Share

Masa Lalu Datang

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-02-23 16:14:06

Beberapa detik Raymond tidak menjawab. Hanya suara napas dari seberang yang terdengar tipis.

“Sofia…” ucapnya akhirnya, hampir tak terdengar.

Senyum kecil terdengar dari ujung sana. “Ya, ini aku, Ray. Ternyata kau masih ingat dengan suaraku.”

Raymond menoleh sekilas pada Clara. Gadis itu masih tertidur pulas. Ia bergeser dan duduk di tepi ranjang membelakangi Clara.

“Apa yang kau inginkan?” Rahangnya mengeras.

“Ray… aku hanya ingin minta maaf.” Suara Sofia lembut.

Raymond terdiam sesaat.

“L
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak yang Seharusnya Mati

    Tik...Tok...Tik...Tok...Suara jam antik itu terdengar jelas di tengah ruangan yang nyaris tanpa suara.Jarumnya bergerak perlahan, seolah tidak peduli dengan waktu yang terus berjalan.Di atas ranjang besar dengan seprai putih, Ken masih terbaring tak sadarkan diri.Wajahnya pucat.Perban tebal melingkari kepalanya, sementara beberapa luka kecil terlihat di pelipis dan rahangnya. Selang oksigen terpasang di bawah hidung. Di samping ranjang, sebuah monitor portabel terus menampilkan garis detak jantung yang naik turun.Bip...Bip...Bip...Lemah.Tetapi stabil.Ruangan itu sama sekali tidak menyerupai kamar rumah sakit.Dindingnya dilapisi marmer hitam mengilap. Lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi. Tirai beludru berwarna gelap menutup seluruh jendela, membuat cahaya dari luar tidak bisa masuk.Tidak ada lambang rumah sakit.Tidak ada suara perawat.Tidak ada bau khas antiseptik.Hanya kesunyian.Kemudian...Klik.Pintu kayu besar terbuka perlahan.Seseorang masuk.S

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Umpan

    Tik... Tok... Tik... Tok... Jari Ken kembali diam di atas seprai. Di tempat lain, jauh dari mansion tua itu, suasana di Rumah Sakit Pusat Sentosa kembali berubah ketika suara teknisi tiba-tiba memecah keheningan ruang keamanan. "Ketemu!" Raymond dan John yang baru saja kembali langsung menoleh. Teknisi itu berdiri dari kursinya dengan wajah tegang. "Rekaman kamera jalan tol." Raymond segera mendekat. "Putar." Layar utama menampilkan rekaman jalan raya. Sebuah ambulans putih terlihat melaju dengan kecepatan tinggi. Timestamp menunjukkan kendaraan itu meninggalkan kawasan rumah sakit sekitar dua belas menit setelah Ken dinyatakan hilang. Raymond memperhatikan layar tanpa berkedip. "Perbesar." Teknisi memperbesar gambar. Ambulans itu melaju beberapa kilometer. Kemudian... Belok. Bukan menuju pusat kota. Bukan menuju rumah sakit lain. Melainkan memasuki jalan lama yang jarang digunakan. John mengerutkan kening. "Jalan itu menuju kawasan industri lama." Raymond te

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat yang Tidak Dikenal

    "Clara?" Suara Raymond terdengar rendah dari balik telepon. Dari seberang, suara Clara terdengar lirih. "Ray..." "Aku masih di rumah sakit." "Aku tahu." Clara menarik napas panjang. "Bagaimana?" Raymond terdiam beberapa detik. Ia tidak ingin mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum menemukan jejak Ken. Namun Clara pasti akan tahu jika ia berbohong. "Aku masih mencarinya." Keheningan terdengar di antara mereka. Kemudian suara Clara terdengar lebih lembut. "Jangan berhenti." "Aku tidak akan berhenti." Jawaban Raymond terdengar tegas. "Aku akan menemukan Ken." Ia menatap layar CCTV di hadapannya. "Dan aku akan membawanya pulang." Clara mengembuskan napas panjang. "Semoga Tuhan menjaganya." Raymond memejamkan mata sesaat. "Amin." Sambungan berakhir. Raymond memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya kembali dingin. "John." "Ya, Tuan?" "Temukan ke mana ambulans itu pergi." John langsung berdiri tegak. "Kalau perlu, periksa setiap kamera jalan dari ru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keamanan

    Malam mulai turun perlahan di atas kota. Langit yang sejak sore berwarna kelabu kini berubah menjadi biru gelap. Sisa cahaya matahari menghilang di balik gedung-gedung tinggi, sementara lampu jalan menyala satu demi satu, membentuk garis cahaya panjang di sepanjang jalan raya. Namun di Rumah Sakit Pusat, tidak ada seorang pun dari tim Antonio yang berniat pulang. Lantai khusus yang menjadi pusat pencarian Ken masih dipenuhi aktivitas. Langkah kaki berlari terdengar di sepanjang koridor. Radio komunikasi bersahutan. Pintu-pintu dibuka dan ditutup. Para petugas keamanan memeriksa identitas setiap orang yang hendak keluar. Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah sakit tanpa pemeriksaan. Di dalam ruang keamanan utama, puluhan layar CCTV memenuhi hampir seluruh dinding. Raymond berdiri tepat di depan monitor terbesar. Jasnya masih sama seperti ketika ia meninggalkan mansion. Kemejanya sedikit kusut. Wajahnya terlihat lelah. Namun sorot matanya tetap tajam. Ia menatap layar dem

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CCTV

    John masih terpaku di depan dinding monitor. Pantulan cahaya kebiruan dari puluhan layar membuat wajahnya tampak semakin pucat. Rekaman CCTV itu terus diputar berulang-ulang. Detik demi detik. Frame demi frame. Namun perhatian John kini bukan lagi tertuju pada wajah kedua dokter palsu itu. Melainkan... Cara pria bertubuh tinggi tersebut berjalan. Langkahnya mantap. Tenang. Nyaris tanpa suara. Namun kaki kanannya selalu sedikit terlambat setengah langkah dibanding kaki kirinya. Bahu kirinya juga tampak lebih rendah. Sangat tipis. Hampir mustahil disadari orang lain. Tetapi... John pernah melihatnya. Berkali-kali. "Pak..." Suara teknisi membuyarkan lamunannya. "Apakah rekamannya diulang lagi?" John tidak menjawab. Tatapannya masih melekat pada layar. Di dalam kepalanya, berbagai wajah mulai bermunculan. Para mantan petinggi Antonio Group. Direktur perusahaan. Mantan pengawal. Rekan bisnis lama. Semuanya muncul silih berganti. Namun... Tak satu pun terasa be

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Ken

    Raungan mesin SUV hitam milik Antonio Group memecah suasana siang yang semula lengang di halaman depan Rumah Sakit Pusat Sentosa. Lima kendaraan berhenti hampir bersamaan. Ban-ban tebalnya berdecit keras di atas paving block. CIIIIIITTT...! Belasan pintu langsung terbuka serempak. Para pengawal berbadan tegap turun lebih dulu. Jas hitam mereka berkibar diterpa angin, sementara alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing terus mengeluarkan suara laporan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian... Sebuah SUV lain berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Dari sanalah John turun. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tegang dibanding biasanya. Dasi hitamnya sedikit miring akibat terburu-buru mengenakannya di perjalanan. Tatapannya langsung menyapu seluruh area rumah sakit. Beberapa petugas keamanan rumah sakit tampak kebingungan. Perawat berlalu-lalang dengan wajah pucat. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu mulai berbisik-bisik karena

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status