เข้าสู่ระบบ
“Arka, ini upahmu buat minggu ini. Makasih ya, kamu selalu royal dan nggak pernah hitung-hitungan tenaga di lapangan,” ucap Bu Marta, mandor proyek, sambil menyodorkan amplop cokelat tebal ke depan Arka.
Arka Malik, cowok berusia 35 tahun dengan tubuh tegap berbalut kaos pudar yang masih penuh debu semen, menerima amplop itu.
Wajah tampannya yang terkesan dingin khas anak jalanan mendadak melunak saat mengintip isinya. “Wah, Bu Marta. Ini kayaknya kebanyakan deh. Nggak salah hitung?”
Bu Marta tersenyum hangat, membenarkan posisi kacamata minusnya. “Gajimu tetap sama, Arka. Itu bonus kecil dari saya buat beli susu formula khusus anakmu, Rania. Bukan buat kamu. Sana cepetan beberes, kamu ada sif malam lagi di warung burger, kan?”
“Makasih banyak ya, Bu Marta. Semoga kebaikan Ibu dibalas berlipat ganda,” jawab Arka tulus.
Sebagai ayah tunggal bagi bayinya yang baru berumur 4 bulan, Arka tidak punya waktu mengeluh. Dua minggu lalu, Viona—istri Arka sekaligus ibu Rania, memilih kabur bersama pengusaha kaya luar kota.
Bermodal mengirim pesan singkat, lalu meninggalkan bayi mereka begitu saja di tempat penitipan, kekasih Arka itu minggat.
Alih-alih hancur, insting preman jalanan Arka yang sempat mati kini bangkit demi satu tujuan. Yaitu menghidupi putri kecilnya yang alergi susu formula biasa. Kondisi itu memaksa Arka harus membanting tulang di dua tempat sekaligus.
Pukul delapan malam tepat, atmosfer riuh kedai burger cepat saji tempat Arka kerja paruh waktu terasa menyesakkan.
“Arka, antaran terakhir ke Grand Tulip Hotel kamar 502. Habis ini kamu bisa langsung absen pulang, Bro!” teriak teman kerjanya sambil menaruh kantong pesanan.
Arka mengangguk cepat lalu menyambar jaketnya. Di sela lampu merah jalanan Metro City yang padat, tatapannya teralih ke layar ponsel. Menatap foto Rania yang menggemaskan sebagai wallpapernya, terulas senyum tipis di bibir tegasnya, membuat rasa lelahnya menguap begitu saja.
Begitu tiba di lorong sunyi lantai lima Grand Tulip Hotel, Arka mengetuk pintu kamar yang dituju. “Permisi, pengantaran makanan dari Burger-Maknyus.”
Pintu terbuka, menampilkan pria paruh baya berkepala botak dengan perut buncit berbalut kimono mandi. Wajahnya langsung berkerut masam menatap Arka. “Lama banget sih! Saya komplain ke tokomu, ya! Bintang 1, tau!” gertaknya kasar.
Arka menurunkan pandangan, menahan egonya demi pekerjaan. “Mohon maaf atas keterlambatannya, Pak. Ada pengalihan arah di jalan utama,” jawab Arka tenang.
Pria botak itu mendengus, tapi matanya yang menyipit tiba-kira mengenali Arka. “Tunggu... kamu Arka, kan? Kuli bangunan di proyek Metro-Hub? Kamu kroco yang sering dipuji Marta?”
Arka tertegun. Dia mengenali pria di depannya sebagai Pak Bram, manajer regional divisi konstruksi tempatnya bekerja pagi hari—atasan dari Bu Marta. “Benar, Pak Bram. Saya—”
“T-tolong... siapa pun... tolong saya...”
Sebuah rintihan lirih, parau, dan sarat ketakutan memotong kalimat Arka. Suara itu jelas berasal dari dalam kamar hotel.
