LOGINPunya suami pemalas dan pengangguran ditambah mertua yang memperlakukannya dengan buruk membuat hidup Larasati dibawah tekanan. Apalagi penghasilannya yang hanya guru honor di sebuah SD sangat sedikit, membuatnya harus putar otak mencari tambahan. Namun malangnya, ibu mertua malah menginginkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain disaat dirinya mencoba sabar dan setia. Mampukah Larasati mempertahankan rumah tangganya atau memilih mundur dan menyerah?
View MoreLautan api menyelimuti seluruh kekaisaran langit, puluhan ribu prajurit mati dan yang tersisa hanya mereka yang terluka parah. Kekaisaran langit yang dulunya menguasai benua kini berubah menjadi reruntuhan hanya dalam waktu satu malam.
Di dalam istana kekaisaran, terdapat dua orang disana yang masih hidup.
“Apa kamu memiliki kata terakhir?”
Chen Gu terbaring dengan tubuh yang dipenuhi luka. Matanya melirik ke arah orang yang menghunuskan pedang di depannya.
“Semua ini... Apa semua ini kamu yang merencanakannya?”
Pria itu tersenyum dan berkata, “Tanpa aku mengatakannya kamu sudah mengetahui jawabannya. Lalu, selamat tinggal!”
Pria itu mengangkat pedangnya dan menusuk jantung Chen Gu.
**
“Gelap dan dingin... Apa aku sudah mati?”
Chen Gu tiba-tiba melihat sebuah cahaya yang mendekat.
“Cahaya apa itu? Apa mungkin itu tempat istirahat terakhirku?”
Cahaya itu semakin mendekat dan Chen Gu merasakan kehangatan dari cahaya itu.
“Hangat... Kenapa cahaya itu memberikanku rasa nyaman?”
Cahaya itu semakin mendekat sampai akhirnya memenuhi semua penglihatan Chen Gu.
Setelah cahaya itu menghilang, Chen Gu melihat dua wajah, seorang pria tampan yang gagah dan wanita cantik.
“Siapa mereka? Apa mereka penjaga di dunia kematian?”
“Tunggu, kenapa tubuhku terasa begitu berat?”
Chen Gu mencoba untuk menggerakan tangannya. Namun saat menggerakan tangannya, Chen Gu melihat sebuah lengan kecil.
“Apa ini? Kenapa lenganku menjadi kecil? Apa mungkin aku terkena kutukan atau semacamnya?”
“Tunggu! Bukankah aku sudah mati? Apa mungkin aku terlahir kembali?”
Chen Gu mencoba untuk menenangkan dirinya dan memperhatikan dua orang yang sedang menatapnya dengan senyuman.
“Istriku, bukankah bayi kita terlihat begitu lucu? Dia terus menggerakan tangannya yang mungil itu.”
“Benar, dia terlihat begitu menggemaskan.”
Meski seorang bayi, Chen Gu tentu menyadari perkataan dari dua orang yang menatapnya itu dan merasa kesal.
Dirinya seorang kaisar yang memerintah benua. Orang-orang bahkan tidak ada yang berani untuk menatapnya secara langsung, akan tetapi kedua orang itu menatapnya dan mengatakan kalau dirinya seorang yang imut.
Namun Chen Gu tidak bisa melakukan apapun, karena menggerakan tubuhnya saja sudah begitu sulit.
Dan dengan begitu Chen Gu mulai mencoba untuk memahami kehidupan keduanya.
Pada kehidupan keduanya ini, Chen Gu menyadari beberapa hal yang luar biasa menurutnya yaitu tubuhnya.
Meski tubuhnya saat ini begitu berat dan sulit digerakan, Chen Gu bisa merasakan bakat yang luar biasa dari tubuh kecilnya itu, terutama terhadap elemen api.
Di kehidupan sebelumnya, Chen Gu juga seorang pengguna api. Walaupun dulunya dia dijuluki sebagai pengguna api terkuat, Chen Gu sebenarnya hanya memiliki bakat api yang biasa-biasa saja. Dirinya bisa mencapai puncak dan menjadi seorang kaisar, karena teknik kultivasi miliknya yang luar biasa kala itu.
Jika dirinya yang sekarang dengan bakat api menggunakan teknik kultivasi di kehidupan sebelumnya, Chen Gu mungkin bisa mencapai ketinggian yang tidak bisa dirinya raih saat di kehidupan sebelumnya.
Waktu demi waktu terus berjalan dan tanpa terasa sudah 8 tahun Chen Gu terlahir kembali. Tubuhnya yang berumur 8 tahun sudah bisa dia gerakan dengan cara yang lebih baik. Selain itu, di umurnya yang sudah 5 tahun, Chen Gu sudah memulai kultivasinya.
Teknik kultivasi yang Chen Gu pelajari bernama sutra naga api. Teknik itu Chen Gu temukan di sebuah reruntuhan kuno dalam kehidupan sebelumnya. Saat itu Chen Gu masih belum menjadi seorang Kaisar dan hanya seorang kultivator biasa, akan tetapi setelah mempelajari teknik tersebut, Chen Gu mulai mendapatkan kekuatan yang luar biasa dan mengubah kehidupannya.
Chen Gu saat ini duduk di bawah sebuah pohon sambil melakukan kultivasi. Sekeliling tubuhnya terlihat pancaran warna merah yang merupakan ciri khas dari teknik sutra naga api yang dia pelajari.
Setelah beberapa saat Chen Gu membuka matanya dan menghembuskan napas yang membawa asap putih.
"Tubuh ini terlalu luar biasa. Jika di masa lalu tubuhku seperti ini mungkin tidak akan ada yang bisa mengalahkanku."
"Tapi aku tidak boleh terlalu gegabah. Meski tubuh ini bisa menerobos lebih cepat, aku harus tetap menahan diri agar pondasinya bisa stabil."
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya dan saat menatap ke depan, Chen Gu melihat seorang anak perempuan yang mendekat.
"Kakak Gu, Ibu memanggil untuk kembali!"
"Baiklah, aku akan kembali bersamamu."
Gadis kecil itu bernama Chen Qin. Dia merupakan adik dari Chen Gu yang baru berumur 6 tahun.
Chen Gu dan Chen Qin kembali ke rumah kecil tempat mereka tinggal. Saat masuk ke dalam rumah, Chen Gu melihat kedua orang tua mereka yang sudah menunggu di meja makan.
"Chen Gu, apa kamu bermain di dalam hutan lagi?"
Pria tampan berambut biru itu bernama Chen Ying. Dia merupakan ayah dari Chen Gu dan Chen Qin. Lalu wanita yang berada di dekatnya adalah ibu Chen Gu yang bernama, Ning Rou.
Setelah tinggal bersama dengan mereka selama 8 tahun, Chen Gu merasakan kehangatan sebuah keluarga yang tidak bisa dia dapatkan di kehidupan sebelumnya. Pada kehidupan sebelumnya, Chen Gu bahkan tidak mengenal siapa orang tuanya dan hidup sebatang kara.
"Chen Gu, kenapa kamu diam saja disana? Apa kamu tidak ingin makan?" tanya Ning Rou sambil tersenyum.
"Jika kakak Gu tidak menginginkannya maka berikan saja semuanya padaku!" potong Chen Qin.
Chen Gu tersenyum dan berkata, "Aku sangat lapar, jangan ambil bagianku!"
Chen Qin langsung mengembungkan pipinya, sedangkan kedua orang tua mereka hanya tertawa melihat itu.
"Chen Gu, minggu depan kamu akan mengikuti upacara kebangkitan. Apa kamu sudah siap?" tanya Chen Ying.
"Wahh... Kakak... Setelah kamu melewati upacara kebangkitan, kamu bisa menjadi seorang kultivator. Ibu, apa aku juga bisa mengikuti upacara itu?"
"Hahaha... Tentu saja, tetapi kamu perlu 2 tahun lagi untuk bisa mengikutinya." Chen Gu berkata sambil mengusap kepala Chen Qin.
Chen Gu menghadap ke arah ayahnya dan berkata, "Aku sudah sangat siap untuk mengikuti upacara kebangkitan."
"Setelah kebangkitanmu selesai, aku akan memberikanmu sebuah teknik kultivasi. Dengan menggunakan teknik kultivasi itu, kamu bisa menjadi seorang kultivator yang sebenarnya."
Selepas itu, Chen Gu kembali ke kamarnya dan melakukan kultivasi seperti biasanya. Setiap selesai makan malam, Chen Gu akan melakukan kultivasi selama 3-4 jam. Chen Gu bisa saja melakukan kultivasi sepanjang malam, akan tetapi tubuhnya masih tubuh anak-anak sehingga membutuhkan tidur untuk mengistirahatkan tubuh.
Chen Gu membuka matanya dan merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi kekuatan yang begitu besar.
"Satu minggu lagi! Aku ingin melihat seperti apa kebangkitan yang akan aku buat nanti."
Biasanya orang-orang akan melakukan kultivasi setelah selesai upacara kebangkitan. Namun Chen Gu sudah melakukan kultivasi di umur 5 tahun. Chen Gu tidak tahu akan seperti apa jadinya saat upacara kebangkitan nanti.
"Kamu itu terlalu keras kepala, Laras!" Suara Nilam menggema di dalam kafe kecil yang sepi. Laras menatap sahabatnya dengan alis bertaut. Matanya menyipit, jelas tidak suka dengan nada menekan yang digunakan Nilam."Aku nggak keras kepala," Laras membalas datar. "Aku cuma tahu batasanku."Nilam mendengus. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan kasar di meja. "Batasan? Laras, kamu udah terlalu lama ngebatasin diri sendiri! Sampai kapan mau terus begini?"Laras menghela napas. Pembicaraan ini lagi. Setiap kali mereka bertemu, topik ini selalu muncul. Seolah-olah ada magnet yang menarik mereka ke arah yang sama, ke arah yang penuh dengan ketidakpastian dan ketakutan."Kalau ini soal Arman, aku nggak mau bahas.""Tapi aku mau!" Nilam menyela cepat. "Dengar ya, Ras. Nggak gampang ketemu laki-laki baik di dunia ini. Apalagi yang mau bantu kamu tanpa pamrih. Kamu tahu sendiri Arman itu bukan orang sembarangan. Dia punya segalanya. Tapi tetap aja dia peduli sama kamu. Masa kamu nggak ngerasain
"Kamu harus ngerti keadaan, Laras! Ini bukan buat Roni aja, tapi buat keluarga kita juga!"Suara Erlin menggema di ruang tamu rumahnya yang sempit. Matanya menatap tajam ke arah Laras, yang berdiri tegak dengan wajah pucat. Rasa cemas dan marah berkumpul di dadanya, membuatnya sulit bernapas."Apa maksud Ibu?" Laras menahan gemetar di suaranya, tapi kedua tangannya sudah mengepal di sisi tubuhnya. Ia berusaha menahan emosi yang ingin meledak."Roni itu butuh istri yang bisa ngurus keluarga ini, bisa bantu ekonomi, bisa—"Laras tertawa sinis, memotong ucapan mertuanya. "Bisa nyenengin kalian semua, maksudnya?"Plak!Tangan Erlin melayang cepat, menampar pipi Laras dengan keras. Suaranya memecah keheningan, dan Laras tertegun dengan rasa sakit yang mendalam."Kamu jangan kurang ajar, ya!" Erlin melotot, napasnya memburu. "Selama ini keluarga kita udah cukup sabar sama kamu! Ngasih makan kamu, nerima kamu! Sekarang, Roni mau nikah lagi, kamu harus ngerti! Kalau nggak mau, silakan pergi d
"Bu Laras, tolong revisi laporan ini. Ada beberapa data yang kurang sesuai." Suara sekretaris kantor, Bu Rini, terdengar tegas. Laras menatap berkas yang baru saja ia serahkan, lalu mengangguk cepat. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil kembali kertas itu. Rasa cemas dan ketidakpastian menyelimuti pikirannya. "Baik, Bu. Saya perbaiki sekarang." Bu Rini mengangguk tanpa senyum, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Laras menelan ludah, menatap layar komputer dengan cemas. Ini baru hari ketiga ia bekerja sebagai asisten pribadi Arman, dan rasanya ia masih sangat jauh dari kata terbiasa. Setiap detik di kantor ini terasa seperti pertaruhan, dan ia tidak ingin mengecewakan atasan barunya. Ia memang sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi dunia kerja kantoran jauh berbeda dengan dunia mengajarnya dulu. Ada banyak istilah baru yang harus ia pahami, banyak prosedur yang belum ia kuasai. Rasa nostalgia melanda saat ia mengingat kelas-kelas yang pernah ia ajar, di mana ia bisa ber
"Kamu pikir gampang, Laras?! Dunia ini kejam, nggak ada yang bantu orang tanpa pamrih!"Laras terdiam, tangannya mengepal di balik meja kayu tua di warung kecil tempat ia dan Nilam duduk. Suara Heri masih terngiang di telinganya, meski lelaki itu sudah pergi beberapa menit lalu. Kata-kata Heri itu seperti belati yang menusuk jiwanya, menyisakan perasaan ketidakpastian yang menggelayuti pikirannya."Nanti juga kamu bakal tahu sendiri, Laras. Orang kaya tuh nggak ada yang benar-benar tulus," lanjut Heri tadi, dengan senyum meremehkan sebelum ia berlalu. Kekecewaan dan kemarahan bercampur menjadi satu dalam diri Laras, membuatnya merenungkan kembali semua yang telah terjadi dalam hidupnya.Laras menarik napas panjang. Matanya mengarah ke Kania yang duduk di ujung meja, sibuk memainkan sedotan di gelas plastik kosongnya. Bocah itu tampak lelah, tapi tidak mengeluh. Laras mengagumi semangat Kania yang tak kunjung padam, meski mereka telah melalui banyak kesulitan. Ia ingin sekali memberika






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews