INICIAR SESIÓNDi usia yang seharusnya sudah memiliki keturunan, kedua insan ini justru masih di sibukkan dengan segala pekerjaan yang setiap harinya selalu menumpuk. Di suatu ketika, Alvin di desak oleh Mamanya yang sudah menginginkan cucu dari anak pertamanya yang tidak kunjung menikah itu. Alvin jelas bingung, mencari istri tidak semudah membeli permen. Tapi Mamanya meminta seakan itu adalah hal yang mudah di wujudkan. Kali ini permintaan sang Mama tidak main-main, jika Alvin tidak menuruti sang Mama mengancam akan mengeluarkan Alvin dari kartu keluarga Arnata. Saat ini, satu-satunya wanita yang selalu bisa di andalkan hanya Elvira. Sekertaris sekaligus sahabatnya. Tentu kisah selanjutnya ada di dalam cerita. Yuk intip keseruan mereka berdua, apakah Elvira mau menerima pinangan Alvin, atau sebaliknya?
Ver más“Ris, kamu kok belum transfer uangnya? Arif butuh uang untuk bayar sekolah, sebentar lagi dia ujian,” tanya Mas Rido, suamiku lewat telepon. Sudah tiga tahun ini aku bekerja di luar negeri menjadi Asisten Rumah Tangga seorang pengusaha di negara orang.
“Besok ya, Mas. Aku belum gajian.”
Sengaja aku memang belum mentransfer uangnya, karena aku dengar kabar kalau ternyata suamiku telah menikah lagi setahun setelah aku pergi. Entah kenapa selama ini tak ada yang memberi tahu kepadaku tentang kelakuan Mas Rido. Makanya aku berniat berhenti kerja dan kembali ke Indonesia untuk memberi perhitungan kepada suamiku.
“Kok tumben sih? Biasanya tanggal segini sudah kirim uangnya. Kalau bisa cepat ya, kasihan nanti Arif nggak boleh ikut ujian kalau belum bayar sekolahnya,” katanya kemudian.
Selalu Arif anak kami yang jadi alasan. Arif adalah anak pertama kami. Aku meninggalkannya saat kelas tiga SD, jadi sekarang dia pasti sudah mau lulus SD. Anak kedua bernama Ririn dia selisih satu tahun lebih muda dari Arif.
“Iya, Mas. Majikanku baru keluar untuk urusan bisnis. Ditunggu aja. Sudah dulu, ya. Aku masih ada kerjaan.”
Klik.
Tanpa menunggu jawaban Mas Rido aku segera mematikan sambungan telepon.
Susah memang berpura-pura tidak ada apa-apa. Padahal dalam hati ingin rasanya aku mencaci maki Mas Rido habis-habisan. Tapi menurutku percuma kalau hanya bicara lewat telepon.
“Risma ... I need a coffe, please ( Risma ... aku butuh segelas kopi). Terdengar suara Tuan Rey, majikanku.
“Baik, Tuan,” jawabku.
Tuan Rey duda tanpa anak, mantan istrinya meninggal karena kanker rahim. Ia tetap setia berada disamping istrinya hingga akhir hayatnya. Ah, seandainya Mas Rido seperti Tuan Rey yang bisa setia hingga maut memisahkan, pasti aku sangat bahagia. Namun itu semua hanya lamunanku, karena kenyataannya, Mas Rido telah mengkhianatiku.
“Ini, Tuan kopinya.” Aku meletakkan segelas kopi hitam di meja kerjanya.
“Terima kasih ... Risma,” ucapnya tulus.
“Sama-sama Tuan, saya permisi dulu.” Aku berjalan kebelakang dengan sedikit membungkuk untuk menghormatinya.
Tuan Rey merupakan blasteran Indonesia-Amerika. Ibunya berasal dari kota yang sama denganku dan masih tinggal di Indonesia karena mengurus ibu kandungnya yang mulai sakit-sakitan. Sedangkan ayah Tuan Rey berada di sini mengurusi bisnis keluarga mereka. Maka tak heran kalau Tuan Rey juga lancar berbahasa Indonesia.
Kring ... Kring ... Kring ...
Gawaiku berbunyi. Aku melirik siapa yang telepon. Ternyata Bu Nining, Ibu mertuaku.
“Halo, Assalamualaikum, Bu,” ucapku sesaat setelah mengangkat telepon.
“Waalaikumsalam, Risma ... kata Rido kamu belum transfer ya? Apa benar?” Bu Nining langsung bertanya tanpa basa basi.
Aku menghela napas.
“Benar, Bu. Majikanku baru pergi ke luar kota , jadi belum sempat transfer gajiku.”
Lagi-lagi aku berbohong. Kalaupun benar di luar kota pasti juga langsung bisa gajian karena pakai Mobile Banking.
