Share

Bab 6

Penulis: Atonim
Mungkin karena perilaku Natasha yang tidak biasa belakangan ini, Abian tidak keluar rumah selama beberapa hari, menemani Natasha dan putri mereka.

Menjadi suami dan ayah dengan sepenuh hati.

"Ya, aku terima tawarannya." Natasha menjawab kontak dari perusahaan luar negeri sambil memeriksa jadwalnya.

"Aku butuh identitas baru. Pesan tiket pesawat untuk akhir bulan. Aku butuh secepatnya."

"Tiket pesawat?"

Pintu terbuka tiba-tiba. Abian masuk perlahan, membawa mangkuk berisi sup sarang burung. Melihat tanggal 29 yang di lingkari di kalender, keningnya berkerut.

"Kamu tahu kan sepupuku mau kuliah di luar negeri? Aku bantu dia pesan tiket untuk akhir bulan ini," karang Natasha dengan lancar.

Abian merasa lega mendengar hal itu, lalu menyerahkan supnya kepada Natasha.

Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi.

Abian melirik notifikasi, berhenti sejenak, lalu meletakkan mangkuk. "Sayang, aku balas pesan dulu."

Natasha dengan tenang memakan sup itu, memperhatikan hasrat di mata Abian yang semakin lama semakin jelas. Sejenak kemudian, mata mereka bertemu. Entah kenapa, jantung Abian seakan berhenti berdetak.

"Sasha ...."

"Ada masalah di kantor? Kamu di rumah terus beberapa hari ini. Sana lanjut kerja."

Mendengar itu, mata Abian bersinar. "Sasha, kamu memang paling pengertian. Aku mungkin harus lembur malam ini, jadi nggak usah tunggu aku."

"Iya." Natasha tidak bisa menjelaskan perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Dia agaknya sudah mati rasa.

Abian berganti pakaian dan pergi keluar. Natasha mengikuti diam-diam dari belakang, menatap saat pria itu dengan penuh semangat mengambil kunci mobil dan pergi.

Membuntuti Abian bukanlah tujuan sebenarnya.

Mungkin, itu hanyalah sisa-sisa perasaan terakhir di dalam hatinya yang ingin melihat dengan jelas. Apakah pria yang penuh kebohongan ini akan menepati janjinya, meski hanya sekali saja.

Mobil itu melaju ke sebuah rumah di pinggiran kota, yang lampunya menyala terang.

Natasha menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Abian membawa seorang wanita mungil ke dalam. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak bertemu, mereka mulai bercumbu saat masih di jalan.

Natasha tidak tahu siapa wanita itu, dan dia pun tidak ingin tahu.

Dia tertawa sinis, merasa seperti dirinya sangat konyol. Sejenak kemudian, ponselnya bergetar dua kali. Sebuah video dikirim dari nomor asing.

Sebuah pesan menyusul tak lama setelahnya.

[Jangan pikir kamu satu-satunya. Siapa pun yang ada di ranjangnya, itulah yang dia cintai. Perbedaan terbesar antara kita berdua adalah aku bisa terima dia punya hubungan dengan wanita lain, sedangkan kamu nggak bisa.]

Jari-jari Natasha yang gemetar membuka video tersebut.

Di dalamnya, Abian dan Giska saling berpelukan, saling terjerat tak terpisahkan.

Natasha menonton video itu seluruhnya, seolah-olah menyiksa diri sendiri.

"Aku hamil anak laki-laki. Kak Abian, aku nggak apa-apa kamu sama perempuan lain. Aku rela selamanya nggak dapat status resmi, tapi tolong jangan tinggalkan aku."

"Asal kamu patuh. Lahirkan anak itu dulu."

"Aku mencintaimu, Kak Abian."

Saat video itu berakhir, Natasha merasa seolah hatinya telah berulang kali disiksa. Rasa nyerinya luar biasa. Dia memegangi dadanya dan bersandar di kursi, menangis tanpa suara.

