MasukSetelah tiga tahun pernikahan, cinta pertama Rajasa Fontier kembali, membuat Salma Valois sepenuhnya merasa tak lagi memiliki kesempatan memiliki hati suaminya. Namun saat ia ingin bercerai, pria itu malah menciumnya dan berkata, "Kalau kamu sangat menginginkan lelaki sampai gak tahan, aku akan berikan kepadamu apa yang kamu mau."
Lihat lebih banyak“Lantai ini harus cukup bersih sampai kau bisa melihat bayangan wajah menjijikkanmu di sana, Revana.”
Revana Jovanka, gadis cantik berusia 24 tahun itu kini tengah bersimpuh dengan lutut gemetar.
Baru seminggu yang lalu dia berdiri tegak dengan toga wisudanya sambil memegang ijazah sarjana dengan mimpi setinggi langit.
Kini, mimpi itu runtuh. Sebagai ganti nyawa Carlo Leonardo yang tewas dalam kecelakaan sabotase yang didalangi ayahnya, Revana harus menanggalkan harga dirinya.
Seragam pelayan yang dikenakannya terasa terlalu tipis, kasar, dan menghina, potongan kain abu-abu kusam yang menandakan kasta terendahnya di rumah ini.
Damian Leonardo berdiri di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak ujung jemari Revana yang sedang memegang kain pel.
“Kau dengar aku, Revana?” Damian menekan sepatunya hingga membuat Revana meringis tertahan.
“D-dengar, Tuan Damian,” bisik Revana parau. Matanya yang sembap menatap lantai karena tak berani mendongak.
“Bicara lebih keras! Di mana harga diri putri tangan kanan ayahku yang hebat itu?” Damian menjambak rambut Revana dan memaksa gadis itu mendongak hingga lehernya terasa ingin patah.
“Ayahmu membunuh ayahku. Dia mengkhianati kepercayaan keluarga ini demi tumpukan uang Moretti. Dan sekarang, kau adalah cicilan pertama dari utang itu.”
“Ayahku tidak mungkin melakukan itu,” rintih Revana. Air mata jatuh melewati pipinya yang memar. “Dia sangat setia pada Tuan Carlo. Dan Anda pun tahu itu, Tuan Damian.”
Pria berusia 34 tahun itu menyunggingkan senyum sinis lalu menekan bahu Revana dengan keras hingga membuat Revana meringis kesakitan.
“Aturan pertama di rumah ini,” Damian membungkuk dan membisikkan kata-katanya tepat di telinga Revana yang berdenging.
“Kau tidak punya hak untuk membela pengkhianat. Kau tidak punya hak untuk bicara kecuali aku memerintahkannya. Jika kau membuka mulutmu lagi tanpa izin, aku akan memastikan adik SMA-mu, Arkan, tidak akan pernah sampai ke sekolahnya besok pagi.”
Revana tersedak isak tangisnya sendiri. Nama adiknya adalah rantai yang mengunci seluruh keberaniannya. Dia tahu Damian tidak main-main. Keluarga Leonardo menguasai polisi, pelabuhan, dan nyawa di kota ini.
“Maafkan aku, Tuan,” bisik Revana dan tubuhnya gemetar hebat. “Aku akan bekerja sebaik mungkin di rumah ini.”
Damian berdiri tegak lalu merapikan jasnya dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia tidak baru saja menyiksa seorang wanita.
“Bagus. Habiskan sisa malam ini dengan membersihkan seluruh koridor sayap barat. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya selesai!”
Langkah kaki berat Damian mulai menjauh, namun suara langkah kaki lain terdengar mendekat. Terlalu santai, tidak seperti langkah Damian yang begitu tegas dan menakutkan.
“Wah, wah. Jadi ini 'pembayar utang' yang kau bicarakan, Damian?”
Sebuah suara yang lebih ringan dan bernada ceria terdengar. Revana tetap menunduk, namun dia bisa melihat sepasang sepatu sneakers mahal berhenti di depannya.