Ekspresi Bram langsung berubah panik. Tubuh tambunnya bergerak cepat mencoba menutup pintu. “Bukan apa-apa. Ambil uang kembaliannya dan cepat pergi dari sini, brengsek!”
Namun, gerakan refleks Arka jauh lebih cepat. Sepatu bot kulitnya langsung menahan celah pintu sebelum tertutup rapat. Tenaga kuli Arka membuat dorongan panik Bram terasa tidak ada apa-apanya.
“Pak, ada cewek yang minta tolong di dalam. Bapak nggak dengar?” tanya Arka, matanya kini berkilat tajam penuh selidik.
“Saya suruh pergi ya pergi! Ini urusan pribadi saya, sialan!” Bram memaki, wajah botaknya memerah menahan pintu.
Prank!!!
Suara pecahan benda berbahan kaca terdengar dari dalam kamar, disusul sesosok wanita cantik berambut panjang yang berjalan terhuyung. Gaun malamnya yang berkelas tampak kusut dan berantakan, wajahnya pucat dengan peluh dingin menetes di pelipisnya.
Tatapan matanya yang sayu beradu dengan manik mata Arka. “Bawa... bawa saya pergi... dia menjebak saya... tolong...”
Melihat mangsanya hampir lepas, Bram berteriak murka pada Arka, “Minggat kamu! Dia istri saya dan ini urusan kami! Kalau kamu berani melangkah masuk, saya bikin mampus kamu!”
Wanita itu menggeleng lemah, meremas ujung jaket Arka yang menembus celah pintu dengan sisa tenaganya. “Bukan... saya bukan istrinya... tolong saya, Mas...”
Arka Malik tahu konsekuensinya. Pria botak di depannya ini memegang kendali atas mata pencaharian utamanya untuk membeli susu khusus Rania. Kalau dia masuk, besok dia tidak akan punya pekerjaan.
Tapi, melihat seorang wanita tidak berdaya yang kesuciannya terancam direnggut secara paksa, nalar maskulin dan harga diri Arka sebagai pria berprinsip mendadak bergejolak.
‘Persetan sama si Botak!’ pikir Arka.
Dengan satu hentakan bertenaga, Arka mendorong pintu sampai Bram terhuyung ke belakang. Arka melangkah masuk dengan santai, mengabaikan Bram, lalu dengan sigap menyelimuti tubuh wanita itu menggunakan jaket kerjanya sebelum mengangkat tubuh ringkihnya ke dalam gendongan ala bridal style.
“Arka bangsat! Kamu saya pecat dari proyek! Kamu saya pecat malam ini juga!” teriak Bram histeris, tidak berani mendekat karena melihat postur intimidatif Arka yang bak monster jalanan.
“Kamu bakal mengemis di jalanan, dasar gembel miskin nggak guna!”
Arka menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh sedikit dengan senyum miring yang meremehkan. “Pecat aja, Pak Bram yang terhormat. Seenggaknya saya nggak perlu kerja di bawah perintah bajingan botak yang otaknya di antara dua paha.”
“Rambut aja ogah tumbuh di kepala Bapak, apalagi saya? Besok-besok fokus numbuhin rambut aja, Pak, jangan simpenan terus. Nggak takut sama bini di rumah?”
Arka kemudian “Mau saya viralin, nih?”
Wajah Bram seketika pucat pasi, mulutnya ternganga tanpa bisa membalas.
Dengan langkah tegap dan wibawa penuh, Arka berjalan menyusuri lorong hotel sambil mendekap erat wanita asing yang terus menggigil di pelukannya.
Langkah kaki Arka terasa ringan, meskipun dia tahu, malam ini hidupnya akan berubah total tanpa pekerjaan.
Suasana tegang di dalam lift hotel yang sunyi mendadak terasa canggung bagi Arka. Wanita asing yang ada di gendongannya ini perlahan mulai sadar akibat embusan AC yang dingin, membuat cengkeramannya di leher Arka sedikit mengendur.
