LOGINGesa tak pernah menyangka, suratan takdir kembali mempertemukannya dengan Evan, luka masa lalu yang membuatnya sulit move on. Gesa berpikir, dunia kadang tak adil. Laki-laki yang dulu kerap mem-bully, mengintimidasi, dan menjatuhkan mentalnya kini menjadi atasannya. Evan masih sama seperti dulu. Dia selalu mencari kesalahan Gesa, meremehkan, meragukan kemampuannya, dan tidak menghargai kinerjanya. Evan adalah cinta pertama sekaligus orang yang melukai Gesa begitu dalam. Gesa berpikir ia harus pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Evan jika ingin terbebas dari penyiksaan mental yang Evan lakukan terhadapnya. Ada satu peristiwa dramatis yang mengubah hidup mereka selamanya. Kenyataan bahwa ayah Evan bersahabat dengan almarhum ayah Gesa di masa lalu menautkan kisah mereka dalam perjodohan yang pernah disepakati keduanya. Mereka tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Andre Baskara Anderson, ayah Evan. Keduanya terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa cinta. Status pernikahan tak mengubah interaksi keduanya di kantor. Hubungan mereka tetap dingin. Evan bertahan dengan arogansinya. Akankah keegoisan Evan terus bertahan di kala Gesa lelah dengan segala perlakuan buruknya? Atau Evan sudah siap untuk kehilangan Gesa selamanya?
View More“Bryan, ini gajimu untuk minggu ini. Terima kasih karena kau selalu royal dan tidak perhitungan dengan tenaga.” ucap mandor proyek saat menyodorkan sebuah amplop berisi upah yang berhak Bryan terima.T
"Terima kasih, Ibu Bos. Tidak perlu seperti itu, aku menyukai pekerjaanku di sini.” Bryan menjawab. Di depan atasan wanitanya, pria bertubuh tegap yang wajah tampannya itu masih belum bersih dari debu proyek itu membuka isi amplopnya, “Wah, ini banyak sekali. Apa tidak salah?”
“Gajimu tetap seperti minggu-minggu sebelumnya. Aku hanya menambahkan sedikit, itu untuk putrimu bukan untukmu.” jawab wanita berkacamata itu padanya sambil tersenyum.
“Terima kasih, Bu Bos. Semoga keluargamu selalu sehat. Salam untuk suamimu juga.” Bryan menjawab dengan wajah terharu.
Atasannya berdiri dan mendekat pada Bryan, “Sudah, sudah Pergilah sekarang atau kau akan terlambat. Kau masih harus ke kedai ayam goreng, kan? Hati-hatilah di jalan dan tetap semangat, Papanya Lizzie!” atasannya itu menanggapi sambil mendorong Bryan keluar dari ruang kerjanya.
Bryan Frank, pria berusia 35 tahun itu memang seorang kuli bangunan di proyek pembuatan rumah sakit daerah Ostal Town, tapi ia juga pekerja di sebuah toko ayam goreng cepat saji pada malam harinya. Bryan disukai para rekan kerjanya karena ia tidak pernah perhitungan tenaga dan kinerjanya selalu memuaskan.
Semua itu Bryan lakukan untuk memenuhi kebutuhannya dan juga putri semata wayangnya yang masih berusia 4 bulan. Ya, Brian adalah seorang ayah tunggal bagi Lizzie setelah kekasihnya—Shelly Brown pergi meninggalkan Bryan dan bayi mereka karena satu alasan klise, uang.
Dua minggu lalu, Shelly meninggalkan Lizzie di tempat penitipan anak dan setelah itu mengabarkan pada Bryan lewat pesan singkat kalau ia akan menikah dengan pria tua kaya di luar kota. Hubungan tanpa pernikahan dengan Bryan membuat wanita tamak harta itu tidak berpikir dua kali untuk tetap bersama Bryan membesarkan bayi mereka.
Alhasil, Bryan harus menerima nasibnya mengurus sang bayi sendirian. Akan tetapi, pria berhati tulus itu tidak merasa terbebani dengan hadirnya Lizzie karena ia begitu menyayangi putri cantiknya itu.
“Hai, Super Dad. Ini orderan terakhir. Kau bisa pulang setelah mengantarkan pesanan ini ke alamatnya. Hati-hati di jalan, Bro!” Stu, rekan kerja di toko ayam goreng itu segera berlalu setelah berucap pada Bryan.
“Hmm, kau juga. Tutup tokonya dengan benar atau gelandangan nakal akan mencuri ayammu di frezzer, haha!” Bryan bergurau dan setelah itu mengambil pesanan yang harus ia antarkan di atas meja.
“Aster Motel? Untuk apa memesan ayam goreng? Apa di tempat itu tidak menyediakan menu ayam goreng tepung? Ada-ada saja.” Bryan bergumam, “Ah, sudahlah. Aku hanya harus mengantarkan ayam ini ke pelanggan dan menjemput Lizzie-ku yang manis.” sambungnya mengabaikan sedikit keanehan tentang pelanggan motel yang notabene menyediakan makanan, malah memesan ayam goreng tepung mereka.
Jalanan padat dan cenderung macet. Di sela waktu menunggu lampu merah berganti, Bryan melihat waktu pada layar ponselnya. Bukannya fokus melihat jam, ia malah teralihkan pada wajah si kecil menggemaskan yang menjadi wallpaper layar ponselnya. Itu mengingatkannya kembali pada percakapannya pada Shelly.
Ditinggal kabur kekasih dengan seorang bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayang ibu, tentu membuat Bryan kecewa. Akan tetapi, mengingat perangai Shelly yang tidak sabar dengan ekonomi mereka dan cenderung saat mengurus Lizzie, membuat mantan preman itu merelakan keadaannya.
Suara klakson mobil di belakangnya membuat Bryan tersadar dari lamunan dan melajukan kembal motornya. Tepat pukul delapan malam dan tidak lebih dari setengah jam perjalanan dengan motornya, Bryan tiba di depan Aster Motel. Ia segera masuk ke dalam setelah security di tempat penginapan itu mengizinkannya masuk.
Bryan mengetuk pintu kamar bernomor 314 di depannya, “Permisi... aku mengantar pesanan dari CK Shop.”
Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan dua kali memanggil, akhirnya sahutan dari dalam kamar terdengar. Seorang pria berkepala botak dengan perut besarnya yang menyembul dari handuk kimono yang dikenakannya, muncul di depan pintu. Wajahnya terlihat tidak senang menatap Bryan.
“Kau sangat lambat! Aku akan mengajukan komplain pada toko kalian!” ketusnya pada Bryan.
Bryan segera menanggapi dengan sedikit menunduk, “Aku minta maaf karena sedikit terlambat. Ada galian parit di jalan menuju ke sini dan itu membuat jalur padat. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku, Tuan.”
Tuan botak gendut itu mendengkus kesal, tapi wajah Bryan yang terlihat olehnya semakin menambah kemarahannya, “Kau Bryan, kan? Kau salah satu kuli anggotanya Nancy yang sering dipujinya itu, kan?”
Mendengar nama atasan wanitanya disebut, Bryan juga dengan cepat menanggapi siapa orang yang memarahinya itu. Ia menyadari kalau pria di depannya adalah manager proyek, atasan Nancy, “B-benar. Aku Bryan Frank, anggota Ibu—,”
“T-tolong...” suara merintih seorang wanita terdengar dari dalam sana, “Siapa pun, tolong aku...”
Bryan langsung melirik ke bosnya itu, tapi ekspresinya kini berubah. Pria botak itu terlihat kikuk di depannya.
“Bukan apa-apa. Pergilah.” Si Bos mengusir Bryan dan langsung mundur lalu menutup pintu. Tapi suara meminta tolong itu terus terdengar di telinga Bryan hingga ia pun menahan pintu sebelum tertutup sempurna.
“Tunggu, Bos. Ada yang meminta tolong di dalam sana. Kau juga mendengarnya, kan?” Bryan bertanya curiga.
“Sudah kubilang kau pergi saja. Ini bukan urusanmu, brengsek!” si bos marah dan mendorong Bryan, tapi karena perbedaan tenaga dan postur tubuh mereka, Bryan yang bertahan bukannya membuatnya mundur, tapi malah membuat pintu semakin terbuka lebar.
“Tolong...”
Suara merintih wanita terdengar lagi, dan itu semakin membuat bos Bryan itu panik dan kembali mendorong, mengusir Brian dari hadapannya, “Aku peringatkan padamu, ini bukan urusanmu. Pergilah!”
‘Prank!’ suara benda berbahan kaca terdengar jatuh dan sesosok wanita dengan pakaian berantakan terlihat oleh Bryan tengah berjalan terhuyung memegangi kepalanya, “Tolong... aku...”
Tanpa mengindahkan bos botaknya itu, Bryan mendorong pintu dan segera masuk saat melihat wanita yang meminta tolong itu nyaris terjatuh ke lantai, “Nona. Kau baik-baik saja?”
Menyadari ada yang menolongnya, wanita cantik yang wajahnya berkeringat dingin dan pucat itu kembali meminta tolong, “Bawa aku ke rumah sakit. Dia pria jahat. Tolong aku...”
“Jangan dengarkan dia. Tinggalkan dia bersamaku di sini. Dia istriku dan ini urusan rumah tangga kami. Kau akan menyesal kalau tidak mendengar perintahku.” Bos Botak memberi peringatan lagi.
“Tapi nona ini memerlukan tindakan medis. Dia sakit, Bos. Kita harus membawanya ke rumah sakit!” Bryan menolak mendengar perintah.
“Tinggalkan kami atau kau kupecat, Brengsek!” bos botak memaki lagi. Ia sangat murka.
Berdiri di antara pilihan ingin menolong tapi ia juga tidak ingin dipecat membuat Bryan bimbang. Akan tetapi, remasan tangan wanita itu di pakaian Bryan membuatnya kaget.
“Jangan percaya, bawa aku ke rumah sakit. Aku bukan istrinya, dia menjebakku. Aku juga tidak tahu kenapa ada di tempat ini...” dalam rintihan kesakitannya, wanita itu menjelaskan cerita singkat keadaannya sampai tidak berdaya seperti itu.
“Omong kosong. Cepat, tinggalkan kami atau kau kupecat!” ancam si bos lagi, tapi kali ini Bryan sudah memutuskan. Ia berdiri sambil mengangkat tubuh lemah wanita itu.
“Pecat saja kalau kau mau. Aku tidak sudi bekerja dalam diam padahal aku tahu sebajingan apa atasanku. Dan kau juga harus tahu kalau sudah tiga kali aku bertemu dan membantu istrimu. Lain kali aku akan bertanya tentang ibu bosku yang lebih dari satu.” dengan kalimat yang tenang, Bryan berjalan melewati si bos yang bahkan tidak berani melawan tatapan membunuh dari Bryan.
“K-kau? Beraninya kau! Kau dipecat, brengsek! Dasar miskin! Tidak berguna! Kau akan jadi gembel di jalanan lagi!”
“Ya, ya, ya... terserah kau, Botak mesum.” sambil berjalan, Bryan menjawab miris umpatan pria yang baru saja menjadi mantan bosnya.
Gesa masih saja kesal. Sekuat apa pun usahanya untuk bersikap netral dan tak peduli, nyatanya ia tak bisa membohongi hati kecilnya. Kecemburuan itu ada. Ia tak bisa bersikap seolah-olah dia bukan siapa-siapanya Evan. Pernikahan itu real terlepas dari apa pun latar belakang yang menyebabkan pernikahan itu terjadi.Ia bertambah kesal kala melihat Rivana keluar dari ruangan Evan dan tersenyum miring ketika melintas di hadapannya. Tampak benar gadis itu menyukai kegelisahannya. Gesa tak mau menunjukkan kelemahan maupun rasa cemburunya. Ia akan berpura-pura jika sikap Evan tak berpengaruh apa-apa terhadapnya.Ketika tiba saatnya pulang, Evan mendatanginya dan menatapnya datar. Gesa menatapnya sekilas, tapi buru-buru ia alihkan pada layar laptop yang baru saja ia matikan."Kita pulang bareng, setelah itu mampir makan malam," tukas Evan datar.Gesa tahu, Evan menatap ke arahnya. Namun, Gesa enggan menatap balik. "Tadi pagi aku berangkat sendiri, naik motor. Pulangnya juga naik motor. Masa i
"Halo Gesa, senang bertemu denganmu. Sudah sekian lama kita tidak bertemu, kamu masih seperti yang dulu." Rivana menatap Gesa di luar ruangan rapat setelah rapat selesai. Tatapannya begitu menelisik dari ujung kepala hingga kaki."Masih seperti yang dulu?" Gesa memicingkan matanya. Ia tak suka berbasa-basi."Ya, masih seperti yang dulu. Yang nggak bisa make up, kurang pinter milih outfit, dan tidak terlihat upgrade di penampilan." Rivana bicara tanpa tedeng aling-aling. Gesa sudah sangat paham akan karakter seniornya yang suka meremehkan orang lain. Sebenarnya, tak jauh dari Evan.Gesa menatap Rivana, sama dengan cara Rivana menatapnya. Ia seakan tengah mengabsen inci demi inci penampilan Rivana. "Apa kamu merasa cukup upgrade? Kamu lebih menarik saat masih kuliah. Maaf, ini jujur dari hati." Gesa mengamati Rivana yang tampak jauh lebih berisi dibanding dulu. Hanya saja Gesa tak ingin berkomentar negatif yang menyinggung fisik orang lain, meski Rivana lebih dulu meremehkannya.Rivana
Gesa gugup bukan main. Degup jantungnya terasa berpacu lebih cepat. Jarak antara dirinya dan Evan semakin terpangkas. Gesa tak lagi bisa mundur. Ujung bibir Evan menyentuh ujung bibirnya. Gemuruh rasa itu kian membakar. Dada Gesa berdebar hebat. Ketika Evan memainkan ritme, Gesa terpaku sekian detik. Ini ciuman pertamanya. Ia tak tahu bagaimana membalasnya. Evan belum ingin menyerah. Ia hentikan ciumannya dan beralih dengan bisikan lirih di telinga istrinya. "Balas ciumanku, ikuti ritmenya."Suara lembut Evan terdengar begitu memikat. Nada suaranya seolah seperti sebuah hasrat yang tengah menanjak. Telinga Gesa meremang. Dadanya semakin berdebar. Getaran seakan merayap di setiap sendi.Evan kembali mendaratkan ujung bibirnya di bibir Gesa. Kali ini, Gesa lebih siap dibanding sebelumnya. Ia mengikuti ritme untuk membalas ciuman Evan.Waktu seolah berhenti. Dunia dan seisinya seakan menjadi milik keduanya. Sensasi ciuman pertama ini begitu manis, hangat, dan membekas. Ketika momen itu
Malam ini atmosfer kembali asing. Hanya keheningan yang mendominasi. Bahkan Gesa pun melewatkan makan malam karena ia tak mood untuk makan malam.Sekitar jam sembilan, Gesa keluar kamar. Ia ingin mengambil air. Ketika ia melangkah keluar, matanya bertemu dengan mata Evan yang tengah duduk di ruang tengah dengan laptop di hadapannya. Keduanya terdiam sekian detik seakan tatapan menjadi satu-satunya cara untuk berbicara. Gesa mengalihkan pandangan ke arah lain. Tanpa suara, ia melangkah menuju dapur untuk mengambil air.Gesa duduk sejenak di ruang makan. Ia meneguk air putih lalu merenungi nasibnya. Gesa menopang dagu dengan tangannya. Ia berpikir ulang, apa keputusan menikahi Evan adalah keputusan terburuk dalam hidupnya? Ia pikir, tak mengapa menjalani pernikahan perjodohan dengan kesepakatan meski tanpa cinta. Nyatanya, jauh di hati kecilnya, ia merindukan pernikahan yang normal.Mendadak hatinya bergerimis. Tiba-tiba ia merindukan kehidupan lamanya. Rumah yang ia tinggali sekarang
"Sekarang kamu ikut instruksi saya, Evan." Gesa barusan membaca dari artikel yang ia temukan di web. Ia berharap cara ini bisa membantu suaminya."Kamu mandi sekarang juga. Jangan cuma diguyur itunya saja, tapi seluruh badan." Gesa menekankan kata-katanya. Evan tak punya cara lain. Ia turuti keing
Seharian Gesa mengerjakan revisi rancangannya. Gesa hanya beristirahat saat jam istirahat. Hingga petang berlalu, Gesa masih berkutat dengan pekerjaannya.Satu per satu rekan kerja Gesa telah pulang lebih dulu. Sementara, Gesa masih terpaku pada layar laptop. Evan masih ada di ruangannya. Gesa ber
Gesa mencoba menstabilkan napas, menenangkan diri, dan menguatkan hati. Ia membawa map berisi rancangan rebranding perusahaan. Jari tangannya gemetar. Dia kesulitan mengendalikan degup jantung yang terus berloncatan. Rasanya seperti akan menghadapi monster.Ketika Gesa masuk ke ruangan Evan, laki-l
Seperti biasa Gesa terburu-buru menuju kantor. Kota besar ini tidak lagi memberikan ruang yang cukup untuk bernapas. Setiap hari harus bergelut dengan lalu lintas yang padat, kendaraan yang berlalu lalang, dan orang-orang yang berjalan dengan tergesa-gesa.Hari ini perusahaan akan mengenalkan Chief
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.