Itu Raphael, si bungsu berdiri dengan tangan terlipat di dada, tengah menatapnya dengan ekspresi yang lebih ceria dibanding Damian.
“Namanya Revana, kan? Cantik juga,” Raphael berjongkok di depan Revana bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Damian.
Dia lalu mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh dagu Revana yang kotor. “Hei, manis. Jangan menangis begitu, nanti matamu yang indah jadi bengkak.”
“Jauhkan tanganmu darinya, Raphael,” geram Damian dari kejauhan.
Raphael sontak tertawa kecil, suara tawanya terasa seperti musik yang salah di tempat yang salah.
“Ayolah, Damian. Dia pelayan baru kita, kan? Aku hanya ingin menyapa mainan baru di mansion ini. Siapa tahu dia lebih asyik diajak bicara daripada patung-patung di lorong ini.”
“Dia bukan mainan, Raphael,” ucap Damian dengan nada rendah dan tenang. “Dia adalah peringatan. Peringatan tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba menusuk punggung Leonardo.”
Damian kembali mendekat satu langkah hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Revana. “Bersihkan noda-noda sisa kopi itu dari lantai sampai bersih, Revana.”
Revana hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar kembali memeras kain pel di ember yang airnya sudah mulai kotor akibat noda kopi yang tumpah di ruang tengah itu.
Damian kemudian berjalan ke arah adik bungsunya, matanya menyipit tidak suka melihat perhatian yang adik bungsunya itu berikan pada Revana. Dia kemudian mencengkeram bahu Raphael dan menariknya menjauh.
“Jangan pernah menganggapnya lebih dari sampah, Raphael,” tegas Damian dengan nada memerintah.
“Dia ada di sini bukan untuk menghiburmu. Dia adalah anak dari pria yang membuat ayah kita terkubur di bawah tanah. Dia pelayan rendahan yang menanggung dosa ayahnya. Perlakukan dia sebagaimana mestinya seorang budak.”
Raphael mengangkat bahunya dan memberikan kedipan mata sekilas pada Revana saat Damian berbalik.
Raphael kemudian melangkah mendekati Revana dan menatapnya dengan tatapan lekatnya. Tangannya terulur pada pucuk kepala Revana dan mengusapnya seperti peliharaan baru di rumah itu.
“Tentu, Bos. Tapi budak pun perlu diberi makan, kan? Kalau dia mati kelaparan, siapa yang akan membersihkan sepatuku?”
“Dia akan makan jika pekerjaannya selesai. Dan sejauh ini, aku belum melihat lantai ini mengkilap,” potong Damian dingin.
Damian kemudian menatap Revana untuk terakhir kalinya malam itu. “Ingat, Revana. Setiap tetes keringatmu adalah penebusan. Jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan menerima potongan tubuh adikmu di depan pintu kamar pelayanmu!”
Ran menjadi pucat. Dia terhenyak. Dengan babak belur dan mulut robek Ran bertanya memastikan, "Salma itu istrimu?"Rajasa tidak suka ketika mendengar cara Ran menyebut nama Salma seolah-olah dia akrab. Dia menghantamkan gagang pistol ke dahi Ran, sepenuhnya membuat pria itu jatuh dan kehilangan kesadaran. Rajasa diam selama beberapa menit. Lalu kepalanya bergerak, dan pandangannya bertemu dengan Salma. Wanita itu telah berdiri tegak, kemejanya telah terpasang dengan benar. Tatapannya terlalu datar. Tidak ada rasa takut, kemarahan ataupun kekecewaan apapun. Lalu tanpa mengatakan apapun, Salma berbalik dan berjalan tenang keluar dari gudang. Suasana hati Rajasa semakin buruk. Dia tersenyum sinis saking kesalnya. Pria itu menyusul Salma dengan cepat, lalu meraih tangan wanita itu. Salma yang tidak menyangka akan di tarik sedikit terkejut, namun dia kemudian kembali terlihat tenang. "Rajasa, lepaskan tanganku.""Kamu nggak ingin mengatakan apapun padaku?"Salma mengerutkan kening. Se
Mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen Winda, wanita itu dilemparkan begitu saja ke pinggir jalan. Lalu mobilnya melaju pergi. Dengan lutut berdarah dan tangan gemetar, Winda meraih ponselnya. Dia menelepon polisi. Ketika tersambung, suara dingin di seberang berkata, "Nona Winda, nggak usah ikut campur urusan orang itu. Lebih baik kamu masuk ke rumahmu, makan dan tidur."Wajah Winda menjadi semakin pucat. Dia sadar pria penculik itu bukan orang sembarangan. Bahkan dia telah menyiagakan orang di kepolisian. Dia punya akses menyuap para polisi! Panggilan itu diakhiri secara sepihak. Winda nyaris hendak membanting ponselnya. Kepada siapa dia harus minta tolong?Saat itu, sebuah nama singgah di benaknya. Rajasa Fontier. Biar bagaimanapun, dia masih suami Salma. Pria itu adalah pengendali kota Yugos di balik layar, bahkan bisa membolak-balikan semuanya dengan sesuka hati. Dengan penuh tekad, Winda menghentikan taksi, lalu menyebutkan alamat perusahaan utama Grup Fontier. Ketika
Salma berada di apartemennya, duduk di depan sketsa dengan pensil di tangannya. Dia baru saja hendak menggoreskan sesuatu ketika ponselnya berdering. Nama Winda tampak di sana. Salma meletakkan pensilnya lalu mengangkat telepon, "Halo." Suara Winda terdengar, "Salma. Aku dalam posisi nggak baik." Sikap duduk Salma menjadi tegak, "Kamu kenapa?" Winda terdengar sangat tertekan, "Aku di sandera. Dan orang ini hanya mau melepaskanku kalau kamu datang. Aku... " Suara Winda terpotong, tergantikan dengan suara serak seorang pria, "Nona Salma, sebaiknya kamu datang sekarang, atau kamu nggak akan lihat wanita ini selamanya." Salma mengernyit, "Apa yang kamu inginkan?" "Kamu akan tahu kalau sudah datang kesini." Salma hendak membuka mulut, namun suara pria itu kembali terdengar, "Suruh pengawalan itu mundur, kamu harus datang sendiri, atau aku akan meledakkan kepala sahabatmu. Salma, aku dan orang-orangku mengawasi gerak-gerikmu. Aku harap kamu nggak gegabah. Nyawa temanmu nggak
Valeri masuk ke ruangan privat tersembunyi di bar Haven, seorang pria berwajah tegas berpakaian semi formal dengan banyak tato melingkar di tangannya, menatap Valeri dengan tajam dari dalam ruangan. Pria ini adalah seorang yang sangat berpengalaman dalam dunia hitam, wajahnya yang tegas dan keras langsung memberikan kesan atas sifatnya dalam sekali lihat. "Ran, kamu sudah mendapatkan apa saja dalam penyelidikanmu?" Valeri bertanya dengan tidak sabar. Pria yang di panggil Ran menjawab, "Identitas Salma itu sangat dilindungi. Aku juga bahkan melihat ada beberapa orang mencurigakan disekitarnya. Mereka seperti hamba yang mengabdi pada tuannya."Valeri menyipitkan matanya, "Dia ini, apakah seorang borjuis yang nggak dikenal?" Biar bagaimanapun, apa yang terjadi telah memberikan sebuah pemahaman baru pada Valeri. Perlindungan Salma terlihat terlalu ketat dan tidak bisa dilakukan para orang biasa. Wanita itu juga muncul di resort Asmara di kamar tipe eksklusif yang hanya bisa ditebus ol












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.