“Uang Ibu sudah habis. Ririn di sini sering minta uang untuk jajan sama teman-temannya. Rido juga nggak ngasih uang ke Ibu, jadi gimana ini Risma?”
“Lho? Kok malah tanya aku, Bu? Aku sudah transfer semua gajiku kepada Mas Rido. Jadi kalau uang Ibu habis ya minta ke Mas Rido bukan ke aku lagi , Bu!” ucapku jengkel lalu mematikan teleponnya. Telepon berdering lagi tapi aku mengabaikannya.
Ibu dan anak sama saja. Sama-sama jadi benalu. Cuma bisa meminta uang kepadaku tanpa memikirkan keadaanku disini seperti apa.
Aku memang bodoh. Terlalu percaya dengan suamiku sehingga menyerahkan gajiku kepadanya. Untung saja aku meminta Tuan Ronald untuk membayar separuh saja setiap bulan, jadi aku masih memiliki sedikit tabungan walaupun separuhnya dikirimkan ke Mas Rido.
Tapi kini tak akan mau lagi aku dibodohi suamiku sendiri. Aku yang bekerja susah payah disini, dia yang menikmatinya bersama selingkuhannya. Enak saja!!
Aku menuju dapur untuk memasak makan malam. Hari ini hari terakhir aku bekerja karena besok pagi aku akan pulang ke Indonesia.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk ruang kerja Tuan Rey setelah makan malam tersedia di meja. Ia memang selalu memilih lembur di rumah untuk menyeleseikan pekerjaan kantornya.
“Makan malam sudah siap, Tuan,” ucapku di depan pintu kamar.
“Ikut aku, Risma. Kita makan sama sama,” ujar Tuan Rey setelah membuka pintu.
“Baik, Tuan.”
Aku mengikuti Tuan Rey ke meja makan. Setelah duduk, dia diam saja melihat aku melayaninya. Aku menjadi salah tingkah ditatap pria seganteng Tuan Rey.
Aduh, kenapa menatapku seperti itu sih, aku jadi grogi ini ngambil nasinya. Batinku.
“Kenapa kamu berhenti kerja, Risma? Dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia?” Tuan Rey akhirnya buka suara.
Aku terdiam, bingung harus jujur kepadanya atau menutupi masalahku.
“Suamiku mengkhianatiku, Tuan. Dia telah menikah lagi tanpa sepengetahuanku.” Aku memutuskan untuk berkata jujur. Aku tak kuasa menahan air mata ini. Hatiku sungguh sakit rasanya. Pengorbananku selama ini seakan sia-sia. Aku rela meninggalkan anak-anak ku demi masa depan yang lebih baik tapi justru suamiku yang merusak rencana masa depan kami.
“Jangan menangis, tak usah kau menangisi pria seperti itu.” Tuan Rey tiba-tiba sudah berada didepanku dan mengusap air mataku.
Baru kali ini aku melihat wajahnya dari dekat. Kulitnya putih bersih, rambutnya tertata rapi. Apalagi mata birunya saat menatapku, membuatku meleleh.
Astagfirullah. Aku segera tersadar.
“Maaf, Tuan. Bukan muhrim, jadi tidak boleh bersentuhan,” ujarku.
“Ah, Maaf, aku tidak tahu. Jadi apa rencanamu kepada suamimu?” tanya Tuan Rey kembali ketempat duduknya.
“Aku akan menceraikannya, Tuan setelah sampai di Indonesia.”
“Jangan tambah bodoh!” ucapnya lantang.
Aku terlonjak kaget.” Maksud Tuan?”
“Besok aku akan ikut ke Indonesia.”
“Apa?!” aku kaget hingga tersedak.
Satu bulan sudah pernikahan ini berjalan, namun hari-hari yang mereka lalui hampir tidak ada yang berbeda karena hampir dua puluh empat jam keduanya sibuk bekerja. Hari ini sepulang kuliah Clarissa berniat untuk menyambangi apartemen kakak kesayangannya yang sudah lama tidak ada kabar. Clarissa tersenyum menduga jika saat ini kakak iparnya sudah mengandung, karena menurut informasi yang ia dapat dari Raisa, sore itu terjadi sebuah pergelutan hingga menyebabkan keduanya keramas. Menekan kode seperti sebelum-sebelumnya, akhirnya berhasil. "Dih, dasar orang tua. Udah berkeluarga bukannya di ganti!" cibir Clarissa namun ia juga tersenyum, karena akhirnya ia tidak perlu bersusah payah bertanya. Clarissa membawakan banyak jajanan, salah satunya makanan siap saji yang akan ia hidangkan untuk kakak-kakaknya nanti ketika mereka pulang kerja. Tugas kuliah yang membuat Clarissa penat membuat apartemen Alvin sebagai pelariannya. Langkah Clarissa semakin masuk menelusuri apartemen mewah ini,
Elvira dan Alvin saling melirik dengan tatapan penuh arti. Alvin langsung mengusap tengkuknya yang terasa meremang. Elvira menggeleng, ternyata obat yang di berikan Clarissa itu sangat bereaksi cepat. "Emh, El. Kita lanjut nanti, ya!" ucap Alvin mengalihkan suasana. Elvira mengangguk setuju, karena semakin di rasa tubuhnya semakin aneh. Tatapan Elvira saat ini tertuju pada segala macam makanan dan minuman yang bertengger di atas meja, ia hanya membatin apakah ada obat yang di masukan di sana, namun Elvira tidak menemukan tanda-tanda apapun di sana. "Aku ke atas dulu!" Pamit Elvira, ia merasa jika tubuhnya semakin gerah dan ingin segera melepaskan kebaya yang melekat di tubuhnya sejak tadi pagi. Alvin mengangguk tanpa mengeluarkan suara, ia menatap kepergian Elvira hingga tidak terlihat lagi. "Loh, Elvira mana?" tanya Raisa pura-pura tidak tahu jika adiknya itu sudah lebih dulu naik ke atas. Alvin tersenyum canggung, entah kenapa tubuhnya semakin terasa aneh. "K-keatas, mbak!"
Sama sekali tidak bisa Elvira bayangkan jika pernikahannya akan di majukan secepatnya ini. Elvira hanya terbengong di depan cermin menatap wajahnya pasrah dengan riasan yang hampir selesai. Aroma kembang kantil yang menyeruak membuat kesadaran Elvira perlahan pulih. Dan, betapa kagetnya wanita itu saat menatap cermin ternyata ada patulan Alvin juga di sana dengan wajah murung, sama seperti Elvira. Wanita itu segera menoleh kebelakang, Alvin tersenyum kecut. Tidak bohong, Elvira yang jarang sekali menggunakan make-up tebal kali ini terlihat sangat berbeda. Aura anggun terpancar meskipun ia belum menggunakan kebaya. Riasannya sudah selesai, Alvin meminta dua MUA yang ada di kamar ini untuk keluar sejenak, karena ada hal yang ingin ia bicarakan sebelum status mereka sah menjadi suami-istri.Alvin susah payah menelan salivanya, dari tatapan Elvira, wanita itu seperti memendam kekecawaan. Elvira hanya diam, ia menunggu Alvin membuka suara."El, maafin mama ya. Dia yang paling excited un
Hidup lebih produktif di saat tidak memiliki siapa-siapa kecuali diri sendiri. Meskipun ada Raisa, Elvira tidak bisa mengandalkan mbak-nya di setiap waktu. Elvira memiliki kebutuhan, begitu juga Raisa dan keluarga kecilnya. Rumah peninggalan mendiang kedua orang tua mereka memang masih di gunakan dengan baik sampai saat ini. Hampir tiap tahun rumah peninggalan itu selalu di renovasi. Kedua wanita malang itu sempat merasakan hidup di atas awan, di mana apapun yang mereka inginkan bisa main tunjuk tanpa harus bersusah payah. Itu dulu, di saat bisinis orang tua mereka masih berjalan dengan baik. Penyebab meninggalnya kedua orang tua mereka adalah serangan jantung di saat pabrik terbesar yang mereka punya habis di makan api dalam beberapa jam. Rasanya seperti mimpi, sejak saat itu kehidupan Elvira maupun Raisa seperti mimpi buruk. Banyak penanaman saham yang meminta ganti rugi, belum lagi santunan untuk para karyawan yang menjadi korban kebakaran. Intinya, pada saat itu harta yang me
Setelah kepergian Nyonya Atikah, saatnya Elvira berekspresi saat ini. "Kak. Bagaimana kalau besok Tante bawa penghulu kerumah?" tanya Elvira dengan wajah cemas. Elvira sangat mengenal keluarga Alvin, sebab dari kecil ia sudah sering bersama mereka. Atikah adalah perempuan ambisius, ia tidak akan
"Ini di luar jam kerja. Kakak minta tolong sebagai sahabat, bukan sebagai atasan." Alvin menahan Elvira di saat wanita itu ingin duduk di kursi pengemudi. Elvira menurut, ia mengurungkan diri dan bergegas memutari mobil untuk sampai di pintu sebelah. Keduanya sudah berada di dalam mobil, seperti
"Ma, andai aja istri bisa di beli seribu tiga. Mungkin saat ini mansion sudah tersulap seperti panti asuhan!" celetuk Alvin, pria berusia 30 tahun yang sedang di teror menikah oleh Mamanya, Atikah. Mereka sedang berada di ruang keluarga sambil menyetel televisi yang Alvin yakini tidak benar-benar d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.