Dengan jarak sedekat ini, wangi parfum mahal bercampur peluh dari tubuh si Nyonya mau tak mau langsung menusuk indra penciuman Arka—sebuah aroma kemewahan yang sangat asing bagi hidung seorang kuli bangunan.
Arka yang awalnya memasang tampang sangar bin intimidatif, perlahan mulai salah tingkah sendiri. Niatnya tadi memang murni kepahlawanan, tapi pergerakan perempuan itu mulai mengganggu.
Digendong dengan posisi seintim ini oleh pria asing rupanya membuat si wanita refleks bergerak gelisah hingga resleting gaun malamnya yang memang sudah agak melorot akibat ulah Pak Bram tadi, kini semakin merosot ke bawah.
‘Waduh, apaan tuh yang ngintip?’ spontannya merutuk dalam hati, ‘Ampun, Ndoro… kalau dilihat dosa, nggak dilihat mubazir!’
Sambil terus melangkah keluar dari lobi hotel dengan wajah sekaku papan tripleks proyek, Arka berdehem pelan untuk memecah keheningan, lalu berbisik dengan nada super lempeng tanpa dosa.
"Nyonya, maaf nih, mendingan pelukannya agak kencangan dikit deh. Itu... kismis Nyonya main mata ke saya terus."
Hembusan angin laut yang hangat menyambut kedatangan keluarga kecil itu begitu mereka melangkahkan kaki keluar dari bandara di Pulau Dewata. Setelah melewati masa-masa kelam yang cukup panjang, Bali menjadi pilihan sempurna bagi Arka Malik untuk memboyong istri dan kedua putri kecilnya menikmati masa liburan yang telah lama tertunda.Sebuah resort privat bergaya vila modern di kawasan Nusa Dua menjadi markas kecil mereka selama seminggu ke depan. Vila tersebut memiliki akses langsung ke pantai berpasir putih dan dilengkapi kolam renang pribadi di tengah taman tropis yang asri.Siang itu, matahari bersinar cerah di atas langit Bali. Suara gemericik air kolam berpadu manis dengan gelak tawa riang dari dua bocah kecil yang sibuk bermain air."Kalila, jangan ke tempat yang dalam! Sini dekat Kakak aja!" seru Rania dengan gaya yang sangat protektif.Anak perempuan berusia enam tahun itu berdiri tegak di area kolam dangkal. Dengan rompi pelampung berwar
Dua tahun telah berlalu sejak badai besar itu benar-benar menguap dari kehidupan keluarga Malik. Waktu telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik: menyembuhkan luka yang menganga, memudarkan sisa kepedihan, dan menggantikannya dengan tawa yang riang di setiap sudut rumah.Pagi itu, kediaman megah keluarga Malik terasa begitu hidup. Matahari bersinar cerah menembus pepohonan rimbun di halaman belakang, membiaskan cahaya keemasan ke atas rumput hijau yang basah oleh embun pagi. Dekorasi bernuansa warna merah muda dan emas tampak menghiasi area taman, lengkap dengan panggung kecil dan deretan kursi tamu yang tertata rapi.Hari ini adalah hari istimewa: ulang tahun Kalila yang kedua, sekaligus acara syukuran atas pencapaian baru perusahaan Arka yang makin sukses berkembang.Dari arah ruang keluarga, suara derap langkah kaki kecil terdengar berlarian menghentak lantai marmer. Kalila, yang kini sudah tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan dengan pipi tembam dan rambut ikal bergel
