Teilen

Bab 5 Ancaman

last update Veröffentlichungsdatum: 07.10.2026 11:25:13

Malam itu, Aline memutuskan untuk kembali ke apartemen kecilnya. Ada beberapa dokumen penting peninggalan almarhum ayahnya yang masih tersimpan di apartemen itu. Berkas-berkas berharga yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun, termasuk Kenzo Alexandre.

Aline melangkah menyusuri lorong apartemen yang remang-remang. Namun, ketika langkah kakinya terhenti tepat di depan kamarnya, Aline mulai merasa ada yang aneh. Gagang pintu kayu kamarnya sudah hancur. 

Pintu itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruangan gelap yang seharusnya terkunci rapat. Aline tidak berteriak ataupun berlari mencari pertolongan. Perlahan ia membuka pintu itu tanpa menimbulkan suara. Di dalam sana, tiga orang pria bertubuh besar terlihat sedang mengobrak-abrik lemari pakaian dan laci mejanya.

Kertas-kertas berserakan di lantai, dan ruangan sudah hancur berantakan. 

"Tuan Bram bilang, cari sampai dapat! Wanita jalang itu pasti menyembunyikan sisa dokumen Pelabuhan Barat di tempat ini!" bisik salah satu preman dengan suara.

Aline menyandarkan tubuh di bingkai pintu, melipat kedua tangan di dada dengan tenang. Ia menatap tiga penyusup itu seolah sedang menonton sebuah pertunjukan amatir yang membosankan. 

"Kalian mencari sesuatu?" tanya Aline dingin.

Ketiga pria itu kaget, mereka serentak membalikkan badan dan menatap Aline yang berdiri tenang di ambang pintu.

Menyadari bahwa yang datang hanyalah seorang wanita, seringai meremehkan langsung muncul di wajah-wajah kasar mereka. Pria yang berdiri di tengah melangkah maju sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat. 

"Oh, lihat siapa yang datang. Putri mahkota Valerius yang malang," ucap pria itu dengan nada mengejek.

"Kau pulang lebih cepat dari perkiraan kami, Cantik. Karena kau sudah di sini, bagaimana kalau kau beri tahu kami di mana dokumen itu?"

"Kalian salah mencari lawan," desis Aline tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

Sebelum pria terdekat sempat melangkah maju, tangan Aline bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ia meraih sebotol kaca tebal yang berada di atas rak sepatu dekat pintu. 

Dengan satu sentakan tanpa ragu, Aline menghantamkan botol tersebut tepat ke arah pelipis pria di depannya.

PRANG! 

Botol itu pecah berkeping-keping. Pria itu mengerang kesakitan saat darah segar langsung mengalir dari kepalanya, sebelum tubuh besarnya ambruk ke lantai dan tidak sadarkan diri. 

Dua preman tersisa yang melihat temannya tumbang dalam satu gerakan mendadak naik pitam. "Sialan! Jalang ini benar-benar gila! Hajar dia!"

Aline melangkah mundur, bersiap menghadapi serangan berikutnya dengan sisa pecahan botol yang masih tergenggam erat. Namun, sebelum kedua preman itu sempat bergerak maju, sebuah hantaman keras meruntuhkan pintu kayu apartemen hingga jebol sepenuhnya.

BRAK! 

Dua orang pria berbadan tegap masuk, disusul oleh sosok tinggi yang memancarkan aura kegelapan. Kenzo Alexandre, pria itu melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang tampak sedikit basah karena rintik hujan. 

Wajah tampannya yang berahang tegas dipenuhi oleh kilat amarah yang begitu mengerikan. Di belakang Kenzo, Leo melangkah masuk dengan tenang, memegang sebuah tongkat pemukul besi yang langsung diayunkan tanpa banyak bicara ke arah lutut salah satu preman.

KRAK! 

"AAAKHHH!" Preman kedua menjerit histeris saat tulang lututnya remuk di bawah hantaman besi Leo. Ia terjatuh dan mengerang kesakitan di atas lantai yang kotor.

Preman terakhir yang tersisa mendadak gemetar hebat. Nyalinya hilang tanpa sisa saat melihat siapa yang datang. Kenzo bergerak lebih cepat sebelum pria itu sempat melarikan diri ke arah jendela. 

Kenzo mencengkeram kerah jaket pria itu dengan satu tangan, mengangkat tubuh besar itu hingga kakinya sedikit menggantung dari lantai, lalu melayangkan satu pukulan mentah tepat ke arah rahang.

Kenzo tidak berhenti di sana. Ia menghempaskan tubuh pria itu ke meja kaca hingga hancur berkeping-keping, meninggalkan preman terakhir itu terkapar tidak berdaya dengan wajah hancur dipenuhi darah.

Ruangan apartemen yang sempit itu kini dipenuhi oleh bau darah dan napas berderu dari orang-orang di dalamnya. Kenzo membalikkan tubuhnya perlahan, sepasang mata langsung mengunci sosok Aline yang masih siaga di sudut ruangan.

Kenzo melangkah mendekat, aura posesif menguar begitu kuat hingga mempersempit jarak di antara mereka. Tanpa peringatan, ia mencengkeram pergelangan tangan Aline dengan sangat erat untuk memaksa wanita itu melepaskan pecahan botol dari genggamannya.

"Sudah kubilang kau ada di bawah kendaliku, Aline! Kenapa kau masih keras kepala datang ke tempat sampah ini sendirian?!" bentak Kenzo, suaranya ditekan rendah namun penuh dengan getaran kemarahan yang membakar.

Matanya menatap tajam dari atas ke bawah, memastikan tidak ada satu pun luka atau goresan di tubuh wanita itu. Aline menatap lurus ke dalam mata gelap Kenzo tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku perlu mengambil ini, Suamiku," ucap Aline dengan nada tenang.

Ia menggunakan tangannya yang bebas untuk merogoh ke dalam jaket, memperlihatkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kusam milik mendiang ayahnya yang berhasil diselamatkan. "Dan kau... kau datang tepat waktu. Tampaknya kau memang tidak bisa membiarkan hak milikmu disentuh oleh orang lain." 

Kenzo mengencangkan cengkeramannya sejenak, rahangnya mengeras mendengar jawaban santai dari Aline. "Mulai detik ini, kau tidak akan pernah jauh dariku, Aline Valerius Alexandre. Kau tidak punya hak untuk membantah perintahku lagi." 

Kenzo melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik menatap Leo yang sedang mengikat ketiga preman itu dengan tali. "Leo, serahkan ketiga sampah ini pada unit rahasia kita. Pastikan mereka membuka mulut tentang rencana Bram selanjutnya sebelum mereka dikirim ke kantor polisi dan bersihkan tempat ini."

"Baik, Tuan," jawab Leo tegas tanpa ekspresi.

Kenzo kembali menatap Aline, lalu menarik pergelangan tangan wanita itu untuk mengikutinya keluar dari lorong apartemen.Mereka melangkah turun menuju tempat parkir, di mana sebuah mobil sedan mewah  sudah menunggu dengan mesin yang menyala.

Pintu mobil dibuka oleh salah satu pengawal. Kenzo mendorong Aline masuk ke dalam kabin mobil yang mewah dan kedap suara, sebelum ia sendiri duduk di samping wanita itu.

Pintu tertutup rapat  dan mobil melaju membelah kegelapan malam, menuju ke arah kawasan elite di perbukitan kota, tempat di mana mansion utama keluarga Alexandre berdiri kokoh. 

Di dalam mobil yang sunyi, Aline menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk. Ia menatap keluar jendela, melihat rintik hujan yang membasahi kaca mobil.

Mendadak, tangan kekar Kenzo bergerak, mencengkeram dagu Aline dengan jari-jarinya yang hangat, memaksa wajah cantik wanita itu untuk berbalik menatapnya.

"Ingat aturan main kita, Aline," bisik Kenzo, suaranya terdengar sangat rendah dan sensual tepat di depan bibir merah Aline. "Kau boleh menggunakan namaku untuk menghancurkan pamanmu. Tapi di dalam mansionku, kau adalah milikku. Jangan pernah berpikir untuk bermain api di belakangku." 

Aline tidak gentar sedikit pun menghadapi tatapan penuh obsesi tersebut. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan ketenangan yang mematikan.

"Aku tidak takut pada kurunganmu, Kenzo," balas Aline dengan suara berbisik yang tidak kalah tajam. "Mari kita lihat, siapa yang pada akhirnya akan terkurung di dalam permainan yang kita buat sendiri."

Kenzo melepaskan cengkeramannya dari dagu Aline, namun pandangan matanya tidak pernah lepas dari sosok wanita di hadapannya.

**

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Menjinakkan CEO Kejam   Bab 5 Ancaman

    Malam itu, Aline memutuskan untuk kembali ke apartemen kecilnya. Ada beberapa dokumen penting peninggalan almarhum ayahnya yang masih tersimpan di apartemen itu. Berkas-berkas berharga yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun, termasuk Kenzo Alexandre.Aline melangkah menyusuri lorong apartemen yang remang-remang. Namun, ketika langkah kakinya terhenti tepat di depan kamarnya, Aline mulai merasa ada yang aneh. Gagang pintu kayu kamarnya sudah hancur. Pintu itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruangan gelap yang seharusnya terkunci rapat. Aline tidak berteriak ataupun berlari mencari pertolongan. Perlahan ia membuka pintu itu tanpa menimbulkan suara. Di dalam sana, tiga orang pria bertubuh besar terlihat sedang mengobrak-abrik lemari pakaian dan laci mejanya.Kertas-kertas berserakan di lantai, dan ruangan sudah hancur berantakan. "Tuan Bram bilang, cari sampai dapat! Wanita jalang itu pasti menyembunyikan sisa dokumen Pelabuhan Barat di tempat ini!" bisik salah satu preman dengan s

  • Menjinakkan CEO Kejam   Bab 4 Tamparan

    "Bram Valerius," suara Kenzo mengalun rendahdan dipenuhi aura intimidasi yang seketika membekukan keberanian para pengawal di belakang Bram. "Sejak kapan lantai eksekutif Alexandre Tower berubah menjadi pasar hingga siapa pun bisa masuk dan menggonggong seperti anjing?" lanjut Kenzo dingin. Mendengar ucapan Kenzo yang begitu merendahkan, wajah Bram berkedut tegang karena menahan malu dan amarah. Sementara itu, Shena mendadak terdiam, nyalinya menciut setengah saat berhadapan langsung dengan tatapan mematikan milik sang CEO kejam. Pertikaian besar di antara dua kubu ini akhirnya resmi dimulai. Bram mengepalkan tinjunya erat-erat, mencoba meredam amarahnya. Shena sendiri masih terpaku menatap tidak percaya ke arah Aline yang kini berdiri dengan tenang di samping Kenzo tanpa ada rasa ketakutan. Aline justru menatapnya balik dengan binar mata yang meremehkan, seolah-olah Shena hanyalah sebutir debu kotor yang masuk ke ruangan ini. "Tuan Alexandre," Bram akhirnya membuka suara. "Ked

  • Menjinakkan CEO Kejam   Bab 3 Berita Yang Mengguncang Publik

    Pagi itu, ibu kota tidak hanya disambut oleh embun pagi, melainkan oleh sebuah berita besar yang meledak di seluruh lini masa media massa dan portal bisnis nasional. Sebuah foto eksklusif yang diambil secara rahasia dari balik kaca kafe Alexandre Tower menjadi sampul utama di setiap media digital. Di dalam foto tersebut, wajah tegas Kenzo Alexandre dan tatapan dingin Aline Valerius tampak begitu dekat. Judul berita utama terpampang dengan huruf tebal yang sangat provokatif di layar gawai masyarakat:"Aliansi di Balik Kebangkrutan: Kenzo Alexandre Resmi Menikahi Putri Mahkota Valerius Group yang Jatuh Miskin!" Kabar tersebut langsung meruntuhkan kestabilan bursa saham dalam hitungan jam dan publik gempar karena pernikahan mendadak ini. Bagaimana bisa seorang Kenzo Alexandre, taipan bisnis berdarah dingin yang paling antipati terhadap komitmen, mendadak mengumumkan pernikahan dengan Aline Valerius yang baru saja ditendang dari keluarganya? Di kediaman mewah Valerius yang kini tela

  • Menjinakkan CEO Kejam   Bab 2 Perjanjian Di Atas Kertas

    Matahari belum muncul kepermukaan saat bel apartemen kecil berbunyi. Aline terpaksa bangun dengan sisa kantuknya. Apartemen sempit ini adalah tempat persembunyian terakhir setelah Bram Valerius menyita seluruh aset utama keluarga. Tempatnya sempit dan terletak di sudut kota yang bising, jauh dari kemewahan rumah besar yang ditempati wanita itu kemarin. Namun, Aline tidak peduli dengan hal itu.Ia melangkah perlahan menuju pintu, lalu membukanya. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegak dengan setelan jas abu-abu. Pria itu adalah Leo, asisten pribadi Kenzo yang selalu berwajah datar tanpa senyuman. Di tangan Leo, terdapat sebuah map kulit berwarna hitam tebal berlambang elang emas yang menjadi simbol kebesaran Alexandre Group. "Selamat pagi, Nona Valerius. Saya diutus oleh Tuan Kenzo untuk mengantarkan kontrak perjanjian pernikahan kontrak Anda," ucap Leo formal. Leo menyerahkan map tersebut, Aline menerimanya dengan tenang tanpa ragu sedikit pun. "Terima kasih, Leo. Sampaikan

  • Menjinakkan CEO Kejam   Bab 1 Negosiasi Dua Iblis

    Hujan deras mengguyur ibu kota malam itu. Dari balik kaca jendela restoran VIP hotel bintang lima, lampu jalanan di bawah sana terlihat buram tersapu air. Suasana ruangan sangat sepi karena sengaja dikosongkan. Tidak ada alunan musik atau obrolandari pengunjung lain. Hanya ada keheningan yang sesekali dipecah oleh ketukan jemari seorang pria di atas meja marmer hitam. Pria itu adalah Kenzo Alexandre, sosok yang duduk dengan posisi menyandar angkuh sambil menatap kosong ke arah kota di luar jendela. Dengan setelan jas tiga potong warna hitam yang melekat rapi di tubuh tegapnya, ia memancarkan aura intimidasi yang kuat. Di dunia bisnis, nama Kenzo dikenal sebagai pria berdarah dingin yang tidak pernah mengenal kata ampun bagi siapapun. Wajahnya yang simetris dan berahang tegas terlihat tampan, namun mematikan. Sebuah pintu di ujung ruangan terbuka perlahan tanpa suara. Seorang wanita melangkah masuk, memecah keheningan dengan ketukan pelan sepatu hak tingginya. Wanita itu adalah A

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status