เข้าสู่ระบบ“Kamu bisa tunggu di sekolah, kafe, atau tempat mana pun yang kamu suka. Nanti aku jemput di sana,” jawab Jarren tanpa ragu sedikit pun. Puspa mengerucutkan bibir, menyandarkan kepalanya di bahu Jarren seraya berpikir sejenak. Hawa hangat dari napas Jarren menyapu lembut permukaan kulit pipinya. “Kalau ... aku menyusul kamu ke firma, pengadilan, atau di mana pun kamu lembur?” usul Puspa, menengadah menatap garis tegas rahang Jarren dari jarak yang begitu dekat. Giliran Jarren yang terdiam. Pria itu menyipitkan mata, menimbang penawaran Puspa dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. “Boleh,” jawab Jarren akhirnya. “Tapi ada syaratnya.” “Syarat apa?” Puspa mengangkat kedua alisnya. “Kamu nunggunya di tempat tersembunyi. Jangan sampai aku bisa lihat kamu,” kekeh Jarren pelan. “Lho, kenapa harus begitu?” Puspa mengernyitkan dahi bingung. “Takut aku salah fokus, Mpus,” bisik Jarren tepat di telinga istrinya, menyunggingkan senyum miring yang teramat jahil. “Nanti buka
“Untuk aku dan ketenanganku sendiri,” jawab Puspa dingin. Maudy mengernyitkan dahi. Punggungnya yang tadinya melengkung pasrah mendadak menegak, matanya menatap Puspa dengan cangkupan kebingungan yang bercampur kekesalan. Wanita itu tampak tidak sanggup menguasai arah pembicaraan yang justru mengucilkannya. Sementara itu, raut tegang di wajah Jarren meluruh seketika. Sebuah senyum bangga yang begitu tulus mengembang tipis di bibirnya. Jarren menundukkan kepala, mendaratkan sebuah kecupan hangat di pelipis Puspa tanpa memedulikan Maudy yang masih membeku. “Benar,” cetus Jarren. “Kita sebaiknya nggak memberikan ruang dalam pikiran dan hati kita buat orang yang ikut menyumbang alasan kita mengalami kejadian buruk.” Jarren memutar tubuhnya, merangkul bahu Puspa untuk membimbing istrinya melangkah keluar dari ruangan. Puspa menurut, menyandarkan berat tubuhnya pada dada bidang suaminya. “Hari ini kamu nggak usah masak, Mpus,” bisik Jarren penuh kehangatan begitu mereka mel
Keringat dingin membasahi pelipis Maudy sewaktu tatapan tajam belasan pasang mata di ruangan itu mengunci gerak-geriknya. Namun wanita bergaun formal itu perlahan menegakkan punggungnya, membalas pandangan pimpinan rapat tanpa sedikit pun keraguan. “Nggak perlu, Pak,” sahut Maudy tenang. Pernyataan itu serta-merta menyulut bisik-bisik riuh di dalam ruang konferensi. Puspa mengernyitkan dahi dalam-dalam, sementara di sisinya, rahang Jarren mengeras. Pimpinan rapat mengetukkan pulpennya ke atas meja, menggertak tegas, “Ibu Maudy, jika Ibu nggak menganggap serius kasus pelanggaran keamanan ini, konsekuensi terbesar yang harus Ibu tanggung adalah angkat kaki dari unit apartemen ini!” “Kenapa saya harus pindah, Pak?” tanya Maudy cepat. “Yang bermasalah dan melakukan tindakan kriminal itu Gio, dan saya sudah memutuskan hubungan dengannya.” Puspa menyipitkan mata, menatap lekat-lekat raut wajah tetangganya itu. Maudy memutar tubuhnya, menatap lurus pada Puspa dan Jarren sebelum melan
Kening Maudy membiru, sementara kekasihnya, pria bernama Gio itu, tertunduk lesu di sampingnya dengan wajah bonyok dan kelopak mata yang masih bengkak kemerahan. Keheningan koridor rumah sakit terasa mencekik, seolah menyerap seluruh oksigen di sekitar mereka. “Jarren, aku tahu Gio salah.” Maudy membasahi bibirnya yang kering, mencoba menurunkan tensi yang membakar atmosfer. “Tapi kandungan Puspa juga nggak kenapa-napa, kan? Tadi kita dengar sendiri penjelasan dokter di dalam.” Jarren memutar tubuhnya. Tatapannya menghujam Maudy tanpa ampun, sarat akan hawa membunuh. “Kandungan Puspa ggak kenapa-napa?” Maudy menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram tas tangannya erat-erat saat melihat rahang Jarren yang mengeras tajam. “Aku juga dengar dokter bilang begitu,” tukas Jarren penuh amarah. “Tapi kamu dengar nggak suara Puspa waktu dia menemukan aku di lorong? Kamu dengar nggak bagaimana Puspa menangis? Bagaimana seluruh tubuhnya gemetar ketakutan? Atau kamu cuma peduli karena pa
Brak! Boks berisi set piring keramik itu terlepas, menghantam lantai. Pecahan tajam berhamburan ke segala arah. “Lepas! Lepasin aku, bajingan!” jerit Puspa, suaranya melengking. Lengan tegap pria itu justru mengunci tubuh Puspa semakin rapat dari belakang. Bau alkohol menyengat bercampur aroma parfum maskulin menguar tajam dari napasnya. “Sekarang kamu mau bermain berpura-pura nggak menginginkan aku, huh?” bisik pria itu dengan nada menantang, menyapukan bibirnya di dekat leher Puspa secara lancang. Puspa merasakan darahnya mendidih hebat. Rasa jijik dan amarah membakar akal sehatnya. Mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa, Puspa menghentakkan siku kanannya ke belakang, menghantam ulu hati pria itu sekuat tenaga. BUG! Pria itu terbatuk keras, cengkeraman tangannya seketika mengendur. “Aargh!” Tanpa membuang waktu satu detik pun, Puspa merogoh tasnya, menarik keluar tabung kecil semprotan merica. Dengan jemari gemetar, Puspa memutar tubuh dan menekan katupnya tepat ke arah wa
Puspa masuk ke dalam apartemennya. “Sepertinya aku memang berpikir terlalu berlebihan tentang Maudy,” gumam Puspa lirih seraya menyandarkan punggungnya pada pintu tebal itu. “Dia sudah punya pasangan, nggak mungkin dia punya niat buruk ke rumah tangga aku.” Sebuah desahan lega lolos dari bibirnya. Puspa melangkah menuju sofa ruang tengah, melepas pelan peniti di bawah dagunya, lalu mengempaskan tubuhnya yang makin berisi ke atas sofa. Kecurigaan yang sempat menindih dada Puspa menguap sepenuhnya. Hari-hari selanjutnya berlalu tenang tanpa riak. Puspa tidak lagi ambil pusing soal keberadaan tetangga barunya. Wanita itu larut dalam rutinitas manis sebagai calon ibu, seperti menyiram tanaman di balkon, berolahraga ringan untuk melatih panggul, menyiapkan makan malam hangat, serta menikmati quality time bersama Jarren setiap malam. Sampai pada suatu malam, saat keheningan sedang merayap begitu dalam, bunyi bel pintu mendadak berdenting nyaring. Diiing-dooong! Puspa dan Jarren ya







