로그인Perjalanan menuju kediaman Vino terasa lebih hidup saat Alina tiba-tiba menyodorkan ponsel ke arah Kaiden. "Kita mampir ke kedai ubi ungu ini dulu!" serunya dengan mata berbinar penuh antusiasme. Kaiden mengernyit, menerima titik lokasi yang diberikan dengan ragu. "Lokasi ini jauh, bahkan kita harus putar balik," ucapnya pelan, nada suaranya penuh pertimbangan.Alina langsung memasang ekspresi cemberut, bibirnya menekuk, dan alisnya berkerut kecil. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi sikapnya sudah cukup jelas: kecewa karena Kaiden tak seantusias dirinya. Kaiden menghela napas ringan, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah, kita mampir dulu," katanya sambil menyalakan mesin mobil kembali.Bagaimana pun juga, Kaiden akan sulit bernapas kalau Alina ngambek padanya. Dua jam berlalu, jalanan berkelok dan suasana mulai berubah seiring mereka semakin dekat ke rumah Vino. Di dalam mobil, kotak makanan dan minuman berbahan ubi ungu diletakkan di pangkuan Alina, aroma manis dan hangat
Setelah beberapa hari hanya berada di dalam kamar bersama dengan Kaiden, akhirnya hari ini Alina memilih keluar kamar dengan punggung yang terasa remuk. "Apa kita tunda saja harinya, untuk berkunjung di kediaman Vino?" Tanya Kaiden dengan suara polos. Alina yang sedang mengunyah makanan, sontak tersedak. Sekarang ini keduanya sedang sarapan sekaligus makan siang di ruang makan. "Alina ... " Panggil Kaiden dengan nada khawatir, bagaimana pun juga, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Alina. "Panggil dokter cepat!!" Teriak Kaiden dengan suara marah. Tangan Alina berusaha meraih gelas yang ada di meja, namun tubuhnya malah di angkat Kaiden dan di rebahkan di sofa yang berada tak jauh di sana. "Astaga, orang ini!" Umpat Alina dalam hati.Tak berselang lama, seorang dokter umum, seorang dokter kandungan dan seorang bidan masuk bersama beberapa pelayan. Alina tanpa sadar memutar bola matanya, "padahal aku hanya tersedak biasa." Gumamnya dalam hati, walaupun tindakan Kaiden
"hmm, lakukanlah!" Sahut Alina dengan wajah memerah. Biasanya ia hanya memuaskan dirinya sendiri dengan beberapa alat. Ntah kenapa? Hasrat seksnya selama hamil malah semakin menggebu. Kaiden mengangkat tatapan lembut ke wajah Alina, kemudian dengan hati-hati ia mulai melepaskan baju dan celana Alina dengan lembut. Tangannya bergerak pelan, penuh kasih sayang, seolah takut melukai kulitnya yang kini tampak semakin halus dan memancarkan kehangatan baru. "Perutmu sekarang sudah besar sekali," ucap Kaiden dengan nada hangat yang menyimpan kekaguman, bukan ejekan. Namun, Alina segera menanggapi dengan bibir yang menekuk dan alis berkerut, matanya menyipit penuh curiga. "Kamu mengejek aku ya, gara-gara hamil jadi jelek. Ya udah, kemarikan bajuku, aku nggak jadi." Suaranya sedikit meninggi, mencerminkan rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya.Kaiden cepat-cepat meraih tangan Alina, menatap matanya dengan tulus, "Sayang, maaf, aku nggak niat mengejekmu. Aku..
