ANMELDEN"Bram Valerius," suara Kenzo mengalun rendahdan dipenuhi aura intimidasi yang seketika membekukan keberanian para pengawal di belakang Bram.
"Sejak kapan lantai eksekutif Alexandre Tower berubah menjadi pasar hingga siapa pun bisa masuk dan menggonggong seperti anjing?" lanjut Kenzo dingin.
Mendengar ucapan Kenzo yang begitu merendahkan, wajah Bram berkedut tegang karena menahan malu dan amarah.
Sementara itu, Shena mendadak terdiam, nyalinya menciut setengah saat berhadapan langsung dengan tatapan mematikan milik sang CEO kejam. Pertikaian besar di antara dua kubu ini akhirnya resmi dimulai.
Bram mengepalkan tinjunya erat-erat, mencoba meredam amarahnya. Shena sendiri masih terpaku menatap tidak percaya ke arah Aline yang kini berdiri dengan tenang di samping Kenzo tanpa ada rasa ketakutan.
Aline justru menatapnya balik dengan binar mata yang meremehkan, seolah-olah Shena hanyalah sebutir debu kotor yang masuk ke ruangan ini.
"Tuan Alexandre," Bram akhirnya membuka suara.
"Kedatangan saya ke sini bukan untuk membuat keributan. Saya datang sebagai seorang paman, yang ingin menyelamatkan reputasi Alexandre Group dari tipu daya wanita jalang di samping Anda!"
Bram menunjuk Aline dengan jarinya yang gemetar karena emosi.
"Aline Valerius telah diusir dari keluarga kami karena tindakan kriminalnya yang memalsukan dokumen perusahaan! Dia tidak memiliki sepeser pun uang, dan dia datang kepadamu hanya untuk memanfaatkan kekuasaanmu!"
"Pernikahan ini adalah lelucon, Tuan Alexandre. Anda sedang ditipu oleh seorang kriminal!" lanjut Bram berapi-api.
Mendengar tuduhan dari pamannya, Aline tidak berkedip sedikit pun.
Ia justru melangkah maju, memisahkan diri dari sisi Kenzo untuk berdiri tepat beberapa langkah di depan Bram dan Shena dengan gerakan tubuh yang tenang.
"Memalsukan dokumen?" Aline mengulang kata-kata itu dengan nada merdu yang terdengar sangat mengejek. "Bukankah kata-kata itu lebih cocok disematkan padamu dan putrimu yang tidak tahu malu ini?"
"Tutup mulutmu, Aline!" teriak Shena, kehilangan kendali atas akal sehatnya.
Ia melangkah maju dengan tangan yang terangkat, berniat untuk mendaratkan tamparan keras di wajah cantik Aline. "Beraninya kau menghina Papaku di sini!"
Sebelum Aline sempat menghindar, sebuah tangan kekar bersetelan kemeja putih maju dengan kecepatan kilat, mencengkeram pergelangan tangan Shena dengan sangat kuat.
Kenzo Alexandre telah berpindah posisi, berdiri membentengi Aline dengan tubuh tegapnya. Cengkeraman tangan Kenzo begitu erat hingga terdengar bunyi gemertak halus dari tulang pergelangan tangan Shena.
"AAAKHH! Sakit! Lepaskan!" jerit Shena kesakitan, wajahnya mendadak pias dan air mata mulai mengenangi pelupuk matanya karena rasa sakit yang luar biasa.
"Dengarkan aku baik-baik, Wanita Bodoh," desis Kenzo, suaranya ditekan sangat rendah tepat di depan wajah Shena dengan manik mata elang yang berkilat kejam.
"Kau sedang berada di perusahaanku. Dan wanita yang baru saja ingin kau sentuh dengan tangan kotormu itu adalah Aline Valerius Alexandre. Istri sahku, nyonya Besar Alexandre Group. Sekali lagi kau mengangkat tanganmu di hadapannya, aku akan memastikan tangan itu tidak akan pernah bisa berfungsi lagi seumur hidupmu."
Kenzo menghempaskan tangan Shena dengan kasar hingga wanita manja itu terjatuh ke lantai, meringis sambil memegangi pergelangan tangannya.
Bram yang melihat putrinya diperlakukan seperti itu langsung maju dengan wajah memerah. "Kenzo! Kau tidak bisa memperlakukan putriku seperti ini! Aku adalah pemilik sah Valerius Group sekarang! Kita adalah rekan bisnis setara!"
"Rekan bisnis setara?" Kali ini Aline yang berbicara.
Ia melangkah keluar dari balik punggung Kenzo, mengeluarkan sebuah map kecil dari dalam tasnya lalu melemparkannya tepat ke atas dada Bram.
"Buka dan baca lembar ketiga, Paman Bram," ucap Aline, kedua bibirnya melengkung membentuk senyuman kejam.
"Itu adalah salinan laporan audit independen dari Pelabuhan Barat yang baru saja dikirimkan ke dewan audit internasional satu jam yang lalu oleh Alexandre Group. Di dalam sana, terdapat tanda tangan digitalmu pada jalur penyelundupan logistik ilegal berstatus barang selundupan hitam."
