ANMELDENTuan Baskoro mengangkat tangan kanannya ke udara, sebuah gestur mutlak yang seketika memotong perdebatan sengit antara Ani dan Silvy. Wajahnya yang sarat akan guratan otoritas sama sekali tidak tersentuh oleh drama air mata ibu dan anak di hadapannya."Cukup! Kami ke sini bukan untuk menonton kalian saling berteriak. Silvy, keputusan kami sudah bulat. Kamu kami anggap tidak mampu mengasuh Dara dengan baik. Selama kamu masih membiarkan ibumu mengontrol rumah ini dan menjadikan cucu kami sebagai alat sirkus, Dara tidak aman bersamamu!" seru Tuan Baskoro, suaranya menggelegar dingin di ruang tamu yang sempit itu.Mendengar vonis tersebut, insting seorang ibu di dalam diri Silvy seketika berontak. Rasa takut kehilangan anak mengalahkan segala rasa malunya pada mertua. Silvy bangkit berdiri, lalu berlari seketika ke dalam kamar. Di sana, Dara yang baru saja terbangun dengan wajah bantalnya langsung didekap erat-erat oleh Silvy.Silvy membawa Dara keluar ke ruang tamu, memegangi tubuh ke
Ketegangan dari ruangan Bayu, beralih ke rumah Silvy. Jarum jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi ketika dua buah mobil sedan mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan pagar rumah.Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok sepasang paruh baya berpenampilan sangat elegan dan berwibawa. Mereka adalah orang tua kandung dari mendiang Baron, kakek dan nenek dari Dara. Sebagai bagian dari dinasti pengusaha yang sangat kaya raya dan dihormati di kalangan jetset, kedatangan mereka yang mendadak tanpa pemberitahuan seketika membuat dada Silvy berdegup kencang. Firasat buruk langsung menyergap benaknya.Silvy bergegas membukakan pintu depan, sementara Ani mengekor di belakang dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya."Mama... Papa..." sapa Silvy, suaranya bergetar halus saat mencium tangan kedua mertuanya.Namun, tidak ada kehangatan yang menyambutnya. Ibu kandung Baron, Nyonya Citra, hanya menarik tangannya dengan dingin. Wajahnya yang terawat kencang itu tampak kaku, meman
Sementara di ruang kerja Bayu suasananya penuh akan rencana perhitungan, suasana di kediaman Paman Heru justru berbanding terbalik. Gelak tawa kemenangan Tasya menggema renyah di ruang tengah, meruntuhkan sisa-sisa ketegangan akibat insiden pelabrakan malam sebelumnya.Sore itu, Tasya duduk di sofa utama dengan kaki yang tumpang tindih, memegang cangkir tehnya dengan gestur yang teramat anggun. Di hadapannya, Paman Heru dan istrinya, Mama Tasya sedang mendengarkan setiap bait cerita putri mereka dengan binar mata yang penuh rasa bangga."Papa, Mama, kalian harus lihat sendiri bagaimana muka Maudy tadi siang di koridor kantor! Begitu aku tunjukkan map kontrak kerja dengan jabatan manajer regional, mukanya langsung pucat pasi! Dia benar-benar membeku, tidak berkutik sama sekali. Pasti di dalam hatinya dia syok dan iri setengah mati melihat pencapaianku!” seru Tasya, disusul tawa puas yang sengaja dikeras-keraskan.Mama Tasya, yang memang memiliki sifat sama kompetitifnya, langsung me
Maudy melangkah cepat menuju lift khusus eksekutif. Rasa bingung yang bercampur aduk dengan kejengkelan membuat langkah kakinya terdengar ketus di atas lantai marmer. Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, ia langsung melewati meja Cindy yang sempat menyapanya dengan terkejut, dan langsung mendorong pintu ruang kerja Bayu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.BRAK.Suara pintu yang terbuka agak kasar itu membuat Bayu yang sedang fokus membaca berkas di balik meja kerjanya mendongak terkejut. Begitu melihat sang istri masuk dengan wajah memerah menahan kesal sembari menjinjing kotak makanan, Bayu langsung meletakkan penanya. Ia bangkit berdiri dengan dahi berkerut, menyadari ada sesuatu yang tidak beres."Maudy? Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu sampai seperti itu?" tanya Bayu, melangkah cepat menghampiri istrinya.Maudy meletakkan paper bag berisi makan siang itu di atas meja sofa dengan sedikit sentakan. Ia bersedekap, menatap suaminya lekat-lekat dengan napas yang masih sediki