Kata-kata Abian berputar di benaknya. 'Aku dan Chika sama-sama butuh kamu.'

"Abian, berapa banyak kebohongan yang kamu katakan? Berapa kali kamu membohongiku?"

Suaranya tercekat oleh rasa putus asa. Dia bersandar pada jendela mobil, menatap rumah yang lampunya masih menyala, memaksakan senyuman yang menyedihkan.

Abian, aku mengaku kalah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 25

    Natasha membalas senyumnya, matanya pun berkerut.Dibandingkan dengan orang yang bertele-tele, dia lebih suka ketegasan seperti ini."Ya sudah, kalau begitu, mari kita jadi rekan kerja yang baik.""Tapi, aku memang mengagumimu. Kalau ada kesempatan, tolong berikan aku kesempatan itu."Dion berbicara dengan sangat terus terang.Natasha membalas candaan itu. "Kalau ada kesempatan."Setelah makan bersama, Dion mengantar Natasha pulang.Beberapa waktu berikutnya, Natasha belum bisa pergi ke laboratorium.Memang merepotkan, karena dia juga harus mengurus anak. Tidak mungkin dia meninggalkan Chika sendirian di rumah.Dion menyarankan padanya agar mencari pengasuh, dan Natasha juga mempertimbangkannya.Tapi setelah bertemu beberapa calon, tidak ada yang memenuhi standarnya.Belum ada penyelesaian.Kebetulan, Abian tiba-tiba datang.Natasha awalnya sedikit khawatir, tapi Abian menepati janji dan jarang mengganggunya.Abian datang ke sini untuk membahas kerja sama. Kebetulan, dia bisa sekalian

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 24

    Kali ini, Abian benar-benar tidak melakukan tipuan apa-apa.Setelah menyelesaikan proses perceraian, Natasha bebas pergi.Memegang akta cerai, dia bersiap untuk memanggil taksi."Ayo kuantar. Walaupun kita sudah bercerai, kita sudah bersama sekian lama. Nggak mungkin langsung tiba-tiba jadi orang asing, 'kan?""Aku tahu kamu mau pergi besok. Di sana ... jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan waktu sibuk kerja."Abian menasihatinya dengan lembut.Natasha mendengarkan dengan penuh perhatian. Perasaan campur aduk perlahan menyebar di hatinya.Dia benar-benar mencintai Abian. Cinta mereka nyata.Tapi, kesalahan ini benar-benar tidak bisa dia maafkan."Kalau kamu nggak bisa ngurus Chika di sana, beri tahu aku. Aku pasti akan datang menjaganya.""Sasha, ini bukan berarti aku melepaskanmu. Dan bukan berarti aku nggak mencintaimu. Aku cuma nggak mau kamu membenciku."Natasha bersandar pada jendela mobil, menatap kendaraan yang berlalu-lalang. Lampu jalan menerangi wajahnya yang dihiasi setet

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 23

    "Giska, kalau kamu wanita lain, mungkin aku nggak akan membencimu."Natasha menatapnya dengan tenang, masih tanpa sedikit pun rasa simpati."Tapi karena itu kamu, aku pernah membantumu, dan kamu bilang aku memberimu harapan untuk terus berjuang.""Kamu memanfaatkan kebaikanku untuk menyakitiku. Aku menerima permintaan maafmu, tapi aku nggak akan memaafkanmu."Giska bersandar di kepala tempat tidur, memaksakan senyuman pahit. "Aku tahu kamu nggak akan memaafkanku.""Aku cuma ... ya sudahlah, tolong terima ini."Dia mengambil kartu dari bawah bantalnya dan memberikannya kepada Natasha."Utangku padamu dulu. Sudah kutambah bunga juga. Jangan ditolak. Ini bukan uang dari Abian. Ini uang yang aku dapatkan sendiri.""Kamu dulu menolongku, tapi aku malah nggak tahu terima kasih. Aku memang nggak pantas mendapatkan kebaikanmu. Mungkin dengan mengembalikan semuanya padamu, beban di hatiku bisa berkurang."Natasha menerima kartu itu. "Kamu tahu aku akan datang?"Giska menggeleng pelan. "Aku cuma

