LOGIN"Jangaaan!"
"Adik, apa kamu tidak takut karma. Bagaimanapun juga aku kakak tirimu. Tolong hentikan," ucap Allea memelas. "Karma? Apa kamu masih berpikir Tuhan akan menolongmu, Hah! Aku akan lihat siapa yang akan menolongmu! Tak ada yang peduli padamu Allea, bahkan ayah anak ini pun tidak peduli padamu!" sentak Adik tirinya. "Kamu wanita yang sudah kehilangan kehormatan. Masih untung anakku menginginkanmu!" teriak ibu tiri Allea. 'Ya Tuhan, mungkin ini sudah nasibku. Daripada aku di perkosa olehnya lebih baik aku mati,' batin Allea. Tangannya meraih pecahan keramik yang ada di sampingnya. "Nona jangan lakukan!" teriak tabib. Dia tidak bisa bergerak karena tangan dan kakinya di ikat. Allea langsung melukai lehernya sendiri hingga hampir pingsan. Samar-samar dia mendengar seseorang mendobrak pintu dari luar. Satu persatu prajurit masuk ke dalam. "Cepat!" "Cepat!" Seorang pria tampan berpakaian bamgsawan masuk. "Tangkap semuanya!" Wajah Adik tiri Allea langsung pucat. Ia panik ketika para prajurit itu menangkap dirinya dan ibunya. "Jangan bergerak!" "Aduuh! Aku tidak mau di tangkap!" teriak Ibu tiri Allea. Pangeran Alexander mendekati Allea yang terbaring lemah. Tangannya masij memegang pecahan kaca. Lehernya berdarah. Allea berusaha mundur, dia sangat ketakutan. "Jangan mendekat!" "Tenanglah ... aku kesini menolongmu. Kamu dan anakmu akan baik-baik saja," ucap Pangeran Alexander perlahan meraih pecahan kaca di tangan Allea. "Kamu ... Pangeran. Aku ... waktu itu tidak memberimu obat. Kamu harus percaya padaku," kata Allea lemah tak berdaya. Ia akhirnya jatuh pingsan dan Pangeran Alexander segera merengkuh tubuhnya. Membopongnya membawanya keluar dari tempat itu. "Tunggu mau kalian bawa kemana Allea!" seru ibu tirinya. "Kami sekeluarga masih mengandalkan dirinya. Kamu orang luar tidak boleh seenaknya membawa Allea pergi!" Pangeran Alexander kaget mendengar pernyataan ibu tiri Allea. "Kalian mengandalkan Allea untuk menghidupi kalian. "Cih, bukankah kamu juga sama! Telah mengambil kehormatannya tanpa memberinya uang. Ha ... ha ... ha! Kamu tidak ada bedanya dengan kami!" ejek adik tiri Allea. Plak! "Diam!" Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Adik tiri Allea. Salah satu prajurit tidak terima Pangeran Alexander di hina. "Kamu juga sama kejamnya dengan kami. Sudah nenidurinya tapi tidak menginginkannya lagi. Sekarang, buat apa pura-pura jadi orang baik!" Asisten Yoga hendak menampar Adik tiri Allea tapi di cegah Pangeran Alexander. "Biarkan dia bicara." "Lihatlah wajahnya, kakak tiriku ini memang mudah di tindas. Makanya kamu tidak memberinya uang sepeser pun. Jangan bilang dia mengandung anakmu, kamu ke rumah pelacuran saja harus mengeluarkan banyak uang. Saat kehamilannya sampai delapan bulan dia bekerja keras menghidupi keluarga kami. Kenapa aku sama sekali tidak pernah melihatmu menolongnya! Hahaha!" Mendengar seluruh umpatan Adik tiri Allea, hati Pangeran Alexander tercabik-cabik. Ia tidak menyangka selama delapan bulan lamanya Allea bekerja keras menghidupi keluarga. Tidak mau menjual perhiasan yang di berikannya. Bahkan tidak mau mencarinya sama sekali. "Dimana hati nurani kalian! Membiarkan wanita hamil bekerja keras !" bentak Asisten Yoga. "Allea adalah keluarga kami. Apa urusannya denganmu?" cibir adik tiri Allea. "Baiklah, kamu boleh membawanya. Tapi kamu harus memberi kami uang!" seru Ibu Tiri Allea menambahkan. Pangeran Alexander menatap tajam ibu dan anak itu satu persatu. "Beri pelajaran pada mereka!" Para prajurit yang ada langsung bergerak menghajar mereka. "Siapa kalian sebenarnya? Mengapa memukul kami!" Pangeran Alexander tidak menghiraukan perkataan keduanya. Dia segera berlalu membawa Allea keluar dengan membopongnya. "Kalian tidak boleh membawa Allea pergi! Dia milikku!" teriak Adik tiri Allea. "Diam! Jangan banyak omong! Kamu sudah