Keesokan harinya, matahari ibu kota bersinar terik, memantulkan kilau kemegahan gedung pencakar langit milik Bayu. Di dalam salah satu ruang rapat lantai eksekutif, Tasya duduk dengan posisi tegak, senyuman percaya diri tak pernah lepas dari wajahnya yang dipoles riasan tebal. Di hadapannya, tiga orang panelis dari pihak Human Resources Development (HRD) berkali-kali mengangguk kagum membaca rangkuman riwayat hidup dan ijazah kelulusan luar negeri milik Tasya.Proses wawancara berjalan sangat mulus, persis seperti yang sudah diprediksikan Tasya semalam. Mengingat posisi Manajer Pemasaran Regional yang dilamarnya memang membutuhkan kualifikasi internasional, pihak HRD langsung memberikan lampu hijau. Hari itu juga, Tasya dinyatakan diterima bekerja dan diminta menandatangani kontrak kerja untuk mulai aktif di awal minggu depan.“Pa, aku benar benar diterima,” tulis Tasya pada pesan singkat yang dia kirim untuk Papanya. Dan tidak butuh waktu lama, heru membalas pesan putrinya dengan
Mendengar racunan dendam putrinya yang kian tak terkendali, Heru mengembus napas berat. Ia tahu betul watak Tasya yang keras kepala dan selalu kompetitif jika sudah menyangkut nama Maudy. Namun, ancaman dingin dari Bayu di ruang perjamuan tadi masih menyisakan efek jeri yang nyata di benak Heru. Ia tidak ingin posisi keluarganya yang baru saja menata kaki di ibu kota langsung hancur berantakan hanya karena obsesi Tasya.Heru berdeham keras, mencoba mencairkan ketegangan yang pekat di ruang keluarga itu dengan mengubah topik pembicaraan ke arah yang lebih produktif."Sudah, Tasya. Simpan dulu semua kekesalanmu tentang Maudy. Lebih baik sekarang kita bicara tentang masa depanmu. Kamu sudah menganggur cukup lama sejak lulus kuliah di luar negeri kemarin. Rencana kepindahan kita ke rumah baru ini kan juga salah satunya agar kamu bisa mulai merintis karier di sini," potong Heru dengan nada suara yang lebih serius.Mendengar kata karier, sorot mata Tasya yang semula penuh kebencian seket
Setelah satu jam menunggu, Pintu ruangan CEO itu akhirnya terbuka perlahan, menampakkan sosok Maudy yang tampak sedikit lelah setelah perdebatan panjang di ruang rapat. Namun, rasa lelah itu seolah tersapu angin ketika dia melihat Bayu benar-benar masih ada di sana, duduk dengan sabar di sofa milik
Ketegangan di ruangan depan ruang kerja Bayu seolah membeku sesaat setelah suara bariton sang Komisaris memecah keributan. Bayu berdiri mematung di ambang pintu, menatap dua wanita di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa lelah yang amat sangat di matanya, terutama setelah drama
Siang itu, lobi kantor pusat perusahaan yang kini dipimpin Bayu tampak tenang dengan hiruk-pikuk profesional yang teratur. Namun, ketenangan itu seketika terusik saat pintu kaca besar terbuka, dan Lyra melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Penampilannya hari ini benar-benar mencolok. Dia menge
Rio merasa geram. Namun dia tidak punya pilihan. Dia segera memacu mobilnya menuju apartemen Lyra. Setibanya di sana, sia menemukan Lyra sudah menunggunya di balkon, menatap pemandangan kota dengan gaun sutra yang melambai ditiup angin. Tanpa basa-basi, Rio langsung berdiri di hadapannya."Gimana







