로그인"Ibu... apa maksud ikhlas tadi?" tanya Sarah kembali karena melihat Bu Indar dan Madam Maria sempat terdiam, seolah enggan menjawab."Buburnya sudah matang, yuk kita santap camilan sore dulu," ucap Bu Indar dengan bibir tersenyum tipis, mematikan kompor lalu meletakkan spatula di atas piring kecil."Uhm... Ibu dan Grandma sepertinya punya pembicaraan rahasia, ya?" kekeh Sarah ringan, memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaannya lagi.Sambil menikmati camilan sore bersama seluruh keluarga di meja makan, Sarah mulai menceritakan rencana besar pengembangan usaha penjualan sepatu impor di rukonya."Abah... Ethan tadi memberi saran agar bisnis sepatuku beralih menjadi Sole Distributor atau Distributor Tunggal untuk seluruh wilayah Indonesia di bawah naungan V.M Company..." tutur Sarah pelan setelah menelan bubur gandum dan mengunyah potongan kiwi serta berry dengan nikmat."Jadi kita tidak perlu lagi jualan eceran atau live streaming tiap hari. Fokusnya langsung ke distribusi skala nasio
Matahari mulai menggelincir ke ufuk barat saat suara deru mobil dan riuh tawa riang Tachi diiringi suara bariton Mister Konstantin bergema dari halaman kediaman Abah Rizal. Rombongan Bu Indar, Madam Maria, Mister Konstantin, dan Tachi telah kembali dari mall, disusul kepulangan Abah Rizal dari kantor V.M Company.Di dalam kamar, Sarah yang kelelahan setelah menjalani percintaan panas dengan Ethan sebanyak dua ronde terlelap dengan wajah merona dan bibir membentuk senyuman puas."Istirahatlah..." bisik Ethan lembut sembari mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Sarah.Sarah bergumam pelan, namun kelopak matanya tetap tertutup rapat saat Ethan mengelap lembut menggunakan handuk yang sudah dibasahi air hangat untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka pada sela pahanya.Ethan juga memakaikannya pakaian rumah nan nyaman pada Sarah yang tetap nyenyak tanpa terbangun sedikitpun. Ethan tersenyum tipis. Melihat istrinya yang sudah berpakaian rapi kini memeluk erat guling dan tertidu
Setelah seluruh rangkaian diskusi dan pendataan karyawan selesai, Ethan menuntun Sarah masuk ke dalam mobil mewah mereka yang terparkir di halaman ruko.Di dalam kabin mobil yang tenang dan dingin, Sarah menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk pada posisi pengemudi sambil menghela napas lega seraya mengamati bangunan ruko dari balik kaca jendela.Ethan menarik lembut jemari istrinya, menggenggamnya hangat di atas pangkuan, "Bagaimana pikiranmu sekarang? Apakah sudah sepenuh setuju? Kamu liat kan tadi reaksi mereka sangat antusias..."Sarah menoleh, menatap manik mata Ethan dengan binar haru yang membuncah, "Ehm... Aku masih tidak menyangka bisnis eceran kecilku ini akan melompat sejauh ini."Ethan tersenyum tipis, memajukan tubuhnya untuk mengecup pelipis Sarah, "Kau pantas mendapatkannya. Lalu... bagaimana dengan posisi pimpinan cabang di ruko ini? Siapa yang mau kau tunjuk untuk memegang jabatan Branch General Manager dan Head of Admin?"Sarah tersenyum samar, pandangannya
"Ada yang ingin kubicarakan... tapi ini bukan bermaksud aku ikut campur bisnis pribadimu, oke?" ucap Ethan pelan seraya membelai lembut rambut Sarah yang menyandarkan kepala di pundaknya.Sarah mendongak menatap suaminya, "Katakan, apa yang ingin kau bicarakan?""Tentang bisnis penjualan sepatumu ini... Daripada karyawanmu kelelahan setiap hari melakukan live streaming, mengurusi eceran, dan bersaing dengan ratusan penjual lain di sosial media... kenapa kau tidak sekalian mengambil Lisensi Penjualan Resmi (Sole Distributor) dari pabrik dan brand sepatu impor itu untuk seluruh wilayah Indonesia?"Sarah seketika menegakkan posisinya. Ia menatap Ethan dengan kedua mata terbeliak lalu mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, "Lisensi Resmi Pemegang Merek Tunggal? Sayang... itu sepertinya birokrasinya sangat sulit dan modalnya juga sangat besar..."Ethan terkekeh rendah. Ujung jemarinya menoel gemas puncak hidung istrinya, "Mungkin sulit bagi orang lain, tapi... aku bisa membantumu.""Se
Semua orang kekenyangan menyantap mie ayam yang rasanya memang sangat lezat. Sesuai perkataan Sarah sebelumnya, mereka diperbolehkan membungkus mie ayam untuk di bawa pulang jika masih ada yang tersisa.Maya membungkus dua porsi mie ayam untuk adik-adiknya di rumah. Karyawan yang lain pun turut membungkus untuk istri, ibu, bahkan pacar mereka.Sarah melakukan pembayaran penuh kepada bapak penjual mie ayam, yang menerima uangnya dengan wajah berseri-seri, "Terima kasih banyak, Mbak cantik..."Sarah menolehkan wajahnya pada Ethan, mengisyaratkan bahwa ini semua adalah permintaan suaminya yang menginginkan makan mie ayam khas Indonesia."Oh, terima kasih Bang Bule! Barakallah... Langgeng dan bahagia selalu ya Mbak dan Bang Bule!" ucap bapak penjual sumringah menatap Ethan
Tidak lama setelah obrolan hangat antara Sarah, Novi, dan Maya membicarakan gosip masa lalu mereda di mana Maya tetap tidak tahu-menahu soal hubungan kelam Sarah dengan Rafli dan Pitri terus berceloteh tanpa saringan, hingga membuat Sarah dan Novi tersenyum-senyum kecil, Ethan dan Azriel akhirnya tiba kembali ke halaman ruko."Mana mie ayamnya? Abangnya tidak jualan?" tanya Sarah seraya bangkit berdiri. Matanya memicing heran menatap Ethan dan Azriel yang kedua tangan mereka sama sekali tidak membawa bungkusan mie ayam.Novi dan Maya pun turut bangkit, memandang kedua pria di depan mereka dengan senyum terkulum.Azriel tertawa kecil seraya menggaruk tengkuknya, "Bang Ipar ingin penjualnya membawa langsung gerobaknya ke sini, Kak. Jadi, bapak penjualnya sedang dalam perjalanan. Tadi bilangnya mau mampir mengambil stok daging ayamnya dulu di rumah. Tidak jauh kok
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa







