Menjadi Istri Kedua Kembaran Suamiku

Menjadi Istri Kedua Kembaran Suamiku

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-07-11
Oleh:  DamayaOn going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
5 Peringkat. 5 Ulasan-ulasan
103Bab
2.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Dyra menerima pernikahannya dengan Ghavin, kembaran sang suami, karena permintaan sang mertua. Terlebih, Ghavin tampaknya ingin menjadi ayah pengganti untuk Megan—putrinya. Lantas, bagaimana kisah keduanya? Terlebih saat Dyra tahu Ghavin memutuskan menjadikan Dyra istri kedua bukan hanya karena alasan mulia itu.....

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Egois

Telapak tangan Dyra basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdentum kencang di balik tulang rusuk, memekakkan telinganya sendiri. Ia mengira momen penantian ini akan terasa seperti kebebasan, tetapi justru mencekiknya. Segala harapan untuk bisa lepas dari belenggu rumah Pramana kini tergantung pada satu anggukan dari Martin—ayah mertuanya. 

Kecemasan Dyra semakin menjadi-jadi dengan kehadiran Ghavin—kakak iparnya. Pria itu duduk di sisi Martin, menatapnya dengan tatapan tajam yang tak terbaca. Dyra tahu, Martin pasti akan melarangnya membawa Megan pergi.

Hening mencekam. Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk kulit. Sampai akhirnya, suara Martin memecah kesunyian, rendah dan penuh pertimbangan. “Kamu yakin dengan keputusanmu, Nak?”

Bagi Dyra, suara itu adalah pelampung di tengah badai. Dia mengangguk mantap, tidak peduli betapa gemetar tubuhnya saat ini. Wajahnya memancarkan tekad bulat, sebuah janji pada dirinya sendiri bahwa dia akan pergi. Akan memulai hidup baru, jauh dari bayang-bayang rumah mewah Pramana yang kini terasa seperti sangkar.

"Iya, Pa," jawab Dyra, suaranya sedikit bergetar tapi tegas. "Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku hanya ingin menata hati, mencari ketenangan, dan melanjutkan hidup di kampung bersama Megan. Kami butuh awal yang baru."

Dyra belum sempat menarik nafas lega saat suara Ghavin menyentak keheningan, dingin dan menusuk. Dyra terlonjak, matanya langsung tertuju pada pria itu.

“Kau tidak boleh membawa Megan. Jika ingin pergi, pergi saja sendiri!” Suara Ghavin memotong udara seperti pedang, Dyra merasakan dunia di sekelilingnya runtuh.

"Apa maksud Mas mengatakan itu?" Dyra menyela, nafasnya tercekat oleh kemarahan dan keterkejutan. Ini adalah pertama kalinya ia kembali berdialog dengan pria yang selama ini mati-matian ia hindari. 

Namun, demi Megan, semua sakit hati masa lalu harus diabaikan. Dyra mengangkat dagu, menatap Ghavin dengan keberanian yang membara, mengabaikan nyeri di dada. Pria ini sudah terlalu jauh melangkah.

“Megan putriku! Aku yang jauh lebih berhak dari siapapun juga. Termasuk Mas!” tegasnya, setiap kata keluar penuh penekanan.

Ghavin mendengus. "Sejak kepergian Ghava, Megan menjadi tanggung jawabku." Suaranya tak kalah tegas. 

Apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Dyra membawa Megan keluar dari rumah orang tuanya.

Sebagai wanita yang pernah mengandung dan melahirkan Megan, Dyra menganggap Ghavin sudah sangat keterlaluan. "Mas sadar dengan apa yang baru saja Mas katakan?" Selain menahan kesal, Dyra juga harus menguatkan hati ketika beradu pandang dengan netra Ghavin yang beku. Ia belum bisa melupakan kesakitannya dulu, tapi karena ingin memperjuangkan putrinya, ia tidak peduli sekalipun mesti melawan Ghavin yang egois.

"Aku ibunya. Aku yang telah mengandung dan berjuang melahirkannya. Sedangkan Mas hanya paman. Seharusnya Mas sadar itu." Dyra benar-benar kesal, dan satu hal yang akan selalu tertanam di benaknya, Ghavin tetap menjadi sosok yang paling menyebalkan dalam hidupnya.

"Pilihan ada padamu," Ghavin melanjutkan, suaranya datar dan tanpa emosi. "Memilih tetap bertahan, atau pergi tanpa Megan." Bagi Dyra, Ghavin tak ubahnya hanya gumpalan daging membungkus tulang, tanpa hati dan perasaan. Pria egois yang sama sekali tidak memahami perjuangan seorang ibu.

"Apa karena Mas belum pernah melihat nikmatnya Mbak Marissa hamil dan sakitnya melahirkan? Untuk itu bisa sangat egois seperti sekarang?" 

Dyra menyerang tepat di titik yang membuat Ghavin seketika terdiam, rahangnya mengeras.

Ghavin lantas berdehem dan membenahi posisi duduknya. Bukan karena tersinggung dengan ucapan Dyra, ia hanya tidak suka Dyra menyebut nama istrinya di tengah perdebatan mereka.

Sempat menyesali ucapannya yang dirasa berlebihan, Dyra menatap bersalah Martin yang kini menundukkan kepala. Tetapi begitu mengingat keegoisan Ghavin yang tak berdasar, ia menganggap justru dirinya-lah yang lebih patut dikasihani.

"Kalau begitu kita menikah saja. Dengan menjadi istri keduaku, kau tidak akan pergi kemanapun, dan tetap bersama putrimu." 

Pernyataan Ghavin tentu saja sangat tidak terduga, melesak masuk ke telinga Dyra seperti ledakan. Dyra bahkan sampai tertegun tidak percaya, menganggap pria itu hanya sedang menguji kesetiaannya. 

"Aku serius, menikahlah denganku. Aku yang akan menjadi pengganti Ghava untuk kalian."

"Benar, Nak. Akan lebih baik jika kalian menikah." Martin ikut bersuara, mengiyakan ucapan Ghavin.

Belum usai keterkejutan Dyra atas ajakan tak terduga Ghavin, kali ini sang mertua ikut mencetuskan pendapat yang sama. Dyra jadi berpikir, tidak hanya Ghavin tapi Martin juga sama egoisnya. Lebih mengutamakan kepentingan mereka tanpa memikirkan kondisi mentalnya yang rapuh.

"Papa..." Dyra hanya mampu menatap tidak percaya Martin yang duduk di kursi roda. Pria itu terlihat menghembuskan nafas pasrah, tapi juga menganggukkan kepala. Itu artinya tidak akan merubah apa yang sudah diucapkan.

"Dengan menjadi istri kedua Ghavin, kamu tetap merasa nyaman di rumah ini. Walaupun sebenarnya baik dulu maupun sekarang, bagi papa tidak ada bedanya. Kamu tetap putri papa, Nak." 

Martin tahu sejak kepergian putra keduanya, Dyra terlihat tidak senyaman dulu. 

Sebenarnya wajar Dyra bersikap demikian, mengingat sekarang mereka hanya tinggal berdua yang tentunya bisa saja menimbulkan fitnah. Meski sebenarnya jauh dari lubuk hati yang terdalam, ia telah menyayangi Dyra selayaknya putri kandung sendiri. Tidak ada perasaan lain yang dimiliki, kasih sayangnya tulus sebagai ayah, walaupun hanya ayah mertua. 

Karena itu untuk membiarkan Dyra pergi bersama cucu satu-satunya, Martin sebenarnya tidak pernah rela.

"Jadi Papa ingin menjadikan aku orang ketiga dalam pernikahan kakak iparku sendiri?" Dyra yang masih sangat terkejut menatap sesak Martin dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Bahkan memikirkan saja aku tidak pernah!" lanjutnya kecewa, suaranya bergetar.

Bulir bening yang baru saja menyebrangi pipi, buru-buru Dyra usap dengan punggung tangan. Menikah lagi bukan hal yang mudah untuk diputuskan, bahkan berpikir saja belum pernah ia lakukan. Apalagi menjadi istri kedua Ghavin—pria yang dulu pernah membuatnya nyaris gila karena sakit hati.

Sekalipun Ghavin lajang saja ia tidak akan mau menikah dengan pria itu, apalagi yang jelas-jelas telah beristri. Bagaimana mungkin ia akan hidup tenang saat orang lain menjudge buruk dirinya? Sedangkan tujuannya kembali ke kampung adalah untuk mencari ketenangan batin.

"Maaf, aku tidak bisa." Setelah bisa menguasai diri, Dyra menolak tegas, kepalanya menggeleng. Akan lebih baik menjanda daripada menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain. Keputusan logis yang pasti siapapun akan memilihnya.

"Baik. Jika itu keputusanmu. Tapi aku pastikan Megan akan bersamaku." Mendengar penegasan Ghavin, darah Dyra seakan mendidih panas. Pria itu benar-benar keterlaluan.

"Kenapa tidak meminta istrimu segera hamil, dengan begitu kalian punya penerus Pramana tanpa mempersulit hidupku!" 

Jika Ghavin bisa sangat egois, kalimat Dyra tak ubahnya pedang tajam. Menganggap permasalahan sebenarnya hanya karena kekhawatiran mereka akan kehilangan penerus. Maka sebagai ibu, Dyra akan memperjuangkan apa yang menjadi haknya. "Aku memang miskin, tapi bagaimanapun caraku nanti, aku akan berusaha keras memberikan Megan kehidupan yang layak." Dyra beralih menatap mata sendu Martin. "Sampai kapanpun Megan tetap cucu Papa, aku tidak bisa merubah itu." 

Namun, ketika melihat kecemasan di wajah tua Martin, ternyata Dyra tetap tidak tega. Ia sekuat hati berusaha tegar. "Hanya saja sekarang, biarkan aku pergi. Aku tidak bisa terus ada di sini. Rumah ini terlalu banyak menyimpan kenangan Mas Ghava."

Nahasnya, bulir bening kembali terjun bebas. Nyatanya setiap kali mengingat kepergian suaminya yang mendadak, hati Dyra masih berdenyut nyeri. 

"Aku mohon Papa bisa mengerti kondisiku." Sambil terisak Dyra berharap Martin bisa lebih bijak.

Melihat kesedihan Dyra, 

mustahil hati Martin tidak terenyuh. Mata tuanya juga ikut meneteskan bulir bening. Sayangnya, ia tak kalah berkeras hati dari sang putra, merasa keputusan itu sudah paling tepat daripada membiarkan Dyra pergi.

"Menikah dengan Ghavin atau pilih pergi tanpa Megan!" Martin berkata, suaranya tegas, menutup segala negosiasi.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen

user avatar
Devie Putri
keren nih ceritanya. aku suka..
2025-04-09 19:59:23
0
user avatar
Astika Buana
Ramaikan, yuk. Tetap semangat ...
2025-02-07 19:54:48
0
user avatar
Rai Seika
Baru nih, semangat terus, menyala bintangnya! ヾ(^-^)ノ
2024-11-22 19:05:33
0
user avatar
Rich Mama
keren kak, lanjut yuk....
2024-11-22 18:45:16
0
user avatar
Damaya
Ramaikan yuk
2024-11-22 17:37:29
0
103 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status