LOGIN“Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har
Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerja Ragil. Aluna juga sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan akan bersikap biasa sampai mendapatkan jawaban yang pasti.Aluna duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi OTT, menonton serial drama yang diadaptasi dari novel. Aluna berusaha mengalihkan kegelisahan di hatinya, demi bayi yang dikandungnya ini.Entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Ragil nantinya, wanita ini akan tetap fokus dengan kehamilan nya. Aluna ingat dengan kata-kata Dirga kemarin.“Kamu sudah lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar detak jantung bayi itu pertama kali kemarin saat pemeriksaan dokter? Kamu lupa bagaimana perjuanganmu menahan semua mual demi mempertahankan dia?”Kalima
Aluna membuka matanya yang terasa berat. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya sebelum tersadar sepenuhnya adalah langit-langit kamar yang temaram, dan dirinya dirinya berada di dalam dekapan erat Ragil. Pria itu masih terlelap pulas dalam kondisi belum berpakaian, menyisakan sisa-sisa kehangatan dari pergulatan intim yang mereka lalui beberapa jam lalu.Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, Aluna berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan kekar Ragil. Kandung kemihnya terasa penuh, mendesaknya untuk segera buang air kecil. Ragil sempat melenguh pelan dan bergerak sedikit akibat pergeseran tubuh Aluna, namun sedetik kemudian pria itu hanya memutar arah tidurnya hingga kini posisi tubuhnya memunggungi Aluna.Aluna bergegas melangkah menuju kamar mandi, menutup pintunya rapat-rapat tanpa menimbulkan suara. Setelah menyelesaikan hajatnya, ia berdiri di bawah guyuran air hangat untuk sekalian membersihkan sisa-sisa percintaan mereka sore tadi. Rasa lelah fi
Wajah Ragil tampak begitu kusut. Setelan kemeja kerja mahalnya sudah berantakan dengan kancing atas yang terbuka, sedangkan dasinya pun sudah terlepas dan tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.Aluna yang masih berdiri mematung dengan sepasang mata membelalak sempurna di ambang pintu. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi ketika Ragil melangkah lebar dan langsung memeluk erat tubuhnya. Ragil mendekap Aluna begitu kencang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, seolah-olah dirinya sedang ketakutan yang akan kehilangan wanita itu dari hidupnya.“Mas…” lirih Aluna. Kedua tangannya menggantung kaku di udara dan tampak ragu untuk membalas dekapan tersebut.“Kamu dari mana saja? Aku sudah menunggu kamu di sini dari tadi, Luna,” bisik Ragil dengan suara yang serak dan bergetar tepat di telinga Aluna.Dahi Aluna mengernyit di balik dekapan hangat pria itu. Ia benar-benar tidak habis pikir melihat peruba
Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan sindiran tajam dari Anggun terus berdenging berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa batin.Di tengah langkahnya yang tertatih, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti mendadak tepat di sampingnya yang membuat wanita itu tersentak kecil. Ketika pengendara itu membuka kaca helm hitamnya, barulah Aluna menyadari jika pria itu adalah pria yang sangat dikenalnya.“Al? Kamu kenapa? Ngapain siang-siang begini jalan kaki di trotoar? Ini lagi panas banget, Al. Nggak baik untuk kondisi kamu,” tanya Dirga beruntun dengan nada suara yang dipenuhi rasa panik sekaligus heran melihat kondisi kacau wanita di hadapannya.Aluna tidak langsung menjawab. Sepasang matanya mendadak berkaca-ka
“Ini sudah hampir satu minggu, Mas. Bagaimana kelanjutannya? Kenapa sampai hari ini Anggun belum juga dipindahkan dari posisi sekretaris kamu?”“Bisa tidak, kita tidak usah membahas ini dulu?!”Ragil meletakkan sendoknya cukup keras ke atas piring porselen hingga menyebabkan bunyi denting yang nyaring dan memekakkan telinga. Suara yang tiba-tiba menggelegar di dalam keheningan ruangan itu seketika membuat Aluna terlonjak kaget. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan tangannya yang semula berada di atas pangkuan refleks mencengkeram kain gaun hamilnya sendiri.Badan wanita itu sempat gemetar halus. Ada kilat trauma yang merayap di dadanya, karena lagi-lagi dirinya harus melihat wajah Ragil yang mulai mengeras dengan urat-urat di sekitar rahang yang mengetat menahan amarah yang siap meledak. Namun sekuat tenaga Aluna menahan rasa takut itu jauh-jauh.Ia memaksa kedua matanya untuk tetap terbuka dan menatap lurus ke depan. Aluna sudah memutuskan di dalam hatinya bahwa dirinya tida
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Aluna menarik napas pelan lalu tersenyum tipis. Ia pun menganggukkan kepala dengan sopan.“Terima kasih, Anggun.”“Sama-sama, Bu Aluna,” jawab Anggun sambil membalas anggukan tersebut.Tak lama kemudian wanita itu melirik ke arah Ragil dan Pak Beni sebelum ke
Aluna turun dari mobil setelah pintunya dibukakan oleh seorang petugas keamanan yang berjaga di depan gedung. Ia tersenyum ramah dan mengucapkan terima kasih sebelum berjalan berdampingan dengan Pak Beni menuju pintu utama.Gedung kantor pusat itu menjulang tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan
“Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama
“Bagaimana, Ragil? Semuanya aman bukan?” tanya Pak Beni saat mereka tengah sarapan pagi itu.“Aman, Yah. Walau memang mereka sempat menunda-nunda, tapi semua aman,” jawab Ragil lugas.“Syukurlah kamu bisa menghandle semuanya disana,” kata Pak Beni sambil mengangguk.“Iya, Yah. Untung Ragil langsung







