แชร์

S2-79. Makin' Love. (+21)

ผู้เขียน: Amaleo
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-08 08:00:47

Zelda membeku seketika dan membuka kedua matanya. Kata itu keluar begitu saja dari mulut Noah—tanpa rencana, tanpa topeng.

“Aku mencintaimu,” bisik Noah lagi, suara serak, mata merah, tapi kali ini penuh. “Sejak kau kecil menabrakku dengan es krim. Sejak kau tertidur di lenganku—di perpustakaan. Dan sejak kau dewasa … menamparku keras di kedai kopi.”

Zelda tertawa kecil di tengah air mata. “Kau gila.”

“Ya,” Noah mengangguk, tersenyum rapuh. “Gila karena kau.”

Zelda menangis lagi—tapi kali ini air matanya hangat. Ia tertawa kecil di antara isak.

Lalu, Zelda menunduk sedikit dengan wajah menyesalnya. “A-aku … minta maaf karena sudah menamparmu waktu—”

“Sshh …” desis Noah lembut sambil menempelkan keningnya pada milik Zelda. “Itu sudah berlalu. Tidak apa.”

Noah menciumnya lagi, kali ini lebih dalam, lebih lama, tangannya turun ke pinggang Zelda, menariknya hingga tidak ada lagi ruan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-122. Terungkapnya Pelaku.

    “Tuan, penembak sniper sudah kami tangkap.”Noah perlahan melepaskan pelukannya dari Zelda. Tangannya sempat tertahan di bahu gadis itu—sejenak, seolah memastikan ia benar-benar baik-baik saja—sebelum akhirnya menjauhIa menekan nomor dengan cepat. Nada sambung terdengar singkat di telepon.“Ya, Tuan,” suara di seberang terdengar tegas. Salah satu bawahan Halden.Noah melangkah sedikit menjauh dari kaca ICU, menurunkan suaranya.“Penembaknya?” tanya Noah langsung, suara rendah tapi tajam.“Sudah kami amankan, Tuan. Namanya Victor Kane. Mantan tentara bayaran—rekam jejaknya panjang. Dia disewa melalui perantara.”Noah menegang. “Bukti?”“Ada. Ponselnya, transfer uang, komunikasi terenkripsi. Semua mengarah ke Christopher Vayne.”Noah menghembuskan napas pendek. “Baik. Urus dia dan serahkan langsung ke Interpol.”Ada jeda sepersekian detik. “Kami punya kontak agen Interpol yang menangani kasus Vayne, Tuan. Sudah siap dihubungi.”“Bagus,” jawab Noah singkat. “Nanti malam aku ke sana.”Na

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-121. Jatuhnya Sang Pelindung.

    Zelda masih terpaku di kursi rodanya. Pandangan gadis itu tertuju pada satu sosok di kejauhan—Noah. Berdiri di dekat coffee truck, dikelilingi mahasiswa yang tertawa, dan secangkir kopi di tangannya. Wajahnya tenang, seolah dunia memang seharusnya sesederhana itu. Hangat, normal.Dan Aman.Zelda menghela napas pelan tanpa sadar. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang sulit ia namai.Lalu—Ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya bergetar aneh.Noah sedikit memiringkan kepala. Tangannya naik ke telinga. Baru saat itu Zelda menyadari—ada earbuds kecil terpasang di telinga Noah.Sejak kapan …?Noah tidak bicara. Tapi, rahangnya mengeras. Tatapan matanya berubah—bukan panik, melainkan fokus yang tajam dan siaga.Perasaan tidak enak menghantam Zelda seketika.“Kenapa …?” gumam Zelda lirih.Belum sempat ia memahami apa pun—“Tuan Noah! Awas!!”Suara teriakan keras memecah udara hingga Zelda tersentak.Dari arah kiri halaman kampus, seorang pria berlari cepat—terlalu cepat untuk pria set

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-120. Coffee Truck ‘The Daily Grind’ dan Ancaman Jarak Jauh.

    Kevin berdiri tegak di atas atap van yang dimodifikasi itu, satu tangan masih terangkat. Senyumnya santai, tapi cukup percaya diri untuk menarik perhatian ratusan pasang mata. Beberapa detik hening berlalu. Lalu, bisik-bisik mulai menjalar seperti riak air. “Eh, itu siapa?” “Kenapa ada coffee truck …?” “The Daily Grind? Bukannya itu kedai terkenal di dekat sini?” “Temannya Zelda, ya?” “Seriusan? Bagi kopi di kampus?” “Ini acara apa, sih?” Zelda sendiri justru paling kebingungan. Ia menatap logo The Daily Grind di sisi van itu lama, alisnya berkerut halus. Jantungnya berdegup tidak sinkron. Sejak kapan …? Kevin punya coffee truck? Selama ia bekerja shift dulu—menutup kedai, menyeduh kopi, dan melayani pelanggan sampai larut malam—Kevin tak pernah sekalipun menyebut soal ini. Tidak ada bocoran, tidak ada rencana, maupun tidak ada isyarat sekalipun. “Apa yang aku lewatkan …?” gumam Zelda berbisik. Sebelum pikirannya semakin liar, suara tepuk tangan tunggal terd

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-119. Selamat Datang Kembali, Zelda!

    Mobil berhenti tepat di depan gerbang utama. Zelda menatap keluar jendela, mata membulat perlahan—seolah tak percaya apa yang dilihatnya.Ratusan mahasiswa berdiri berbaris rapi di dua sisi jalan setapak menuju gedung fakultas. Mereka memegang spanduk kecil berwarna putih dengan tulisan tangan ….“WELCOME BACK, ZELDA!”“MAAFKAN KAMI.”“KAU INSPIRASI KAMI.”Dan spanduk besar di tengah bertuliskan ….“SELAMAT DATANG KEMBALI, ZELDA LYNN!”Bunga-bunga segar—mawar putih, lily, dan daisy—digantung di pagar dan dipegang oleh mahasiswa. Udara sore dipenuhi aroma bunga yang manis, bercampur suara tepuk tangan pelan yang mulai bergema saat mobil berhenti.Zelda menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung menggenang.Noah membuka pintu mobil, lalu mendorong kursi roda Zelda keluar dengan hati-hati. Zara mengikuti di belakang, matanya berkaca-kaca tapi senyumnya lebar.Begitu Zelda muncul, tepuk tangan meledak.“Zelda!!”“Selamat datang!!”“Maafkan kami!!”Suara-suara itu bercampur—ada yang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-118. Penyambutan Zelda di Kampus.

    “Zelda …” suara Michael parau, rendah. “Terima kasih sudah mau datang.”Zelda tidak langsung menjawab. Ia menatap pria itu lama—mencari sesuatu di wajah yang selama ini hanya jadi bayangan buruk di cerita ibunya.Michael menelan ludah. “Aku … tidak tahu harus mulai dari mana.”Zelda mengangguk pelan. “Mulai dari mana saja, Sir.”Michael tersenyum kecil—pahit. “Aku sudah gagal sebagai ayah. Untuk Noah. Untuk Noelle.”Zelda menegang. Zara di sampingnya diam saja, tapi tangannya menggenggam tangan Zelda lebih erat.Michael menghela napas panjang dengan suara rendah yang tercekat. “Sebelas tahun yang lalu ….”Ia mulai melanjutkan. “Selama ini, aku tahu semua yang terjadi di St. Andrews,” lanjut Michael pelan. “Aku tahu Noelle yang sebarkan rumor itu. Aku tahu itu salah. Tapi aku diam—karena takut kehilangan kontrak Vayne.”Suara itu bergetar halus. “Aku pilih uang daripada kebenaran. Daripada martabat seorang wanita yang tidak bersalah.”Ia mengangkat wajahnya, mata berkaca-kaca. “Dan sek

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-117. Pertemuan Zelda dan Michael.

    Beberapa hari berlalu sejak pesan ancaman itu masuk. Noah tidak banyak bicara soal itu—hanya bilang “semua sudah ditangani”. Tapi, Zelda tahu pria itu tidak main-main. Saat itu juga Noah merekrut dua bodyguard dari tim Halden yang kini selalu ada di sekitar mereka.Satu mengikuti Zara setiap kali ibunya keluar masuk rumah sakit—membeli makanan, mengambil obat, atau sekadar bernapas di luar. Yang satu lagi berjaga di depan pintu kamar Zelda, bergantian shift tanpa suara.Hingga hari itu telah tiba, Zelda sudah boleh rawat jalan. Tubuhnya masih lemah—setiap langkah terasa berat, perban di dada dan perut masih menempel rapat—tapi dokter mengizinkan pulang dengan syarat istirahat total. Kuliah masih harus ditunda. Aktivitas berat dilarang keras.Sore itu, apartemen terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya senja menyusup lewat jendela besar, membentuk garis kuning lembut di lantai marmer. Zelda duduk di sofa, selimut tipis menutupi kakinya, secangkir teh hangat di tangan. Zara duduk di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status