Alina terkejut, matanya membelalak lebar saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Seorang wanita paruh baya, berusia sekitar 45 tahun, masuk bersama seorang gadis remaja yang tak lebih dari 15 tahun, keduanya tampak canggung dan tergesa-gesa. Wanita itu, Camelia, melirik tajam ke arah Kaiden yang sedang duduk santai di tepi ranjang, sementara Alina masih terdiam di balik selimut yang tersibak sedikit, wajahnya mengembang oleh rasa malu dan geli."Sialan kamu, Kaiden," suara Camelia meninggi, setengah marah dan setengah bingung. "Katanya kamu akan membantuku mengurus vendor untuk pernikahan dadakan yang akan aku laksanakan dengan calon suamiku..." Ucapannya tiba-tiba terhenti, matanya membelalak melihat Alina yang duduk berdekatan dengan Kaiden, keduanya tampak begitu akrab, bahkan Alina dengan santai menyandarkan punggungnya ke dada Kaiden.Gadis remaja di samping Camelia menunduk, wajahnya memerah, terlihat sangat malu atas suasana canggung itu. Camelia segera menarik tangannya dan
Alina terbangun perlahan, hangat tubuh Kaiden yang membungkusnya membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Matanya yang berat terbuka, dan pandangannya langsung tertuju pada wajah lelaki itu, wajah yang dulu pernah membuatnya terluka, kini terasa begitu dekat, begitu nyata. Napas Kaiden yang tenang dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan menambah rasa nyaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tanpa sadar, Alina mengangkat tangannya, jari-jarinya menyentuh hidung mancung Kaiden, kemudian bergeser ke bibirnya yang sedikit terkatup. Perlahan, hatinya berperang antara luka masa lalu dan perasaan yang masih membara. Dalam diam, ia merasakan kehangatan cinta yang mengalahkan segala rasa sakit yang pernah menggores."Tunggu, kenapa nggak kamu cium?" suara Kaiden terdengar lembut, penuh harap namun menyimpan sedikit keusilan. Matanya menatap Alina dengan tatapan menggoda, seolah ingin meyakinkan bahwa semua janji yang pernah ia ingkari kini tergantikan oleh kejujuran dan keri
Kaiden membuka pintu kamar, para pelayan yang sebelumnya ada di dalam kamar berbondong keluar setelah Kaiden mengibaskan tangannya. Mata Alina membelalak sesaat saat melihat ruangan itu, terlihat begitu mewah dengan lampu gantung kristal yang berpendar lembut, tirai tebal berwarna krem yang menggantung di kedua sisi jendela besar, dan ranjang king size dengan sprei sutra berwarna putih gading yang rapi terhampar. Di balik jendela besar itu, terhampar pemandangan laut yang begitu indah. "Ternyata rumah ini berada di atas bukit, pemandangannya begitu indah," gumam Alina dengan takjub. Dalam hatinya, ia berharap jika Kaiden sengaja membeli rumah ini untuk dirinya. Walaupun suara Alina pelan, namun tetap sampai ke telinga Kaiden. "Asal kamu senang, aku akan melakukan apapun. Aku sudah berkonsultasi dengan para ahli, rumah ini cocok untuk memulihkan kesehatan mental kita dan sangat cocok untuk kamu yang sedang hamil." ujar Kaiden. Alina terpaku, napasnya tercekat oleh keindahan yan
Kaiden melangkah tergesa-gesa menaiki tangga menuju lantai paling atas rumah sakit, napasnya memburu dan dada sesak oleh kekhawatiran yang membakar. Setiap detik terasa seperti jarum tajam menusuk hati ketika namanya terucap lirih, "Alina …" Suaranya bergetar, menyiratkan ketakutan yang jarang t
Dika berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit, pipinya basah oleh air mata yang tak henti mengalir. Beberapa dokter dan perawat yang melewati tampak terkejut, bahkan ada yang berhenti sejenak menatap pria itu dengan tatapan campur aduk antara iba dan penasaran. Biasanya, Dika dokter muda terbai
Pagi ini. Viola melangkah ke kampus dengan senyum yang mengembang, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Berita pertunangan dengan Kaiden, pengusaha nomor satu di kota Utara, membuatnya seolah berada di puncak dunia. Kedua temannya yang sebelumnya memusuhinya, sekarang ini
Dika melangkah masuk ke ruang inap Alina, langkahnya berat dan wajahnya tampak tegang. Alina menatapnya dengan alis berkerut, suara lembutnya namun penuh kekhawatiran terdengar, "Dokter Dika, aku ikut berbela sungkawa atas kematian adikmu. Tapi, harusnya kamu nggak perlu memaksakan diri bertemu de