menyinggung Tuan kami. Sekarang rasakan akibatnya!" Dugh! Dugh! "Aduh! Jangan pukul anakku!" Teriak Ibu tiri Allea. "Siapa pria itu sebenarnya mengapa bisa punya pengawal sebanyak ini," batinnya. "Identitasnya tidak pantas di ketahui oleh manusia seperti kalian!" ucap kepala prajurit. Adik tiri Allea meludah darah."Ck, jangan sok! Kalau majikanmu memang orang penting. Apa akan menghamilinya dan tidak kasih uang. Bukannya kalian juga sama saja memanfaatkannya!" "Allea adalah sumber uang kami. Aku akan laporkan kalian pada pihak berwenang. Karena sudah berani menjual wanita baik-baik! Aku tidak percaya di dunia ini sudah tidak ada hukum!" Tiba-tiba kepala prajurit menghunuskan ujung pedangnya di wajah adik tiri Allea. Nyalinya pun ciut seketika. Tubuhnya gemetaran. Kakinya terasa lemas tak bertulang. "Hukum? Ucapan majikan kami adalah hukum!" Ujung pedang itu di goreskan ke tangan adik tiri Allea. "Aaah!! Sakiit! Sakit Buuu!" "Naak!" Ibu tiri Allea langsung bersimpuh di hadapan anaknya. Sementara para prajurit itu pergi dari dalam ruangan itu meninggalkan mereka. "Ibu, aku tidak terima ini. Aku akan pergi ke kota menuntut balas pada Allea. Dia boleh senang hari ini. Tapi tidak esok hari." Sampai di istana Pangeran Alexander merebahkan Allea yang tak berdaya di atas ranjangnya. Di belakangnya berdiri kepala pelayan yang mengasuh Pangeran sedari kecil. "Yang Mulia, gadis ini pendarahan bajunya terkena darah semua. Apa sebaiknya tidak di ganti bajunya?" tanya kepala pelayan. "Ganti saja pakai pakaianku," jawab Pangeran Alexander. "Mana bisa begitu, Anda Yang Mulia. Sementara gadis ini ..." "Cukup, Bibi Zena! Ganti baju gadis ini segera!" Perintah Pangeran Alexander. "Ba ... baik Pangeran." Selang beberapa menit kemudian. Allea terlihat besih dan rapi berbalut baju Yang Mulia. Namun dia masih terpejam matanya. "Sudah selesai Pangeran." Pangeran Alexander kemudian duduk di tepi ranjang melihat Allea yang masih terpejam. Ada rasa bersalah menggelayuti hatinya. Lalu seorang prajurit muncul melapor. "Pangeran, hamba sudah membawa tabib terbaik kemari," ucapnya. "Suruh masuk!" "Baik Pangeran." "Pangeran, tidak baik gadis ini di periksa di kamar Pangeran. Saya akan menyuruh prajurit memindahkannya di kamar lain," saran Bibi Zena. "Tidak usah. Biar dia di periksa di sini," jawab Pangeran Alexander tegas. Bibi Zena tertunduk. Baru kali ini seumur hidupnya melihat Pangeran Alexander peduli pada wanita. "Tabib, periksa nadinya sekarang juga! Aku ingin jawaban secepatnya!" perintah Pangeran tegas. "Baik, Yang Mulia!" Sang tabib pun memeriksa Allea penuh kehati-hatian. Jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Kalau tidak, nyawanya yang akan jadi taruhannya. "Yang Mulia, anaknya mungkin bisa di pertahankan. Tapi gadis ini tidak tahu apakah sanggup hidup sampai persalinannya nanti. Dia kehilangan banyak darah dan energi," ucap Tabib Istana. "Bibi Zena, ambil akar ajaib ribuan tahun segera seduh untuknya!" "Tap ... tapi pangeran. Akar itu sangat berharga untuk Pangeran," kata Bubi Dila. "Ambil sekarang juga!" jawab Pangeran Alexander dingin. "Ba ... baik Pangeran." Semua tabib yang di utus datang pun keluar dari ruangan. Karena obat Allea sudah di temukan. Di luar para dayang tengah bergosip, mereka mendenfar ada seorang gadis yang di selamatkan Pangeran Alexander. "Beruntung sekali gadis itu. Para putri ingin naik ke ranjang Pangeran. Tapi kali ini Pangeran Alexander justru membopong gadis itu ke kamarnya," ucap salah seorang di antara mereka. "Ssst ... kamu tidak tahu kalau gadis itu hamil?" "A ... apa hamil?"Dua jam sebelum fajar, persiapan selesai. Jalur rahasia yang tadinya menjadi ancaman terbesar kini telah bersolek menjadi kuburan massal yang tak kasatmata.Alexander berdiri di atas tebing batu, dibalut jubah hitam yang berkibar diterpa angin. Di sampingnya, para