Se connecterSetelah seluruh rangkaian diskusi dan pendataan karyawan selesai, Ethan menuntun Sarah masuk ke dalam mobil mewah mereka yang terparkir di halaman ruko.Di dalam kabin mobil yang tenang dan dingin, Sarah menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk pada posisi pengemudi sambil menghela napas lega seraya mengamati bangunan ruko dari balik kaca jendela.Ethan menarik lembut jemari istrinya, menggenggamnya hangat di atas pangkuan, "Bagaimana pikiranmu sekarang? Apakah sudah sepenuh setuju? Kamu liat kan tadi reaksi mereka sangat antusias..."Sarah menoleh, menatap manik mata Ethan dengan binar haru yang membuncah, "Ehm... Aku masih tidak menyangka bisnis eceran kecilku ini akan melompat sejauh ini."Ethan tersenyum tipis, memajukan tubuhnya untuk mengecup pelipis Sarah, "Kau pantas mendapatkannya. Lalu... bagaimana dengan posisi pimpinan cabang di ruko ini? Siapa yang mau kau tunjuk untuk memegang jabatan Branch General Manager dan Head of Admin?"Sarah tersenyum samar, pandangannya
"Ada yang ingin kubicarakan... tapi ini bukan bermaksud aku ikut campur bisnis pribadimu, oke?" ucap Ethan pelan seraya membelai lembut rambut Sarah yang menyandarkan kepala di pundaknya.Sarah mendongak menatap suaminya, "Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?""Tentang bisnis penjualan sepatumu ini... Daripada karyawanmu kelelahan setiap hari melakukan live streaming, mengurusi eceran, dan bersaing dengan ratusan penjual lain di sosial media... kenapa kau tidak sekalian mengambil Lisensi Penjualan Resmi (Sole Distributor) dari pabrik dan brand sepatu impor itu untuk seluruh wilayah Indonesia?"Sarah seketika menegakkan posisinya. Ia menatap Ethan dengan kedua mata terbeliak lalu mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, "Lisensi Resmi Pemegang Merek Tunggal? Sayang... itu sepertinya birokrasinya sangat sulit dan modalnya juga sangat besar..."Ethan terkekeh rendah. Ujung jemarinya menoel gemas puncak hidung istrinya, "Mungkin sulit bagi orang lain, tapi... aku bisa membantumu.""Se
Semua orang kekenyangan menyantap mie ayam yang rasanya memang sangat lezat. Sesuai perkataan Sarah sebelumnya, mereka diperbolehkan membungkus mie ayam untuk di bawa pulang jika masih ada yang tersisa.Maya membungkus dua porsi mie ayam untuk adik-adiknya di rumah. Karyawan yang lain pun turut membungkus untuk istri, ibu, bahkan pacar mereka.Sarah melakukan pembayaran penuh kepada bapak penjual mie ayam, yang menerima uangnya dengan wajah berseri-seri, "Terima kasih banyak, Mbak cantik..."Sarah menolehkan wajahnya pada Ethan, mengisyaratkan bahwa ini semua adalah permintaan suaminya yang menginginkan makan mie ayam khas Indonesia."Oh, terima kasih Bang Bule! Barakallah... Langgeng dan bahagia selalu ya Mbak dan Bang Bule!" ucap bapak penjual sumringah menatap Ethan
Tidak lama setelah obrolan hangat antara Sarah, Novi, dan Maya membicarakan gosip masa lalu mereda di mana Maya tetap tidak tahu-menahu soal hubungan kelam Sarah dengan Rafli dan Pitri terus berceloteh tanpa saringan, hingga membuat Sarah dan Novi tersenyum-senyum kecil, Ethan dan Azriel akhirnya tiba kembali ke halaman ruko."Mana mie ayamnya? Abangnya tidak jualan?" tanya Sarah seraya bangkit berdiri. Matanya memicing heran menatap Ethan dan Azriel yang kedua tangan mereka sama sekali tidak membawa bungkusan mie ayam.Novi dan Maya pun turut bangkit, memandang kedua pria di depan mereka dengan senyum terkulum.Azriel tertawa kecil seraya menggaruk tengkuknya, "Bang Ipar ingin penjualnya membawa langsung gerobaknya ke sini, Kak. Jadi, bapak penjualnya sedang dalam perjalanan. Tadi bilangnya mau mampir mengambil stok daging ayamnya dulu di rumah. Tidak jauh kok
"Ya Tuhan... tadi malam aku bermimpi Kak Sarah pulang. Ternyata beneran pulang!" seru Azriel antusias begitu keluar dari ruangan live streaming, lalu memeluk Sarah tanpa canggung.Ethan yang melihat istrinya di peluk pria muda di depannya, sengaja memalingkan wajah berpura-pura meneliti sudut lain ruangan, lalu memanggil Novi untuk segera membagikan oleh-oleh yang dibawakan Sarah untuk mereka semua."Makasih banyak ya, Kak Sarah dan Abang Ipar! Wah, ini oleh-oleh dari Moskow? Cantik banget!" seru Novi berbinar-binar seraya merengkuh sebuah bola salju hias yang dilengkapi figur boneka, penunjuk waktu, serta alarm yang sudah disetting oleh Sarah dengan waktu Jakarta."Kemarin kami sempat mampir ke Jepang dulu sebelum pulang ke sini. Itu ada oleh-oleh dari Jepang juga, dibagi rata ya buat semuanya," ucap Sarah yang sudah melepaskan pelukannya dari Azriel.Sarah membawa banyak sekali kudapan manis, permen, mainan, gantungan kunci, hingga omamori khas Jepang untuk Novi, Azriel, serta selur
Sarah terduduk di tepi ranjang dalam kamarnya. Sentuhan kenangan tentang orang tua yang tak pernah sempat ia dekap membuat dadanya berdenyut nyeri.Tak lama kemudian, pintu kamar terdorong pelan. Madam Maria melangkah masuk dengan tatapan serba salah dan penuh penyesalan. Wanita tua itu mendekat, lalu duduk di samping Sarah dan membawa tubuh cucunya ke dalam pelukan hangat yang erat."Maafkan Grandma, Sayang... Maafkan Grandma yang sudah membuatmu menangis..." bisik Madam Maria lirih, suaranya bergetar menahan sebak.Sarah menyandarkan kepalanya di bahu sang nenek, membiarkan air matanya membasahi pakaiannya."Semua ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Grandm
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya







