, maaf ya sayang. Aku juga tak tega minta uang ke kamu. 'Kan sudah aku berikan ke kamu, rasanya kok malu kalau harus meminta balik lagi.” Tak terasa menetes air mataku.
"Sudah, buruan ganti baju, nanti telat sayang. Ini ada uang tunai lima ratus ribu, buat beli bensin dan kebutuhan lainnya. Maaf ya sayang, sudah membuat kamu ke pikiran," dia berjalan masuk kamar.
"Sayang, sudah aku transfer lima juta ke rekening kamu," dia menyodorkan gawainya, menunjukkan bukti transfer.
"Kebanyakan sayang, ini lima ratus ribu sudah cukup."
"Sudah sayang, jangan komentar terus, buruan berangkat kerja, nanti telat loh."
"Ashiap bos."
Kehidupan kami tampak sangat bahagia, istriku yang pandai menyimpan keuangan, tidak boros dan juga tidak pelit. Tidak rajin beli skin care juga. Eh, emak-emak tidak boleh sewot ya.
“Bulan depan gajinya aku transfer semua ke kamu ya sayang?”
“Jangan semua, Ayah pasti juga membutuhkan, ambillah seperlunya. Berikan sebagian untukku.”
“Aku ingin kamu yang mengelola semua keuangan Rania.”
“Baiklah, tapi Ayah juga harus berjanji, jangan takut untuk meminta jika membutuhkan.”
“Oke.”
After namin sa condo ni Diego, napag isip isip nya na we're gonna spend the sunday in tagaytay - sa bahay ng tita nya. He decided this kasi nga gusto lang niya ay masolo niya ako. Magkahawak kamay kaming naglakad patungo sa main door. Kita ang sayang sa aming mga mukha. Nilapat niya ang kanyang thumb at kusang nagbukas ito. Pareho kaming nakangiti sa isat isa hanggang may umagaw sa atensyon namin na siyang ikinagulat naming dalawa. Ang kaniyang tita Karla na nakaupo sa malaking sofa habang hawak hawak niya ang kaniyang red wine na nasa slim wine glass. Nakacross-leg ito at iniikot niya ang laman ng glass. "A-auntie?" Bigla siyang bumitaw sa hawak ko at agad siyang lumapit tsaka binigyan ng halik sa pisngi ang kaniyang tita Karla. "Kelan ka pa dumating?. Di ka man lang nagsabi at sana nasundo kita sa airport" sambit ni Diego sa kaniya. "I just had an urgent meeting this early morning sa Hyatt and I think it's best that I didn't let you know kasi mukhang abala ka sa iba" prangka
Dumiretso kami ni Diego sa tinutuluyan niyang Condo somewhere in Makati. Nasa panglabing limang palapag siya. Isang two bedroom na may balcony. Bilang lang ang mga gamit nito tulad ng mga pangkaraniwang appliances. Napakaminimalist ng area halatang well-maintained. Mayroon din itong mini living room. Isang sofa na pangtatlong upuan at center table na nakaharap sa 55" na TV. Di ko din maiwasang mamangha sa lugar. Dahan dahan kong nililibot at pinagmamasdan. Pagkatapos magbihis ito ng pambahay, napansin ni Diego ang reaksyon ko. "Soon dito ka na din titira, Mrs.Lopez" sabay ngiti sa sakin. Sa isip isip ko - Mrs.Lopez? Ang gandang pakinggan. Mangyayari kaya ito? Maya maya ay "gusto mong magshower?" Alok nito. "Dito ka na magweekend ha, please?" Lambing na pakiusap niya. Binuksan ko ang aking working bag sabay kuha sa damit kong gawa sa chalis na terno. Ito ang dinala ko para di maumbok sa bag. "Akala mo ah!" Payabang kong sabi. "Aba, nagready ka yata" nakatawang tugon sa a
Mag one week na kami ni Diego since I officially answered him. Araw araw hatid sundo niya ako. Hindi ko naman ito hinihiling subalit napakapersistent talaga niya. During Lunch bumababa kami para kumain together at dumadayo sa karinderya. Kung hindi naman ay nagyayaya siya sa parking tuwing small breaks. Ang dating nilulunod ang sarili sa trabaho, ngayon nakakapag chill out na din kahit papaano dahil kay Diego. Naalala ko pa nung nakaraan pinagbaon niya ako ng sinigang na baboy. Sa parking kami kumain. Tuwang tuwa ako kasi paborito ko nga ito. Dinalhan din niya ako ng patis at kalamansi. Grabe kuhang kuha talaga niya ang kiliti ko. Kahapon nga bigla ba naman ako chinat ng "pinapatawag ka ni Gie sa conference room". Ako naman agad naman akong pumunta. Nang binuksan ko ang pintuan, agad niya ako hinila patago sa sulok kung saan hindi kita ng cctv tsaka niya ako sinunggaban ng halik. Kinabahan ako don ng very very light. Hayy napakakulit talaga. Ngunit lingid sa kaalaman n
Sarap ng gabing pinagsaluhan namin ni Diego. Di ko pa man mawari ang mga susunod na kaganapan ay sinagot ko na si Diego nang walang pag aalin langan. Sa totoo ay masaya ang puso ko. I feel loved. I feel settled. And I feel safe. Wala nang hihigit pa sa nararamdaman ko ngayon. Nagising kaming dalawa na parehong nakangiti. Tanging ang kumot lang ang nakabalot sa aming mga katawan. Ang mga saplot namin ay nagkalat sa baba ng air bed. Papatirik na din ang haring araw. "I love you Sands!" Sambit ni Diego nang nakangiti sabay dampi ng halik sa aking noo. Nakaunan ako sa kaniyang braso habang magkayakap kami. "I love you,too!" Tugon ko tsaka binigyan ng smack kiss. "Ano gusto mong breakfast?" Aniya. "Ano bang baon natin?" Nakangiting tanong ko. "Gusto mo ba ng champurado at tuyo?" Tanong nito. "Wow may dala ka?" Tsaka tumango si Diego ng nakangiti. Ang bilis ng mga pangyayari. Magkasintahan na kami ni Diego. Tila ba isang panaginip lang. "Teka papainit muna ako ng t
Friday ng gabi, nagdecide akong itreat sila Chloe at Lola. Niyaya ko sila sa isang sikat na restaurant sa bayan. Ito ang naging routine ko para mas makapagbonding kaming tatlo. Nilalabas ko sila bago ako bumalik ng Maynila. Matagal ko na din sila niyaya magtour sa ibang bansa actually. Pero ito
Nagbabalak akong magsick leave lunes na lunes. Ano kaya ang ire-reason out ko? Pagkatapos ng lahat ng pangyayari sa weekend, wala akong mukhang maihaharap lalo na't nasa iisang team lang kami ni Diego. Nakailang text at missed calls siya pagkatapos niya ako ihatid sa bording house. Ngunit ni is
Mga 2 hours of driving nakarating kami sa tagaytay. Mag aalas singko na nang umaga at kita na ang sun rise. Bagamat mejo ramdam ko pa ang bigat sa aking ulo.. Pumasok kami sa isang exclusive village. May mga pine trees at halatang puro mayayaman at malalaking tao ang mga nakatira. Presko ang hangi
"Tara! Sands sabay ka na sakin".. sambit ni Deigo. Huminto siya sa tapat ko habang tinatangka kong magbook ng grab. Alas dos na ng umaga nang magkahiwa hiwalay kami ng team. Nahirapan na din akong magbook ng driver at pangalawang beses nang nacacancel. Lumabas kami ng buong team para icelebrate a












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.