pemanah sudah menyiagakan busur dengan anak panah berselimut kain lapis minyak. Matanya menatap tajam ke mulut lorong sempit di bawah sana.Hening kembali menguasai malam, hingga akhirnya gemuruh halus terasa menggetarkan pijakan kaki Alexander."Mereka datang, Yang Mulia," bisik jenderal senior di sampingnya sambil mempererat pegangan pada gagang pedang.Dari arah kegelapan, ratusan prajurit musuh bergerak merayap. Mereka mengendap-endap dengan keyakinan penuh bahwa Varo telah membukakan jalan menuju kemenangan mudah. Tanpa rasa curiga, barisan terdepan musuh melangkah keluar dari mulut lorong dan kejadian tak terduga terjadi. Para prajurit musuh yang awalnya berlari menggebu-gebu ke medan laga baru beberapa langkah suda
Pria itu tersenyum sinis lalu menunjukkan jarinya yang putus akibat di tebas oleh Yang Mulia."Masih ingat lukanya ini Yang Mulia? Seenaknya saja kau ambil jariku yang berharga ini! Satu jari ini hilang, di bayar seumur hidup saya. Tunanganku tidak mau menikah denganku karena jari buntung sialan ini!" "Dan ini karena siapa? Karenamu Yang Mulia! Kau berkuasa seenaknya saja mengambil sesuatu yang berharga dariku!"Pangeran Alexander tersenyum tenang. Ia tidak terbawa perasaan dengan perkataan yang di ucapkan Varo. "Kau kehilangan jarimu masih untung aku tidak memutus urat malu mu. Apa kau ingat sudah berapa puluh wanita yang kau lecehkan. Mereka mungkin korban peperangan. Tapi mereka adalah para istri yang di tunggu anaknya. Hidup dalam kehormatan membesarkan keturunannya. Kamu pikir jika suaminya mati di medan laga kau seenaknya memperlakukan mereka seperti binatang! Kau akan meninggalkan trauma yang mendalam untuk mereka!" terang Pangeran Alexander."Saya tidak butuh ceramah Anda!
"Hati-hati di jalan Yang Mulia," kata Allea. Pangeran Alexander mengangguk pasti. Tak lupa dia mencium kening istrinya dan pipi putranya yang masih bayi. Ibu Suri dan adiknya juga turut mengantar kepergiannya. Pasukan berkuda telah menunggu di luar gerbang istana. Suasana tampak menegangkan. Allea hanya bisa memandangi kepergian Yang Mulia setelah semalam memberinya kenangan cinta. Seseorang menepuk pundaknya membuatnya kaget. "Kakak ipar tidak usah khawatir, kakakku tidak pernah kalah dalam peperangan dia pasti pulang selamat dan membawa kemenangan," hibur adik iparnya. Allea mengangguk, ia tidak bisa membayangkan hidup di istana yang asing tanpa Pangeran Alexander di sisinya. "Terima kasih putri," jawab Allea. Bayi dalam gendongannya masih tertidur lelap. Ia hanya memiliki putranya saat ini. Yang bisa menjadi temannya dalam kesepian. "Sama-sama kakak ipar. Boleh aku menggendong keponakanku yang ganteng ini?"pinta Olivia sembari tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama Allea
Setelah beberapa saat hanya berdua di dalam kolam pemandian. Dia merasa canggung jika hanya berduaan dengan Alexander. Meski sudah berstatus suami istri yang sah. "Kamu mau kemana?" tanya Yang Mulia memeluknya dari belakang. "Mau berganti pakaian Yang Mulia... kita sudah berlama-lama di kolam ini. Takutnya nanti masuk angin," kata Allea beralasan. "Oh, ya. Aku pikir kamu tengah menghindariku?" jawab Yang Mulia. Tangannya semakin mempererat pelukannya. Sementara tangan yang satunya menyusup di antara gundukan kenyal Allea. Menyapunya lembut perlahan. Membuat seluruh tubuh Allea merinding. Perempuan cantik itu pipinya merah menahan gairah yang di ciptakan suaminya. "Bu ... bukan Yang Mulia, hamba ingin segera bertemu dengan bayi hamba. Mungkin dia lapar sekarang," jawab Allea beralasan. "Aku juga lapar, kamu tidak ingin mengenyangkanku?" goda Yang Mulia. "Kita bisa makan setelah ini, kalau Yang Mulia lapar," kata Allea. "Iya, sayangnya aku tidak lapar makanan. Tapi ingin l
"Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel
Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala







