ANMELDEN
“Kamu pikir uang dari Papamu cukup buat biaya hidup mama?! Dia hampir bangkrut Azel! Mama harus banting tulang jadi model, jadi muse, jadi apa aja demi duit!”
Cengkeraman tangan Miranda di kedua pipi Azel menguat, memaksa gadis itu menatap sepasang mata yang penuh kebencian. Azel meringis. Baru saja ia menginjakkan kaki di rumah dengan sisa energi yang terkuras habis akibat ujian semester, sebuah tamparan realita sudah menantinya.
Di layar ponsel yang tadi direnggut paksa oleh ibunya, sebuah huruf E terpampang nyata. Satu mata kuliah gagal. Sebuah kegagalan yang menjadi bahan bakar sempurna bagi amarah Miranda.
“Kebanyakan main kamu, ya? Sampai nilai anjlok begini!” desis Miranda tajam, menyodorkan layar ponsel tepat di depan hidung Azel. “Anak bodoh!”
Azel terpaku. Suara di dalam kepalanya mulai berisik, membenarkan bahwa ia memang tidak berguna. Namun, rasa perih di pipinya memicu sesuatu yang selama ini ia pendam. Sesuatu yang akhirnya pecah.
“Tapi penghasilan tetap Mama donaturnya dari Om Hans, kan?” Suara Azel bergetar, namun tajam. “Karena mama jadi pelacur pribadinya.
Hening seketika.
Wajah Miranda berubah gelap. Atmosfer di ruangan itu seolah membeku sebelum akhirnya meledak.
“Lancang juga kamu yaa!” Miranda menghempaskan wajah Azel dengan kasar hingga gadis itu terdorong ke sofa. Ponselnya di lempar asal sebelum Wanita itu melenggang pergi dengan kemarahan yang membekas di udara.
Azel terkulai lemas. Jemarinya gemetar mengusap pipi yang mulai berdenyut nyeri. Air mata jatuh satu demi satu. Yang paling menyakitkan bukanlah cengkeraman fisik itu, melainkan fakta bahwa ia mulai memercayai ucapan ibunya: bahwa ia adalah sebuah kegagalan.
Dengan sisa tenaga, Azel menyeret langkah menuju kamar. Ia menjatuhkan diri ke atas kasur, menatap nanar langit-langit kamar yang terasa seperti jeruji penjara. Rumah ini bukan lagi tempat pulang, melainkan tempat mentalnya dihancurkan.
TING.
Sebuah notifikasi memecah kesunyian.
Vayla : “Zel hangout yuk. Ngilangin penat bentar.”
Azel membuang napas berat. Pikirannya kosong. Baginya, keluar rumah tidak akan pernah benar-benar menyembuhkan luka yang sudah menganga di dalam.
TING.
Kaivan : “Gas yuk malam ini ke Dragon Club. Suntuk banget! Ajak Vayla juga ya!”
Dada Azel terasa sesak. Seluruh rangkanya seolah baru saja remuk dihantam kenyataan. Ia merasa payah, hancur, dan kehilangan arah. Namun, ia sadar satu hal: jika ia tetap diam di sini, suara-suara di kepalanya akan membunuhnya lebih cepat. Ia tidak boleh kalah oleh keadaan. Tidak malam ini.
Dengan jempol yang masih sedikit gemetar, ia mengetik balasan singkat di ruang chat mereka.
Azel : “Okey, I’m in. Send me the details.”
Ia menjatuhkan ponselnya Kembali ke Kasur. Entah ini keputusan yang benar atau tidak, ia tidak peduli. Untuk malam ini, ia hanya ingin melarikan diri sejauh mungkin dari rumah yang rasanya kian menyesakkan.
***
Azel akhirnya bangkit dari atas ranjang. Langkahnya pelan saat berjalan menuju cermin di sudut kamrnya. Pantulan dirinya langsung terlihat.
Matanya sembab. Area pipinya masih tampak sedikit membengkak, menyisakkan jejak samar dari cengkeraman yang beberapa jam lalu menghancurkan sisa energinya.
Azel menatap dirinya cukup lama. Kosong dan Lelah. Namun seperti biasa, ia akan berusaha menyembunyikan semuanya.
Tangannya meraih foundation cair di atas meja rias, lalu mulai mengaplikasikannya perlahan ke wajahnya. Jemarinya berulang kali menepuk area bawah mata dan pipinya, berusaha menutupi sembab serta rona kemerahan yang masih terlihat jelas.
Sedikit demi sedikit, wajah kacau itu mulai tertutup rapi oleh make-up.
Azel Kembali menatap pantulannya di cermin. Memaksa bibirnya untuk tersenyum. Tak ada lagi gadis yang habis menangis. Tak ada lagi rona merah yang terlihat.
Hanya Azel dengan wajah sempurna yang siap berpura-pura bahwa hidupnya baik-baik saja. Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya meraih tas dan ponselnya. Lokasi club yang dikirim Kaivan dan Vayla sudah terpampang di layar.
Dan malam ini, gadis itu memilih menenggelamkan dirinya dalam keramaian daripada kembali sendirian bersama pikirannya sendiri.
Namun ternyata pergi dari rumah itu tidak semudah yang Azel bayangkan. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah cekalan keras tiba-tiba mendarat di bahunya, memaksanya menoleh.
Miranda. Wanita itu berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam yang terasa begitu dingin dan menghakimi.
“Mau ke mana kamu?”
Suara itu terdengar rendah, tapi cukup untuk membuat tubuh Azel menegang. Tatapan Miranda mulai menyusuri wajah putrinya, berhenti pada area pipi yang tertutup foundation tebal. Jemarinya mencolek bagian itu pelan dengan senyum miring yang sinis.
“Oh..” desisnya pelan. “Jadi keluar malam begini mau usaha jual diri juga, iya?”
DEG.
Azel langsung membelalak. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang keras. Ia bahkan tak percaya kalimat sekotor itu bisa keluar dari mulut ibu kandungnya sendiri.
Untuk beberapa detik. Rahangnya mengeras, sementara amarah yang selama ini ia telan perlahan mulai meluap ke permukaan.
“Lepasin,” Suaranya bergetar.
Tatapannya kini menatap lurus Miranda tanpa takut seperti sebelumnya.
“Satu hal yang perlu Mama tahu..” ucapnya lirih namun tajam. “Sesama murahan gak perlu saling menghina.”
Wajah Miranda berubah.
Namun sebelum Wanita itu sempat membalas, Azel sudah menepis tangannya kasar lalu melangkah pergi keluar rumah. Pintu tertutup keras di belakangnya.
Meninggalkan Miranda yang masih terpaku di tempatnya.
Ia cukup tertegun oleh keberanian putrinya yang untuk pertama kalinya berani melawan ucapannya.
***
“Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk
“Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara
“Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif
Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s
“Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu
“Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut







