LOGINSeminggu berlalu begitu cepat, sekarang adalah hari pernikahan Nolan dan juga Ghea. Wajah Ghea terlihat begitu bahagia, namun ekspresinya berubah saat melihat Alina datang bersama dengan Kaiden, Risma dan juga Vino. Walaupun Nolan sudah berkali-kali mengatakan tidak akan mempedulikan Alina, tapi ntah kenapa hatinya masih begitu gusar. Ia sudah berusaha untuk mendekati Alina dan berdamai dengan wanita itu. Namun, saat dia bersama Alina dan bertemu dengan Nolan. Pandangan Nolan terhadap Alina tidak pernah berubah, pria itu tetap menatap Alina dengan lembut dan penuh kasih.Sangat berbeda saat Nolan menatapnya dengan tatapan hampa dan hanya di penuhi rasa tanggung jawab, hal itu membuat dada Ghea merasa sesak. Ghea melangkah pelan, dada sesak menahan gelombang cemburu yang berdesir tajam di dalam hatinya setiap kali matanya menangkap sosok Alina yang tersenyum lembut kepada para tamu. Walaupun tengah hamil besar, Alina terlihat sangat cantik. Ntah kenapa ia merasa minder sendiri,
Ekspresi Alina berubah khawatir, "Risma ... Kenapa kamu bicara seperti itu?"Ntah kenapa ia merasa ucapan Risma seperti sebuah perpisahan. Risma memainkan jari tangannya. "Kehidupan seseorang tidak ada yang tahu bukan? Walaupun Victor sudah tertangkap, bahkan berakhir cacat ... Dia tidak bisa mengembalikan kesehatanku seperti sebelumnya."Alina nampak terkejut, "apakah penawar itu kurang efektif?"Risma mengangguk. "Alina, aku dan Vino sudah tidak memiliki harapan. Mungkin kamu bisa saja mudah melupakan perbuatan buruk yang di lakukan Kaiden di masa lalu, bahkan dengan mudahnya melupakan kebohongan Nolan.""Tapi, aku berbeda denganmu. Bayang-bayang perlakuan buruk Vino setiap hari terus saja menghantuiku, hal itu membuatku merasa trauma."Risma mendongakkan wajahnya, ia menatap ke arah langit. "Dari awal hubunganku dengan Vino di mulai dari kesepakatan, terus kita menikah selama lebih dari sebulan. Walaupun sebulan itu hanya berisi kebahagiaan, tapi Vino menyakitiku lebih dari sebul
Perjalanan menuju kediaman Vino terasa lebih hidup saat Alina tiba-tiba menyodorkan ponsel ke arah Kaiden. "Kita mampir ke kedai ubi ungu ini dulu!" serunya dengan mata berbinar penuh antusiasme. Kaiden mengernyit, menerima titik lokasi yang diberikan dengan ragu. "Lokasi ini jauh, bahkan kita harus putar balik," ucapnya pelan, nada suaranya penuh pertimbangan.Alina langsung memasang ekspresi cemberut, bibirnya menekuk, dan alisnya berkerut kecil. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi sikapnya sudah cukup jelas: kecewa karena Kaiden tak seantusias dirinya. Kaiden menghela napas ringan, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah, kita mampir dulu," katanya sambil menyalakan mesin mobil kembali.Bagaimana pun juga, Kaiden akan sulit bernapas kalau Alina ngambek padanya. Dua jam berlalu, jalanan berkelok dan suasana mulai berubah seiring mereka semakin dekat ke rumah Vino. Di dalam mobil, kotak makanan dan minuman berbahan ubi ungu diletakkan di pangkuan Alina, aroma manis dan hangat
Setelah beberapa hari hanya berada di dalam kamar bersama dengan Kaiden, akhirnya hari ini Alina memilih keluar kamar dengan punggung yang terasa remuk. "Apa kita tunda saja harinya, untuk berkunjung di kediaman Vino?" Tanya Kaiden dengan suara polos. Alina yang sedang mengunyah makanan, sontak tersedak. Sekarang ini keduanya sedang sarapan sekaligus makan siang di ruang makan. "Alina ... " Panggil Kaiden dengan nada khawatir, bagaimana pun juga, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Alina. "Panggil dokter cepat!!" Teriak Kaiden dengan suara marah. Tangan Alina berusaha meraih gelas yang ada di meja, namun tubuhnya malah di angkat Kaiden dan di rebahkan di sofa yang berada tak jauh di sana. "Astaga, orang ini!" Umpat Alina dalam hati.Tak berselang lama, seorang dokter umum, seorang dokter kandungan dan seorang bidan masuk bersama beberapa pelayan. Alina tanpa sadar memutar bola matanya, "padahal aku hanya tersedak biasa." Gumamnya dalam hati, walaupun tindakan Kaiden
"hmm, lakukanlah!" Sahut Alina dengan wajah memerah. Biasanya ia hanya memuaskan dirinya sendiri dengan beberapa alat. Ntah kenapa? Hasrat seksnya selama hamil malah semakin menggebu. Kaiden mengangkat tatapan lembut ke wajah Alina, kemudian dengan hati-hati ia mulai melepaskan baju dan celana Alina dengan lembut. Tangannya bergerak pelan, penuh kasih sayang, seolah takut melukai kulitnya yang kini tampak semakin halus dan memancarkan kehangatan baru. "Perutmu sekarang sudah besar sekali," ucap Kaiden dengan nada hangat yang menyimpan kekaguman, bukan ejekan. Namun, Alina segera menanggapi dengan bibir yang menekuk dan alis berkerut, matanya menyipit penuh curiga. "Kamu mengejek aku ya, gara-gara hamil jadi jelek. Ya udah, kemarikan bajuku, aku nggak jadi." Suaranya sedikit meninggi, mencerminkan rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya.Kaiden cepat-cepat meraih tangan Alina, menatap matanya dengan tulus, "Sayang, maaf, aku nggak niat mengejekmu. Aku..
Alina terkejut, matanya membelalak lebar saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Seorang wanita paruh baya, berusia sekitar 45 tahun, masuk bersama seorang gadis remaja yang tak lebih dari 15 tahun, keduanya tampak canggung dan tergesa-gesa. Wanita itu, Camelia, melirik tajam ke arah Kaiden yang sedang duduk santai di tepi ranjang, sementara Alina masih terdiam di balik selimut yang tersibak sedikit, wajahnya mengembang oleh rasa malu dan geli."Sialan kamu, Kaiden," suara Camelia meninggi, setengah marah dan setengah bingung. "Katanya kamu akan membantuku mengurus vendor untuk pernikahan dadakan yang akan aku laksanakan dengan calon suamiku..." Ucapannya tiba-tiba terhenti, matanya membelalak melihat Alina yang duduk berdekatan dengan Kaiden, keduanya tampak begitu akrab, bahkan Alina dengan santai menyandarkan punggungnya ke dada Kaiden.Gadis remaja di samping Camelia menunduk, wajahnya memerah, terlihat sangat malu atas suasana canggung itu. Camelia segera menarik tangannya dan
Alis Kaiden mengerut setelah mendengar ucapan ibunya. Ia ingat, jika sebelum orang tua Alina meninggal, keluarga Alina termasuk keluarga berada. Kaiden bertanya memastikan, "Dulunya kakek Alina hakim agung? Soalnya kalau bisa memvonis pengusaha kelas atas, seharusnya jabatan hakim agung yang dia
Kaiden meletakkan telunjuknya di bibir saat tatapannya bertemu dengan Alina. Alina mengerti dan segera mengalihkan pandangannya. Jantung Alina berdetak begitu cepat, baru sekarang ia menyadari bahwa dirinya benar-benar jatuh cinta pada Kaiden. Ntah kenapa Alina merasa begitu merindukan sosok K
Alina menatap Kaiden dengan tatapan serius. "Biarkan aku kembali, aku janji pasti aku akan kembali sama kamu." Kaiden malah memeluk Alina, "ibuku pasti akan setuju dengan keputusan ku." "Aku memilihmu." Imbuhnya dengan suara berat. Alina langsung menjauhkan tubuh Kaiden dengan kasar, "Kak Kai,
Jika Risma nampak terpukul dengan kematian ibunya, hal berbeda dengan Nolan. Ia malah merasa lega, akhirnya ibunya yang hidup penuh beban dan tidak memiliki pilihan memilih mengakhiri hidupnya. Nolan adalah saksi hidup untuk semua penderitaan yang di alami ibunya, dulu Nolan pernah menawarkan ibu







