INICIAR SESIÓNTaman belakang mansion keluarga Winata terasa begitu tenang, gemericik air yang memanjakan telinga, pemandangan hijau yang menyegarkan mata, benar-benar sempurna.
Namun keindahan itu berbanding terbalik dengan hati Hazel yang dipenuhi kegelisahan akan apa yang akan terjadi setelah ini.
Lantas, Soraya berhenti secara perlahan di depan deretan t
"Mas yakin kita harus masuk ke sini? Tempat ini... terlihat sedikit tidak meyakinkan." Ucap Hazel Ragu.Lantas, gadis itu menatap bangunan kayu besar di hadapan mereka berdua dengan pandangan yang penuh waspada.Bangunan itu tampak sangat tua dengan cat cokelat yang sudah banyak mengelupas di berbagai sisi dindingnya.Suasana di sekitar tempat itu juga sangat gelap, sunyi, dan hanya menyisakan suara gemuruh air hujan yang turun semakin deras.Satu-satunya sumber cahaya di teras bangunan tersebut hanyalah sebuah lampu bohlam kuning kecil yang tampak berkedip sesekali.Kabut tebal yang turun dari arah gunung juga membuat jarak pandang mereka berdua menjadi sangat terbatas di kala sore menjelang malam itu.Adrian yang berdiri di samping Hazel sambil menjinjing dua koper besar dan tas mereka sebenarnya juga merasakan keraguan yang sama.Namun, ia tahu bahwa bertahan di dalam mobil yang mogok di tengah jalanan sepi dan gelap seperti ini jauh lebih berbahaya untuk keselamatan mereka."Saya
"Pegang sabuk pengamanmu erat-erat sekarang, Hazel!"Suara bariton Adrian terdengar sangat lantang dan tegas, berusaha mengalahkan suara bising dari guncangan keras ban mobil mereka.Secara spontan, satu tangan Adrian terulur ke arah depan dada Hazel, menahan tubuh istrinya agar tidak terlempar ke arah depan kaca mobil.Sementara tangan kanannya mencengkeram kuat kemudi mobil, mengendalikan arah kendaraan agar tidak menabrak pohon besar di pinggir jalan raya.Mobil hitam itu akhirnya berhasil berhenti dengan selamat di bahu jalan yang sangat sepi, menyisakan kepulan asap tipis dari arah roda belakang.Hazel mengatur napasnya yang memburu dengan tangan yang memegang dadanya yang berdetak sangat kencang karena terkejut."Kamu tidak apa-apa? Ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat khawatir.Pria itu langsung memutar tubuhnya, memeriksa seluruh bagian tubuh Hazel dari kepala hingga ujung kaki untuk memastikan istrinya tidak terluka.Hazel menggele
"Mas tidak perlu merasa terpaksa melakukan liburan ini hanya karena kejadian kemarin, Mas Adrian."Kalimat itu keluar begitu saja karena Hazel khawatir jika Adrian mengajak pergi keluar kota hanya karena merasa bersalah setelah tidak melibatkan dirinya dalam urusan penahanan Damian beberapa hari lalu.Adrian yang mendengar kalimat lirih itu hanya diam sesaat, memperhatikan gerak-gerik istrinya yang tampak sangat cemas."Saya tidak pernah melakukan sesuatu karena terpaksa, Hazel," jawab Adrian dengan suara baritonnya yang tenang."Terlebih lagi kita sudah sepakat sebelumnya untuk melakukan perjalanan ini," lanjut Adrian sambil berjalan mendekat ke arah kasur.Hazel menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat baju, lalu mendongak perlahan untuk menatap wajah tampan suaminya yang kini sudah berdiri di dekatnya."Jadi, tolong katakan kepada saya sekarang. Kamu lebih menyukai suasana pegunungan yang berudara dingin, atau resort di dekat pantai yang hangat?" tanya Adrian.Hazel terte
"Lupakan saja kejadian di atas kasur malam itu, Hazel. Anggap saja saya tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu padamu."Kalimat yang keluar dari mulut Adrian saat Hazel baru saja menginjakkan kaki di dapur pagi itu langsung membuat langkahnya terhenti seketika.Hazel menatap punggung suaminya yang sedang berdiri membelakanginya sambil memegang cangkir kopi. Suasana dapur yang tenang mendadak berubah menjadi sangat canggung.Beberapa hari setelah demamnya sembuh, ini adalah kali pertama Adrian berbicara dengan kalimat yang cukup panjang, meski isinya berupa permintaan maaf yang terdengar sangat kaku.Pria itu berbalik perlahan, menghindari kontak mata langsung dengan Hazel. Ujung telinganya terlihat sangat merah, menunjukkan betapa ia merasa tidak enak hati karena sempat bersikap manja."Maksud saya, saya minta maaf karena sudah lancang memelukmu dengan sangat erat waktu saya tidak sadar karena demam," lanjut Adrian dengan suara baritonnya yang datar.Hazel sempat terdiam beb
"Mas Adrian... tolong lepaskan sebentar. Aku tidak bisa bernapas dengan benar kalau dipeluk sekencang ini," bisik Hazel dengan suara yang bergetar karena panik.Di atas tempat tidur mereka, Adrian justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Hazel. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hazel, seolah sedang mencari kenyamanan ekstra.Hazel benar-benar dibuat bingung dengan tingkah laku suaminya malam ini. Wajah Adrian terasa sangat panas menyentuh kulitnya, menandakan bahwa demam pria itu belum juga turun sejak siang tadi.Hazel bisa merasakan hembusan napas hangat Adrian yang menerpa lehernya. Sentuhan fisik yang begitu dekat ini biasanya akan memicu alarm kewaspadaan di kepala Hazel akibat trauma masa lalu.Namun anehnya, malam ini Hazel tidak merasakan ketakutan yang sama. Ada rasa asing yang perlahan merayap di dadanya, sebuah perasaan ingin melindungi pria yang biasanya selalu melindunginya."Dingin, Hazel... jangan pergi," gumam Adrian dengan suara rendah yang ter
Hazel menatap layar ponselnya dengan napas yang tertahan. Kalimat bernada ancaman dari nomor tidak dikenal itu benar-benar membuat seluruh tubuhnya seketika menjadi dingin karena ketakutan.Dadanya kembali terasa sangat sesak, dan telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya langsung kacau, dipenuhi rasa bingung dan takut yang mendalam."Siapa lagi orang ini? Bukankah Damian sudah ditahan di kantor polisi?" batin Hazel dengan sangat cemas, merasa heran mengapa teror dalam hidupnya belum juga berakhir.Dia mencengkeram ponselnya dengan erat, merasa bingung harus berbuat apa. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu depan yang diputar dari luar.Hazel tersentak dari lamunannya, lalu segera menoleh ke arah pintu masuk rumah minimalis mereka. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok suaminya.Adrian melangkah masuk dengan gerakan yang terlihat sangat lambat dan tidak sekuat biasanya. Jas kerjanya masih melekat di tubuh, namun dasinya sudah tampak