Info: Rania masih sekitar setahun lebih. Jadi sekolah yang dimaksud adalah taman bermain khusus anak-anak orang berpunya. Pagi itu, hujan deras mengguyur Kota Jakarta sejak subuh. Aroma tanah basah merembas masuk melalui celah jendela kaca kamar utama, menciptakan suasana hangat yang berbanding terbalik dengan dinginnya cuaca di luar.Kalila baru saja tertidur kembali setelah disusui oleh Gisel, sementara Rania sudah berangkat ke sekolah diantar oleh sopir pribadi mereka. Rumah megah itu mendadak menjadi sangat tenang, memberikan ruang yang sangat pas bagi dua insan yang telah lama memendam banyak kata.Arka berjalan mendekati tempat tidur membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap tipis. Pria itu meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu duduk perlahan di samping Gisel."Diminum dulu tehnya, Sel," ujar Arka lembut sembari menyodorkan salah satu cangkir kepada istrinya.Gisel menerima cangkir tersebut, menyesap tehnya sedikit, lalu menatap Arka lekat-lekat. "Makasih ya, Ka."A
Kepulangan keluarga kecil itu ke kediaman utama Arka Malik di kawasan Jakarta Selatan diliputi oleh suasana yang canggung dan serba salah. Rumah megah berarsitektur modern itu masih berdiri kokoh seperti dulu, namun kehangatan di dalamnya seolah perlu dihidupkan kembali dari awal.Arka tidak serta-merta bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pria itu sadar betul betapa besar luka dan rasa kecewa yang pernah ia tancapkan di hati Gisel. Oleh karena itu, sejak hari pertama mereka melangkah masuk ke rumah, Arka memilih untuk tahu diri. Ia tidak langsung tidur di kamar utama bersama Gisel, melainkan menata diri untuk tidur di sofa kamar atau kamar tamu sebelah.Fokus Arka kini sepenuhnya tercurah untuk menebus dosanya. Setiap pagi, sebelum Gisel bangun, Arka sudah lebih dulu menyiapkan keperluan Rania untuk sekolah. Pria yang dulunya selalu dilayani itu kini belajar memandikan Rania, menyisir rambut putri sulungnya dengan kaku namun telaten, hingga menyiapkan sarapan sederhana di me
Sebenarnya, hidup mereka dapat berjalan sempurna jika saja tidak diselingi oleh konflik batin Arka hingga memicu keputusan perpisahan yang konyol. Seharusnya mereka dapat melewati setiap momen berharga dan membesarkan anak-anak dengan penuh kebahagiaan.Namun, waktu terus berjalan. Seperti halnya roda kehidupan manusia pada umumnya, Gisel dan Adrian harus melewati masa naik dan turun yang teramat terjal.Dari masa-masa sulit tersebut, sebuah kesadaran menghampiri sanubari mereka. Terkadang kehidupan sengaja membiarkan manusia mengacaukan segalanya. Sebab melalui kegagalan, kesedihan, dan rasa patah hati itulah, manusia baru dapat memahami arti penderitaan yang sesungguhnya. Tanpa rasa sakit itu, manusia tidak akan pernah mampu menghargai setiap helaan napas, gelak tawa, dan kebersamaan dengan orang-orang tersayang.Hari terus berganti di Kota Zurich, namun kondisi fisik Adrian kian hari kian tidak memungkinkan. Kerusakan organ akibat penyebaran sel kanker membuat daya penglihatan dan
"Ka, kalau kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. Dan itu artinya, kamu harus berhenti jadi pria bodoh yang melarikan diri sendiri dalam rasa bersalah."Gisel menggigit bibir bawahnya erat-erat. Suara napas Adrian yang tersendat-sendat terdengar begitu menyayat hati saat melanjutkan diktenya."Kamu pikir kamu pahlawan, Ka? Kamu pikir dengan kamu kabur dan 'menyerahkan' Gisel ke aku, kamu udah bikin semua orang bahagia?”“Kamu salah besar, Arka. Kamu cuma pengecut yang lari dari kenyataan. Kamu ninggalin Gisel dalam keadaan hamil tua tanpa kamu tahu betapa hancurnya dia merawatku dalam penderitaan."Gisel meneteskan air mata tepat di atas kertas, membuat tinta hitam itu sedikit meluber. Namun ia tetap memaksakan jemarinya menari m