Wajah Bram yang tadinya memerah karena amarah, mendadak berubah menjadi pucat saat membuka map tersebut dengan tangan gemetar.
"Kau... bagaimana bisa kau mendapatkan ini?!" suara Bram bergetar hebat, map di tangannya bergoyang.
"Kau lupa siapa yang mendesain sistem keamanan brankas digital di rumah itu, Paman? Ayahku yang membuatnya, dan dia memberikan kunci cadangannya kepadaku sebelum kau meracuninya hingga tewas di rumah sakit!" desis Aline tajam.
Bram melangkah mundur, menyadari posisinya sekarang benar-benar berada di ujung tanduk karena dokumen ini bisa menjebloskannya ke dalam penjara.
Shena yang masih terduduk di lantai menatap papanya dengan cemas. "Papa... apa yang terjadi? Kenapa Papa diam saja?!"
"Diam, Shena! Tutup mulutmu!" bentak Bram dengan frustrasi, membuat putrinya terlonjak kaget dan tidak berani bersuara lagi.
Bram kemudian menatap Kenzo dengan pandangan memohon yang tampak sangat menjijikkan bagi pria sekelas Kenzo.
"Tuan Alexandre... mari kita bicarakan ini baik-baik. Saya bisa memberikan Anda bagian saham yang lebih besar dari Pelabuhan Barat jika Anda menarik kembali laporan ini," ucap Bram mencoba bernegosiasi.
Kenzo mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya tanpa mempedulikan kata-kata Bram, sebelum mengembuskan asapnya ke udara.
"Aku tidak butuh bagian saham darimu," ucap Kenzo dengan nada santai yang justru terdengar sangat mengerikan.
"Melalui pernikahan kontrakku dengan Aline, aku akan mengambil seluruh Pelabuhan Barat itu secara legal setelah perusahaanmu dinyatakan bangkrut dan kau ditahan oleh negara."
Kenzo melirik ke arah pintu tempat Leo sejak tadi berdiri siaga. "Leo, seret kedua tikus kotor ini keluar dari gedungku. Dan pastikan divisi keamanan memastikan wajah mereka berdua terdaftar dalam daftar hitam seumur hidup."
"Baik, Tuan," jawab Leo tegas sebelum memberikan isyarat kepada petugas keamanan untuk menarik paksa Bram dan Shena keluar dari ruangan.
Shena terus berteriak histeris saat lengannya dicengkeram, sementara Bram hanya bisa berjalan dengan langkah yang lunglai meninggalkan lantai eksekutif dengan memalukan.
Setelah pintu kembali tertutup, menyisakan keheningan yang tenang di dalam ruangan kantor, Aline mengembuskan napas panjang merasakan kepuasan.
"Bagaimana rasanya, Nona Valerius?" suara berat Kenzo memecah keheningan seraya berjalan mendekati Aline dengan seringai tipis penuh teka-teki. "Menyaksikan musuhmu mulai merangkak ketakutan di bawah bayang-bayang namaku?"
Aline berbalik, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Kenzo yang memikat namun berbahaya. "Sangat memuaskan, Tuan Alexandre. Tapi ini baru babak pemanasan. Aku tidak akan berhenti sampai mereka benar-benar kehilangan segalanya."
Kenzo terkekeh rendah, mengulurkan tangannya merapikan sehelai rambut Aline yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya di belakang telinga wanita itu.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan game ini, Istriku," bisik Kenzo tepat di sisi wajah Aline, membuat getaran aneh mendadak menyengat kulit wanita itu.
"Besok malam adalah pesta ulang tahun perusahaan Alexandre Group. Seluruh pengusaha papan atas dan media akan hadir di sana. Bersiaplah, karena besok malam... aku akan memperkenalkanmu secara resmi sebagai ratu baru di duniaku."
Aline tersenyum tipis, menatap lurus ke arah jendela luar menyadari pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, sementara Bram pasti sedang menyiapkan rencana gelap untuk membalas dendam.
**
Malam itu, Aline memutuskan untuk kembali ke apartemen kecilnya. Ada beberapa dokumen penting peninggalan almarhum ayahnya yang masih tersimpan di apartemen itu. Berkas-berkas berharga yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun, termasuk Kenzo Alexandre.Aline melangkah menyusuri lorong apartemen yang remang-remang. Namun, ketika langkah kakinya terhenti tepat di depan kamarnya, Aline mulai merasa ada yang aneh. Gagang pintu kayu kamarnya sudah hancur. Pintu itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruangan gelap yang seharusnya terkunci rapat. Aline tidak berteriak ataupun berlari mencari pertolongan. Perlahan ia membuka pintu itu tanpa menimbulkan suara. Di dalam sana, tiga orang pria bertubuh besar terlihat sedang mengobrak-abrik lemari pakaian dan laci mejanya.Kertas-kertas berserakan di lantai, dan ruangan sudah hancur berantakan. "Tuan Bram bilang, cari sampai dapat! Wanita jalang itu pasti menyembunyikan sisa dokumen Pelabuhan Barat di tempat ini!" bisik salah satu preman dengan s
"Bram Valerius," suara Kenzo mengalun rendahdan dipenuhi aura intimidasi yang seketika membekukan keberanian para pengawal di belakang Bram. "Sejak kapan lantai eksekutif Alexandre Tower berubah menjadi pasar hingga siapa pun bisa masuk dan menggonggong seperti anjing?" lanjut Kenzo dingin. Mendengar ucapan Kenzo yang begitu merendahkan, wajah Bram berkedut tegang karena menahan malu dan amarah. Sementara itu, Shena mendadak terdiam, nyalinya menciut setengah saat berhadapan langsung dengan tatapan mematikan milik sang CEO kejam. Pertikaian besar di antara dua kubu ini akhirnya resmi dimulai. Bram mengepalkan tinjunya erat-erat, mencoba meredam amarahnya. Shena sendiri masih terpaku menatap tidak percaya ke arah Aline yang kini berdiri dengan tenang di samping Kenzo tanpa ada rasa ketakutan. Aline justru menatapnya balik dengan binar mata yang meremehkan, seolah-olah Shena hanyalah sebutir debu kotor yang masuk ke ruangan ini. "Tuan Alexandre," Bram akhirnya membuka suara. "Ked
Pagi itu, ibu kota tidak hanya disambut oleh embun pagi, melainkan oleh sebuah berita besar yang meledak di seluruh lini masa media massa dan portal bisnis nasional. Sebuah foto eksklusif yang diambil secara rahasia dari balik kaca kafe Alexandre Tower menjadi sampul utama di setiap media digital. Di dalam foto tersebut, wajah tegas Kenzo Alexandre dan tatapan dingin Aline Valerius tampak begitu dekat. Judul berita utama terpampang dengan huruf tebal yang sangat provokatif di layar gawai masyarakat:"Aliansi di Balik Kebangkrutan: Kenzo Alexandre Resmi Menikahi Putri Mahkota Valerius Group yang Jatuh Miskin!" Kabar tersebut langsung meruntuhkan kestabilan bursa saham dalam hitungan jam dan publik gempar karena pernikahan mendadak ini. Bagaimana bisa seorang Kenzo Alexandre, taipan bisnis berdarah dingin yang paling antipati terhadap komitmen, mendadak mengumumkan pernikahan dengan Aline Valerius yang baru saja ditendang dari keluarganya? Di kediaman mewah Valerius yang kini tela
Matahari belum muncul kepermukaan saat bel apartemen kecil berbunyi. Aline terpaksa bangun dengan sisa kantuknya. Apartemen sempit ini adalah tempat persembunyian terakhir setelah Bram Valerius menyita seluruh aset utama keluarga. Tempatnya sempit dan terletak di sudut kota yang bising, jauh dari kemewahan rumah besar yang ditempati wanita itu kemarin. Namun, Aline tidak peduli dengan hal itu.Ia melangkah perlahan menuju pintu, lalu membukanya. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegak dengan setelan jas abu-abu. Pria itu adalah Leo, asisten pribadi Kenzo yang selalu berwajah datar tanpa senyuman. Di tangan Leo, terdapat sebuah map kulit berwarna hitam tebal berlambang elang emas yang menjadi simbol kebesaran Alexandre Group. "Selamat pagi, Nona Valerius. Saya diutus oleh Tuan Kenzo untuk mengantarkan kontrak perjanjian pernikahan kontrak Anda," ucap Leo formal. Leo menyerahkan map tersebut, Aline menerimanya dengan tenang tanpa ragu sedikit pun. "Terima kasih, Leo. Sampaikan
Hujan deras mengguyur ibu kota malam itu. Dari balik kaca jendela restoran VIP hotel bintang lima, lampu jalanan di bawah sana terlihat buram tersapu air. Suasana ruangan sangat sepi karena sengaja dikosongkan. Tidak ada alunan musik atau obrolandari pengunjung lain. Hanya ada keheningan yang sesekali dipecah oleh ketukan jemari seorang pria di atas meja marmer hitam. Pria itu adalah Kenzo Alexandre, sosok yang duduk dengan posisi menyandar angkuh sambil menatap kosong ke arah kota di luar jendela. Dengan setelan jas tiga potong warna hitam yang melekat rapi di tubuh tegapnya, ia memancarkan aura intimidasi yang kuat. Di dunia bisnis, nama Kenzo dikenal sebagai pria berdarah dingin yang tidak pernah mengenal kata ampun bagi siapapun. Wajahnya yang simetris dan berahang tegas terlihat tampan, namun mematikan. Sebuah pintu di ujung ruangan terbuka perlahan tanpa suara. Seorang wanita melangkah masuk, memecah keheningan dengan ketukan pelan sepatu hak tingginya. Wanita itu adalah A