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 22

    Natasha menutup telepon.Dia tidak ingin bermain-main dengan Abian lagi. Waktunya terlalu berharga untuk itu.Setelah ditipu berulang kali, siapa pun akan merasa tidak tahan.Natasha merasa dirinya sudah sangat sabar.Jadwal pesawat tercepat baru besok pagi.Natasha tidak ingin bertemu Abian, apalagi terlibat dengannya lagi, jadi dia memesan kamar hotel.Dia membawa barang-barangnya langsung ke hotel.Keluarga Yanuar memiliki banyak properti. Dia butuh waktu cukup lama untuk mencari satu hotel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.Proses check-in berjalan lancar. Satu-satunya kekurangan adalah Chika mengalami demam ringan.Perjalanan bolak-balik yang terus-menerus jelas telah menguras tenaga kecilnya.Natasha merasa sangat bersalah dan membawa anaknya ke rumah sakit terlebih dahulu.Chika masih muda, dan Natasha menyadarinya tepat waktu, jadi yang perlu dia lakukan hanyalah minum obat dan air yang cukup.Natasha duduk menggendong Chika di kursi koridor. Sesosok wanita t

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 21

    Abian keluar langsung dari kantor untuk menemui Natasha.Natasha baru saja selesai makan.Saat membuka pintu dan bergegas masuk, Abian mengambil tangan Natasha dan memeriksanya dengan saksama."Mama nggak menyentuhmu, 'kan?"Natasha menarik tangannya dan berbalik menuju sofa. "Nggak.""Sasha, aku minta maaf. Aku sudah bicara dengannya. Dia nggak akan mengganggumu lagi.""Abian, kamu pasti tahu kenapa dia datang mencariku. Kalau kamu benar-benar peduli padaku, cepat selesaikan perceraiannya."Dalam sekejap.Apartemen menjadi sunyi.Abian menatap Natasha dengan mata merah. Dia sudah tidak asing lagi dengan sikap dinginnya.Tapi sudah lebih dari sebulan. Natasha tidak menunjukkan sedikit pun perasaan padanya.Seolah-olah segala sesuatu yang pernah ada di antara mereka di masa lalu benar-benar lenyap tanpa jejak."Cukup sudah. Bukannya semuanya sudah jelas? Apa lagi yang masih perlu dijelaskan?""Kamu sendiri yang bilang, kita bisa meresmikan proses cerai setelah aku pulang. Aku tahu sekar

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 20

    Natasha sudah mengerti.Dia bersandar ke dinding, merasa ingin tertawa.Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, semua orang tetap menyalahkannya.Pernikahan ini memang sangat tragis."Makanya, kamu hubungi saja Abian.""Anakku nggak mau menemuiku lagi! Semua ini karena kamu! Kamu harusnya merasa bersalah!"Ratna awalnya bermaksud meminta maaf, tapi dia merasa tidak senang melihat Natasha tinggal di apartemen putranya dengan nyaman.Suaranya semakin tajam."Pahami baik- baik. Yang membekukan kartu dan uangmu itu Abian, bukan aku."Natasha menatap wajahnya, tatapannya berubah semakin dingin. "Jangan salahkan semuanya padaku. Aku nggak pernah melakukan kesalahan apa pun kepada Keluarga Yanuar.""Sedangkan anakmu, jelas-jelas selingkuh. Kenapa nggak kamu pikir pakai logika?"Mendengar itu, Ratna merasa sedikit bersalah.Tapi dia tidak boleh kehilangan wibawanya. Dia adalah nyonya Keluarga Yanuar."Laki-laki mana yang nggak suka bersenang-senang? Pernikahan itu tentang kompromi satu sama lain

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status